Tampilkan postingan dengan label aisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aisa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2009

Mari...

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Jangan tanya alasannya. Anak kecil menurut saja sama orangtua. Percayakan semua pada bapak. Begini-begini, bapak sudah banyak pengalamannya.

Konon, di luar sana ada banyak, Sayang. Macam-macam. Dari mulai ibu tiri, ibu guru, sampai ibu RI-1. Kamu pilih yang mana? Bilang saja. Biar nanti bapak yang menghadap salah satu dari mereka.

Atau kamu punya kriteria sendiri? Boleh saja. Ini negeri demokrasi. Begitu pula di rumah kita. Setiap penghuninya berhak untuk menyampaikan suara. Meski, bapak jualah yang menentukan di bagian akhirnya.

Bapak kasih tahu, ya. Jangan pilih yang pandai memasak. Akan amat susah mencarinya. Jangan pula minta yang pandai menyanyi. Semua sudah ada yang punya. Pilih yang pandai mengaji. Namun, jangan terlalu berharap mereka mau menerima si bapak ini.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Ibu lama sudah kadaluarsa. Sudah habis tanggal pakainya. Ibarat pepatah lama, cinta datang dan pergi. Karena itu, berbahagialah. Yang hilang akan terganti. Sakit merindu akan terobati.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Pasang wajah lucumu ke mana kita pergi.


Mari...

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Jangan tanya alasannya. Anak kecil menurut saja sama orangtua. Percayakan semua pada bapak. Begini-begini, bapak sudah banyak pengalamannya.

Konon, di luar sana ada banyak, Sayang. Macam-macam. Dari mulai ibu tiri, ibu guru, sampai ibu RI-1. Kamu pilih yang mana? Bilang saja. Biar nanti bapak yang menghadap salah satu dari mereka.

Atau kamu punya kriteria sendiri? Boleh saja. Ini negeri demokrasi. Begitu pula di rumah kita. Setiap penghuninya berhak untuk menyampaikan suara. Meski, bapak jualah yang menentukan di bagian akhirnya.

Bapak kasih tahu, ya. Jangan pilih yang pandai memasak. Akan amat susah mencarinya. Jangan pula minta yang pandai menyanyi. Semua sudah ada yang punya. Pilih yang pandai mengaji. Namun, jangan terlalu berharap mereka mau menerima si bapak ini.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Ibu lama sudah kadaluarsa. Sudah habis tanggal pakainya. Ibarat pepatah lama, cinta datang dan pergi. Karena itu, berbahagialah. Yang hilang akan terganti. Sakit merindu akan terobati.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Pasang wajah lucumu ke mana kita pergi.


Selasa, 14 April 2009

Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?




Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?




Senin, 19 Januari 2009

Kampung Halaman Aisa

Aisa,
Pernahkah kamu melihat bintang jatuh?


Tak usah dijawab, sayang.
Karena bapak tahu jawabannya adalah pernah.
Pasti pernah.
Dan sandainya ternyata bapak barusan sok tahu,
maafkan, ya.
Maukah kamu memaafkan bapakmu satu-satunya ini?
Yang tak ada duanya itu...
Yang kasihnya padamu melimpah seperti banjir itu...
Yang sayangnya padamu tak dapat dikalkulasi itu...
Janganlah karena bapak sudah sok tahu,
lantas hubungan kita berakhir sampai di sini.

Ada pun kenapa bapak mengajukan pertanyaan tadi,
itu tidak ada hubungannya dengan surat bapak kali ini.
Bapak hendak bercerita tentang kampung halaman dari mana bapak berasal.
Asal usul dan bagaimana ayahmu ini dibesarkan.

Maafkan jika bapak sudah tidak nyambung, sayang.
Maukah kamu sekali lagi memaafkan?

Aih.
Bapak harap kamu tidak malu punya ayah seperti bapak.
Sudah sok tahu, tidak nyambung pula...

Bagaimana lagi,
kebiasaan itu sudah tumbuh sejak bapak masih SMA.
Belasan tahun yang lalu.
Waktu bapak masih gagah-gagahnya.

SMA itu Sekolah Menengah Atas, sayang.
Seragamnya putih abu.
Yah, sekedar informasi sambil lalu.
Bapak ceritakan di sini karena bapak tidak tahu
apakah namanya nanti di zamanmu.

Kembali ke cerita bapak tentang bintang jatuh,
semalam bapak melihatnya.
Bapak melihat bintang jatuh.
Jatuh dia dari langit malam.
Segera bapak tangkap
lalu bapak serahkan.


Bukan, Aisa.
Bukan diserahkan pada yang berwajib.
Tapi pada ibumu.
Makin senang dia pada bapak.


Juga makin cinta, tentunya.

Kampung Halaman Aisa

Aisa,
Pernahkah kamu melihat bintang jatuh?


Tak usah dijawab, sayang.
Karena bapak tahu jawabannya adalah pernah.
Pasti pernah.
Dan sandainya ternyata bapak barusan sok tahu,
maafkan, ya.
Maukah kamu memaafkan bapakmu satu-satunya ini?
Yang tak ada duanya itu...
Yang kasihnya padamu melimpah seperti banjir itu...
Yang sayangnya padamu tak dapat dikalkulasi itu...
Janganlah karena bapak sudah sok tahu,
lantas hubungan kita berakhir sampai di sini.

Ada pun kenapa bapak mengajukan pertanyaan tadi,
itu tidak ada hubungannya dengan surat bapak kali ini.
Bapak hendak bercerita tentang kampung halaman dari mana bapak berasal.
Asal usul dan bagaimana ayahmu ini dibesarkan.

Maafkan jika bapak sudah tidak nyambung, sayang.
Maukah kamu sekali lagi memaafkan?

Aih.
Bapak harap kamu tidak malu punya ayah seperti bapak.
Sudah sok tahu, tidak nyambung pula...

Bagaimana lagi,
kebiasaan itu sudah tumbuh sejak bapak masih SMA.
Belasan tahun yang lalu.
Waktu bapak masih gagah-gagahnya.

SMA itu Sekolah Menengah Atas, sayang.
Seragamnya putih abu.
Yah, sekedar informasi sambil lalu.
Bapak ceritakan di sini karena bapak tidak tahu
apakah namanya nanti di zamanmu.

Kembali ke cerita bapak tentang bintang jatuh,
semalam bapak melihatnya.
Bapak melihat bintang jatuh.
Jatuh dia dari langit malam.
Segera bapak tangkap
lalu bapak serahkan.


Bukan, Aisa.
Bukan diserahkan pada yang berwajib.
Tapi pada ibumu.
Makin senang dia pada bapak.


Juga makin cinta, tentunya.

Kamis, 08 Januari 2009

Aisa Adinda



Teruntuk Aisa

yang kecantikannya
mampu mengganggu
mimpi raja-raja





Di luar sana, hujan begitu deras, Aisa.
Membasahi semua yang terkena curahnya.
Termasuk jemuran bapak.
Tiga kemeja dan dua celana plus dalamannya.
Mungkin besok masih bapak kenakan baju yang sama dengan hari ini.
Tapi bukan itu yang hendak bapak ceritakan.
Tak mau bapak membuatmu malu karena mengetahui ayahnya tidak rajin mencuci pakaiannya sendiri.

Aisa Adinda Kita, pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana kedua orangtuamu berjumpa?
Seperti apa semua asal mula hingga takdir menghadirkanmu ke dunia?
Adakah kamu merasa ingin tahu?

Pasanglah sabuk pengaman, sayang.
Akan begitu banyak goncangan.



Kisah ini dimulai dari sebuah lagu berjudul Aubrey.
Jatuh cinta bapak pada lagu itu.
Jatuh hati bapak pada nama si gadis.
Bermimpi bapak bisa berjumpa.
Dicari kesana kemari, namun tak pernah ada.
Di pantai. Di gunung.
Di sudut-sudut paling sunyi.
Di tengah keramaian.
Tidak juga bapak temukan.


Tapi cinta kemudian mendua.
Pada Mandy.
Pernah pula Jude, Michelle dan Lucy.

Dan Kartika...
juga Widuri...

Satu hal yang harus kamu tahu, Aisa, bahwa cinta bapak tidak ada habis-habisnya.
Satu persatu bapak bagi sama besarnya. Sama porsinya.
Karena itu, sayang, jika cinta adalah mata uang, kamu memiliki ayah terkaya di dunia.
Sudah kaya, dermawan pula.

Tidakkah kamu merasa bangga?





I never knew her, but I loved her just the same.
I loved her name...
[Aubrey, Bread]

Aisa Adinda



Teruntuk Aisa

yang kecantikannya
mampu mengganggu
mimpi raja-raja





Di luar sana, hujan begitu deras, Aisa.
Membasahi semua yang terkena curahnya.
Termasuk jemuran bapak.
Tiga kemeja dan dua celana plus dalamannya.
Mungkin besok masih bapak kenakan baju yang sama dengan hari ini.
Tapi bukan itu yang hendak bapak ceritakan.
Tak mau bapak membuatmu malu karena mengetahui ayahnya tidak rajin mencuci pakaiannya sendiri.

Aisa Adinda Kita, pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana kedua orangtuamu berjumpa?
Seperti apa semua asal mula hingga takdir menghadirkanmu ke dunia?
Adakah kamu merasa ingin tahu?

Pasanglah sabuk pengaman, sayang.
Akan begitu banyak goncangan.



Kisah ini dimulai dari sebuah lagu berjudul Aubrey.
Jatuh cinta bapak pada lagu itu.
Jatuh hati bapak pada nama si gadis.
Bermimpi bapak bisa berjumpa.
Dicari kesana kemari, namun tak pernah ada.
Di pantai. Di gunung.
Di sudut-sudut paling sunyi.
Di tengah keramaian.
Tidak juga bapak temukan.


Tapi cinta kemudian mendua.
Pada Mandy.
Pernah pula Jude, Michelle dan Lucy.

Dan Kartika...
juga Widuri...

Satu hal yang harus kamu tahu, Aisa, bahwa cinta bapak tidak ada habis-habisnya.
Satu persatu bapak bagi sama besarnya. Sama porsinya.
Karena itu, sayang, jika cinta adalah mata uang, kamu memiliki ayah terkaya di dunia.
Sudah kaya, dermawan pula.

Tidakkah kamu merasa bangga?





I never knew her, but I loved her just the same.
I loved her name...
[Aubrey, Bread]

Minggu, 14 Desember 2008

Airmata, Aisa...


Teruntuk Aisa,

seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Jika ditanya kenapa, Bapak akan kesulitan menjawabnya. Kepedihan selalu datang dan pergi, atau datang dan hinggap. Entah harus memulai dari mana. Segala sebab-musabab tidaklah sesederhana kata-kata. Seperti persamaan polinomial pangkat enam saja. Siapapun akan kesulitan mencari akar-akarnya. Tapi, alasan apa pun tidaklah penting, Aisa. Bukankah airmata juga merupakan pelembut jiwa? Lalu kenapa kita harus disibukkan dengan mencari sumbernya?

Kamu tahu, Sayang. Bapak berani bertaruh bahwa kamu nyaris tidak pernah menemukan ibumu menangis. Bukan. Dia memang tangguh, tapi bukan karena itu. Ibumu adalah seorang perempuan yang sangat pandai dalam menyembunyikan kesedihannya. Teramat pandai. Dia bisa saja tersenyum dan tertawa di keramaian orang, padahal mungkin saja kesedihan tengah mengendap di dasar hatinya. Bapak saja baru satu-dua kali melihat air mata ibumu mengalir. Itu pun akibat tingkah-polah ayahmu ini.

Ya. Bapak kadang-kadang menyebalkan juga, Aisa. Maafkan.


Tapi Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.



“Perhaps our eyes need to be washed by our tears once in a while, so that we can see life with a clearer view again.”
[Alex Tan]


Airmata, Aisa...


Teruntuk Aisa,

seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Jika ditanya kenapa, Bapak akan kesulitan menjawabnya. Kepedihan selalu datang dan pergi, atau datang dan hinggap. Entah harus memulai dari mana. Segala sebab-musabab tidaklah sesederhana kata-kata. Seperti persamaan polinomial pangkat enam saja. Siapapun akan kesulitan mencari akar-akarnya. Tapi, alasan apa pun tidaklah penting, Aisa. Bukankah airmata juga merupakan pelembut jiwa? Lalu kenapa kita harus disibukkan dengan mencari sumbernya?

Kamu tahu, Sayang. Bapak berani bertaruh bahwa kamu nyaris tidak pernah menemukan ibumu menangis. Bukan. Dia memang tangguh, tapi bukan karena itu. Ibumu adalah seorang perempuan yang sangat pandai dalam menyembunyikan kesedihannya. Teramat pandai. Dia bisa saja tersenyum dan tertawa di keramaian orang, padahal mungkin saja kesedihan tengah mengendap di dasar hatinya. Bapak saja baru satu-dua kali melihat air mata ibumu mengalir. Itu pun akibat tingkah-polah ayahmu ini.

Ya. Bapak kadang-kadang menyebalkan juga, Aisa. Maafkan.


Tapi Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.



“Perhaps our eyes need to be washed by our tears once in a while, so that we can see life with a clearer view again.”
[Alex Tan]


Sabtu, 15 November 2008

7 Jurus Hidup Aisa

Aisa, cinta bapak.
Untuk petama kalinya bapak menyuratimu di siang hari. Matahari masih tinggi di luar sana. Di tengah kesibukan yang diam-diam mencuri keping demi keping jiwa ini, bapak sempatkan melamun, memikirkan kamu. Seandainya saja kamu sudah dilahirkan ke dunia, saat ini juga bapak tinggalkan kantor dan mengajakmu bermain di taman, sambil menikmati es krim sebanyak kamu suka.

Ya, kita berdua bersekongkol melanggar aturan ibumu, Aisa.

Aisa, cinta yang bapak punya.
Tahukah seperti apa dunia yang akan kamu hadapi nanti? Setiap kali memikirkan hal tersebut, betapa ngeri bapak dibuatnya. Penuh dengan tipu daya. Jerat sesat di mana-mana. Akan begitu banyak, dan teramat banyak, mereka yang hendak mencuri keping demi keping jiwa kamu. Menghisapnya lamat-lamat. Lalu lambat-laun, tanpa kamu sadari, kamu menjadi orang yang kamu benci. Dan kamu akan mengalami berbagai kesulitan untuk bisa kembali.

Karena itu, sayang, semoga kamu akan selalu teringat akan jurus-jurus rahasia bapak ini.

#1
Hidup miskin itu boleh saja, Aisa. Asal jangan hidup susah.

#2
Kamu boleh berbohong, asal jangan omong kosong.

#3
Jangan terlalu mudah meminta maaf.

Semakin sering kamu meminta, kamu akan semakin terbiasa melakukan kesalahan. Sampai-sampai, kamu akan meminta maaf bahkan sebelum tahu apa kesalahan kamu. Lalu tiba-tiba saja kamu akan begitu suka untuk bilang, ”Kalau ada salah, saya minta maaf.”

#4
Jangan pernah berkata, ”Maaf, saya tidak bisa membantu.”
Tapi katakan, ”Saya hanya bisa bantu ini saja.”

Tidak bisa dan tidak peduli itu nyaris serupa, Aisa.

#5
Jangan pernah menabung.

Menabung hanya bagi mereka yang tidak percaya bahwa uang itu mudah dicari. Jika berlebih, berikan saja pada yang perlu. Jika kurang, kurangi saja keinginanmu.

#6
Sedih karena kehilangan orang yang kita sayangi itu manusiawi.

Tapi justru kehilangan orang yang menyayangi kitalah yang amat menyedihkan. Tapi sedikit orang yang menyadarinya.

#7
Katakan bahwa kamu lebih mencintai bapak daripada ibu di setiap malamnya.

















Juga katakan yang sebaliknya pada ibumu, Aisa.


...on the day that you were born the angels got together and decided to create a dream come true…
[
Close to You, Carpenters]


7 Jurus Hidup Aisa

Aisa, cinta bapak.
Untuk petama kalinya bapak menyuratimu di siang hari. Matahari masih tinggi di luar sana. Di tengah kesibukan yang diam-diam mencuri keping demi keping jiwa ini, bapak sempatkan melamun, memikirkan kamu. Seandainya saja kamu sudah dilahirkan ke dunia, saat ini juga bapak tinggalkan kantor dan mengajakmu bermain di taman, sambil menikmati es krim sebanyak kamu suka.

Ya, kita berdua bersekongkol melanggar aturan ibumu, Aisa.

Aisa, cinta yang bapak punya.
Tahukah seperti apa dunia yang akan kamu hadapi nanti? Setiap kali memikirkan hal tersebut, betapa ngeri bapak dibuatnya. Penuh dengan tipu daya. Jerat sesat di mana-mana. Akan begitu banyak, dan teramat banyak, mereka yang hendak mencuri keping demi keping jiwa kamu. Menghisapnya lamat-lamat. Lalu lambat-laun, tanpa kamu sadari, kamu menjadi orang yang kamu benci. Dan kamu akan mengalami berbagai kesulitan untuk bisa kembali.

Karena itu, sayang, semoga kamu akan selalu teringat akan jurus-jurus rahasia bapak ini.

#1
Hidup miskin itu boleh saja, Aisa. Asal jangan hidup susah.

#2
Kamu boleh berbohong, asal jangan omong kosong.

#3
Jangan terlalu mudah meminta maaf.

Semakin sering kamu meminta, kamu akan semakin terbiasa melakukan kesalahan. Sampai-sampai, kamu akan meminta maaf bahkan sebelum tahu apa kesalahan kamu. Lalu tiba-tiba saja kamu akan begitu suka untuk bilang, ”Kalau ada salah, saya minta maaf.”

#4
Jangan pernah berkata, ”Maaf, saya tidak bisa membantu.”
Tapi katakan, ”Saya hanya bisa bantu ini saja.”

Tidak bisa dan tidak peduli itu nyaris serupa, Aisa.

#5
Jangan pernah menabung.

Menabung hanya bagi mereka yang tidak percaya bahwa uang itu mudah dicari. Jika berlebih, berikan saja pada yang perlu. Jika kurang, kurangi saja keinginanmu.

#6
Sedih karena kehilangan orang yang kita sayangi itu manusiawi.

Tapi justru kehilangan orang yang menyayangi kitalah yang amat menyedihkan. Tapi sedikit orang yang menyadarinya.

#7
Katakan bahwa kamu lebih mencintai bapak daripada ibu di setiap malamnya.

















Juga katakan yang sebaliknya pada ibumu, Aisa.


...on the day that you were born the angels got together and decided to create a dream come true…
[
Close to You, Carpenters]


Jumat, 31 Oktober 2008

Aisa Sayang, Aisa Malang...




Aisa sayang, ketika menulis ini, bapak sedang berada dalam cobaan-Nya. Sudah tiga hari tubuh satu-satunya ini dilanda panas dan demam. Kemampuan bapak dalam mencicipi makanan pun ditawan entah sampai kapan. Tidak berasa itu makanan. Sampai merokok pun tak enak rasa. Di malam hari, tidur bapak gelisah gundah gulana. Pantat pun tidak bisa diam di satu tempat saja. Semua posisi selalu serba salah. Setiap pukul dua dini hari bapak terbangun lalu ke kamar mandi. Tidak usahlah bapak jelaskan di sana apa yang terjadi.

Aisa malang, jika ada yang harus disalahkan dengan nasib buruk yang menimpa bapak ini, maka ibumulah pelakunya. Ya, ibumu. Pesonanya yang ia tebar, kisah-kisah yang ia ceritakan dalam surat-suratnya, serta mimpi-mimpinya yang ia bagi pada bapak sudah cukup lama menjadi candu yang memabukkan. Kadang-kadang sampai slebor bapak dibuatnya. Tidak jarang tertawa sendiri. Atau sekedar senyum menawan, menangis tersedu pilu.

Lalu tiba-tiba saja dihentikannya semua itu tanpa aba-aba terlebih dahulu. Dua minggu, sebutnya. Itu pun bisa lebih lama, atau jika kami beruntung, bisa kurang dari itu.

Karenanya, Aisa. Jangan terkejut seandainya kelak kamu temukan bapak sedang berada di pusat rehabilitasi. Atau di pesantren Abah Anom, Tasik.

Sekali lagi. Ibumu itu, Aisa, pelakunya.




"I don't need drugs to make my life tragic."
[Anonymous]

Aisa Sayang, Aisa Malang...




Aisa sayang, ketika menulis ini, bapak sedang berada dalam cobaan-Nya. Sudah tiga hari tubuh satu-satunya ini dilanda panas dan demam. Kemampuan bapak dalam mencicipi makanan pun ditawan entah sampai kapan. Tidak berasa itu makanan. Sampai merokok pun tak enak rasa. Di malam hari, tidur bapak gelisah gundah gulana. Pantat pun tidak bisa diam di satu tempat saja. Semua posisi selalu serba salah. Setiap pukul dua dini hari bapak terbangun lalu ke kamar mandi. Tidak usahlah bapak jelaskan di sana apa yang terjadi.

Aisa malang, jika ada yang harus disalahkan dengan nasib buruk yang menimpa bapak ini, maka ibumulah pelakunya. Ya, ibumu. Pesonanya yang ia tebar, kisah-kisah yang ia ceritakan dalam surat-suratnya, serta mimpi-mimpinya yang ia bagi pada bapak sudah cukup lama menjadi candu yang memabukkan. Kadang-kadang sampai slebor bapak dibuatnya. Tidak jarang tertawa sendiri. Atau sekedar senyum menawan, menangis tersedu pilu.

Lalu tiba-tiba saja dihentikannya semua itu tanpa aba-aba terlebih dahulu. Dua minggu, sebutnya. Itu pun bisa lebih lama, atau jika kami beruntung, bisa kurang dari itu.

Karenanya, Aisa. Jangan terkejut seandainya kelak kamu temukan bapak sedang berada di pusat rehabilitasi. Atau di pesantren Abah Anom, Tasik.

Sekali lagi. Ibumu itu, Aisa, pelakunya.




"I don't need drugs to make my life tragic."
[Anonymous]

Sabtu, 18 Oktober 2008

Aisa (3)

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.

Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Kamu, tahu Aisa. Sewaktu ibumu masih belum menyadari takdir kami, sewaktu kamu masih di alam ruh tanpa tahu bagaimana manis pahitnya kehidupan dunia, bapak selalu bertanya-tanya, apakah kelak kamu akan bangga dengan bapak. Apakah kamu akan membandingkannya dengan ayah tetangga? Dengan Budi Dharma? Dengan John Lennon? Dengan Jimmy Maruli Alfian? Dengan ... Ahmad Dhani sekalipun?

Aisa, sayang. Bapak mungkin bukan siapa-siapa dibandingkan mereka. Tapi, sewaktu kamu membaca catatan ini, ada satu hal yang sangat bapak yakini.

Cuma bapak yang bisa menghiasi rumah kita dengan penuh tawa.

Aisa (3)

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.

Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Kamu, tahu Aisa. Sewaktu ibumu masih belum menyadari takdir kami, sewaktu kamu masih di alam ruh tanpa tahu bagaimana manis pahitnya kehidupan dunia, bapak selalu bertanya-tanya, apakah kelak kamu akan bangga dengan bapak. Apakah kamu akan membandingkannya dengan ayah tetangga? Dengan Budi Dharma? Dengan John Lennon? Dengan Jimmy Maruli Alfian? Dengan ... Ahmad Dhani sekalipun?

Aisa, sayang. Bapak mungkin bukan siapa-siapa dibandingkan mereka. Tapi, sewaktu kamu membaca catatan ini, ada satu hal yang sangat bapak yakini.

Cuma bapak yang bisa menghiasi rumah kita dengan penuh tawa.

Minggu, 05 Oktober 2008

Putriku, Aisa (2)




Aisa, sayang.
Besok bapak berulang tahun. Kado apa yang sudah kamu siapkan? Bapak harap kado kamu tidak seperti yang selama ini ibumu berikan. Seleranya aneh. Waktu ulang tahun ke-22, masa bapak dihadiahi boneka? Setahun kemudian, bapak menerima cd lagu padahal bapak ngga punya mesin pemutarnya. Lalu ada sebatang cokelat yang menyebabkan bapak tumbuh lima jerawat. Salah satunya di pantat. Pernah juga bapak menerima novel Harry Potter 2, sedangkan nomor pertamanya belum bapak baca. Tapi, sayang, jangan pernah ceritakan ini pada ibumu. ya. Bagaimana lagi. Bapak tetap suka dengan yang gratis-gratis.

Aisa Adinda Kita.
Sejujurnya, sejak kemarin malam bapak sedang kesal sekali. Sangat kesal. Kamu tahu siapa penyebabnya? Ibumu. Tidak, tenang, Aisa. Bapak tetap cinta dan setia. Akh, kamu pasti akan kesulitan untuk mengerti hubungan kami. Nanti, setelah tiba waktunya kamu akan mengerti. Karena itu, tadi malam bapak mencari pelampiasan. Kamu tahu, Aisa, apa yang bapak lakukan jika sedang kesal? Makan. Tidak. Bukan sembarang makan. Yang bapak makan adalah makanan mahal, kurang enak dan tidak kenyang.

Karena itu, sayang, jika kelak kamu menikah dengan seseorang, pastikan lelaki itu tahan iman menghadapi segala sikapmu. Jika tidak, anak-anakmu seperti kamu jadinya. Kamu terpaksa disekolahkan di sekolah yang murah biaya. Bagaimana lagi. Tabungan bapak banyak dihabiskan di restoran-restoran.

Putriku, Aisa (2)




Aisa, sayang.
Besok bapak berulang tahun. Kado apa yang sudah kamu siapkan? Bapak harap kado kamu tidak seperti yang selama ini ibumu berikan. Seleranya aneh. Waktu ulang tahun ke-22, masa bapak dihadiahi boneka? Setahun kemudian, bapak menerima cd lagu padahal bapak ngga punya mesin pemutarnya. Lalu ada sebatang cokelat yang menyebabkan bapak tumbuh lima jerawat. Salah satunya di pantat. Pernah juga bapak menerima novel Harry Potter 2, sedangkan nomor pertamanya belum bapak baca. Tapi, sayang, jangan pernah ceritakan ini pada ibumu. ya. Bagaimana lagi. Bapak tetap suka dengan yang gratis-gratis.

Aisa Adinda Kita.
Sejujurnya, sejak kemarin malam bapak sedang kesal sekali. Sangat kesal. Kamu tahu siapa penyebabnya? Ibumu. Tidak, tenang, Aisa. Bapak tetap cinta dan setia. Akh, kamu pasti akan kesulitan untuk mengerti hubungan kami. Nanti, setelah tiba waktunya kamu akan mengerti. Karena itu, tadi malam bapak mencari pelampiasan. Kamu tahu, Aisa, apa yang bapak lakukan jika sedang kesal? Makan. Tidak. Bukan sembarang makan. Yang bapak makan adalah makanan mahal, kurang enak dan tidak kenyang.

Karena itu, sayang, jika kelak kamu menikah dengan seseorang, pastikan lelaki itu tahan iman menghadapi segala sikapmu. Jika tidak, anak-anakmu seperti kamu jadinya. Kamu terpaksa disekolahkan di sekolah yang murah biaya. Bagaimana lagi. Tabungan bapak banyak dihabiskan di restoran-restoran.

Rabu, 24 September 2008

Anakku, Aisa




RSJ RIAU 11
25 September 2008

Teruntuk putriku, Aisa…
Ketika Bapak menulis ini, kamu belum terlahir ke dunia. Belum juga dikandung. Karena hati ibumu belum juga luluh untuk dinikahi. Meski demikian, Bapak akan berusaha sekuat tenaga agar kelak kamu bisa membaca cerita ini: kisah hidup Bapak dan semua rahasia yang paling terdalamnya. Juga yang paling kelam. Karena itu, apa pun yang terjadi, jangan biarkan ibumu membacanya. Ini milik kita berdua. Sudah sewajarnya seorang ayah memiliki rahasia kecil dengan putrinya, bukan?

Ah, Aisa. Untuk sesaat, bapak lupa hendak menulis apa. Bapak kebingungan hendak memulainya dari mana. Segala kisah pasti ada asal mulanya, tapi kali ini sungguh berbeda. Kamu tahu kenapa, sayang? Karena kepala bapak sibuk mengkhayalkan kamu. Seperti apa saat kamu membaca kisah ini. Apakah kamu tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri seperti ibumu? Seperti nenek? Pantang menyerah dan sedikit keras kepala? Penurut seperti bapak? Pintar diiringi tutur kata yang sopan, kah? Apakah kamu banyak teman? Hidupmu meyenangkan? Dan… siapakah laki-laki yang beruntung menjadi pacarmu, Aisa? Bapak hanya berharap kamu hati-hati memilih. Itu saja. Karena kebanyakan laki-laki itu brengs… ah, ibumu yang cantik itu pasti sudah mewanti-wanti tentang bahaya laten jenis kami.

Aisa Adinda,
Satu-satunya yang bapak harapkan dari kamu adalah kamu bahagia. Tidak. Kamu tidak mesti selalu tertawa. Terkadang menangis itu bagus juga. Air mata tidak akan pernah habis, dan kamu tidak akan pernah tenggelam karenanya. Hanya saja bapak ingatkan, jangan pernah kamu menangis sendirian. Apalagi tertawa. Setidaknya di zaman bapak, mereka yang tertawa sendirian biasanya dikirim ke rumah sakit jiwa.

HAHAHAHAAHA!!!

Anakku, Aisa




RSJ RIAU 11
25 September 2008

Teruntuk putriku, Aisa…
Ketika Bapak menulis ini, kamu belum terlahir ke dunia. Belum juga dikandung. Karena hati ibumu belum juga luluh untuk dinikahi. Meski demikian, Bapak akan berusaha sekuat tenaga agar kelak kamu bisa membaca cerita ini: kisah hidup Bapak dan semua rahasia yang paling terdalamnya. Juga yang paling kelam. Karena itu, apa pun yang terjadi, jangan biarkan ibumu membacanya. Ini milik kita berdua. Sudah sewajarnya seorang ayah memiliki rahasia kecil dengan putrinya, bukan?

Ah, Aisa. Untuk sesaat, bapak lupa hendak menulis apa. Bapak kebingungan hendak memulainya dari mana. Segala kisah pasti ada asal mulanya, tapi kali ini sungguh berbeda. Kamu tahu kenapa, sayang? Karena kepala bapak sibuk mengkhayalkan kamu. Seperti apa saat kamu membaca kisah ini. Apakah kamu tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri seperti ibumu? Seperti nenek? Pantang menyerah dan sedikit keras kepala? Penurut seperti bapak? Pintar diiringi tutur kata yang sopan, kah? Apakah kamu banyak teman? Hidupmu meyenangkan? Dan… siapakah laki-laki yang beruntung menjadi pacarmu, Aisa? Bapak hanya berharap kamu hati-hati memilih. Itu saja. Karena kebanyakan laki-laki itu brengs… ah, ibumu yang cantik itu pasti sudah mewanti-wanti tentang bahaya laten jenis kami.

Aisa Adinda,
Satu-satunya yang bapak harapkan dari kamu adalah kamu bahagia. Tidak. Kamu tidak mesti selalu tertawa. Terkadang menangis itu bagus juga. Air mata tidak akan pernah habis, dan kamu tidak akan pernah tenggelam karenanya. Hanya saja bapak ingatkan, jangan pernah kamu menangis sendirian. Apalagi tertawa. Setidaknya di zaman bapak, mereka yang tertawa sendirian biasanya dikirim ke rumah sakit jiwa.

HAHAHAHAAHA!!!