Senin, 06 April 2009

..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…




..




pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu



di suatu hari yang cerah
sewaktu saya siap-siap berangkat ke sekolah
ibu memanggil dari arah dapur
tangannya masih sibuk dengan penggorengan

“Andi, coba lihat di halaman siapa yang datang.”

tiga orang menurunkan sebuah sepeda motor ke dalam garasi rumah

“Jangan mengebut, ya.”

ibu saya
si pembuat kejutan




sewaktu saya masuk smp
sewaktu masuk sma
kuliah
lulus
dan diterima kerja…
di kampung sana
ibu selalu melangsungkan syukuran
dan membagi-bagikan makanan
pada mereka yang membutuhkan

tanpa sepengetahuan saya
puteranya

ibu saya
juru doa setia



setelah tiada
oleh siapa
doa untuk saya
dilantunkan?



hidup ini berat ya, bu…




Jumat, 03 April 2009

Maafkan Kami, DR. Herry Suhardiyanto...



Kembali ke Buitenzorg tidak seperti kembali ke kotamu. Yang dicari tidak ada di sini. Yang dibayang-bayangkan tidak juga muncul. Yang diharap, mengkhianati. Yang dicemaskan, terjadi.

“Di Rindu Alam puncak, matahari terbitnya keren, Bung!! Dari parkiran mobilnya, kita bisa lihat matahari muncul dari balik gunung.”

Begitu yang dibilang teman saya, seorang dosen harapan masa depan. Seorang PNS Golongan IIIA, tengah mengambil S2. Jujur dia punya sikap. Manis tutur katanya. Di pundaknya kelak, bersandar nasib pendidikan negeri kita.

Sambil dipeluk angin bersuhu amat rendah, berangkatlah kami dari Bandung pada pagi buta. Kokok ayam belum terdengar. Para bencong pun masih belum bubar. Mereka masih di tengah misi. Dan dari kami bertiga tidak ada satu pun yang sudah mandi.

“Ini Bandung, Bung. Dingin.”

Mobil dinas ditancap gasnya sedemikian rupa. Satu persatu yang menghalangi, berhasil kami lewati. Tidak peduli itu bis atau truk gandengan. Kami sedang mengejar terbitnya matahari.

Dalam satu setengah jam, kami sudah berada di kawasan Puncak, Cianjur. Langit mulai terang dan di arah timur sudah terlihat warna kemerahan. Mobil dinas pun semakin dipaksa bekerja di batas maksimalnya.

“Mari kita manfaatkan mobil dinas ini sebelum bapak saya pensiun dua tahun lagi.”

MenDikNas, maafkan kami.

Tapi penyesalan langsung pupus begitu saja sewaktu Restoran Rindu Alam terlihat oleh pandangan mata. Masih ada 1-2 menit hingga matahari terbit, sepertinya. Mobil pun segera menepi. Dan…

Dan…

Dan…

“Sejak kapan Rindu Alam pindah jadi menghadap ke arah barat, ya…”

Yah… dimaklumi. Mungkin waktu itu beliau tidak membawa kompas. Atau dia keliru, yang dia lihat bukan sun rise, tapi sun tet.

Maka, setelah menggerutu sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Buitenzorg. Cukup satu jam hingga kami tiba di kota. Dan… Ya, ampun. Suasana pagi di sana sungguh mengerikan. Macet panjang, terutama di arah menuju Jakarta. Dan jumlah angkotnya sangat mendominasi jalan aspal. Seakan-akan, jalan dibangun memang diperuntukkan bagi mereka sahaja.

“Ini bukan kota hujan. Ini kota angkot. Atau dulu pernah hujan angkot.”

Begitu yang dijelaskan teman saya. Karena pelancongan sebelumnya dilakukan pada malam hari, kali ini si dosen mulai menjelaskan satu persatu tiap sudut Buitenzorg.

“McD di sini lebih murah daripada di Bandung.”
“Ada dua terminal angkot yang saling berdekatan. Satu milik kotamadya, satu milik kabupaten.”
“Jalan lubang dan becek seperti ini biasa, Bung. Jangan protes. Di depan masih banyak lagi.”
“Itu warung baso paling enak di Buitenzorg. Catat: di Buitenzorg.”
”Polisi di sini baik-baik. Naik motor tanpa helm ngga akan ditilang. Yang ngga boleh, jalan kaki di atas trotoar sambil pakai helm. Disangka ngejek, ntar.”

Pemandangan di luar jendela tidak menarik minat kami. Tapi tidak apa. Toh, tujuan utama perjalanan ini adalah mengabadikan kampus IPB yang rimbun oleh pepohonan. Terbayang oleh kami hutan semi tropis yang masih perawan dan jalan setapak penghubung antar gedung kuliah di sana. Beserta penghuninya, tentu saja.

Penghuni yang manis, tentu saja. Jenis perempuannya, tentu saja. Tapi, tidak akan kami apa-apakan, tentu saja. Tidak berani, tentu saja.

Menjelang pukul tujuh pagi, kami memasuki pintu gerbang kampus. Bayar seribu rupiah untuk parkir mobil, lalu…

Pagi di Institut Pertanian Buitenzorg. Cahaya matahari malu-malu di sini.

Mereka menyebutnya danau.

Jalan setapak menuju Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

"Suka ada orang gila duduk-duduk di sini kalau saya lewat. Saya bertahan selama ini dengan memikirkan bahwa orang gila itu ialah sebenarnya artis sinetron... yang seksi... seksi sekali... sangat seksi sekali... Ya, betul-betul seksi sekali..."


Keluhan pertama kami di kampus ini adalah sulitnya mencari kantin yang nyaman untuk sekedar minum jus atau ngopi. Juga kantin yang menyediakan asbak. Jadilah kami si turis lokal mengotori lantai dengan abu dan puntung rokok.

Rektor IPB, maafkan.

Tapi penyesalan justru kembali berubah menjadi keluhan dan gerutuan sewaktu kami mulai menyusuri kampus dengan berjalan kaki. Manis di awal, getir di akhir. Mirip bait lagu kau yang memulai kau yang mengakhiri.

Sementara teman saya si dosen mengikuti kuliah, pada pukul sembilan, berdua kami berjalan kaki di jalan utama kampus. Tidak butuh mobil agar bebas masuk keluar hutan. Atau kebon, tepatnya?

Di sepanjang jalan, sesekali kami melirik hutan di sisi kanan. Sesekali kami masuk, dan tidak lama keluar lagi karena medan yang terlalu berbahaya. Juga karena sayang sepatu saya baru. Tshirt saya baru. Jaket saya baru. Baru dibeli semalam. Begitu juga yang dikenakan teman saya.

Padahal, masih lama menuju lebaran.

Ini kami sudah berjalan lebih dari satu kilometer, tapi tidak ada lagi yang menarik untuk dipotret.. Udaranya tidak ramah, cukup gerah. Keringat bercucuran, banyak nyamuk dan kami tidak tahu jalan di hadapan kami menuju ke mana.

Khawatir tersesat, kami pun mengambil langkah bijaksana, yaitu kembali ke parkiran. Dengan mobil, sekali lagi berputar. Dan… parkir di tempat lain, lalu berjalan kaki lagi. Dan… panasnya. Gerahnya. Mampir sebentar ke sebuah kantin untuk minum.

"Tidak jual Teh Botol????"

Pilihan pun jatuh pada, konon, itu jus jeruk dan alpukat. Dan… kembali ke mobil, parkir di tempat semula. Dan... menggerutu.

Sudah pukul sebelas, si dosen belum muncul juga. Kami mencoba bersabar.

Tunggu sebentar. Saya lagi Facebook-an…

Itu pesan pendek dari teman saya si dosen yang sedang beasiswa menimba ilmu S2 di IPB.





Maafkan Kami, DR. Herry Suhardiyanto...



Kembali ke Buitenzorg tidak seperti kembali ke kotamu. Yang dicari tidak ada di sini. Yang dibayang-bayangkan tidak juga muncul. Yang diharap, mengkhianati. Yang dicemaskan, terjadi.

“Di Rindu Alam puncak, matahari terbitnya keren, Bung!! Dari parkiran mobilnya, kita bisa lihat matahari muncul dari balik gunung.”

Begitu yang dibilang teman saya, seorang dosen harapan masa depan. Seorang PNS Golongan IIIA, tengah mengambil S2. Jujur dia punya sikap. Manis tutur katanya. Di pundaknya kelak, bersandar nasib pendidikan negeri kita.

Sambil dipeluk angin bersuhu amat rendah, berangkatlah kami dari Bandung pada pagi buta. Kokok ayam belum terdengar. Para bencong pun masih belum bubar. Mereka masih di tengah misi. Dan dari kami bertiga tidak ada satu pun yang sudah mandi.

“Ini Bandung, Bung. Dingin.”

Mobil dinas ditancap gasnya sedemikian rupa. Satu persatu yang menghalangi, berhasil kami lewati. Tidak peduli itu bis atau truk gandengan. Kami sedang mengejar terbitnya matahari.

Dalam satu setengah jam, kami sudah berada di kawasan Puncak, Cianjur. Langit mulai terang dan di arah timur sudah terlihat warna kemerahan. Mobil dinas pun semakin dipaksa bekerja di batas maksimalnya.

“Mari kita manfaatkan mobil dinas ini sebelum bapak saya pensiun dua tahun lagi.”

MenDikNas, maafkan kami.

Tapi penyesalan langsung pupus begitu saja sewaktu Restoran Rindu Alam terlihat oleh pandangan mata. Masih ada 1-2 menit hingga matahari terbit, sepertinya. Mobil pun segera menepi. Dan…

Dan…

Dan…

“Sejak kapan Rindu Alam pindah jadi menghadap ke arah barat, ya…”

Yah… dimaklumi. Mungkin waktu itu beliau tidak membawa kompas. Atau dia keliru, yang dia lihat bukan sun rise, tapi sun tet.

Maka, setelah menggerutu sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Buitenzorg. Cukup satu jam hingga kami tiba di kota. Dan… Ya, ampun. Suasana pagi di sana sungguh mengerikan. Macet panjang, terutama di arah menuju Jakarta. Dan jumlah angkotnya sangat mendominasi jalan aspal. Seakan-akan, jalan dibangun memang diperuntukkan bagi mereka sahaja.

“Ini bukan kota hujan. Ini kota angkot. Atau dulu pernah hujan angkot.”

Begitu yang dijelaskan teman saya. Karena pelancongan sebelumnya dilakukan pada malam hari, kali ini si dosen mulai menjelaskan satu persatu tiap sudut Buitenzorg.

“McD di sini lebih murah daripada di Bandung.”
“Ada dua terminal angkot yang saling berdekatan. Satu milik kotamadya, satu milik kabupaten.”
“Jalan lubang dan becek seperti ini biasa, Bung. Jangan protes. Di depan masih banyak lagi.”
“Itu warung baso paling enak di Buitenzorg. Catat: di Buitenzorg.”
”Polisi di sini baik-baik. Naik motor tanpa helm ngga akan ditilang. Yang ngga boleh, jalan kaki di atas trotoar sambil pakai helm. Disangka ngejek, ntar.”

Pemandangan di luar jendela tidak menarik minat kami. Tapi tidak apa. Toh, tujuan utama perjalanan ini adalah mengabadikan kampus IPB yang rimbun oleh pepohonan. Terbayang oleh kami hutan semi tropis yang masih perawan dan jalan setapak penghubung antar gedung kuliah di sana. Beserta penghuninya, tentu saja.

Penghuni yang manis, tentu saja. Jenis perempuannya, tentu saja. Tapi, tidak akan kami apa-apakan, tentu saja. Tidak berani, tentu saja.

Menjelang pukul tujuh pagi, kami memasuki pintu gerbang kampus. Bayar seribu rupiah untuk parkir mobil, lalu…

Pagi di Institut Pertanian Buitenzorg. Cahaya matahari malu-malu di sini.

Mereka menyebutnya danau.

Jalan setapak menuju Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

"Suka ada orang gila duduk-duduk di sini kalau saya lewat. Saya bertahan selama ini dengan memikirkan bahwa orang gila itu ialah sebenarnya artis sinetron... yang seksi... seksi sekali... sangat seksi sekali... Ya, betul-betul seksi sekali..."


Keluhan pertama kami di kampus ini adalah sulitnya mencari kantin yang nyaman untuk sekedar minum jus atau ngopi. Juga kantin yang menyediakan asbak. Jadilah kami si turis lokal mengotori lantai dengan abu dan puntung rokok.

Rektor IPB, maafkan.

Tapi penyesalan justru kembali berubah menjadi keluhan dan gerutuan sewaktu kami mulai menyusuri kampus dengan berjalan kaki. Manis di awal, getir di akhir. Mirip bait lagu kau yang memulai kau yang mengakhiri.

Sementara teman saya si dosen mengikuti kuliah, pada pukul sembilan, berdua kami berjalan kaki di jalan utama kampus. Tidak butuh mobil agar bebas masuk keluar hutan. Atau kebon, tepatnya?

Di sepanjang jalan, sesekali kami melirik hutan di sisi kanan. Sesekali kami masuk, dan tidak lama keluar lagi karena medan yang terlalu berbahaya. Juga karena sayang sepatu saya baru. Tshirt saya baru. Jaket saya baru. Baru dibeli semalam. Begitu juga yang dikenakan teman saya.

Padahal, masih lama menuju lebaran.

Ini kami sudah berjalan lebih dari satu kilometer, tapi tidak ada lagi yang menarik untuk dipotret.. Udaranya tidak ramah, cukup gerah. Keringat bercucuran, banyak nyamuk dan kami tidak tahu jalan di hadapan kami menuju ke mana.

Khawatir tersesat, kami pun mengambil langkah bijaksana, yaitu kembali ke parkiran. Dengan mobil, sekali lagi berputar. Dan… parkir di tempat lain, lalu berjalan kaki lagi. Dan… panasnya. Gerahnya. Mampir sebentar ke sebuah kantin untuk minum.

"Tidak jual Teh Botol????"

Pilihan pun jatuh pada, konon, itu jus jeruk dan alpukat. Dan… kembali ke mobil, parkir di tempat semula. Dan... menggerutu.

Sudah pukul sebelas, si dosen belum muncul juga. Kami mencoba bersabar.

Tunggu sebentar. Saya lagi Facebook-an…

Itu pesan pendek dari teman saya si dosen yang sedang beasiswa menimba ilmu S2 di IPB.





Janji Di Atas Ingkar




kepada si penuduh
saya berjanji
untuk tidak marah-marah
sensitif
dan
jika bercerita
tidak lagi menggantung


terimakasih
untuk tidak meminta
janji berhenti
berbohong



Janji Di Atas Ingkar




kepada si penuduh
saya berjanji
untuk tidak marah-marah
sensitif
dan
jika bercerita
tidak lagi menggantung


terimakasih
untuk tidak meminta
janji berhenti
berbohong



Selasa, 31 Maret 2009

Buffalo vs Loch Ness


Rupa-rupanya, keinginan untuk melakukan perjalanan sedang menggebu-gebu di hati saya. Seperti baru lepas dari penjara setelah dikurung sekian lama. Atau karena ingin berlari dari sesuatu? Mencari penghiburan?

Masih teka-teki silang.

Setelah Garut, Buitenzorg, Sumedang Tandang, lalu saya kembali ke Garut Kota Intan. Beberapa teman ingin melihat hijaunya sawah dan mengabadikannya dengan kamera. Padahal, itu sungguh dusta. Sesungguhnya adalah ingin mencicipi sambal oncom buatan nenek saya dan makan baso kampung asli sana.

Masih dengan mobil dinas berpelat merah, perjalanan dimulai pada pukul sepuluh Minggu pagi. Hanya butuh satu setengah jam untuk sampai, sebenarnya, tapi gunung-gunung di kiri-kanan serta seekor kerbau di tengah sawah berhasil menarik perhatian. Menepilah mobil dan kami turun.




Bagi mereka yang tidak tahu perbedaan sapi dan kerbau, lihatlah baik-baik foto di atas. Sesungguhnya, sapi dan kerbau sama sekali tidak memiliki perbedaan. Jika pun ada, marilah kita berbesar hati untuk saling menerima segala beda. Tak usahlah diungkit-ungkit. Malu, sama tetangga.


Itu kami, mengendap-endap di tengah sawah.



Seandainya kamu ikut, sudah menjadi Sanchay bagi kami berempat.



*sigh...




Minggu berikutnya, kami meluncur menuju Kawah Putih yang berposisi dekat Lembang. Pemandangan yang dahsyat. Saya, a.k.a, Andi Eriawan, yang sudah duapuluh empat tahun tinggal, tumbuh dan membesar di Bandung, baru pertama kali berangkat ke sana. Takjub saya dibuatnya. Sungguh sebuah tempat yang tepat untuk berasyik-masyuk dengan selingkuhan, foto pre-wedding atau sekedar mencari udara segar tercampur belerang.



“Mari kita berburu Loch Ness.”

Itu teman saya yang bilang. Kawah putih memang mirip danau berwarna keputihan. Kadang, hijau muda. Dan kami sungguh berharap seekor naga muncul tiba-tiba.



Tapi kami tidak punya janji dengan cuaca. Gerimis turun merintik, memaksa kami kembali ke parkiran dekat si penjual strawberry tusuk yang dilumuri coklat. Juga pedagang ketan bakar serta beberapa turis lokal dan luar.

“Jien li she ie ik pu.”

Jangan minta saya menerjemahkannya.