Kamis, 16 April 2009

SMS

 
 
First I was dying to finish my high school
and start college
And then I was dying to finish college
and start working
Then I was dying to marry
and have children 
And then I was dying for my children to grow old enough
so I could go back to work
But then I was dying to retire
And now I'm dying
And suddenly I realized
I forgot to live

Please don't let this happen to you
Appreciate your current each situation
and enjoy each day

-An Old Friend-


SMS

 
 
First I was dying to finish my high school
and start college
And then I was dying to finish college
and start working
Then I was dying to marry
and have children 
And then I was dying for my children to grow old enough
so I could go back to work
But then I was dying to retire
And now I'm dying
And suddenly I realized
I forgot to live

Please don't let this happen to you
Appreciate your current each situation
and enjoy each day

-An Old Friend-


Selasa, 14 April 2009

Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?




Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?




Senin, 13 April 2009

Tungguuuuuu....




















kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang




















hidup ini menyenangkan
jika tanpa prasangka buruk, tentunya
dan tuduhan-tuduhan




















cantik
paman tunggu
duapuluh tahun lagi





11 April 2009
Cipanas, Garut

Tungguuuuuu....




















kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang




















hidup ini menyenangkan
jika tanpa prasangka buruk, tentunya
dan tuduhan-tuduhan




















cantik
paman tunggu
duapuluh tahun lagi





11 April 2009
Cipanas, Garut

Senin, 06 April 2009

..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…