Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2009



jika makanan itu pacar
dan makanan enak itu pacar yang menyenangkan
dan makanan mahal itu pacar yang matre

kami sudah puluhan tahun berpacaran


tapi
kali ini
saya merasa dikhianati






jika makanan itu pacar
dan makanan enak itu pacar yang menyenangkan
dan makanan mahal itu pacar yang matre

kami sudah puluhan tahun berpacaran


tapi
kali ini
saya merasa dikhianati




Rabu, 03 Juni 2009

Nama-nama Bulan




dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji


sssttt...
bilang juga pada april yang malang
si cemberut maret
dan februari yang ruwet

sedang januari
suruh tidur kembali

juli agustus,
kalian terlalu serius
dan biarkan juni yang sepi
cepat-cepat pergi



syuh syuh...

Nama-nama Bulan




dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji


sssttt...
bilang juga pada april yang malang
si cemberut maret
dan februari yang ruwet

sedang januari
suruh tidur kembali

juli agustus,
kalian terlalu serius
dan biarkan juni yang sepi
cepat-cepat pergi



syuh syuh...

Rabu, 22 April 2009

B 1195 NS



menunggu itu
diiringi kesal
gerutu
dan keluhan

menunggu itu
melirik jam tangan
dan berharap hari
cepat selesai

















..

menunggu itu
di tengah hujan
dengan rokok
berbatang-batang

menunggu itu
sia-sia
bangkit saja
pulang saja



B 1195 NS



menunggu itu
diiringi kesal
gerutu
dan keluhan

menunggu itu
melirik jam tangan
dan berharap hari
cepat selesai

















..

menunggu itu
di tengah hujan
dengan rokok
berbatang-batang

menunggu itu
sia-sia
bangkit saja
pulang saja



Senin, 06 April 2009

..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…




..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…




Selasa, 23 Desember 2008

Pergi, Jangan, Jangan Pergi



bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

bandung adalah hijaunya pinus
merah bunga mawar
dan warna-warni lampu malam
bitambah hitam asap knalpot
tercampur aroma sampah kota
yang sering lupa terangkut

bandung adalah sejuk, damai, tenang
yang terusik hingar-bingar
para geng motor

bandung adalah derai tawa dan air mata
plus amarah viking
seusai persib kalah tanding


bandung adalah surga berbelanja
tempat lidah berwisata
dan perut dimanja
awal kisah-kisah cinta romantis
juga perselingkuhan terjadi di sana

bandung adalah sarang seniman
penulis dan cendikiawan
termasuk tanah kelahiran pemusik
yang kemudian ditinggal pergi
demi nasib lebih baik

bandung adalah kota pelajar
dan pusat pendidikan
yang juga minim lapangan pekerjaan

bandung adalah paradoks
terkadang dibenci,
tidak jarang dirindu



Sejak 1984...







Sewaktu kuliah, saya begitu kukuh untuk berjuang di kota ini, tidak sekedar bertahan.

Tapi menurut Google Search, yang saya cari tidak ada di Bandung.

Haruskah saya tinggalkan ini semua? Demi...?






Pergi, jangan, jangan pergi...








“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[
Maria Robinson]

Pergi, Jangan, Jangan Pergi



bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

bandung adalah hijaunya pinus
merah bunga mawar
dan warna-warni lampu malam
bitambah hitam asap knalpot
tercampur aroma sampah kota
yang sering lupa terangkut

bandung adalah sejuk, damai, tenang
yang terusik hingar-bingar
para geng motor

bandung adalah derai tawa dan air mata
plus amarah viking
seusai persib kalah tanding


bandung adalah surga berbelanja
tempat lidah berwisata
dan perut dimanja
awal kisah-kisah cinta romantis
juga perselingkuhan terjadi di sana

bandung adalah sarang seniman
penulis dan cendikiawan
termasuk tanah kelahiran pemusik
yang kemudian ditinggal pergi
demi nasib lebih baik

bandung adalah kota pelajar
dan pusat pendidikan
yang juga minim lapangan pekerjaan

bandung adalah paradoks
terkadang dibenci,
tidak jarang dirindu



Sejak 1984...







Sewaktu kuliah, saya begitu kukuh untuk berjuang di kota ini, tidak sekedar bertahan.

Tapi menurut Google Search, yang saya cari tidak ada di Bandung.

Haruskah saya tinggalkan ini semua? Demi...?






Pergi, jangan, jangan pergi...








“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[
Maria Robinson]

Senin, 22 Desember 2008

Ember



lalu kusingkap rahasia pada mereka

tentang persahabatan kita
yang kuanyam dengan jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

kami sekedar berbicara
dalam bahasa yang serupa
dan tiap bait kata yang tersusun
dari guguran abjadnya yang semula berserakan

ia adalah air yang mengalir, sahutku
yang bermuara pada laut garam
juga menguap menjadi awan
lalu menghilang beserta hujan




















gunakan ember besar, usul mereka
tampung dia…



Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain.”
[Anonymous]

Ember



lalu kusingkap rahasia pada mereka

tentang persahabatan kita
yang kuanyam dengan jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

kami sekedar berbicara
dalam bahasa yang serupa
dan tiap bait kata yang tersusun
dari guguran abjadnya yang semula berserakan

ia adalah air yang mengalir, sahutku
yang bermuara pada laut garam
juga menguap menjadi awan
lalu menghilang beserta hujan




















gunakan ember besar, usul mereka
tampung dia…



Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain.”
[Anonymous]

Selasa, 09 Desember 2008

Jumpalitan


Teruntuk Litan,

seorang perempuan
yang padanya ingin kutitipkan
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

Hanya untuk Litan,
seorang perempuan di mana
setiap bait kata yang diucapkannya,
setiap lirik lagu yang disukainya,
setiap syair puisi yang mengendap di hatinya,
telah membuat lelaki ini
selalu menyebutkan namanya
setiap kali ia berdoa

yang jarang itu
yang sekedarnya itu
yang kadang-kadang itu

Litan,
tahukah kamu
lelaki ini
punya seribu pertanyaan
melayang berterbangan
di kepalanya
memiliki sejuta harapan
mengendap hinggap
di dadanya
semilyar mimpi
menyelam dalam
di hatinya

tentang kamu
jika kamu ingin tahu

namun sayang,
ia bukan siapa-siapa
tidak dimilikinya talenta
seperti para penyair itu
tidak dipunyainya motor besar
seperti pembalap itu
dan jangan ditanya
ia bisa menyanyi atau tidak

dirinya hanyalah seorang lelaki
yang bertekad menjaganya baik-baik
dan memeliharanya sungguh-sungguh
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

yang kamu titipkan
jika lelaki ini diberi kesempatan




Mereka yang mengenal saya sungguh tahu bahwa saya adalah seorang lelaki pejuang. Itu tidak diragukan lagi. Jika menginginkan sesuatu, saya akan mengejarnya. Tak peduli berapa lama waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang harus keluar.

Hutan golok, laut pedang. Saya tidak peduli. Hajar!

Namun, kali ini sungguh berbeda.

Ada misi yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Begitu banyak yang menaruh harapan pada lelaki sombong ini. Ada tanggungjawab yang harus diembannya. Saya, tidak lagi hidup hanya demi seseorang.

Para pujangga selalu berkata: jika cinta, kejar. Buktikan.
Tapi sahut pendekar: bukan laki-laki sejati mereka yang mengkhianati harapan.

*sigh

Mungkin dengan begini, saya akan betul-betul kehilangan. Dan harapan yang semula kecil itu, terhapus benar-benar. Dan saya tak punya kesempatan lagi mendapatkan porsi hati kamu yang paling besar. Lalu mereka akan mencibir: kalau saja kamu berangkat ke sana…

Jika kamu ingin pergi, saya tidak kuasa menahan.
Takkan saya merengek lagi.
Biar saya pelototi inbox kosong itu sampai bosan.
Kamu, saya bebaskan.



Sampai Jumpalitan…







Jumpalitan


Teruntuk Litan,

seorang perempuan
yang padanya ingin kutitipkan
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

Hanya untuk Litan,
seorang perempuan di mana
setiap bait kata yang diucapkannya,
setiap lirik lagu yang disukainya,
setiap syair puisi yang mengendap di hatinya,
telah membuat lelaki ini
selalu menyebutkan namanya
setiap kali ia berdoa

yang jarang itu
yang sekedarnya itu
yang kadang-kadang itu

Litan,
tahukah kamu
lelaki ini
punya seribu pertanyaan
melayang berterbangan
di kepalanya
memiliki sejuta harapan
mengendap hinggap
di dadanya
semilyar mimpi
menyelam dalam
di hatinya

tentang kamu
jika kamu ingin tahu

namun sayang,
ia bukan siapa-siapa
tidak dimilikinya talenta
seperti para penyair itu
tidak dipunyainya motor besar
seperti pembalap itu
dan jangan ditanya
ia bisa menyanyi atau tidak

dirinya hanyalah seorang lelaki
yang bertekad menjaganya baik-baik
dan memeliharanya sungguh-sungguh
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

yang kamu titipkan
jika lelaki ini diberi kesempatan




Mereka yang mengenal saya sungguh tahu bahwa saya adalah seorang lelaki pejuang. Itu tidak diragukan lagi. Jika menginginkan sesuatu, saya akan mengejarnya. Tak peduli berapa lama waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang harus keluar.

Hutan golok, laut pedang. Saya tidak peduli. Hajar!

Namun, kali ini sungguh berbeda.

Ada misi yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Begitu banyak yang menaruh harapan pada lelaki sombong ini. Ada tanggungjawab yang harus diembannya. Saya, tidak lagi hidup hanya demi seseorang.

Para pujangga selalu berkata: jika cinta, kejar. Buktikan.
Tapi sahut pendekar: bukan laki-laki sejati mereka yang mengkhianati harapan.

*sigh

Mungkin dengan begini, saya akan betul-betul kehilangan. Dan harapan yang semula kecil itu, terhapus benar-benar. Dan saya tak punya kesempatan lagi mendapatkan porsi hati kamu yang paling besar. Lalu mereka akan mencibir: kalau saja kamu berangkat ke sana…

Jika kamu ingin pergi, saya tidak kuasa menahan.
Takkan saya merengek lagi.
Biar saya pelototi inbox kosong itu sampai bosan.
Kamu, saya bebaskan.



Sampai Jumpalitan…







Senin, 01 Desember 2008

Memory Salon Memory


ada yang mengetuk di balik pintu

desau angin, rintik hujan, gemerisik daun
mengirim berita
kau takkan pernah tiba

siapa yang mengendap di atas atap?
tikus rumah dan kucing malam, rupanya
kata mereka
kau tidak lagi singgah

lalu apa yang mengintip di balik jendela
sejenis jin, mirip manusia, jelek rupa
bisiknya
lupakan saja

Bandung, 16-04-2004




Dengan segala kerendahan hati, saya akui bahwa Tuhan telah menganugerahi saya daya ingat yang luar biasa. Bukan pada nama, tanggal atau hafalan. Juga kesalahan orang lain. Apalagi tagihan hutang. Hutang bukan untuk diingat, tapi... dibayar.

Yang saya maksud di sini adalah, daya ingat saya akan sebuah kejadian sangat sulit dicari tandingannya. Pada detil-detil kecil. Aroma yang tercium. Cara makan. Menjentikkan jari. Mengibaskan rambut. Sifat dan sikap.

Untuk mengingat, saya cukup menjatuhkan diri. Tapi untuk melupakan, saya harus merangkak.

Tulisan dengan huruf miring di atas saya buat empat tahun setengah yang lalu. Saya masih begitu muda waktu itu. Masih lucu-lucunya. Bikin gemes, pokoknya. Tapi, tidak. Bukan ini yang hendak saya ceritakan. Memang penting, tapi lain kali saja saya beberkan lebih dalam.

Saya menulisnya di kantin kampus. Waktu itu, belum setahun sejak saya lulus kuliah. Saya duduk sendiri di salah satu bangku. Perut sudah terisi, tenggorokan sudah basah. Rokok menyala setengah. Kantin cukup ramai oleh mahasiswa. Juga mahasiswi. Sebagian dari mereka cukup cantik, enak diintip diam-diam. Sebagian lagi cantik sekali, sedap dipandang.

Tiba-tiba saja muncul sebuah ide brilian di kepala saya. Sebuah hasil pemikiran yang sangat jenius. Sulit dicarikan tandingannya. Patut diberi penghargaan. Layak mendapatkan Oscar atau Nobel. Jika dibukukan, saya yakin Pulitzer menanti. Minimal Ramon Magsaysay Award pasti di tangan.

Saya tidak perlu susah payah berusaha untuk melupakan. Tapi saya cukup merekayasa memori baru. Saya ciptakan ingatan yang berbeda. Yang jauh lebih menyenangkan, tentu saja. Dengan demikian, hal abu-abu yang pernah saya alami bisa berubah penuh warna ketika saya mengenangnya.

Mereka bilang itu menipu diri, saya bilang ini menghibur hati. Mereka mengejek bahwa saya mengkhayal, saya katakan ini imajinasi. Mereka bilang hadapi saja kenyataan, saya jawab: jangan ganggu. Saya sedang bermimpi.









“Memory can change the shape of a room; it can change the color of a car. And memories can be distorted. They’re just an interpretation, they’re not a record, and they’re irrelevant if you have the facts.”
[Leonard Shelby, Memento]








Memory Salon Memory


ada yang mengetuk di balik pintu

desau angin, rintik hujan, gemerisik daun
mengirim berita
kau takkan pernah tiba

siapa yang mengendap di atas atap?
tikus rumah dan kucing malam, rupanya
kata mereka
kau tidak lagi singgah

lalu apa yang mengintip di balik jendela
sejenis jin, mirip manusia, jelek rupa
bisiknya
lupakan saja

Bandung, 16-04-2004




Dengan segala kerendahan hati, saya akui bahwa Tuhan telah menganugerahi saya daya ingat yang luar biasa. Bukan pada nama, tanggal atau hafalan. Juga kesalahan orang lain. Apalagi tagihan hutang. Hutang bukan untuk diingat, tapi... dibayar.

Yang saya maksud di sini adalah, daya ingat saya akan sebuah kejadian sangat sulit dicari tandingannya. Pada detil-detil kecil. Aroma yang tercium. Cara makan. Menjentikkan jari. Mengibaskan rambut. Sifat dan sikap.

Untuk mengingat, saya cukup menjatuhkan diri. Tapi untuk melupakan, saya harus merangkak.

Tulisan dengan huruf miring di atas saya buat empat tahun setengah yang lalu. Saya masih begitu muda waktu itu. Masih lucu-lucunya. Bikin gemes, pokoknya. Tapi, tidak. Bukan ini yang hendak saya ceritakan. Memang penting, tapi lain kali saja saya beberkan lebih dalam.

Saya menulisnya di kantin kampus. Waktu itu, belum setahun sejak saya lulus kuliah. Saya duduk sendiri di salah satu bangku. Perut sudah terisi, tenggorokan sudah basah. Rokok menyala setengah. Kantin cukup ramai oleh mahasiswa. Juga mahasiswi. Sebagian dari mereka cukup cantik, enak diintip diam-diam. Sebagian lagi cantik sekali, sedap dipandang.

Tiba-tiba saja muncul sebuah ide brilian di kepala saya. Sebuah hasil pemikiran yang sangat jenius. Sulit dicarikan tandingannya. Patut diberi penghargaan. Layak mendapatkan Oscar atau Nobel. Jika dibukukan, saya yakin Pulitzer menanti. Minimal Ramon Magsaysay Award pasti di tangan.

Saya tidak perlu susah payah berusaha untuk melupakan. Tapi saya cukup merekayasa memori baru. Saya ciptakan ingatan yang berbeda. Yang jauh lebih menyenangkan, tentu saja. Dengan demikian, hal abu-abu yang pernah saya alami bisa berubah penuh warna ketika saya mengenangnya.

Mereka bilang itu menipu diri, saya bilang ini menghibur hati. Mereka mengejek bahwa saya mengkhayal, saya katakan ini imajinasi. Mereka bilang hadapi saja kenyataan, saya jawab: jangan ganggu. Saya sedang bermimpi.









“Memory can change the shape of a room; it can change the color of a car. And memories can be distorted. They’re just an interpretation, they’re not a record, and they’re irrelevant if you have the facts.”
[Leonard Shelby, Memento]








Senin, 24 November 2008

..


teruntuk kamu yang tercinta

yang hendak mengetuk pintu langit
menelusuri tapak risalah
mengenal jejak riwayat
dan menyempurnakan rukun syarat



semoga kembali
menjadi putih dan suci














doakan saya untuk segera ke sana
menjadi tamunya








“Every man dies, not every man really lives.”
[William Wallace, Brave Heart]

..


teruntuk kamu yang tercinta

yang hendak mengetuk pintu langit
menelusuri tapak risalah
mengenal jejak riwayat
dan menyempurnakan rukun syarat



semoga kembali
menjadi putih dan suci














doakan saya untuk segera ke sana
menjadi tamunya








“Every man dies, not every man really lives.”
[William Wallace, Brave Heart]

Kamis, 13 November 2008

Was Wes Wos

mari kita uraikan satu per satu
tentang sejarah masa lalu
tentang detik demi detik yang tengah berlompatan
dan masa depan yang begitu sulit diraba

bukankah telah berulang kali diceritakan
dalam lelaki ini
bersemayam iblis paling sadis
tertidur pulas malaikat pencabut nyawa

jangan usik mereka...

mari kita bahas segala perkara
dari syair-syair yang pernah mengalir
rahasia yang pernah terungkit
dan kenangan yang semestinya rapat tersimpan

bukankah begitu sering disebut-sebut
bahwa hidup lelaki ini
demi misi yang direkanya sendiri
dan takdir hanyalah untuk diperangi

ia baru saja dikalahkan
dengan cara yang demikian kejam…





Was Wes Wos

mari kita uraikan satu per satu
tentang sejarah masa lalu
tentang detik demi detik yang tengah berlompatan
dan masa depan yang begitu sulit diraba

bukankah telah berulang kali diceritakan
dalam lelaki ini
bersemayam iblis paling sadis
tertidur pulas malaikat pencabut nyawa

jangan usik mereka...

mari kita bahas segala perkara
dari syair-syair yang pernah mengalir
rahasia yang pernah terungkit
dan kenangan yang semestinya rapat tersimpan

bukankah begitu sering disebut-sebut
bahwa hidup lelaki ini
demi misi yang direkanya sendiri
dan takdir hanyalah untuk diperangi

ia baru saja dikalahkan
dengan cara yang demikian kejam…