Selasa, 14 April 2009

Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?




Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?




Senin, 13 April 2009

Tungguuuuuu....




















kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang




















hidup ini menyenangkan
jika tanpa prasangka buruk, tentunya
dan tuduhan-tuduhan




















cantik
paman tunggu
duapuluh tahun lagi





11 April 2009
Cipanas, Garut

Tungguuuuuu....




















kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang




















hidup ini menyenangkan
jika tanpa prasangka buruk, tentunya
dan tuduhan-tuduhan




















cantik
paman tunggu
duapuluh tahun lagi





11 April 2009
Cipanas, Garut

Senin, 06 April 2009

..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…




..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…




Jumat, 03 April 2009

Maafkan Kami, DR. Herry Suhardiyanto...



Kembali ke Buitenzorg tidak seperti kembali ke kotamu. Yang dicari tidak ada di sini. Yang dibayang-bayangkan tidak juga muncul. Yang diharap, mengkhianati. Yang dicemaskan, terjadi.

“Di Rindu Alam puncak, matahari terbitnya keren, Bung!! Dari parkiran mobilnya, kita bisa lihat matahari muncul dari balik gunung.”

Begitu yang dibilang teman saya, seorang dosen harapan masa depan. Seorang PNS Golongan IIIA, tengah mengambil S2. Jujur dia punya sikap. Manis tutur katanya. Di pundaknya kelak, bersandar nasib pendidikan negeri kita.

Sambil dipeluk angin bersuhu amat rendah, berangkatlah kami dari Bandung pada pagi buta. Kokok ayam belum terdengar. Para bencong pun masih belum bubar. Mereka masih di tengah misi. Dan dari kami bertiga tidak ada satu pun yang sudah mandi.

“Ini Bandung, Bung. Dingin.”

Mobil dinas ditancap gasnya sedemikian rupa. Satu persatu yang menghalangi, berhasil kami lewati. Tidak peduli itu bis atau truk gandengan. Kami sedang mengejar terbitnya matahari.

Dalam satu setengah jam, kami sudah berada di kawasan Puncak, Cianjur. Langit mulai terang dan di arah timur sudah terlihat warna kemerahan. Mobil dinas pun semakin dipaksa bekerja di batas maksimalnya.

“Mari kita manfaatkan mobil dinas ini sebelum bapak saya pensiun dua tahun lagi.”

MenDikNas, maafkan kami.

Tapi penyesalan langsung pupus begitu saja sewaktu Restoran Rindu Alam terlihat oleh pandangan mata. Masih ada 1-2 menit hingga matahari terbit, sepertinya. Mobil pun segera menepi. Dan…

Dan…

Dan…

“Sejak kapan Rindu Alam pindah jadi menghadap ke arah barat, ya…”

Yah… dimaklumi. Mungkin waktu itu beliau tidak membawa kompas. Atau dia keliru, yang dia lihat bukan sun rise, tapi sun tet.

Maka, setelah menggerutu sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Buitenzorg. Cukup satu jam hingga kami tiba di kota. Dan… Ya, ampun. Suasana pagi di sana sungguh mengerikan. Macet panjang, terutama di arah menuju Jakarta. Dan jumlah angkotnya sangat mendominasi jalan aspal. Seakan-akan, jalan dibangun memang diperuntukkan bagi mereka sahaja.

“Ini bukan kota hujan. Ini kota angkot. Atau dulu pernah hujan angkot.”

Begitu yang dijelaskan teman saya. Karena pelancongan sebelumnya dilakukan pada malam hari, kali ini si dosen mulai menjelaskan satu persatu tiap sudut Buitenzorg.

“McD di sini lebih murah daripada di Bandung.”
“Ada dua terminal angkot yang saling berdekatan. Satu milik kotamadya, satu milik kabupaten.”
“Jalan lubang dan becek seperti ini biasa, Bung. Jangan protes. Di depan masih banyak lagi.”
“Itu warung baso paling enak di Buitenzorg. Catat: di Buitenzorg.”
”Polisi di sini baik-baik. Naik motor tanpa helm ngga akan ditilang. Yang ngga boleh, jalan kaki di atas trotoar sambil pakai helm. Disangka ngejek, ntar.”

Pemandangan di luar jendela tidak menarik minat kami. Tapi tidak apa. Toh, tujuan utama perjalanan ini adalah mengabadikan kampus IPB yang rimbun oleh pepohonan. Terbayang oleh kami hutan semi tropis yang masih perawan dan jalan setapak penghubung antar gedung kuliah di sana. Beserta penghuninya, tentu saja.

Penghuni yang manis, tentu saja. Jenis perempuannya, tentu saja. Tapi, tidak akan kami apa-apakan, tentu saja. Tidak berani, tentu saja.

Menjelang pukul tujuh pagi, kami memasuki pintu gerbang kampus. Bayar seribu rupiah untuk parkir mobil, lalu…

Pagi di Institut Pertanian Buitenzorg. Cahaya matahari malu-malu di sini.

Mereka menyebutnya danau.

Jalan setapak menuju Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

"Suka ada orang gila duduk-duduk di sini kalau saya lewat. Saya bertahan selama ini dengan memikirkan bahwa orang gila itu ialah sebenarnya artis sinetron... yang seksi... seksi sekali... sangat seksi sekali... Ya, betul-betul seksi sekali..."


Keluhan pertama kami di kampus ini adalah sulitnya mencari kantin yang nyaman untuk sekedar minum jus atau ngopi. Juga kantin yang menyediakan asbak. Jadilah kami si turis lokal mengotori lantai dengan abu dan puntung rokok.

Rektor IPB, maafkan.

Tapi penyesalan justru kembali berubah menjadi keluhan dan gerutuan sewaktu kami mulai menyusuri kampus dengan berjalan kaki. Manis di awal, getir di akhir. Mirip bait lagu kau yang memulai kau yang mengakhiri.

Sementara teman saya si dosen mengikuti kuliah, pada pukul sembilan, berdua kami berjalan kaki di jalan utama kampus. Tidak butuh mobil agar bebas masuk keluar hutan. Atau kebon, tepatnya?

Di sepanjang jalan, sesekali kami melirik hutan di sisi kanan. Sesekali kami masuk, dan tidak lama keluar lagi karena medan yang terlalu berbahaya. Juga karena sayang sepatu saya baru. Tshirt saya baru. Jaket saya baru. Baru dibeli semalam. Begitu juga yang dikenakan teman saya.

Padahal, masih lama menuju lebaran.

Ini kami sudah berjalan lebih dari satu kilometer, tapi tidak ada lagi yang menarik untuk dipotret.. Udaranya tidak ramah, cukup gerah. Keringat bercucuran, banyak nyamuk dan kami tidak tahu jalan di hadapan kami menuju ke mana.

Khawatir tersesat, kami pun mengambil langkah bijaksana, yaitu kembali ke parkiran. Dengan mobil, sekali lagi berputar. Dan… parkir di tempat lain, lalu berjalan kaki lagi. Dan… panasnya. Gerahnya. Mampir sebentar ke sebuah kantin untuk minum.

"Tidak jual Teh Botol????"

Pilihan pun jatuh pada, konon, itu jus jeruk dan alpukat. Dan… kembali ke mobil, parkir di tempat semula. Dan... menggerutu.

Sudah pukul sebelas, si dosen belum muncul juga. Kami mencoba bersabar.

Tunggu sebentar. Saya lagi Facebook-an…

Itu pesan pendek dari teman saya si dosen yang sedang beasiswa menimba ilmu S2 di IPB.