Minggu, 26 Oktober 2008

Cecak bin Kadal


jika ditanya

ke mana akan pergi
menujumu
atau kembali sunyi...



tapi jarak diantara kita
bukan tidak seberapa

butuh empat milyar dua puluh tiga
langkah cecak
untuk sampai ke sana

itu adalah jarak yang sangat jauh
jarak yang harus cecak tempuh
untuk bertemu cecak pasangannya








wahai cecak
hati-hati di jalan




kamu
jangan kalah
sama cecak
dalam bersabar


“Distance never seperates two hearts that really care."

Cecak bin Kadal


jika ditanya

ke mana akan pergi
menujumu
atau kembali sunyi...



tapi jarak diantara kita
bukan tidak seberapa

butuh empat milyar dua puluh tiga
langkah cecak
untuk sampai ke sana

itu adalah jarak yang sangat jauh
jarak yang harus cecak tempuh
untuk bertemu cecak pasangannya








wahai cecak
hati-hati di jalan




kamu
jangan kalah
sama cecak
dalam bersabar


“Distance never seperates two hearts that really care."

Sabtu, 25 Oktober 2008

.......


kamu cantik sekali hari ini
kamu tahu itu
lebih dari biasanya

ah,
mungkinkah karena
rambut yang berkibar-kibar
atau rok panjang melambai-lambai
yang kamu kenakan

sialan

pesona ini
membahayakan
sekiranya kamu tahu
membahayakan posisi saya
tentu
kini saya harus berhati-hati
semakin berjaga-jaga
lebih mawas diri
agar mereka tidak merebut

merebut kamu, siapa lagi










iya
hari ini
saya lebay sekali



“Isn’t it nice to think that tomorrow is a new day with no mistakes in it yet?”
[Lucy Maud Montgomery, Anne of Green Gables]

.......


kamu cantik sekali hari ini
kamu tahu itu
lebih dari biasanya

ah,
mungkinkah karena
rambut yang berkibar-kibar
atau rok panjang melambai-lambai
yang kamu kenakan

sialan

pesona ini
membahayakan
sekiranya kamu tahu
membahayakan posisi saya
tentu
kini saya harus berhati-hati
semakin berjaga-jaga
lebih mawas diri
agar mereka tidak merebut

merebut kamu, siapa lagi










iya
hari ini
saya lebay sekali



“Isn’t it nice to think that tomorrow is a new day with no mistakes in it yet?”
[Lucy Maud Montgomery, Anne of Green Gables]

Minggu, 19 Oktober 2008

Jerawat Batu


pernahkah kau dengar

gerimis yang turun
seperti semalam…
rintiknya begitu berima
mendendangkan lagu-lagu kita

adakah kau pandang
bulan sepotong yang bersinar
seperti semalam…
cahayanya menari-nari di atas kepala
ciptakan silhuet berbagai peristiwa

sempatkah kau tatap
kedip bintang-bintang
seperti semalam…




seperti bintik jerawat
di wajah kamu, bukan
yang selalu kuhitung
menjelang kutidur





tidak mengompol kan, sayang...

?

Jerawat Batu


pernahkah kau dengar

gerimis yang turun
seperti semalam…
rintiknya begitu berima
mendendangkan lagu-lagu kita

adakah kau pandang
bulan sepotong yang bersinar
seperti semalam…
cahayanya menari-nari di atas kepala
ciptakan silhuet berbagai peristiwa

sempatkah kau tatap
kedip bintang-bintang
seperti semalam…




seperti bintik jerawat
di wajah kamu, bukan
yang selalu kuhitung
menjelang kutidur





tidak mengompol kan, sayang...

?

Sabtu, 18 Oktober 2008

Aisa (3)

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.

Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Kamu, tahu Aisa. Sewaktu ibumu masih belum menyadari takdir kami, sewaktu kamu masih di alam ruh tanpa tahu bagaimana manis pahitnya kehidupan dunia, bapak selalu bertanya-tanya, apakah kelak kamu akan bangga dengan bapak. Apakah kamu akan membandingkannya dengan ayah tetangga? Dengan Budi Dharma? Dengan John Lennon? Dengan Jimmy Maruli Alfian? Dengan ... Ahmad Dhani sekalipun?

Aisa, sayang. Bapak mungkin bukan siapa-siapa dibandingkan mereka. Tapi, sewaktu kamu membaca catatan ini, ada satu hal yang sangat bapak yakini.

Cuma bapak yang bisa menghiasi rumah kita dengan penuh tawa.