Selasa, 21 April 2009

AA Gymnastium

 
 
 
“Nasi goreng, mie instant, gorengan dan semua makanan berminyak harap dikurangi. Kalau bisa, sama sekali ditinggalkan. Usahakan pilih makanan yang dimasak secara rebus dan bakar.”

”Jeroan?”

”Jeroan, seperti usus dan babat, tidak boleh dimakan sama sekali.”

”Haram?”

”Bukan haram. Tapi tidak bergizi dan banyak mengandung racun bagi tubuh.”

”Racun? Seperti sianida?”

”...”

”Sate kambing?”

”Boleh, asal tidak pakai lemak.”

”Yess!! Salad?”

”Boleh.”

”Ayam bakar?”

”Boleh. Utamakan bagian dada. Dada itu lebih montok daripada paha mulus. Eh, maksud saya, dada lebih banyak mengandung protein daripada paha.”

“…”

“Dada ayam, bukan dada kamu.”

Begitulah kira-kira perbincangan saya dengan seorang instruktur kebugaran. Sejak awal April ini, saya rajin olahraga di sebuah gym. Fitness, kalau orang sekarang bilang. Latihan kardio selama satu jam, dilanjutkan dengan angkat beban untuk membentuk tubuh yang singset dan seksi. Kadang diselingi spinning, salsa, pilates dan yoga.

”Jangan cuma pintar, tapi badan juga harus bugar.”
”Jangan cuma pandai, tapi tubuh juga harus aduhai.”

Begitulah quote yang terus terngiang-ngiang di benak saya selama sebulan ini. Mirip dengan apa yang dibilang Luna Maya, ”Otak dan penampilan itu memang perlu. Tapi kalau stamina ngga fit, apa artinya?”

Setuju, Mba.

Maka, berbekal kesadaran untuk hidup sehat dan bugar, berangkatlah saya ke gym tiga kali seminggu. Latihan berat saya jalani dengan sabar dan tekun. Keringat selalu membanjir dan badan pegal linu dibuatnya. Apalagi kalau sudah sesi yoga. Wuihhh... selain badan capek, punggung saya sering bercucuran darah. Si pelatih yoga yang secara kebetulan orang India itu selalu menyuruh saya tidur di atas ranjang paku.

Belum lagi, iman saya yang kuat banyak diuji. Maklum, perempuan-perempuan di gym senang sekali berpakaian seksi. Seksi sekali. Sangat seksi. Yaaa... amat seksi. Bahkan kadang-kadang, kata seksi pun tidak cukup. Mungkin... seksoy jauh lebih tepat. Karenanya, kedua mata ini sering kelilipan. Dan pandangan saya menjadi sangat terbatas. Di mana mata memandang, di sana sensor menantang.

Tadinya saya mau mengajukan protes pada mereka. Tapi jumlah mereka lebih banyak. Saya kalah suara. Dan orang besar adalah orang yang mau menerima kekalahan, bukan?






”Mas Andi, tolong bantu saya sit-up, dong.”
“…”



AA Gymnastium

 
 
 
“Nasi goreng, mie instant, gorengan dan semua makanan berminyak harap dikurangi. Kalau bisa, sama sekali ditinggalkan. Usahakan pilih makanan yang dimasak secara rebus dan bakar.”

”Jeroan?”

”Jeroan, seperti usus dan babat, tidak boleh dimakan sama sekali.”

”Haram?”

”Bukan haram. Tapi tidak bergizi dan banyak mengandung racun bagi tubuh.”

”Racun? Seperti sianida?”

”...”

”Sate kambing?”

”Boleh, asal tidak pakai lemak.”

”Yess!! Salad?”

”Boleh.”

”Ayam bakar?”

”Boleh. Utamakan bagian dada. Dada itu lebih montok daripada paha mulus. Eh, maksud saya, dada lebih banyak mengandung protein daripada paha.”

“…”

“Dada ayam, bukan dada kamu.”

Begitulah kira-kira perbincangan saya dengan seorang instruktur kebugaran. Sejak awal April ini, saya rajin olahraga di sebuah gym. Fitness, kalau orang sekarang bilang. Latihan kardio selama satu jam, dilanjutkan dengan angkat beban untuk membentuk tubuh yang singset dan seksi. Kadang diselingi spinning, salsa, pilates dan yoga.

”Jangan cuma pintar, tapi badan juga harus bugar.”
”Jangan cuma pandai, tapi tubuh juga harus aduhai.”

Begitulah quote yang terus terngiang-ngiang di benak saya selama sebulan ini. Mirip dengan apa yang dibilang Luna Maya, ”Otak dan penampilan itu memang perlu. Tapi kalau stamina ngga fit, apa artinya?”

Setuju, Mba.

Maka, berbekal kesadaran untuk hidup sehat dan bugar, berangkatlah saya ke gym tiga kali seminggu. Latihan berat saya jalani dengan sabar dan tekun. Keringat selalu membanjir dan badan pegal linu dibuatnya. Apalagi kalau sudah sesi yoga. Wuihhh... selain badan capek, punggung saya sering bercucuran darah. Si pelatih yoga yang secara kebetulan orang India itu selalu menyuruh saya tidur di atas ranjang paku.

Belum lagi, iman saya yang kuat banyak diuji. Maklum, perempuan-perempuan di gym senang sekali berpakaian seksi. Seksi sekali. Sangat seksi. Yaaa... amat seksi. Bahkan kadang-kadang, kata seksi pun tidak cukup. Mungkin... seksoy jauh lebih tepat. Karenanya, kedua mata ini sering kelilipan. Dan pandangan saya menjadi sangat terbatas. Di mana mata memandang, di sana sensor menantang.

Tadinya saya mau mengajukan protes pada mereka. Tapi jumlah mereka lebih banyak. Saya kalah suara. Dan orang besar adalah orang yang mau menerima kekalahan, bukan?






”Mas Andi, tolong bantu saya sit-up, dong.”
“…”



Senin, 20 April 2009

Selamat Hari Kartini


Sedikit sekali orang yang tahu bahwa Ibu Kita Kartini memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raden Mas Panji Sosro Kartono. Demi keakraban, mari kita panggil saja dia Paman Kita Kartono.

Yang menjadi pertanyaan adalah, pentingkah untuk tahu dan mengenal si Paman?

Ketahuilah, beliau seorang pahlawan yang berjasa besar. Saya sendiri tidak mengerti bagaimana namanya bisa tenggelam sedemikian rupa. Dengan skill, intelejensi dan jasa yang di atas rata-rata, saya sangat setuju jika Paman Kita Kartono sudah sepatutnya disejajarkan dalam deretan pahlawan nasional dan riwayatnya dikenalkan pada para murid sekolah dalam pelajaran PSPB dan Sejarah.

Berikut ini adalah prestasi dan jasa si Paman:
#1
Pemuda Indonesia pertama yang melanjutkan sekolah ke negeri Belanda. Ya, Belanda yang terkenal dengan bunga tulip dan windmill itu. Dan kejunya. Dan marijuananya yang legal dan bebas dihisap nikmat. Dan perkawinan gay-nya.
Gelar sarjana yang disandang Paman Kita kartono adalah Docterandus in de Oostersche Talen dari Universiteit Leiden.

#2
Wartawan perang asal Indonesia pertama sewaktu Perang Dunia I.
Salah satu keberhasilan si Paman sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang.

#3
Menguasai 17 bahasa asing. Sebagian sumber malah menyebutkan hingga 29 bahasa, termasuk Sansekerta. Bahkan ada gosip, beliau menguasai bahasa jin dan para binatang.

Gosip itu, saya yang menyebarkan.

#4
Mendirikan balai pengobatan tradisional, sekolah dan perpustakaan di bandung. Si Paman memang seorang intelektual sekaligus tabib yang mumpuni. Rumahnya selalu didatangi banyak tamu dari berbagai kalangan.

“Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono dalam suratnya kepada Mevrow Abendanon.

Siapa itu Abendanon?

Ih.

#5
Ahli sastra dan pidato yang tentunya cinta tanah air. Pernah menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Belgia. Paman di sana mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia-Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan. Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), si Paman antara lain mengungkapkan:
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

#6
Masih banyak lagi.



Quote-nya yang terkenal adalah:

Sugih tanpa banda
Digdaya tanpa aji
Nglurug tanpa bala
Menang tanpa ngasorake

Kaya tanpa harta
Sakti tanpa azimat
Menyerbu tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan



Paman Kartono, selamat hari Kartini...




(dari berbagai sumber gosip)





Selamat Hari Kartini


Sedikit sekali orang yang tahu bahwa Ibu Kita Kartini memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raden Mas Panji Sosro Kartono. Demi keakraban, mari kita panggil saja dia Paman Kita Kartono.

Yang menjadi pertanyaan adalah, pentingkah untuk tahu dan mengenal si Paman?

Ketahuilah, beliau seorang pahlawan yang berjasa besar. Saya sendiri tidak mengerti bagaimana namanya bisa tenggelam sedemikian rupa. Dengan skill, intelejensi dan jasa yang di atas rata-rata, saya sangat setuju jika Paman Kita Kartono sudah sepatutnya disejajarkan dalam deretan pahlawan nasional dan riwayatnya dikenalkan pada para murid sekolah dalam pelajaran PSPB dan Sejarah.

Berikut ini adalah prestasi dan jasa si Paman:
#1
Pemuda Indonesia pertama yang melanjutkan sekolah ke negeri Belanda. Ya, Belanda yang terkenal dengan bunga tulip dan windmill itu. Dan kejunya. Dan marijuananya yang legal dan bebas dihisap nikmat. Dan perkawinan gay-nya.
Gelar sarjana yang disandang Paman Kita kartono adalah Docterandus in de Oostersche Talen dari Universiteit Leiden.

#2
Wartawan perang asal Indonesia pertama sewaktu Perang Dunia I.
Salah satu keberhasilan si Paman sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang.

#3
Menguasai 17 bahasa asing. Sebagian sumber malah menyebutkan hingga 29 bahasa, termasuk Sansekerta. Bahkan ada gosip, beliau menguasai bahasa jin dan para binatang.

Gosip itu, saya yang menyebarkan.

#4
Mendirikan balai pengobatan tradisional, sekolah dan perpustakaan di bandung. Si Paman memang seorang intelektual sekaligus tabib yang mumpuni. Rumahnya selalu didatangi banyak tamu dari berbagai kalangan.

“Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono dalam suratnya kepada Mevrow Abendanon.

Siapa itu Abendanon?

Ih.

#5
Ahli sastra dan pidato yang tentunya cinta tanah air. Pernah menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Belgia. Paman di sana mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia-Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan. Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), si Paman antara lain mengungkapkan:
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

#6
Masih banyak lagi.



Quote-nya yang terkenal adalah:

Sugih tanpa banda
Digdaya tanpa aji
Nglurug tanpa bala
Menang tanpa ngasorake

Kaya tanpa harta
Sakti tanpa azimat
Menyerbu tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan



Paman Kartono, selamat hari Kartini...




(dari berbagai sumber gosip)





Kamis, 16 April 2009

SMS

 
 
First I was dying to finish my high school
and start college
And then I was dying to finish college
and start working
Then I was dying to marry
and have children 
And then I was dying for my children to grow old enough
so I could go back to work
But then I was dying to retire
And now I'm dying
And suddenly I realized
I forgot to live

Please don't let this happen to you
Appreciate your current each situation
and enjoy each day

-An Old Friend-


SMS

 
 
First I was dying to finish my high school
and start college
And then I was dying to finish college
and start working
Then I was dying to marry
and have children 
And then I was dying for my children to grow old enough
so I could go back to work
But then I was dying to retire
And now I'm dying
And suddenly I realized
I forgot to live

Please don't let this happen to you
Appreciate your current each situation
and enjoy each day

-An Old Friend-


Selasa, 14 April 2009

Aisa



Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.

Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Atau kamu ingin bapak ceritakan juga tentang dunia kami, para laki-laki…

Tapi seandainya kamu mau mendengar sedikit cerita bapak, ketahuilah, bahwa saat ini ada belahan lain di dunia yang bapak ingin berada di sana. Bersama seseorang yang padanya rindu disandarkan. Sekedar untuk menunaikan satu-dua janji dan menuai mimpi-mimpi yang sudah lama tertanam.

Di sana, di belahan lain dunia, tempat yang ingin bapak berada itu, tinggallah seorang puteri cantik. Teramat cantik, dia. Bahkan, kata cantik pun masih kurang rasanya. Sekira terdapat istilah lain, sudah bapak gunakan itu sejak dulu. Sudah bapak gunakan untuk memuji, membujuk dan merayu. Tapi apa daya bapak, Aisa? Kosakata bapak terbatas pada kamus Bahasa Indonesia yang ada.

Serupa dengan wajahnya, namanya pun tak kalah cantik. Huruf-hurufnya disusun oleh deretan abjad yang terpilih. Namanya mengartikan paras, pengetahuan dan tingkah laku yang juga cantik. Seakan-akan, si pemberi nama memang tahu benar bahwa kelak ia akan tumbuh seperti saat ini.

Setiap kali nama itu disebut, langsung bergetar hati bapak. Berdebar lebih kencang jantung bapak. Dan untuk sesaat, bapak hanya terdiam, tanpa berbuat apa hingga semua teredam.

Aisa, dialah ibu yang kelak melahirkanmu ke dunia. Dunia yang bapak harap tidak membuatmu kecewa. Dunia yang bapak harap tawa adalah pesona dan tangis adalah hiasannya.

Namun, sayang, untuk bisa ke sana, antriannya amatlah panjang. Panjang sekali. Laki-laki semua yang mengantri. Diatara mereka, banyak lelaki hebat. Dibandingkan bapak? Mereka tak ada apa-apanya. Tapi bapak mendapatkan nomor urut paling belakang. Itu masalahnya.

Si putri cantik ini perlu berjinjit sangat tinggi untuk sekedar menyadari bahwa bapakmu turut mengantri.

Mengantri dengan sabar dan tanpa mengeluh, tentunya. Sambil melambai-lambaikan tangan, mencari perhatian.

Dan seandainya takdir mempermainkan kita yang membuat kita berdua tidak akan pernah berjumpa, ijinkanlah bapak mengutip kata-kata ini:

Would you know my name if I saw you in heaven, Aisa?