Rabu, 03 Juni 2009

Nama-nama Bulan




dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji


sssttt...
bilang juga pada april yang malang
si cemberut maret
dan februari yang ruwet

sedang januari
suruh tidur kembali

juli agustus,
kalian terlalu serius
dan biarkan juni yang sepi
cepat-cepat pergi



syuh syuh...

Nama-nama Bulan




dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji


sssttt...
bilang juga pada april yang malang
si cemberut maret
dan februari yang ruwet

sedang januari
suruh tidur kembali

juli agustus,
kalian terlalu serius
dan biarkan juni yang sepi
cepat-cepat pergi



syuh syuh...

Kamis, 28 Mei 2009

Masih Ada, Om...




Jika berbicara tentang pekerjaan kantor, saya seperti berhadapan dengan tembok, atau serasa laksana benteng catur yang meringkuk saja di kotak paling sudut. Inilah satu-satunya bagian dari dunia saya di mana saya sungguh merasa sepi berada di sana. Nyaris tak ada teman untuk saling bercerita, berdiskusi atau sekedar mengeluh akan soal yang begitu sulit dipecahkan sendiri.

Tidak pernah terpikir dahulu bahwa kelak saya akan bekerja di sebuah perusahaan yang orang banyak ragu akan eksistensinya.

“Masih ada, gitu? Bukannya sudah bangkrut?”

Tidak pernah terpikir dahulu bahwa kelak saya akan bekerja di sebuah perusahaan yang pihak bank akan ragu untuk memberikan pinjaman atau kredit cicilan.

“Ada pekerjaan lain?”

Ya. Bahkan pernah di suatu masa, sebuah bank lebih mempercayai profesi pengojeg dibandingkan profesi saya dalam kelayakan pengajuan cicilan. Bukan saya merendahkan para pengojeg. Tidak sama sekali, jauh dari itu.

Apakah saya merasa kecewa? Sedih? Rendah diri?

Sebagai manusia biasa, tentu saja, ya.

Tapi, kembali saya meyakinkan diri bahwa saya bukanlah manusia biasa. Kenapa? Karena saya adalah salah satu dari sedikit sekali dari mereka yang tidak peduli dengan tuntutan sosial sekitarnya. Karena saya adalah salah satu dari sedikit sekali dari mereka yang bisa melepaskan diri dari kebergantungan pada hal-hal yang bersifat kebendaan, trend, dan pendapat banyak orang yang belum tentu benar. Saya telah memilih untuk menjadi orang bebas dari itu semua.

Meski, mungkin, baru mencapai tahap pura-pura.





Jadi, setiap kali ditanya di mana saya bekerja, jawab saya adalah,

“PTDI Masih Ada.”

Dan untuk sekedar info, gaji kami baru saja naik bulan ini.

Om...






“If you are a minority of one, the truth is the truth.”
[Mahatma Gandhi, Gandhi]






Masih Ada, Om...




Jika berbicara tentang pekerjaan kantor, saya seperti berhadapan dengan tembok, atau serasa laksana benteng catur yang meringkuk saja di kotak paling sudut. Inilah satu-satunya bagian dari dunia saya di mana saya sungguh merasa sepi berada di sana. Nyaris tak ada teman untuk saling bercerita, berdiskusi atau sekedar mengeluh akan soal yang begitu sulit dipecahkan sendiri.

Tidak pernah terpikir dahulu bahwa kelak saya akan bekerja di sebuah perusahaan yang orang banyak ragu akan eksistensinya.

“Masih ada, gitu? Bukannya sudah bangkrut?”

Tidak pernah terpikir dahulu bahwa kelak saya akan bekerja di sebuah perusahaan yang pihak bank akan ragu untuk memberikan pinjaman atau kredit cicilan.

“Ada pekerjaan lain?”

Ya. Bahkan pernah di suatu masa, sebuah bank lebih mempercayai profesi pengojeg dibandingkan profesi saya dalam kelayakan pengajuan cicilan. Bukan saya merendahkan para pengojeg. Tidak sama sekali, jauh dari itu.

Apakah saya merasa kecewa? Sedih? Rendah diri?

Sebagai manusia biasa, tentu saja, ya.

Tapi, kembali saya meyakinkan diri bahwa saya bukanlah manusia biasa. Kenapa? Karena saya adalah salah satu dari sedikit sekali dari mereka yang tidak peduli dengan tuntutan sosial sekitarnya. Karena saya adalah salah satu dari sedikit sekali dari mereka yang bisa melepaskan diri dari kebergantungan pada hal-hal yang bersifat kebendaan, trend, dan pendapat banyak orang yang belum tentu benar. Saya telah memilih untuk menjadi orang bebas dari itu semua.

Meski, mungkin, baru mencapai tahap pura-pura.





Jadi, setiap kali ditanya di mana saya bekerja, jawab saya adalah,

“PTDI Masih Ada.”

Dan untuk sekedar info, gaji kami baru saja naik bulan ini.

Om...






“If you are a minority of one, the truth is the truth.”
[Mahatma Gandhi, Gandhi]






Selasa, 26 Mei 2009

Mari...

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Jangan tanya alasannya. Anak kecil menurut saja sama orangtua. Percayakan semua pada bapak. Begini-begini, bapak sudah banyak pengalamannya.

Konon, di luar sana ada banyak, Sayang. Macam-macam. Dari mulai ibu tiri, ibu guru, sampai ibu RI-1. Kamu pilih yang mana? Bilang saja. Biar nanti bapak yang menghadap salah satu dari mereka.

Atau kamu punya kriteria sendiri? Boleh saja. Ini negeri demokrasi. Begitu pula di rumah kita. Setiap penghuninya berhak untuk menyampaikan suara. Meski, bapak jualah yang menentukan di bagian akhirnya.

Bapak kasih tahu, ya. Jangan pilih yang pandai memasak. Akan amat susah mencarinya. Jangan pula minta yang pandai menyanyi. Semua sudah ada yang punya. Pilih yang pandai mengaji. Namun, jangan terlalu berharap mereka mau menerima si bapak ini.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Ibu lama sudah kadaluarsa. Sudah habis tanggal pakainya. Ibarat pepatah lama, cinta datang dan pergi. Karena itu, berbahagialah. Yang hilang akan terganti. Sakit merindu akan terobati.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Pasang wajah lucumu ke mana kita pergi.


Mari...

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Jangan tanya alasannya. Anak kecil menurut saja sama orangtua. Percayakan semua pada bapak. Begini-begini, bapak sudah banyak pengalamannya.

Konon, di luar sana ada banyak, Sayang. Macam-macam. Dari mulai ibu tiri, ibu guru, sampai ibu RI-1. Kamu pilih yang mana? Bilang saja. Biar nanti bapak yang menghadap salah satu dari mereka.

Atau kamu punya kriteria sendiri? Boleh saja. Ini negeri demokrasi. Begitu pula di rumah kita. Setiap penghuninya berhak untuk menyampaikan suara. Meski, bapak jualah yang menentukan di bagian akhirnya.

Bapak kasih tahu, ya. Jangan pilih yang pandai memasak. Akan amat susah mencarinya. Jangan pula minta yang pandai menyanyi. Semua sudah ada yang punya. Pilih yang pandai mengaji. Namun, jangan terlalu berharap mereka mau menerima si bapak ini.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Ibu lama sudah kadaluarsa. Sudah habis tanggal pakainya. Ibarat pepatah lama, cinta datang dan pergi. Karena itu, berbahagialah. Yang hilang akan terganti. Sakit merindu akan terobati.

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Pasang wajah lucumu ke mana kita pergi.


Senin, 25 Mei 2009

Terbaik






Ada sebuah kejadian lewat yang masih saja hinggap di benak saya. Menclok seperti burung kakak tua, tak pernah mau pergi. Agak sedikit mengganggu, sebenarnya. Membuat saya sering melamun sewaktu menyetrika kemeja kerja. Membuang sia-sia air dalam gayung sewaktu mandi. Salah menyuapi sendok nasi ke hidung sewaktu sarapan. Keliru turun dari bis menuju kantor. Sampai-sampai, kadang saya dibuat lupa pakai celana. Tak ada yang melihat, untungnya.

Hebat kan saya, masih saja merasa beruntung?

Kejadian itu adalah sebuah reuni kecil-kecilan kelas kami di masa SMA. Tepat tahun lalu. Salah satu dari mereka yang hadir adalah seorang mantan pacar. Perempuan, tentunya, sedang hamil tujuh bulan untuk yang kedua kali. Datang pula sang suami si pelaku penghamilan.

“Kenapa belum menikah juga?”

Begitu si ibu hamil yang sekaligus mantan pacar di masa lalu itu bertanya pada saya dengan lugas dan ringan. Seperti bertanya, apa saya sudah makan? Atau..., sehat-sehat saja?

Saya sungguh mengerti, jawaban seperti apa yang beliau harapkan. Apakah beliau tidak tahu bahwa untuk menikah itu dibutuhkan dua pihak. Pihak laki-laki dan pihak perempuan. Dengan demikian, sepatutnya pertanyaan tersebut dilemparkan tidak hanya pada saya seorang.

“Mungkin karena doa kamu.”

Begitu dia menebak. Menuduh. Menyudutkan. Menyalahkan satu pihak saja. Tapi, saya tidak mengerti maksud dia punya tebak-tebakan.

“Maksudnya, kamu berdoa untuk diberikan yang terbaik, kan? Yang terbaik.”

“Tentu saja.”

Begitu saya menjawab dengan cepat. Padahal, saya masih tidak mengerti maksud beliau ke arah mana. Dan saya mencium adanya bau-bau jebakan di sini. Pasti.

“Nah, mungkin karena itulah kenapa kamu belum menikah juga. Kamu ingin yang terbaik, sih. Jadi, Tuhan akan kasih kamu yang terbaik. Masalahnya…”

Tuh, kan, ada masalah.

“Masalahnya… si perempuan yang hendak dipasangkan dengan kamu, dia pun berdoa kepada Tuhan agar diberikan yang terbaik. Dan… sungguh tidak adil jika kamu adalah orangnya.”

Dan saya pun menangkap nada mengejek dari kalimat itu.

“Coba kamu berdoa agar diberikan yang… lumayan. Atau, cukup baik. Toh, kamu juga ngga baik-baik amat.”

Pada mulanya, saya agak kesulitan mencerna apa yang dia sampaikan. Padahal, usus saya sangat kuat dalam mencerna daging kerbau sekalipun. Bahkan baru-baru ini, saya tidak mengalami masalah apa pun sewaktu melahap durian lengkap dengan kulitnya.

Setelah berpikir sejenak, merenung di ujung seperti benteng catur, ada pesan mulia dan nasihat berharga pada kalimat-kalimatnya yang berhasil saya tangkap. Memang, sejak saya mengenal beliau, nyaris tidak pernah saya temukan hal tercela yang dia lakukan. Beliau memang soleh-solehah. Setiap kali mengingatnya, secara otomatis kita akan mengambil air wudlu. Kalaupun ada cela dari beliau, mungkin hanya satu, yaitu dahulu mau berpacaran dengan saya, yang tentunya seorang laki-laki yang tidak baik-baik amat (menurut istilah dia).







Tapi, saya lumayan, lah.
Iya, kan, Bu Ustadzah?