Tampilkan postingan dengan label Catatan Berjalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Berjalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2009

Lontong!



Ceritanya, minggu lalu kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita. Letaknya di 60 km arah barat laut Rangkasbitung. Dan di mana itu Rangkasbitung, bukan tanggung jawab saya untuk memberi tahu. Dan benarkah ke arah barat laut? Dan benarkah 60 km jauhnya? Jujur, saya sekedar sok tahu. Mungkin lebih, mungkin kurang. Data tersebut disampaikan hanya cuma sekedar formalitas belaka sahaja, yang bila dihapus, tidak akan mengurangi maknanya barang sedikit pun.

Rangkasbitung itu ibukota Provinsi Banten. Dulunya. Atau, kepinginnya. Dan hanya tinggal kepingin karena pembangunan di sana nyaris baru dimulai lima-enam tahun ke belakang. Sejak bupati yang saat ini menjabat. Namanya Jayabaya. Meski, menurut sassus yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, beliau hanya lulusan sma, namun Kabupaten Rangkasbitung mulai bergeliat dari tidurnya yang panjang dan nyenyak. Padahal, di sana banyak nyamuk bukan alang kepalang. Mungkin juga itu sebab di sana tidak ada bencong berpakaian seksi mangkal malam hari.

Di Rangkasbitung, hanya terdapat dua buah bioskop. Itu pun sudah tutup sejak tahun 1994. Apollo, bioskop paling tua dan paling lama bertahan, dan Mandala yang hanya sempat beroperasi selama dua tahun. Keduanya tidak kuasa bersaing dengan kemunculan berbagai stasiun tv swasta. Padahal, saya suka sekali menonton di bioskop yang ada jeda istirahatnya, lalu para pedagang asongan menyerbu masuk ke dalam.

"Teh botol? Rokok? Lontong?"



Jangan mencari restoran fastfood jika, entah apa yang ada dalam pikiran kamu, berkunjung ke Rangkasbitung. Jangan bertanya di mana tempat yang romantis untuk berkencan, atau outlet yang menjual fashion kesukaan. Dan yang terpenting, jangan sekali-sekali bertanya… kapan pulang. Sudah jauh-jauh datang ke Rangkasbitung, masa langsung pulang?! Kamu harus mencicipi dahulu mie ayam Uum yang sangat terkenal itu. Terkenal di mana? Ya, di Rangkasbitung. Atau, cicipi baso Ismo yang sangat digemari itu. Yang kuahnya penuh lemak dengan sambal dahsyat pedasnya itu. Yang, konon, para peliput acara tv wisata kuliner berebut ke sana. TV mana? Ya, stasiun tv lokal sana. Atau, rasakan hangat nasi uduknya yang sangat populer. Dan tentunya, harus mencoba juga sayur lada yang… bau tiada tara, namun nikmat tak terkira. Maklum, bahan dasar sayur ini adalah daun yang digunakan sang rakun bersarang. Di sinilah perlunya kerjasama yang baik antara hidung dan mulut. Bagaimana pun, dalam hal makan, si hidung harus menurut.

Kini, Rangkasbitung semakin semarak dengan berdirinya sebuah mall Barata, singkatan dari Banten Ra… Ta... Memang tidak sebesar dan semegah Senayan City, tapi lumayanlah. Ada toko buku Karisma dan, tentu saja, penjaja dvd bajakan di sana. Kalau sudah ada dua macam toko itu, sudah lebih dari cukup, bukan?

Kalau ke Rangkasbitung, tidak usah bawa jaket tebal. Atau, syal. Temperatur udara di sana tidak jauh beda dengan Jakarta. Tapi, tenang saja. Kamu tidak perlu disuntik malaria.





Jadi, ceritanya, kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita.

Lontong!



Ceritanya, minggu lalu kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita. Letaknya di 60 km arah barat laut Rangkasbitung. Dan di mana itu Rangkasbitung, bukan tanggung jawab saya untuk memberi tahu. Dan benarkah ke arah barat laut? Dan benarkah 60 km jauhnya? Jujur, saya sekedar sok tahu. Mungkin lebih, mungkin kurang. Data tersebut disampaikan hanya cuma sekedar formalitas belaka sahaja, yang bila dihapus, tidak akan mengurangi maknanya barang sedikit pun.

Rangkasbitung itu ibukota Provinsi Banten. Dulunya. Atau, kepinginnya. Dan hanya tinggal kepingin karena pembangunan di sana nyaris baru dimulai lima-enam tahun ke belakang. Sejak bupati yang saat ini menjabat. Namanya Jayabaya. Meski, menurut sassus yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, beliau hanya lulusan sma, namun Kabupaten Rangkasbitung mulai bergeliat dari tidurnya yang panjang dan nyenyak. Padahal, di sana banyak nyamuk bukan alang kepalang. Mungkin juga itu sebab di sana tidak ada bencong berpakaian seksi mangkal malam hari.

Di Rangkasbitung, hanya terdapat dua buah bioskop. Itu pun sudah tutup sejak tahun 1994. Apollo, bioskop paling tua dan paling lama bertahan, dan Mandala yang hanya sempat beroperasi selama dua tahun. Keduanya tidak kuasa bersaing dengan kemunculan berbagai stasiun tv swasta. Padahal, saya suka sekali menonton di bioskop yang ada jeda istirahatnya, lalu para pedagang asongan menyerbu masuk ke dalam.

"Teh botol? Rokok? Lontong?"



Jangan mencari restoran fastfood jika, entah apa yang ada dalam pikiran kamu, berkunjung ke Rangkasbitung. Jangan bertanya di mana tempat yang romantis untuk berkencan, atau outlet yang menjual fashion kesukaan. Dan yang terpenting, jangan sekali-sekali bertanya… kapan pulang. Sudah jauh-jauh datang ke Rangkasbitung, masa langsung pulang?! Kamu harus mencicipi dahulu mie ayam Uum yang sangat terkenal itu. Terkenal di mana? Ya, di Rangkasbitung. Atau, cicipi baso Ismo yang sangat digemari itu. Yang kuahnya penuh lemak dengan sambal dahsyat pedasnya itu. Yang, konon, para peliput acara tv wisata kuliner berebut ke sana. TV mana? Ya, stasiun tv lokal sana. Atau, rasakan hangat nasi uduknya yang sangat populer. Dan tentunya, harus mencoba juga sayur lada yang… bau tiada tara, namun nikmat tak terkira. Maklum, bahan dasar sayur ini adalah daun yang digunakan sang rakun bersarang. Di sinilah perlunya kerjasama yang baik antara hidung dan mulut. Bagaimana pun, dalam hal makan, si hidung harus menurut.

Kini, Rangkasbitung semakin semarak dengan berdirinya sebuah mall Barata, singkatan dari Banten Ra… Ta... Memang tidak sebesar dan semegah Senayan City, tapi lumayanlah. Ada toko buku Karisma dan, tentu saja, penjaja dvd bajakan di sana. Kalau sudah ada dua macam toko itu, sudah lebih dari cukup, bukan?

Kalau ke Rangkasbitung, tidak usah bawa jaket tebal. Atau, syal. Temperatur udara di sana tidak jauh beda dengan Jakarta. Tapi, tenang saja. Kamu tidak perlu disuntik malaria.





Jadi, ceritanya, kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita.

Senin, 13 April 2009

Tungguuuuuu....




















kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang




















hidup ini menyenangkan
jika tanpa prasangka buruk, tentunya
dan tuduhan-tuduhan




















cantik
paman tunggu
duapuluh tahun lagi





11 April 2009
Cipanas, Garut

Tungguuuuuu....




















kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang




















hidup ini menyenangkan
jika tanpa prasangka buruk, tentunya
dan tuduhan-tuduhan




















cantik
paman tunggu
duapuluh tahun lagi





11 April 2009
Cipanas, Garut

Jumat, 03 April 2009

Maafkan Kami, DR. Herry Suhardiyanto...



Kembali ke Buitenzorg tidak seperti kembali ke kotamu. Yang dicari tidak ada di sini. Yang dibayang-bayangkan tidak juga muncul. Yang diharap, mengkhianati. Yang dicemaskan, terjadi.

“Di Rindu Alam puncak, matahari terbitnya keren, Bung!! Dari parkiran mobilnya, kita bisa lihat matahari muncul dari balik gunung.”

Begitu yang dibilang teman saya, seorang dosen harapan masa depan. Seorang PNS Golongan IIIA, tengah mengambil S2. Jujur dia punya sikap. Manis tutur katanya. Di pundaknya kelak, bersandar nasib pendidikan negeri kita.

Sambil dipeluk angin bersuhu amat rendah, berangkatlah kami dari Bandung pada pagi buta. Kokok ayam belum terdengar. Para bencong pun masih belum bubar. Mereka masih di tengah misi. Dan dari kami bertiga tidak ada satu pun yang sudah mandi.

“Ini Bandung, Bung. Dingin.”

Mobil dinas ditancap gasnya sedemikian rupa. Satu persatu yang menghalangi, berhasil kami lewati. Tidak peduli itu bis atau truk gandengan. Kami sedang mengejar terbitnya matahari.

Dalam satu setengah jam, kami sudah berada di kawasan Puncak, Cianjur. Langit mulai terang dan di arah timur sudah terlihat warna kemerahan. Mobil dinas pun semakin dipaksa bekerja di batas maksimalnya.

“Mari kita manfaatkan mobil dinas ini sebelum bapak saya pensiun dua tahun lagi.”

MenDikNas, maafkan kami.

Tapi penyesalan langsung pupus begitu saja sewaktu Restoran Rindu Alam terlihat oleh pandangan mata. Masih ada 1-2 menit hingga matahari terbit, sepertinya. Mobil pun segera menepi. Dan…

Dan…

Dan…

“Sejak kapan Rindu Alam pindah jadi menghadap ke arah barat, ya…”

Yah… dimaklumi. Mungkin waktu itu beliau tidak membawa kompas. Atau dia keliru, yang dia lihat bukan sun rise, tapi sun tet.

Maka, setelah menggerutu sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Buitenzorg. Cukup satu jam hingga kami tiba di kota. Dan… Ya, ampun. Suasana pagi di sana sungguh mengerikan. Macet panjang, terutama di arah menuju Jakarta. Dan jumlah angkotnya sangat mendominasi jalan aspal. Seakan-akan, jalan dibangun memang diperuntukkan bagi mereka sahaja.

“Ini bukan kota hujan. Ini kota angkot. Atau dulu pernah hujan angkot.”

Begitu yang dijelaskan teman saya. Karena pelancongan sebelumnya dilakukan pada malam hari, kali ini si dosen mulai menjelaskan satu persatu tiap sudut Buitenzorg.

“McD di sini lebih murah daripada di Bandung.”
“Ada dua terminal angkot yang saling berdekatan. Satu milik kotamadya, satu milik kabupaten.”
“Jalan lubang dan becek seperti ini biasa, Bung. Jangan protes. Di depan masih banyak lagi.”
“Itu warung baso paling enak di Buitenzorg. Catat: di Buitenzorg.”
”Polisi di sini baik-baik. Naik motor tanpa helm ngga akan ditilang. Yang ngga boleh, jalan kaki di atas trotoar sambil pakai helm. Disangka ngejek, ntar.”

Pemandangan di luar jendela tidak menarik minat kami. Tapi tidak apa. Toh, tujuan utama perjalanan ini adalah mengabadikan kampus IPB yang rimbun oleh pepohonan. Terbayang oleh kami hutan semi tropis yang masih perawan dan jalan setapak penghubung antar gedung kuliah di sana. Beserta penghuninya, tentu saja.

Penghuni yang manis, tentu saja. Jenis perempuannya, tentu saja. Tapi, tidak akan kami apa-apakan, tentu saja. Tidak berani, tentu saja.

Menjelang pukul tujuh pagi, kami memasuki pintu gerbang kampus. Bayar seribu rupiah untuk parkir mobil, lalu…

Pagi di Institut Pertanian Buitenzorg. Cahaya matahari malu-malu di sini.

Mereka menyebutnya danau.

Jalan setapak menuju Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

"Suka ada orang gila duduk-duduk di sini kalau saya lewat. Saya bertahan selama ini dengan memikirkan bahwa orang gila itu ialah sebenarnya artis sinetron... yang seksi... seksi sekali... sangat seksi sekali... Ya, betul-betul seksi sekali..."


Keluhan pertama kami di kampus ini adalah sulitnya mencari kantin yang nyaman untuk sekedar minum jus atau ngopi. Juga kantin yang menyediakan asbak. Jadilah kami si turis lokal mengotori lantai dengan abu dan puntung rokok.

Rektor IPB, maafkan.

Tapi penyesalan justru kembali berubah menjadi keluhan dan gerutuan sewaktu kami mulai menyusuri kampus dengan berjalan kaki. Manis di awal, getir di akhir. Mirip bait lagu kau yang memulai kau yang mengakhiri.

Sementara teman saya si dosen mengikuti kuliah, pada pukul sembilan, berdua kami berjalan kaki di jalan utama kampus. Tidak butuh mobil agar bebas masuk keluar hutan. Atau kebon, tepatnya?

Di sepanjang jalan, sesekali kami melirik hutan di sisi kanan. Sesekali kami masuk, dan tidak lama keluar lagi karena medan yang terlalu berbahaya. Juga karena sayang sepatu saya baru. Tshirt saya baru. Jaket saya baru. Baru dibeli semalam. Begitu juga yang dikenakan teman saya.

Padahal, masih lama menuju lebaran.

Ini kami sudah berjalan lebih dari satu kilometer, tapi tidak ada lagi yang menarik untuk dipotret.. Udaranya tidak ramah, cukup gerah. Keringat bercucuran, banyak nyamuk dan kami tidak tahu jalan di hadapan kami menuju ke mana.

Khawatir tersesat, kami pun mengambil langkah bijaksana, yaitu kembali ke parkiran. Dengan mobil, sekali lagi berputar. Dan… parkir di tempat lain, lalu berjalan kaki lagi. Dan… panasnya. Gerahnya. Mampir sebentar ke sebuah kantin untuk minum.

"Tidak jual Teh Botol????"

Pilihan pun jatuh pada, konon, itu jus jeruk dan alpukat. Dan… kembali ke mobil, parkir di tempat semula. Dan... menggerutu.

Sudah pukul sebelas, si dosen belum muncul juga. Kami mencoba bersabar.

Tunggu sebentar. Saya lagi Facebook-an…

Itu pesan pendek dari teman saya si dosen yang sedang beasiswa menimba ilmu S2 di IPB.





Maafkan Kami, DR. Herry Suhardiyanto...



Kembali ke Buitenzorg tidak seperti kembali ke kotamu. Yang dicari tidak ada di sini. Yang dibayang-bayangkan tidak juga muncul. Yang diharap, mengkhianati. Yang dicemaskan, terjadi.

“Di Rindu Alam puncak, matahari terbitnya keren, Bung!! Dari parkiran mobilnya, kita bisa lihat matahari muncul dari balik gunung.”

Begitu yang dibilang teman saya, seorang dosen harapan masa depan. Seorang PNS Golongan IIIA, tengah mengambil S2. Jujur dia punya sikap. Manis tutur katanya. Di pundaknya kelak, bersandar nasib pendidikan negeri kita.

Sambil dipeluk angin bersuhu amat rendah, berangkatlah kami dari Bandung pada pagi buta. Kokok ayam belum terdengar. Para bencong pun masih belum bubar. Mereka masih di tengah misi. Dan dari kami bertiga tidak ada satu pun yang sudah mandi.

“Ini Bandung, Bung. Dingin.”

Mobil dinas ditancap gasnya sedemikian rupa. Satu persatu yang menghalangi, berhasil kami lewati. Tidak peduli itu bis atau truk gandengan. Kami sedang mengejar terbitnya matahari.

Dalam satu setengah jam, kami sudah berada di kawasan Puncak, Cianjur. Langit mulai terang dan di arah timur sudah terlihat warna kemerahan. Mobil dinas pun semakin dipaksa bekerja di batas maksimalnya.

“Mari kita manfaatkan mobil dinas ini sebelum bapak saya pensiun dua tahun lagi.”

MenDikNas, maafkan kami.

Tapi penyesalan langsung pupus begitu saja sewaktu Restoran Rindu Alam terlihat oleh pandangan mata. Masih ada 1-2 menit hingga matahari terbit, sepertinya. Mobil pun segera menepi. Dan…

Dan…

Dan…

“Sejak kapan Rindu Alam pindah jadi menghadap ke arah barat, ya…”

Yah… dimaklumi. Mungkin waktu itu beliau tidak membawa kompas. Atau dia keliru, yang dia lihat bukan sun rise, tapi sun tet.

Maka, setelah menggerutu sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Buitenzorg. Cukup satu jam hingga kami tiba di kota. Dan… Ya, ampun. Suasana pagi di sana sungguh mengerikan. Macet panjang, terutama di arah menuju Jakarta. Dan jumlah angkotnya sangat mendominasi jalan aspal. Seakan-akan, jalan dibangun memang diperuntukkan bagi mereka sahaja.

“Ini bukan kota hujan. Ini kota angkot. Atau dulu pernah hujan angkot.”

Begitu yang dijelaskan teman saya. Karena pelancongan sebelumnya dilakukan pada malam hari, kali ini si dosen mulai menjelaskan satu persatu tiap sudut Buitenzorg.

“McD di sini lebih murah daripada di Bandung.”
“Ada dua terminal angkot yang saling berdekatan. Satu milik kotamadya, satu milik kabupaten.”
“Jalan lubang dan becek seperti ini biasa, Bung. Jangan protes. Di depan masih banyak lagi.”
“Itu warung baso paling enak di Buitenzorg. Catat: di Buitenzorg.”
”Polisi di sini baik-baik. Naik motor tanpa helm ngga akan ditilang. Yang ngga boleh, jalan kaki di atas trotoar sambil pakai helm. Disangka ngejek, ntar.”

Pemandangan di luar jendela tidak menarik minat kami. Tapi tidak apa. Toh, tujuan utama perjalanan ini adalah mengabadikan kampus IPB yang rimbun oleh pepohonan. Terbayang oleh kami hutan semi tropis yang masih perawan dan jalan setapak penghubung antar gedung kuliah di sana. Beserta penghuninya, tentu saja.

Penghuni yang manis, tentu saja. Jenis perempuannya, tentu saja. Tapi, tidak akan kami apa-apakan, tentu saja. Tidak berani, tentu saja.

Menjelang pukul tujuh pagi, kami memasuki pintu gerbang kampus. Bayar seribu rupiah untuk parkir mobil, lalu…

Pagi di Institut Pertanian Buitenzorg. Cahaya matahari malu-malu di sini.

Mereka menyebutnya danau.

Jalan setapak menuju Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

"Suka ada orang gila duduk-duduk di sini kalau saya lewat. Saya bertahan selama ini dengan memikirkan bahwa orang gila itu ialah sebenarnya artis sinetron... yang seksi... seksi sekali... sangat seksi sekali... Ya, betul-betul seksi sekali..."


Keluhan pertama kami di kampus ini adalah sulitnya mencari kantin yang nyaman untuk sekedar minum jus atau ngopi. Juga kantin yang menyediakan asbak. Jadilah kami si turis lokal mengotori lantai dengan abu dan puntung rokok.

Rektor IPB, maafkan.

Tapi penyesalan justru kembali berubah menjadi keluhan dan gerutuan sewaktu kami mulai menyusuri kampus dengan berjalan kaki. Manis di awal, getir di akhir. Mirip bait lagu kau yang memulai kau yang mengakhiri.

Sementara teman saya si dosen mengikuti kuliah, pada pukul sembilan, berdua kami berjalan kaki di jalan utama kampus. Tidak butuh mobil agar bebas masuk keluar hutan. Atau kebon, tepatnya?

Di sepanjang jalan, sesekali kami melirik hutan di sisi kanan. Sesekali kami masuk, dan tidak lama keluar lagi karena medan yang terlalu berbahaya. Juga karena sayang sepatu saya baru. Tshirt saya baru. Jaket saya baru. Baru dibeli semalam. Begitu juga yang dikenakan teman saya.

Padahal, masih lama menuju lebaran.

Ini kami sudah berjalan lebih dari satu kilometer, tapi tidak ada lagi yang menarik untuk dipotret.. Udaranya tidak ramah, cukup gerah. Keringat bercucuran, banyak nyamuk dan kami tidak tahu jalan di hadapan kami menuju ke mana.

Khawatir tersesat, kami pun mengambil langkah bijaksana, yaitu kembali ke parkiran. Dengan mobil, sekali lagi berputar. Dan… parkir di tempat lain, lalu berjalan kaki lagi. Dan… panasnya. Gerahnya. Mampir sebentar ke sebuah kantin untuk minum.

"Tidak jual Teh Botol????"

Pilihan pun jatuh pada, konon, itu jus jeruk dan alpukat. Dan… kembali ke mobil, parkir di tempat semula. Dan... menggerutu.

Sudah pukul sebelas, si dosen belum muncul juga. Kami mencoba bersabar.

Tunggu sebentar. Saya lagi Facebook-an…

Itu pesan pendek dari teman saya si dosen yang sedang beasiswa menimba ilmu S2 di IPB.





Selasa, 31 Maret 2009

Buffalo vs Loch Ness


Rupa-rupanya, keinginan untuk melakukan perjalanan sedang menggebu-gebu di hati saya. Seperti baru lepas dari penjara setelah dikurung sekian lama. Atau karena ingin berlari dari sesuatu? Mencari penghiburan?

Masih teka-teki silang.

Setelah Garut, Buitenzorg, Sumedang Tandang, lalu saya kembali ke Garut Kota Intan. Beberapa teman ingin melihat hijaunya sawah dan mengabadikannya dengan kamera. Padahal, itu sungguh dusta. Sesungguhnya adalah ingin mencicipi sambal oncom buatan nenek saya dan makan baso kampung asli sana.

Masih dengan mobil dinas berpelat merah, perjalanan dimulai pada pukul sepuluh Minggu pagi. Hanya butuh satu setengah jam untuk sampai, sebenarnya, tapi gunung-gunung di kiri-kanan serta seekor kerbau di tengah sawah berhasil menarik perhatian. Menepilah mobil dan kami turun.




Bagi mereka yang tidak tahu perbedaan sapi dan kerbau, lihatlah baik-baik foto di atas. Sesungguhnya, sapi dan kerbau sama sekali tidak memiliki perbedaan. Jika pun ada, marilah kita berbesar hati untuk saling menerima segala beda. Tak usahlah diungkit-ungkit. Malu, sama tetangga.


Itu kami, mengendap-endap di tengah sawah.



Seandainya kamu ikut, sudah menjadi Sanchay bagi kami berempat.



*sigh...




Minggu berikutnya, kami meluncur menuju Kawah Putih yang berposisi dekat Lembang. Pemandangan yang dahsyat. Saya, a.k.a, Andi Eriawan, yang sudah duapuluh empat tahun tinggal, tumbuh dan membesar di Bandung, baru pertama kali berangkat ke sana. Takjub saya dibuatnya. Sungguh sebuah tempat yang tepat untuk berasyik-masyuk dengan selingkuhan, foto pre-wedding atau sekedar mencari udara segar tercampur belerang.



“Mari kita berburu Loch Ness.”

Itu teman saya yang bilang. Kawah putih memang mirip danau berwarna keputihan. Kadang, hijau muda. Dan kami sungguh berharap seekor naga muncul tiba-tiba.



Tapi kami tidak punya janji dengan cuaca. Gerimis turun merintik, memaksa kami kembali ke parkiran dekat si penjual strawberry tusuk yang dilumuri coklat. Juga pedagang ketan bakar serta beberapa turis lokal dan luar.

“Jien li she ie ik pu.”

Jangan minta saya menerjemahkannya.

Buffalo vs Loch Ness


Rupa-rupanya, keinginan untuk melakukan perjalanan sedang menggebu-gebu di hati saya. Seperti baru lepas dari penjara setelah dikurung sekian lama. Atau karena ingin berlari dari sesuatu? Mencari penghiburan?

Masih teka-teki silang.

Setelah Garut, Buitenzorg, Sumedang Tandang, lalu saya kembali ke Garut Kota Intan. Beberapa teman ingin melihat hijaunya sawah dan mengabadikannya dengan kamera. Padahal, itu sungguh dusta. Sesungguhnya adalah ingin mencicipi sambal oncom buatan nenek saya dan makan baso kampung asli sana.

Masih dengan mobil dinas berpelat merah, perjalanan dimulai pada pukul sepuluh Minggu pagi. Hanya butuh satu setengah jam untuk sampai, sebenarnya, tapi gunung-gunung di kiri-kanan serta seekor kerbau di tengah sawah berhasil menarik perhatian. Menepilah mobil dan kami turun.




Bagi mereka yang tidak tahu perbedaan sapi dan kerbau, lihatlah baik-baik foto di atas. Sesungguhnya, sapi dan kerbau sama sekali tidak memiliki perbedaan. Jika pun ada, marilah kita berbesar hati untuk saling menerima segala beda. Tak usahlah diungkit-ungkit. Malu, sama tetangga.


Itu kami, mengendap-endap di tengah sawah.



Seandainya kamu ikut, sudah menjadi Sanchay bagi kami berempat.



*sigh...




Minggu berikutnya, kami meluncur menuju Kawah Putih yang berposisi dekat Lembang. Pemandangan yang dahsyat. Saya, a.k.a, Andi Eriawan, yang sudah duapuluh empat tahun tinggal, tumbuh dan membesar di Bandung, baru pertama kali berangkat ke sana. Takjub saya dibuatnya. Sungguh sebuah tempat yang tepat untuk berasyik-masyuk dengan selingkuhan, foto pre-wedding atau sekedar mencari udara segar tercampur belerang.



“Mari kita berburu Loch Ness.”

Itu teman saya yang bilang. Kawah putih memang mirip danau berwarna keputihan. Kadang, hijau muda. Dan kami sungguh berharap seekor naga muncul tiba-tiba.



Tapi kami tidak punya janji dengan cuaca. Gerimis turun merintik, memaksa kami kembali ke parkiran dekat si penjual strawberry tusuk yang dilumuri coklat. Juga pedagang ketan bakar serta beberapa turis lokal dan luar.

“Jien li she ie ik pu.”

Jangan minta saya menerjemahkannya.

PLN Brengsex!

   
Perjalanan berikutnya adalah menuju Sumedang Tandang. Ada sate kambing dan gurame bakar yang hendak kami buru di sana. Konon, itu sate kambing terbaik yang pernah ada di muka bumi. Laku nian oleh para PNS setiap makan siang. Penuh selalu. Pemiliknya saja sampai mampu membeli sebuah pom bensin.



“Lemaknya menetes, Ndi. Dan ngga bikin kepala pusing.”

Begitu yang dipromosikan salah satu teman penggila makanan. Maka dari itu, di hari Minggu pagi yang mendung, berangkatlah kami berempat ke sana dengan menggunakan sebuah mobil dinas berpelat merah. Seluruh penumpang adalah laki-laki. Bekal kami: dua buah kamera Canon 1000D yang belum seminggu digunakan. Waktunya bagi mereka untuk diuji.

“Kalau malam, kasirnya ngga pakai BH, lho.”

Begitu yang dibilang salah satu penumpang sewaktu kami keluar pintu tol Cileunyi. Dalam hati berdoa, semoga kembali ke Bandung pada malam hari.

Kampus Unpad sangat lenggang sewaktu kami melewatinya. Tidak satu pun terlihat mahasiswi. Mungkin karena hari libur. Padahal, sekiranya ada, sudah barang tentu kami akan menepikan mobil, turun dan mengajak mereka berkenalan.

Saya Andi. Ini teman saya Rusky, Pepen dan Mei. Kami sedang menuju Sumedang, tempat Rossa dilahirkan. Meski kami laki-laki tidak dikenal, kami sungguh tidak berbahaya. Mau ikut kami? Lihat saja pelat mobil yang berwarna merah tanda bahwa kami laki-laki baik-baik dan tidak ganas. Iya, ini mobil dinas. Mobil dinas bapak teman saya yang bekerja di DikNas.

Di Cadas Pangeran, jalanan menanjak dan berliku. Di kanan jurang, di kiri gunung. Pohon-pohon ditempeli poster pemilu. Wajah-wajah tak dikenal, tersenyum. Senyum mohon doa restu dan dukungannya. Kami pun sempatkan berdoa untuk mereka. Berdoa agar mereka segera menghentikan ini semua.

“Itu rumah Rossa. Konon, sepanjang jalan ini diblokir sewaktu beliau menikah.”

Begitu komentar teman saya sambil menunjuk sebuah rumah bertingkat dua. Dia sudah beberapa kali ke Sumedang dengan pacarnya. Pacar lama, tentunya. Sudah putus sejak beberapa bulan lalu.

Aih, seumur begini, putus….

Dari balik kaca, mulai terlihat oleh kami tempat yang dituju. Mobil menepi untuk parkir. Kami turun. Hujan ikut turun. Petugas parkir menghampiri kami sambil menawarkan payung. Saya tolak dengan halus tanpa lupa ucapkan terimakasih.

Kami laki-laki, tidak pernah berpayung.

Empat porsi sate kambing, seekor gurame bakar, 2 karedok dan minumnya segera kami pesan. Sambil menunggu datangannya makanan, kamera pun dikeluarkan. Pemandangan sungguh indah untuk segera diabadikan dalam si penyimpan kenangan.

“PLN brengsek!!!”

Begitu komentar salah satu teman saya. Setiap kali mengambil gambar, selalu saja ada kabel listrik menghalang.




Dan benar saja. Sekembalinya kami di pintu tol Bandung pada pukul tujuh malam, tidak satu pun petugas kasirnya mengenakan BH.

PLN Brengsex!

   
Perjalanan berikutnya adalah menuju Sumedang Tandang. Ada sate kambing dan gurame bakar yang hendak kami buru di sana. Konon, itu sate kambing terbaik yang pernah ada di muka bumi. Laku nian oleh para PNS setiap makan siang. Penuh selalu. Pemiliknya saja sampai mampu membeli sebuah pom bensin.



“Lemaknya menetes, Ndi. Dan ngga bikin kepala pusing.”

Begitu yang dipromosikan salah satu teman penggila makanan. Maka dari itu, di hari Minggu pagi yang mendung, berangkatlah kami berempat ke sana dengan menggunakan sebuah mobil dinas berpelat merah. Seluruh penumpang adalah laki-laki. Bekal kami: dua buah kamera Canon 1000D yang belum seminggu digunakan. Waktunya bagi mereka untuk diuji.

“Kalau malam, kasirnya ngga pakai BH, lho.”

Begitu yang dibilang salah satu penumpang sewaktu kami keluar pintu tol Cileunyi. Dalam hati berdoa, semoga kembali ke Bandung pada malam hari.

Kampus Unpad sangat lenggang sewaktu kami melewatinya. Tidak satu pun terlihat mahasiswi. Mungkin karena hari libur. Padahal, sekiranya ada, sudah barang tentu kami akan menepikan mobil, turun dan mengajak mereka berkenalan.

Saya Andi. Ini teman saya Rusky, Pepen dan Mei. Kami sedang menuju Sumedang, tempat Rossa dilahirkan. Meski kami laki-laki tidak dikenal, kami sungguh tidak berbahaya. Mau ikut kami? Lihat saja pelat mobil yang berwarna merah tanda bahwa kami laki-laki baik-baik dan tidak ganas. Iya, ini mobil dinas. Mobil dinas bapak teman saya yang bekerja di DikNas.

Di Cadas Pangeran, jalanan menanjak dan berliku. Di kanan jurang, di kiri gunung. Pohon-pohon ditempeli poster pemilu. Wajah-wajah tak dikenal, tersenyum. Senyum mohon doa restu dan dukungannya. Kami pun sempatkan berdoa untuk mereka. Berdoa agar mereka segera menghentikan ini semua.

“Itu rumah Rossa. Konon, sepanjang jalan ini diblokir sewaktu beliau menikah.”

Begitu komentar teman saya sambil menunjuk sebuah rumah bertingkat dua. Dia sudah beberapa kali ke Sumedang dengan pacarnya. Pacar lama, tentunya. Sudah putus sejak beberapa bulan lalu.

Aih, seumur begini, putus….

Dari balik kaca, mulai terlihat oleh kami tempat yang dituju. Mobil menepi untuk parkir. Kami turun. Hujan ikut turun. Petugas parkir menghampiri kami sambil menawarkan payung. Saya tolak dengan halus tanpa lupa ucapkan terimakasih.

Kami laki-laki, tidak pernah berpayung.

Empat porsi sate kambing, seekor gurame bakar, 2 karedok dan minumnya segera kami pesan. Sambil menunggu datangannya makanan, kamera pun dikeluarkan. Pemandangan sungguh indah untuk segera diabadikan dalam si penyimpan kenangan.

“PLN brengsek!!!”

Begitu komentar salah satu teman saya. Setiap kali mengambil gambar, selalu saja ada kabel listrik menghalang.




Dan benar saja. Sekembalinya kami di pintu tol Bandung pada pukul tujuh malam, tidak satu pun petugas kasirnya mengenakan BH.

Selasa, 10 Februari 2009

Kampung Trip I

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Dan tidak seperti waktu di masa sekolah, bukan sekedar kehadiran yang dibutuhkan. Tapi lebih dari itu. Di acara talkshow tersebut, saya diberi peran sebagai pembicara. Sebenarnya, istilah “acara talkshow” itu keliru. Atau salah. Cukup “talkshow”, tidak perlu ditambah dengan embel-embel kata “acara”. Tapi, di jaman begini, orang banyak tidak peduli.

Saya pun tidak sekedar berbicara. Kadang-kadang, tertawa. Sesekali, menganggukkan kepala.

Bersama seorang penulis wanita beranak satu, kami bercerita di depan puluhan anak SMP tentang bagaimana menulis. Diantara mereka ada yang mirip Agnes Monica dan Chintami Atmanegara. Tentu, Agnes dan Chintami sewaktu mereka masih remaja.

“Menulis itu sangat susah, Ade-ade. Apalagi menulis kaligrafi Arab dan huruf Cina.”

Garut adalah salah satu kampung halaman saya. Tempat saya dititipkan sewaktu kecil. Setiap liburan sekolah. Tempat saya pulang berlebaran. Di sana, ibu saya dilahirkan. Di sana pula kedua orangtua saya berjumpa. Karena itu, pantaslah kiranya jika saya tahu benar bagaimana budaya penduduknya di masa lalu.

Dan sebagai penganut paham ultra-konservatif, saya sangat dikejutkan oleh foto-foto pengisi acara Gebyar Buku Murah Garut itu di hari Minggu sebelumnya: Garut Sexy Dancers.

Sungguh, saya sangat syok. Terkejut. Sampai-sampai saya mengelus dada dibuatnya.

Dada saya. Bukan dada ayam.

Garut, kampung halaman saya itu…
Kota santri itu… kini memiliki koleksi tim sexy dancer.
Dan sangat sexy.
Atau seksi.

Entah kenapa, saya merasa sedikit kecewa. Juga marah. Seperti melihat adik sendiri mempertontonkan tubuhnya di muka umum...





Kalau Bandung Sexy Dancer... Jakarta Sexy Dancer... bolehlah saya ikut menonton.



Kampung Trip I

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Dan tidak seperti waktu di masa sekolah, bukan sekedar kehadiran yang dibutuhkan. Tapi lebih dari itu. Di acara talkshow tersebut, saya diberi peran sebagai pembicara. Sebenarnya, istilah “acara talkshow” itu keliru. Atau salah. Cukup “talkshow”, tidak perlu ditambah dengan embel-embel kata “acara”. Tapi, di jaman begini, orang banyak tidak peduli.

Saya pun tidak sekedar berbicara. Kadang-kadang, tertawa. Sesekali, menganggukkan kepala.

Bersama seorang penulis wanita beranak satu, kami bercerita di depan puluhan anak SMP tentang bagaimana menulis. Diantara mereka ada yang mirip Agnes Monica dan Chintami Atmanegara. Tentu, Agnes dan Chintami sewaktu mereka masih remaja.

“Menulis itu sangat susah, Ade-ade. Apalagi menulis kaligrafi Arab dan huruf Cina.”

Garut adalah salah satu kampung halaman saya. Tempat saya dititipkan sewaktu kecil. Setiap liburan sekolah. Tempat saya pulang berlebaran. Di sana, ibu saya dilahirkan. Di sana pula kedua orangtua saya berjumpa. Karena itu, pantaslah kiranya jika saya tahu benar bagaimana budaya penduduknya di masa lalu.

Dan sebagai penganut paham ultra-konservatif, saya sangat dikejutkan oleh foto-foto pengisi acara Gebyar Buku Murah Garut itu di hari Minggu sebelumnya: Garut Sexy Dancers.

Sungguh, saya sangat syok. Terkejut. Sampai-sampai saya mengelus dada dibuatnya.

Dada saya. Bukan dada ayam.

Garut, kampung halaman saya itu…
Kota santri itu… kini memiliki koleksi tim sexy dancer.
Dan sangat sexy.
Atau seksi.

Entah kenapa, saya merasa sedikit kecewa. Juga marah. Seperti melihat adik sendiri mempertontonkan tubuhnya di muka umum...





Kalau Bandung Sexy Dancer... Jakarta Sexy Dancer... bolehlah saya ikut menonton.