Tampilkan postingan dengan label d'article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label d'article. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2009

Hush Hush...




“Duh, saya sibuk banget! Ngga sempat makan. Jadinya kena maag…”

“Deadline sialan!”
“Hari kemarin, lembur. Besok lembur lagi!”
“Maaf, saya ngga bisa. Banyak kerjaan di kantor…”
“Ugh, boro-boro nonton. Bisa mandi aja sudah syukur….”




Ini mungkin yang dimaksud dengan istilah: dipoyok, dilebok. Artinya: ngeluh, tapi terus dilakukan.

Atau, ada juga beberapa yang hanya ingin memberikan kesan kepada orang-orang bahwa,

“Saya ini sedang menjalani tangga kesuksesan. Tidak bisa diganggu. Lihat saja, saya sibuk sekali. Menyapa kamu saja saya ngga sempat. Hush…”

Dan sebaliknya, banyak sekali… banyak nian yang bertanya pada saya betapa saya ini tampak santai dan tidak ada kerjaan. Sempat-sempatnya menonton dvd, jalan-jalan melulu, karaoke, ongkang-ongkang kaki, kongkow di kafe…

Online yahoo messenger…
.
.
Fitness…
.
.
.



Biasanya saya beri jawaban,

“Dengan skill dan intelejensi yang saya miliki, semua pekerjaan dapat saya selesaikan dalam hitungan menit. Itu pun hanya menggunakan sebelah tangan kiri dan mata terpejamkan.”



Tentu, hanya bercanda. Saya pun terkadang pakai tangan kanan sesekali.



Memangnya, pekerjaan saya banyak atau tidak, sih?

Pertanyaan menyebalkan.

Sebanyak apa pun pekerjaan kita, kan sekarang sudah ada komputer. Ada telepon. Ada internet. Ada mesin fax. Kalau masih merasa bahwa pekerjaan kantor itu banyak banget, ugh, jangan-jangan… itu masalah skill dan intelejensi saja…


Bercanda, ah. Jangan marah.

Mungkin cuma sekedar ingin memberi kesan kepada banyak orang bahwa,

“Saya ini sedang menjalani tangga kesuksesan. Tidak bisa diganggu. Lihat saja, saya sibuk sekali. Menyapa kamu saja saya ngga sempat. Hush hush…”








Bapak, kalau putramu ini jarang menelepon dan jarang pulang kampung, itu bukan karena sibuk dengan kerjaan. Bukan, Pak. Sama sekali bukan.






Tapi karena… lupa.








Hush Hush...




“Duh, saya sibuk banget! Ngga sempat makan. Jadinya kena maag…”

“Deadline sialan!”
“Hari kemarin, lembur. Besok lembur lagi!”
“Maaf, saya ngga bisa. Banyak kerjaan di kantor…”
“Ugh, boro-boro nonton. Bisa mandi aja sudah syukur….”




Ini mungkin yang dimaksud dengan istilah: dipoyok, dilebok. Artinya: ngeluh, tapi terus dilakukan.

Atau, ada juga beberapa yang hanya ingin memberikan kesan kepada orang-orang bahwa,

“Saya ini sedang menjalani tangga kesuksesan. Tidak bisa diganggu. Lihat saja, saya sibuk sekali. Menyapa kamu saja saya ngga sempat. Hush…”

Dan sebaliknya, banyak sekali… banyak nian yang bertanya pada saya betapa saya ini tampak santai dan tidak ada kerjaan. Sempat-sempatnya menonton dvd, jalan-jalan melulu, karaoke, ongkang-ongkang kaki, kongkow di kafe…

Online yahoo messenger…
.
.
Fitness…
.
.
.



Biasanya saya beri jawaban,

“Dengan skill dan intelejensi yang saya miliki, semua pekerjaan dapat saya selesaikan dalam hitungan menit. Itu pun hanya menggunakan sebelah tangan kiri dan mata terpejamkan.”



Tentu, hanya bercanda. Saya pun terkadang pakai tangan kanan sesekali.



Memangnya, pekerjaan saya banyak atau tidak, sih?

Pertanyaan menyebalkan.

Sebanyak apa pun pekerjaan kita, kan sekarang sudah ada komputer. Ada telepon. Ada internet. Ada mesin fax. Kalau masih merasa bahwa pekerjaan kantor itu banyak banget, ugh, jangan-jangan… itu masalah skill dan intelejensi saja…


Bercanda, ah. Jangan marah.

Mungkin cuma sekedar ingin memberi kesan kepada banyak orang bahwa,

“Saya ini sedang menjalani tangga kesuksesan. Tidak bisa diganggu. Lihat saja, saya sibuk sekali. Menyapa kamu saja saya ngga sempat. Hush hush…”








Bapak, kalau putramu ini jarang menelepon dan jarang pulang kampung, itu bukan karena sibuk dengan kerjaan. Bukan, Pak. Sama sekali bukan.






Tapi karena… lupa.








Senin, 20 April 2009

Selamat Hari Kartini


Sedikit sekali orang yang tahu bahwa Ibu Kita Kartini memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raden Mas Panji Sosro Kartono. Demi keakraban, mari kita panggil saja dia Paman Kita Kartono.

Yang menjadi pertanyaan adalah, pentingkah untuk tahu dan mengenal si Paman?

Ketahuilah, beliau seorang pahlawan yang berjasa besar. Saya sendiri tidak mengerti bagaimana namanya bisa tenggelam sedemikian rupa. Dengan skill, intelejensi dan jasa yang di atas rata-rata, saya sangat setuju jika Paman Kita Kartono sudah sepatutnya disejajarkan dalam deretan pahlawan nasional dan riwayatnya dikenalkan pada para murid sekolah dalam pelajaran PSPB dan Sejarah.

Berikut ini adalah prestasi dan jasa si Paman:
#1
Pemuda Indonesia pertama yang melanjutkan sekolah ke negeri Belanda. Ya, Belanda yang terkenal dengan bunga tulip dan windmill itu. Dan kejunya. Dan marijuananya yang legal dan bebas dihisap nikmat. Dan perkawinan gay-nya.
Gelar sarjana yang disandang Paman Kita kartono adalah Docterandus in de Oostersche Talen dari Universiteit Leiden.

#2
Wartawan perang asal Indonesia pertama sewaktu Perang Dunia I.
Salah satu keberhasilan si Paman sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang.

#3
Menguasai 17 bahasa asing. Sebagian sumber malah menyebutkan hingga 29 bahasa, termasuk Sansekerta. Bahkan ada gosip, beliau menguasai bahasa jin dan para binatang.

Gosip itu, saya yang menyebarkan.

#4
Mendirikan balai pengobatan tradisional, sekolah dan perpustakaan di bandung. Si Paman memang seorang intelektual sekaligus tabib yang mumpuni. Rumahnya selalu didatangi banyak tamu dari berbagai kalangan.

“Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono dalam suratnya kepada Mevrow Abendanon.

Siapa itu Abendanon?

Ih.

#5
Ahli sastra dan pidato yang tentunya cinta tanah air. Pernah menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Belgia. Paman di sana mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia-Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan. Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), si Paman antara lain mengungkapkan:
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

#6
Masih banyak lagi.



Quote-nya yang terkenal adalah:

Sugih tanpa banda
Digdaya tanpa aji
Nglurug tanpa bala
Menang tanpa ngasorake

Kaya tanpa harta
Sakti tanpa azimat
Menyerbu tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan



Paman Kartono, selamat hari Kartini...




(dari berbagai sumber gosip)





Selamat Hari Kartini


Sedikit sekali orang yang tahu bahwa Ibu Kita Kartini memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raden Mas Panji Sosro Kartono. Demi keakraban, mari kita panggil saja dia Paman Kita Kartono.

Yang menjadi pertanyaan adalah, pentingkah untuk tahu dan mengenal si Paman?

Ketahuilah, beliau seorang pahlawan yang berjasa besar. Saya sendiri tidak mengerti bagaimana namanya bisa tenggelam sedemikian rupa. Dengan skill, intelejensi dan jasa yang di atas rata-rata, saya sangat setuju jika Paman Kita Kartono sudah sepatutnya disejajarkan dalam deretan pahlawan nasional dan riwayatnya dikenalkan pada para murid sekolah dalam pelajaran PSPB dan Sejarah.

Berikut ini adalah prestasi dan jasa si Paman:
#1
Pemuda Indonesia pertama yang melanjutkan sekolah ke negeri Belanda. Ya, Belanda yang terkenal dengan bunga tulip dan windmill itu. Dan kejunya. Dan marijuananya yang legal dan bebas dihisap nikmat. Dan perkawinan gay-nya.
Gelar sarjana yang disandang Paman Kita kartono adalah Docterandus in de Oostersche Talen dari Universiteit Leiden.

#2
Wartawan perang asal Indonesia pertama sewaktu Perang Dunia I.
Salah satu keberhasilan si Paman sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang.

#3
Menguasai 17 bahasa asing. Sebagian sumber malah menyebutkan hingga 29 bahasa, termasuk Sansekerta. Bahkan ada gosip, beliau menguasai bahasa jin dan para binatang.

Gosip itu, saya yang menyebarkan.

#4
Mendirikan balai pengobatan tradisional, sekolah dan perpustakaan di bandung. Si Paman memang seorang intelektual sekaligus tabib yang mumpuni. Rumahnya selalu didatangi banyak tamu dari berbagai kalangan.

“Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono dalam suratnya kepada Mevrow Abendanon.

Siapa itu Abendanon?

Ih.

#5
Ahli sastra dan pidato yang tentunya cinta tanah air. Pernah menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Belgia. Paman di sana mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia-Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan. Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), si Paman antara lain mengungkapkan:
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

#6
Masih banyak lagi.



Quote-nya yang terkenal adalah:

Sugih tanpa banda
Digdaya tanpa aji
Nglurug tanpa bala
Menang tanpa ngasorake

Kaya tanpa harta
Sakti tanpa azimat
Menyerbu tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan



Paman Kartono, selamat hari Kartini...




(dari berbagai sumber gosip)





Selasa, 13 Januari 2009

Stupid Things




Sebagai pemerhati perilaku manusia, saya begitu banyak menemukan hal-hal konyol dari mereka. Sebagian terlalu sensitif untuk dibicarakan. Sebagian lagi layak untuk saya tertawakan.

#1 Jodoh

Bagi mereka yang bukan atheis, jodoh itu adalah created by God. Jodoh dipercaya sebagai aturan-Nya. Tak ada itu manusia campur tangan mengurusi. Katanya.

Namun, ada dua hal yang sangat konyol di sini. Pertama, jika sepasang manusia baru saja menikah, statement bahwa mereka berjodoh seringkali terburu-buru disandangkan. Padahal kan perjalanan justru baru dimulai. Kedua, jika berhubungan dengan jodoh, kebanyakan orang pasif sekali sifatnya. Terutama pada mereka yang berjenis kelamin perempuan. Lebih banyak menunggu. Berbeda sekali jika sedang mencari rizki. Banting tulang, siang malam plus begadang. Begitu juga yang berhubungan dengan mati. Mati-matian mereka menghindari.

Padahal… jodoh, rizki dan mati… berbedakah aturan mainnya?

#2 Komitmen

Saya selalu ingin tertawa pada setiap adegan dialog begini,
“Dia ngga mau pacaran. Soalnya belum mau berkomitmen.”

Sebentar, saya tertawa dulu.
“Huahahahahhaha….”

Sungguh, konyol sekali kalian. Eh, mereka. Konyol sekali mereka yang menganggap bahwa terdapat komitmen dalam hubungan yang dinamakan pacaran, sementara tidak pernah disebut-sebut istilah komitmen dalam berteman. Dalam persahabatan bertahun-tahun. Dalam hubungan kakak-adik, anak-orangtua.

Terkadang mereka setia sekali pada pacar, tapi tidak pada perusahaan yang padanya mereka diperlakukan sopan, gaji mencukupi disertai perlindungan kesehatan. Hanya karena tawaran gaji yang lebih besar dan jenis pekerjaan yang lebih menantang dari perusahaan lain, kabur begitu saja. Yah, masih lebih baik jika memberikan 1 month notice. Ada say goodbye. Datang tampak wajah, pulang kelihatan pantatnya. Tapi, itu kan hak. Saya setuju saja. Mangut-mangut kepala saya.

Namun, maksud saya di sini adalah, pada perusahaan tempat kita bekerja saja kita bisa keluar demi tawaran lebih baik. Meski, sebelumnya kita sudah menandatangani kontrak di atas materai berisikan hak dan kewajiban kedua belah pihak.

Karena itu, apa anehnya jika berpaling dari pacar lama demi pacar baru yang konon lebih baik? Apalagi, “komitmen” pada pacar kan cuma di mulut saja. Tidak ada itu materai 6000 dan tanda tangan para saksi.

Berbeda dengan pernikahan. Komitmen diberikan pada pihak pasangan, negara, dan tentu saja… Tuhan di atas sana. Silakan saja kalau kamu berani melanggar. Saya sih ngga.

Karena itu, kamu jangan larut dalam sedih jika tiba-tiba diputuskan pacar yang sudah berkomitmen bertahun-tahun. Kesimpulannya, mungkin kalian tidak berjodoh.


















Sebuah kesimpulan konyol.






Stupid Things




Sebagai pemerhati perilaku manusia, saya begitu banyak menemukan hal-hal konyol dari mereka. Sebagian terlalu sensitif untuk dibicarakan. Sebagian lagi layak untuk saya tertawakan.

#1 Jodoh

Bagi mereka yang bukan atheis, jodoh itu adalah created by God. Jodoh dipercaya sebagai aturan-Nya. Tak ada itu manusia campur tangan mengurusi. Katanya.

Namun, ada dua hal yang sangat konyol di sini. Pertama, jika sepasang manusia baru saja menikah, statement bahwa mereka berjodoh seringkali terburu-buru disandangkan. Padahal kan perjalanan justru baru dimulai. Kedua, jika berhubungan dengan jodoh, kebanyakan orang pasif sekali sifatnya. Terutama pada mereka yang berjenis kelamin perempuan. Lebih banyak menunggu. Berbeda sekali jika sedang mencari rizki. Banting tulang, siang malam plus begadang. Begitu juga yang berhubungan dengan mati. Mati-matian mereka menghindari.

Padahal… jodoh, rizki dan mati… berbedakah aturan mainnya?

#2 Komitmen

Saya selalu ingin tertawa pada setiap adegan dialog begini,
“Dia ngga mau pacaran. Soalnya belum mau berkomitmen.”

Sebentar, saya tertawa dulu.
“Huahahahahhaha….”

Sungguh, konyol sekali kalian. Eh, mereka. Konyol sekali mereka yang menganggap bahwa terdapat komitmen dalam hubungan yang dinamakan pacaran, sementara tidak pernah disebut-sebut istilah komitmen dalam berteman. Dalam persahabatan bertahun-tahun. Dalam hubungan kakak-adik, anak-orangtua.

Terkadang mereka setia sekali pada pacar, tapi tidak pada perusahaan yang padanya mereka diperlakukan sopan, gaji mencukupi disertai perlindungan kesehatan. Hanya karena tawaran gaji yang lebih besar dan jenis pekerjaan yang lebih menantang dari perusahaan lain, kabur begitu saja. Yah, masih lebih baik jika memberikan 1 month notice. Ada say goodbye. Datang tampak wajah, pulang kelihatan pantatnya. Tapi, itu kan hak. Saya setuju saja. Mangut-mangut kepala saya.

Namun, maksud saya di sini adalah, pada perusahaan tempat kita bekerja saja kita bisa keluar demi tawaran lebih baik. Meski, sebelumnya kita sudah menandatangani kontrak di atas materai berisikan hak dan kewajiban kedua belah pihak.

Karena itu, apa anehnya jika berpaling dari pacar lama demi pacar baru yang konon lebih baik? Apalagi, “komitmen” pada pacar kan cuma di mulut saja. Tidak ada itu materai 6000 dan tanda tangan para saksi.

Berbeda dengan pernikahan. Komitmen diberikan pada pihak pasangan, negara, dan tentu saja… Tuhan di atas sana. Silakan saja kalau kamu berani melanggar. Saya sih ngga.

Karena itu, kamu jangan larut dalam sedih jika tiba-tiba diputuskan pacar yang sudah berkomitmen bertahun-tahun. Kesimpulannya, mungkin kalian tidak berjodoh.


















Sebuah kesimpulan konyol.






Selasa, 04 November 2008

Goodbye, Pluto....

SEANDAINYA saja ia masih hidup, pastilah Clyde Tombaugh saat ini tengah uring-uringan dan marah besar. Bagaimana lagi. Pluto, benda luar angkasa yang ia temukan lewat teropongnya di Observatorium Lowell Arizona Utara pada awal abad duapuluh telah ditendang keluar dari daftar planet pengorbit tata surya kita. Dengan alasan yang dibuat-buat, para astronom dunia yang terkumpul dalam International Astronomical Union (IAU) mengumumkan suatu definisi baru tentang pengertian sebuah planet. Sialnya, Pluto tidak memenuhi kriteria-kriteria itu.

Pertama kali ditemukan di tahun 1930, Pluto dengan cepat menyedot perhatian besar dunia. Kartunis Disney sampai menamakan tokoh hewan peliharaan Mickey Mouse karyanya berdasarkan nama planet tersebut. Pluto begitu sesuai dengan “karakter” sebagai anggota tata surya paling bungsu. Planet terjauh dan terkecil dengan arah rotasi dan bentuk lintasan orbit yang agak anomali dibandingkan delapan planet lain. Saking jauhnya, ia membutuhkan waktu 248 tahun waktu Bumi untuk melakukan revolusi terhadap matahari. Ukurannya pun bahkan lebih kecil dari bulan. Tapi justru dengan keunikan-keunikannya itulah Pluto segera menjadi planet favorit banyak orang. Anak sekolah di seluruh dunia lebih tahu nama planet terjauh dari matahari dibandingkan planet terdekatnya. Apa yang telah dicapai Clyde Tombaugh bukan sekedar menemukan sebuah planet baru, tapi lebih dari itu. Pluto telah menumbuhkan romantisme, aspirasi, bahkan religi bagi banyak orang. Tuhan telah melengkapi tata surya kita dengan sejumlah planet dengan angka yang cantik: sembilan.

Sayang sekali, menurut definisi baru IAU dalam konferensi mereka selama dua minggu di Praha tahun lalu, suatu benda angkasa mendapat status sebagai planet jika ia memenuhi tiga kriteria sebagai berikut: mengorbit matahari, memiliki ukuran dan massa cukup besar, bebas dari benda-benda angkasa lain di sekitar orbitnya.

Bayangkan, hanya karena ukurannya yang lebih kecil dari bulan dan mulai ditemukannya benda angkasa lain dengan karakteristik mirip Pluto di dekatnya, Pluto harus kehilangan statusnya sebagai sebuah planet! Keputusan tersebut bahkan dikeluarkan sebelum satu misi pun sampai ke sana. Dan Pluto merupakan satu-satunya “planet” anggota tata surya yang belum pernah disinggahi. Sebuah keputusan yang tidak adil. Dan, begitu pentingnyakah ukuran?

Keputusan IAU mengeluarkan Pluto dari daftar planet pengorbit tata surya tentu merupakan keputusan yang menusuk jantung dan menyerang urat syaraf banyak orang. Apa perasaan anak-cucu Percival Lowell, seorang astronom yang pertama kali menduga adanya planet ke sembilan? Bagaimana penasaran arwah sang penemu Clyde Tombaugh yang kematiannya belum lagi sepuluh tahun lalu? Seperti apa kesedihan Venetia Burney, seorang gadis kecil berusia sebelas tahun (di tahun 1930) yang mengusulkan nama Pluto bagi “planet” tersebut. Lalu, bagaimana nasib hewan peliharaan Mickey Mouse? Haruskah ia berganti nama menjadi … Neptune? Keputusan itu pun akan berpengaruh besar pada industri mainan dan poster tata surya. Ilmu astrologi harus dirumus kembali. Marthen Kanginan harus merevisi ulang buku-buku fisika sekolah yang disusunnya. Buku-buku ensiklopedia yang terlanjut diterbitkan harus ditarik dari peredaran. Dan jumlah tata surya kita bukan lagi angka cantik: delapan.

Kemudian, muncul pertanyaan satu juta dollar. Bila Pluto bukan sebuah planet, lalu apa?

Untuk sementara waktu, IAU menggolongkan Pluto sebagai Dwarf Planet atau planet kerdil dan memasukkannya ke dalam anggota Kuiper Belt sampai fakta baru ditemukan menyusul misi pesawat ulang-alik New Horizons yang diperkirakan sampai di Pluto lima tahun mendatang.

Kemudian, muncul pertanyaan seratus juta dollar. Bila Mickey adalah tikus, Donald adalah bebek, dan Guffy adalah anjing, lalu Pluto hewan apa?

Andi Eriawan
Awal 2007

kangen kumpul lagi, Bonk...







Artikel di atas ditulis nyaris dua tahun yang lalu. Ada perasaan sedih mengingat saya dan Pluto cukup akrab. Dan mengucapkan selamat tinggal sangatlah berat. Di masa depan, pada anak saya kelak, saya mungkin akan bilang begini, "Dulu, Aisa, ada satu lagi selain mereka yang delapan ini. Pluto namanya..."

Selamat tinggal.

"If I wasn't a transvestite terrorist, would you marry me?"
[Patrick "Kitten" Braden, Breakfast at Pluto]

Goodbye, Pluto....

SEANDAINYA saja ia masih hidup, pastilah Clyde Tombaugh saat ini tengah uring-uringan dan marah besar. Bagaimana lagi. Pluto, benda luar angkasa yang ia temukan lewat teropongnya di Observatorium Lowell Arizona Utara pada awal abad duapuluh telah ditendang keluar dari daftar planet pengorbit tata surya kita. Dengan alasan yang dibuat-buat, para astronom dunia yang terkumpul dalam International Astronomical Union (IAU) mengumumkan suatu definisi baru tentang pengertian sebuah planet. Sialnya, Pluto tidak memenuhi kriteria-kriteria itu.

Pertama kali ditemukan di tahun 1930, Pluto dengan cepat menyedot perhatian besar dunia. Kartunis Disney sampai menamakan tokoh hewan peliharaan Mickey Mouse karyanya berdasarkan nama planet tersebut. Pluto begitu sesuai dengan “karakter” sebagai anggota tata surya paling bungsu. Planet terjauh dan terkecil dengan arah rotasi dan bentuk lintasan orbit yang agak anomali dibandingkan delapan planet lain. Saking jauhnya, ia membutuhkan waktu 248 tahun waktu Bumi untuk melakukan revolusi terhadap matahari. Ukurannya pun bahkan lebih kecil dari bulan. Tapi justru dengan keunikan-keunikannya itulah Pluto segera menjadi planet favorit banyak orang. Anak sekolah di seluruh dunia lebih tahu nama planet terjauh dari matahari dibandingkan planet terdekatnya. Apa yang telah dicapai Clyde Tombaugh bukan sekedar menemukan sebuah planet baru, tapi lebih dari itu. Pluto telah menumbuhkan romantisme, aspirasi, bahkan religi bagi banyak orang. Tuhan telah melengkapi tata surya kita dengan sejumlah planet dengan angka yang cantik: sembilan.

Sayang sekali, menurut definisi baru IAU dalam konferensi mereka selama dua minggu di Praha tahun lalu, suatu benda angkasa mendapat status sebagai planet jika ia memenuhi tiga kriteria sebagai berikut: mengorbit matahari, memiliki ukuran dan massa cukup besar, bebas dari benda-benda angkasa lain di sekitar orbitnya.

Bayangkan, hanya karena ukurannya yang lebih kecil dari bulan dan mulai ditemukannya benda angkasa lain dengan karakteristik mirip Pluto di dekatnya, Pluto harus kehilangan statusnya sebagai sebuah planet! Keputusan tersebut bahkan dikeluarkan sebelum satu misi pun sampai ke sana. Dan Pluto merupakan satu-satunya “planet” anggota tata surya yang belum pernah disinggahi. Sebuah keputusan yang tidak adil. Dan, begitu pentingnyakah ukuran?

Keputusan IAU mengeluarkan Pluto dari daftar planet pengorbit tata surya tentu merupakan keputusan yang menusuk jantung dan menyerang urat syaraf banyak orang. Apa perasaan anak-cucu Percival Lowell, seorang astronom yang pertama kali menduga adanya planet ke sembilan? Bagaimana penasaran arwah sang penemu Clyde Tombaugh yang kematiannya belum lagi sepuluh tahun lalu? Seperti apa kesedihan Venetia Burney, seorang gadis kecil berusia sebelas tahun (di tahun 1930) yang mengusulkan nama Pluto bagi “planet” tersebut. Lalu, bagaimana nasib hewan peliharaan Mickey Mouse? Haruskah ia berganti nama menjadi … Neptune? Keputusan itu pun akan berpengaruh besar pada industri mainan dan poster tata surya. Ilmu astrologi harus dirumus kembali. Marthen Kanginan harus merevisi ulang buku-buku fisika sekolah yang disusunnya. Buku-buku ensiklopedia yang terlanjut diterbitkan harus ditarik dari peredaran. Dan jumlah tata surya kita bukan lagi angka cantik: delapan.

Kemudian, muncul pertanyaan satu juta dollar. Bila Pluto bukan sebuah planet, lalu apa?

Untuk sementara waktu, IAU menggolongkan Pluto sebagai Dwarf Planet atau planet kerdil dan memasukkannya ke dalam anggota Kuiper Belt sampai fakta baru ditemukan menyusul misi pesawat ulang-alik New Horizons yang diperkirakan sampai di Pluto lima tahun mendatang.

Kemudian, muncul pertanyaan seratus juta dollar. Bila Mickey adalah tikus, Donald adalah bebek, dan Guffy adalah anjing, lalu Pluto hewan apa?

Andi Eriawan
Awal 2007

kangen kumpul lagi, Bonk...







Artikel di atas ditulis nyaris dua tahun yang lalu. Ada perasaan sedih mengingat saya dan Pluto cukup akrab. Dan mengucapkan selamat tinggal sangatlah berat. Di masa depan, pada anak saya kelak, saya mungkin akan bilang begini, "Dulu, Aisa, ada satu lagi selain mereka yang delapan ini. Pluto namanya..."

Selamat tinggal.

"If I wasn't a transvestite terrorist, would you marry me?"
[Patrick "Kitten" Braden, Breakfast at Pluto]

Selasa, 19 Februari 2008

People Change (yeah, rite!)

JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.

People change? Yeah, rite!

Kebanyakan orang memang tidak tahu diri dengan meminta Anda berubah. Istilahnya, siapa elo yang baru saja kenal tidak lebih dari setahun meminta Anda untuk berhenti merokok, suatu aktivitas yang Anda nikmati sejak lima-sepuluh tahun lalu. Atau, malas sekali jika sedikit-sedikit Anda harus menulis catatan kecil agar tidak lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Atau, yang Anda lakukan bukan bergosip, tapi membicarakan kebiasaan buruk orang lain agar Anda dan teman-teman tidak mencontoh kebiasaan buruk itu. Atau, selama Anda meminta maaf, orang lain tidak semestinya marah karena janji Anda tidak terpenuhi, bukan? Atau, apa mereka tidak tahu bahwa ongkos konsultasi dengan psikiater untuk mengendalikan emosi itu mahal? Atau, Anda memang serba tahu, kok. Wong lulusan terbaik MIT dengan GPA 4,0.

Jadi, Anda memang tidak perlu berubah. Selain itu, memang mustahil. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang Anda miliki adalah hasil investasi yang Anda tanam sejak lama. Mungkin sejak balita. Bahkan kebanyakan orang, termasuk Anda, tidak sadar bahwa dirinya mengidap bad habit tertentu. Yang lebih parah, mereka tidak tahu bahwa kebiasaan yang dilakukannya itu dinilai buruk dan mengganggu oleh orang-orang sekitar.

Karena Anda tidak bisa berharap mereka mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan buruk Anda, dan sebaliknya, Anda pun mustahil untuk berubah, maka win-win solution-nya adalah hindari atau kurangi kontak dengan mereka. Kenapa? Karena kini saatnya Anda untuk STOP ANNOYING PEOPLE!

Sekirannya Anda memilki segudang bad habit, biarlah itu menjadi milik dan rahasia Anda pribadi. Jangan libatkan orang lain. Jangan buat mereka sesak nafas karena asap rokok Anda. Jangan sampai orang sekantor kehilangan pekerjaan gara-gara Anda lelet menyelesaikan proyek. Jangan pernah mengundang orang masuk kamar Anda yang super berantakan. Jangan pernah membuat janji dengan orang lain. Bergabunglah dengan klub debat, komunitas penggerutu dan kelompok short term memory. Bekerjalah pada perusahaan yang tidak memasang target, deadline dan memulai aktivitas kantornya di atas jam sembilan. Percayalah, Anda tidak sendirian.

You don’t have to be changed but stop annoying people!

People Change (yeah, rite!)

JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.

People change? Yeah, rite!

Kebanyakan orang memang tidak tahu diri dengan meminta Anda berubah. Istilahnya, siapa elo yang baru saja kenal tidak lebih dari setahun meminta Anda untuk berhenti merokok, suatu aktivitas yang Anda nikmati sejak lima-sepuluh tahun lalu. Atau, malas sekali jika sedikit-sedikit Anda harus menulis catatan kecil agar tidak lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Atau, yang Anda lakukan bukan bergosip, tapi membicarakan kebiasaan buruk orang lain agar Anda dan teman-teman tidak mencontoh kebiasaan buruk itu. Atau, selama Anda meminta maaf, orang lain tidak semestinya marah karena janji Anda tidak terpenuhi, bukan? Atau, apa mereka tidak tahu bahwa ongkos konsultasi dengan psikiater untuk mengendalikan emosi itu mahal? Atau, Anda memang serba tahu, kok. Wong lulusan terbaik MIT dengan GPA 4,0.

Jadi, Anda memang tidak perlu berubah. Selain itu, memang mustahil. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang Anda miliki adalah hasil investasi yang Anda tanam sejak lama. Mungkin sejak balita. Bahkan kebanyakan orang, termasuk Anda, tidak sadar bahwa dirinya mengidap bad habit tertentu. Yang lebih parah, mereka tidak tahu bahwa kebiasaan yang dilakukannya itu dinilai buruk dan mengganggu oleh orang-orang sekitar.

Karena Anda tidak bisa berharap mereka mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan buruk Anda, dan sebaliknya, Anda pun mustahil untuk berubah, maka win-win solution-nya adalah hindari atau kurangi kontak dengan mereka. Kenapa? Karena kini saatnya Anda untuk STOP ANNOYING PEOPLE!

Sekirannya Anda memilki segudang bad habit, biarlah itu menjadi milik dan rahasia Anda pribadi. Jangan libatkan orang lain. Jangan buat mereka sesak nafas karena asap rokok Anda. Jangan sampai orang sekantor kehilangan pekerjaan gara-gara Anda lelet menyelesaikan proyek. Jangan pernah mengundang orang masuk kamar Anda yang super berantakan. Jangan pernah membuat janji dengan orang lain. Bergabunglah dengan klub debat, komunitas penggerutu dan kelompok short term memory. Bekerjalah pada perusahaan yang tidak memasang target, deadline dan memulai aktivitas kantornya di atas jam sembilan. Percayalah, Anda tidak sendirian.

You don’t have to be changed but stop annoying people!

Selasa, 22 Januari 2008

Seven Years Old Children Question

SAYA berani bertaruh berapa saja bahwa Anda merupakan salah satu dari empatpuluh juta pengguna ponsel di Indonesia, baik ponsel berbasis GSM maupun CDMA. Namun, pastinya, Anda juga merupakan salah satu dari tigapuluh sembilan juta pengguna ponsel yang tidak mengerti apa itu GSM dan CDMA serta perbedaan keduanya. Bahkan Anda tidak akan sanggup menjawab pertanyaan anak kelas satu SD mengapa layanan operator berbasis CDMA jauh lebih murah dibandingkan layanan operator berbasis GSM. Apalagi, kemungkinan besar, Anda memiliki dua buah ponsel sekaligus dengan masing-masing layanan tersebut. Ah, betapa tidak istimewanya Anda.

Jika apa yang saya nyatakan itu benar, maka segera matikan komputer Anda saat ini juga, lalu pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda ternyata tidak sungguh-sungguh belajar di masa sekolah dulu, minim curiosity, dan tidak memiliki pembendaharaan ilmu yang luas.

Tapi bila pernyataan saya di atas Anda anggap keliru, maka segera matikan komputer Anda, pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda telah bersikap sok tahu, sok tahu dan sok tahu.

Ada hal yang patut Anda pahami bahwa bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai oleh negara, termasuk gelombang atau sinyal. Kemudian, pemerintah menjualnya melalui tender pada pihak swasta—meski berkat kemurahan mereka, kita bebas menggunakan sinyal IR dan Bluetooth.

Gelombang, atau sinyal, dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan lebar tertentu. Sedangkan data yang terkirim, misalnya percakapan, diibaratkan sebagai kendaraan. Gelombang radio frekuensi rendah yang banyak digunakan oleh stasiun radio dan alat komunikasi walkie-talkie, diibaratkan sebagai jalan satu jalur atau one way. Artinya, pada waktu yang sama, data yang dapat terkirim via gelombang ini hanya dapat dilakukan dari dan menuju satu arah. Contoh: dua polisi atau lebih harus berbicara bergantian via radio mereka.

Berbeda dengan gelombang atau sinyal ponsel standard GSM (Global System for Mobile communications). Dengan menggunakan teknik transmisi TDMA—dimana cukup para mahasiswa elektro dan teman-temannya yang berkacamata semua saja yang tahu tentang teknik tersebut—gelombang radio frekuensi tinggi ini (900 dan 1800 MHz) dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan jalur dua arah, di mana data dapat lalu-lalang dari arah berlawanan dalam waktu bersamaan. Itulah yang memungkinkan Anda dan pasangan berdebat kusir via ponsel kalian.

Sebagai sebuah jalan, gelombang tentu memiliki ruang, space, daya muat atau bandwith tertentu. Layaknya jalanan macet karena jumlah kendaraan berlebih, gelombang pun dapat mengalami overload. Hal tersebut menyebabkan sinyal sibuk dan putus-putus di malam Natal, tahun baru dan Lebaran, di mana berjuta orang menggunakan ponsel mereka dalam waktu bersamaan.

Namun, gelombang atau sinyal berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) memungkinkan jumlah data atau percakapan yang ter-cover menjadi lebih besar lagi. Dengan metode pengkodean unik pada data terkirim—bahkan mahasiswa elektro tidak banyak yang mengerti benar teknik tersebut, gelombang ini dapat diibaratkan sebagai jalan bertingkat sehingga jumlah kendaraan pada jalur yang sama dapat lebih dari satu. Artinya, ketika dua orang sedang melakukan percakapan via ponsel, pada waktu bersamaan, bisa saja terdapat beberapa percakapan lain di line mereka.

Selain itu, dominan operator gelombang berbasis CDMA di Indonesia bekerja pada frekuensi 800 MHZ, lebih rendah daripada gelombang standard GSM, sehingga area yang dapat ter-cover akan lebih luas lagi. Dengan demikian, untuk meng-cover suatu area yang sama, jumlah pemancar (BTS) yang dibutuhkan suatu operator ponsel bebasis CDMA akan lebih sedikit dibandingkan operator ponsel standard GSM. So, operational cost berkurang.

Selain itu semua, tentu saja: promosi. Wong, operator berbasis CDMA relatif baru dibandingkan operator GSM.

Bagaimana? Semakin bingung? Saya mengaku iya.

(taken from http://isinspiration.com)

Seven Years Old Children Question

SAYA berani bertaruh berapa saja bahwa Anda merupakan salah satu dari empatpuluh juta pengguna ponsel di Indonesia, baik ponsel berbasis GSM maupun CDMA. Namun, pastinya, Anda juga merupakan salah satu dari tigapuluh sembilan juta pengguna ponsel yang tidak mengerti apa itu GSM dan CDMA serta perbedaan keduanya. Bahkan Anda tidak akan sanggup menjawab pertanyaan anak kelas satu SD mengapa layanan operator berbasis CDMA jauh lebih murah dibandingkan layanan operator berbasis GSM. Apalagi, kemungkinan besar, Anda memiliki dua buah ponsel sekaligus dengan masing-masing layanan tersebut. Ah, betapa tidak istimewanya Anda.

Jika apa yang saya nyatakan itu benar, maka segera matikan komputer Anda saat ini juga, lalu pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda ternyata tidak sungguh-sungguh belajar di masa sekolah dulu, minim curiosity, dan tidak memiliki pembendaharaan ilmu yang luas.

Tapi bila pernyataan saya di atas Anda anggap keliru, maka segera matikan komputer Anda, pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda telah bersikap sok tahu, sok tahu dan sok tahu.

Ada hal yang patut Anda pahami bahwa bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai oleh negara, termasuk gelombang atau sinyal. Kemudian, pemerintah menjualnya melalui tender pada pihak swasta—meski berkat kemurahan mereka, kita bebas menggunakan sinyal IR dan Bluetooth.

Gelombang, atau sinyal, dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan lebar tertentu. Sedangkan data yang terkirim, misalnya percakapan, diibaratkan sebagai kendaraan. Gelombang radio frekuensi rendah yang banyak digunakan oleh stasiun radio dan alat komunikasi walkie-talkie, diibaratkan sebagai jalan satu jalur atau one way. Artinya, pada waktu yang sama, data yang dapat terkirim via gelombang ini hanya dapat dilakukan dari dan menuju satu arah. Contoh: dua polisi atau lebih harus berbicara bergantian via radio mereka.

Berbeda dengan gelombang atau sinyal ponsel standard GSM (Global System for Mobile communications). Dengan menggunakan teknik transmisi TDMA—dimana cukup para mahasiswa elektro dan teman-temannya yang berkacamata semua saja yang tahu tentang teknik tersebut—gelombang radio frekuensi tinggi ini (900 dan 1800 MHz) dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan jalur dua arah, di mana data dapat lalu-lalang dari arah berlawanan dalam waktu bersamaan. Itulah yang memungkinkan Anda dan pasangan berdebat kusir via ponsel kalian.

Sebagai sebuah jalan, gelombang tentu memiliki ruang, space, daya muat atau bandwith tertentu. Layaknya jalanan macet karena jumlah kendaraan berlebih, gelombang pun dapat mengalami overload. Hal tersebut menyebabkan sinyal sibuk dan putus-putus di malam Natal, tahun baru dan Lebaran, di mana berjuta orang menggunakan ponsel mereka dalam waktu bersamaan.

Namun, gelombang atau sinyal berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) memungkinkan jumlah data atau percakapan yang ter-cover menjadi lebih besar lagi. Dengan metode pengkodean unik pada data terkirim—bahkan mahasiswa elektro tidak banyak yang mengerti benar teknik tersebut, gelombang ini dapat diibaratkan sebagai jalan bertingkat sehingga jumlah kendaraan pada jalur yang sama dapat lebih dari satu. Artinya, ketika dua orang sedang melakukan percakapan via ponsel, pada waktu bersamaan, bisa saja terdapat beberapa percakapan lain di line mereka.

Selain itu, dominan operator gelombang berbasis CDMA di Indonesia bekerja pada frekuensi 800 MHZ, lebih rendah daripada gelombang standard GSM, sehingga area yang dapat ter-cover akan lebih luas lagi. Dengan demikian, untuk meng-cover suatu area yang sama, jumlah pemancar (BTS) yang dibutuhkan suatu operator ponsel bebasis CDMA akan lebih sedikit dibandingkan operator ponsel standard GSM. So, operational cost berkurang.

Selain itu semua, tentu saja: promosi. Wong, operator berbasis CDMA relatif baru dibandingkan operator GSM.

Bagaimana? Semakin bingung? Saya mengaku iya.

(taken from http://isinspiration.com)

Sabtu, 01 September 2007

Pentingkah Sebuah Cita-cita?

Pentingkah sebuah cita-cita?

Bukan. Mengingat orang-orang seusia kita rata-rata sudah lama menyerah dengan cita-cita masa kanak-kanaknya, maka pertanyaan yang tepat adalah: Pentingkah menanyakan cita-cita anak-anak kita kelak?

Dahulu sekali, orangtua saya menanamkan suatu hal yang saya rasa begitu menajubkan: money follows you. Uanglah yang akan mengejar saya. Selama saya belajar, belajar dan belajar, berusaha, berusaha dan berusaha menjadi seseorang atau sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka uang, gaji, penghasilan atau materi secara otomatis akan mengikuti saya.

Tapi kemudian yang terjadi adalah peperangan melawan arus zaman. Menjadi sesuatu atau seseorang saat ini adalah TIDAK PENTING. Bukan itu. Ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang berhasil menanamkan rasa ketakutan pada diri banyak orang, termasuk saya. Cukupkah uang kita? Apakah kita sanggup mencicil rumah yang layak? Akankah kita sanggup membiayai anak-anak kuliah? Membayar biaya rumah sakit? Membeli mobil?

Jadi, jika anak-anak kita ingin menjadi dokter, tanamkan juga pada mereka untuk menjadi dokter di rumah sakit swasta terkenal. Jadilah dokter di RS Borromeaus, misalnya. Jika mereka ingin menjadi guru, ubah segera untuk menjadi dosen. Jika mereka ingin menjadi penyebar agama, ubah dari sekarang.

Karena pertanyaan orang-orang pada anak-anak kalian kelak akan selalu kembali pada: Bekerja di mana? Bukan: Mengerjakan apa?

Selama kesuksesan seseorang masih diukur dengan standard materi yang ia peroleh, maka cita-cita sudah tidak penting untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Karena cita-cita adalah pendidikan moral, dan selama hal itu dikaitkan dengan materi, maka hanya akan mendidik mereka menjadi orang-orang materialistis.

Seperti kita? Saya mengaku iya.

Sedikit.

Pentingkah Sebuah Cita-cita?

Pentingkah sebuah cita-cita?

Bukan. Mengingat orang-orang seusia kita rata-rata sudah lama menyerah dengan cita-cita masa kanak-kanaknya, maka pertanyaan yang tepat adalah: Pentingkah menanyakan cita-cita anak-anak kita kelak?

Dahulu sekali, orangtua saya menanamkan suatu hal yang saya rasa begitu menajubkan: money follows you. Uanglah yang akan mengejar saya. Selama saya belajar, belajar dan belajar, berusaha, berusaha dan berusaha menjadi seseorang atau sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka uang, gaji, penghasilan atau materi secara otomatis akan mengikuti saya.

Tapi kemudian yang terjadi adalah peperangan melawan arus zaman. Menjadi sesuatu atau seseorang saat ini adalah TIDAK PENTING. Bukan itu. Ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang berhasil menanamkan rasa ketakutan pada diri banyak orang, termasuk saya. Cukupkah uang kita? Apakah kita sanggup mencicil rumah yang layak? Akankah kita sanggup membiayai anak-anak kuliah? Membayar biaya rumah sakit? Membeli mobil?

Jadi, jika anak-anak kita ingin menjadi dokter, tanamkan juga pada mereka untuk menjadi dokter di rumah sakit swasta terkenal. Jadilah dokter di RS Borromeaus, misalnya. Jika mereka ingin menjadi guru, ubah segera untuk menjadi dosen. Jika mereka ingin menjadi penyebar agama, ubah dari sekarang.

Karena pertanyaan orang-orang pada anak-anak kalian kelak akan selalu kembali pada: Bekerja di mana? Bukan: Mengerjakan apa?

Selama kesuksesan seseorang masih diukur dengan standard materi yang ia peroleh, maka cita-cita sudah tidak penting untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Karena cita-cita adalah pendidikan moral, dan selama hal itu dikaitkan dengan materi, maka hanya akan mendidik mereka menjadi orang-orang materialistis.

Seperti kita? Saya mengaku iya.

Sedikit.

Sabtu, 25 Agustus 2007

3 Ways 2 Propose

BERENCANA melamar seseorang?

Daripada mendapatkan jawaban yang menyesakkan dada dari pasangan atau calon mertua, sebaiknya tunda dulu niatan tersebut. Di zaman sekarang, jangan terlalu pede lamaran kamu akan mulus diterima. Mentang-mentang wajah lumayan, masa depan cerah dan calon korban menunjukkan sinyal-sinyal harapan, tapi selalu ada kemungkinan satu per sejuta persen jawaban TIDAK dari mereka yang bisa memutarbalikkan segalanya. Hati akan terasa ngilu, pikiran bisa kacau, karir pasti terganggu dan akan muncul perasaan luar biasa malu. Belum lagi kumis dan janggut lupa tercukur dan jerawat di wajah akan tumbuh subur.

Bagaimana? Masih kukuh ingin melamar? Kalau begitu, pikirkan matang-matang rencana Anda. Susun strategi jitu sehingga tidak akan terlintas dalam pikiran pasangan atau calon mertua untuk menjawab tidak. Sampaikan lamaran dengan cara dan kalimat yang tidak biasa. Buat calon korban begitu tersanjung, tersentuh hatinya dan memaksa mereka menggunakan akal sehat dan logika sehingga tidak ada pilihan selain menerima fakta bahwa kamu adalah satu-satunya, the one atau the right person to be with.

Masih bingung? Bagaimana jika mencoba mengambil referensi dari adegan melamar di film atau novel yang sesuai dengan karakter Anda dan calon korban? So, don’t be your self.




Judul: Step Mom
Genre: Drama
Pemain: Julia Roberts, Susan Sarandon, Ed Harris


Luke Harrison (Ed Harris) memandang Isobel (Julia Roberts) dengan lembut. Tanpa kata-kata, ia serahkan sebuah kotak mungil berlapis beludru.

Isobel tersenyum lebar. Ia tahu benar bahwa Luke sedang melamarnya. Momen ini memang telah lama ia tunggu. Dengan perasaan luar biasa, perlahan Isobel buka kotak itu. Tapi yang ia dapatkan bukan sebentuk cincin, tapi segulungan benang. Jantungnya sempat tertahan sesaat. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Luke. Isobel menjadi sedikit salah tingkah. Seandainya Luke sedang bergurau, sungguh gurauan yang tidak lucu.

Luke meraih gulungan benang itu dari Isobel. “Pertama kali aku menikah,” kata Luke memulai, “kami sudah pacaran sejak kuliah. Dan pernikahan hanyalah langkah selanjutnya. Terjadi begitu saja. Tapi kurasa pernikahan itu seharusnya bagi dua orang untuk benar-benar saling mencintai. Untuk benar-benar saling mengikatkan. Pernikahan seharusnya … seharusnya sebuah tindakan berdasarkan hasrat. Atau sebuah keputusan. Kurasa dua orang tersebut harus menghidupkan keputusan itu setiap hari—bahkan ketika ada masalah dan merasa ingin menyerah. Kita harus terus mempertahankan keputusan itu… meski harus pada seuntai benang.” Luke tidak meneruskan kata-katanya, tapi mengikatkan benang itu pada jari manis Isobel dan merentangkannya sepanjang lengan ke atas. “Sekali aku pernah biarkan benang itu putus. Kali ini tidak akan.” Kemudian, sebentuk cincin cantik muncul diantara jemari Luke, meluncur di sepanjang benang dan mendarat mulus di jari manis Isobel. “Will you marry me?” tanya Luke.

“Yes,” jawab Isobel dengan senyum lebar.


Cara ini akan sangat sesuai jika dilakukan pada calon pasangan yang memiliki sisi romantis, tapi ngga banget kalau dia adalah perempuan bertipe sinis. Bahkan, cocok sekali meski kamu adalah seorang duda.

Judul: Forrest Gump
Genre: Drama
Pemain: Forrest Gump, Robin Wright
Sutradara: Robert Zemeckis

Jenny (Robin Wright Penn) berpamitan untuk tidur, tapi Forrest (Tom Hanks) bergegas mengejarnya. “Will you marry me?” tanya Forrest tiba-tiba dengan suaranya yang dalam.

Jenny tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berdiri di anak tangga, menatap Forrest dengan kebingungan.

“I’d make a good husband, Jenny,” tambah Forret polos.

Jenny mengangguk tulus. “You would, Forrest.”

“But you won’t merry me, Jenny?”

“You don’t want to merry me,” Jenny membetulkan.

Jenny dapat menangkap perubahan ekspresi pada wajah Forrest. Suatu pemandangan yang memilukan baginya. Karena hal terakhir yang ingin ia lakukan adalah menyakiti hati sahabatnya itu.

“Why don’t you love me, Jenny?”

Jenny berusaha mencari kata-kata tapi tidak menemukannya.

“I’m not a smart man, but I know what love is,“ kata Forrest sambil berlalu.

Cara ini menunjukkan rasa tulus bahwa kamu sungguh-sungguh. Tidak ada embel-embel ini-itu. Strick to the point. Seakan-akan, tujuan hidup kamu hanyalah membuat pasangan kamu bahagia. Ditambah lagi, cara ini pun akan sukses menumbukan rasa kasihan yang besar sehingga calon pasangan akan sangat tidak tega untuk menolak lamaran kamu. Bahkan, meski kamu seorang idiot.

Judul: The Godfather
Penulis: Mario Puzo


Michael menyandar ke kursi dan mengawasi orang itu sejenak. Lalu ia berkata dengan sangat pelan, “Aku mengerti telah menyinggung perasaanmu karena membicarakan putrimu. Aku minta maaf, aku orang asing di daerah ini, aku tidak begitu memahami adat istiadat di sini. Begini, aku tidak bermaksud tak menghormati dirimu atau putrimu.”

Ada nada berkuasa dan penuh wibawa dalam suaranya sekalipun ia tengah meminta maaf. Pemilik kafe mengangkat bahu, lebih waspada lagi, mengetahui dirinya bukan berurusan dengan buruh tani. “Kau siapa dan apa yang kau inginkan dari putriku?”

Tanpa keraguan sedikit pun Michael berkata, “Aku orang Amerika yang sedang bersembunyi di Sisilia, dari polisi dan dari negaraku. Namaku Michael. Kau bisa memberitahu polisi dan mendapatkan banyak uang, tapi lalu putrimu akan kehilangan ayah dan bukannya mendapatkan suami. Bagaimanapun, aku ingin menemui putrimu. Dengan seizinmu dan di bawah pengawasan keluargamu. Dengan penuh sopan santun. Dengan penuh rasa hormat. Aku orang terhormat dan tidak pernah berpikir akan bertindak tidak hormat terhadap putrimu. Aku ingin bertemu dengannya, berbicara dengannya, lalu kalau di antara kami ada kecocokan aku ingin menikahinya. Kalau tidak, kau tidak akan melihatku lagi. Mungkin ia takkan menganggap diriku orang yang simpatik sedikit pun, dan tidak ada yang bisa mengubah pendapat itu. Tapi sesudah saat yang tepat tiba, akan kuceritakan segala sesuatu mengenai diriku padamu, semua yang harus diketahui ayah seorang istri.”

Prinsip utamanya adalah menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ditolak. Cara ini sangat cocok bila kamu berhadapan dengan calon mertua yang over protektif. Bahkan, meski kamu seorang buronan.

note: yeah, rite!

3 Ways 2 Propose

BERENCANA melamar seseorang?

Daripada mendapatkan jawaban yang menyesakkan dada dari pasangan atau calon mertua, sebaiknya tunda dulu niatan tersebut. Di zaman sekarang, jangan terlalu pede lamaran kamu akan mulus diterima. Mentang-mentang wajah lumayan, masa depan cerah dan calon korban menunjukkan sinyal-sinyal harapan, tapi selalu ada kemungkinan satu per sejuta persen jawaban TIDAK dari mereka yang bisa memutarbalikkan segalanya. Hati akan terasa ngilu, pikiran bisa kacau, karir pasti terganggu dan akan muncul perasaan luar biasa malu. Belum lagi kumis dan janggut lupa tercukur dan jerawat di wajah akan tumbuh subur.

Bagaimana? Masih kukuh ingin melamar? Kalau begitu, pikirkan matang-matang rencana Anda. Susun strategi jitu sehingga tidak akan terlintas dalam pikiran pasangan atau calon mertua untuk menjawab tidak. Sampaikan lamaran dengan cara dan kalimat yang tidak biasa. Buat calon korban begitu tersanjung, tersentuh hatinya dan memaksa mereka menggunakan akal sehat dan logika sehingga tidak ada pilihan selain menerima fakta bahwa kamu adalah satu-satunya, the one atau the right person to be with.

Masih bingung? Bagaimana jika mencoba mengambil referensi dari adegan melamar di film atau novel yang sesuai dengan karakter Anda dan calon korban? So, don’t be your self.




Judul: Step Mom
Genre: Drama
Pemain: Julia Roberts, Susan Sarandon, Ed Harris


Luke Harrison (Ed Harris) memandang Isobel (Julia Roberts) dengan lembut. Tanpa kata-kata, ia serahkan sebuah kotak mungil berlapis beludru.

Isobel tersenyum lebar. Ia tahu benar bahwa Luke sedang melamarnya. Momen ini memang telah lama ia tunggu. Dengan perasaan luar biasa, perlahan Isobel buka kotak itu. Tapi yang ia dapatkan bukan sebentuk cincin, tapi segulungan benang. Jantungnya sempat tertahan sesaat. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Luke. Isobel menjadi sedikit salah tingkah. Seandainya Luke sedang bergurau, sungguh gurauan yang tidak lucu.

Luke meraih gulungan benang itu dari Isobel. “Pertama kali aku menikah,” kata Luke memulai, “kami sudah pacaran sejak kuliah. Dan pernikahan hanyalah langkah selanjutnya. Terjadi begitu saja. Tapi kurasa pernikahan itu seharusnya bagi dua orang untuk benar-benar saling mencintai. Untuk benar-benar saling mengikatkan. Pernikahan seharusnya … seharusnya sebuah tindakan berdasarkan hasrat. Atau sebuah keputusan. Kurasa dua orang tersebut harus menghidupkan keputusan itu setiap hari—bahkan ketika ada masalah dan merasa ingin menyerah. Kita harus terus mempertahankan keputusan itu… meski harus pada seuntai benang.” Luke tidak meneruskan kata-katanya, tapi mengikatkan benang itu pada jari manis Isobel dan merentangkannya sepanjang lengan ke atas. “Sekali aku pernah biarkan benang itu putus. Kali ini tidak akan.” Kemudian, sebentuk cincin cantik muncul diantara jemari Luke, meluncur di sepanjang benang dan mendarat mulus di jari manis Isobel. “Will you marry me?” tanya Luke.

“Yes,” jawab Isobel dengan senyum lebar.


Cara ini akan sangat sesuai jika dilakukan pada calon pasangan yang memiliki sisi romantis, tapi ngga banget kalau dia adalah perempuan bertipe sinis. Bahkan, cocok sekali meski kamu adalah seorang duda.

Judul: Forrest Gump
Genre: Drama
Pemain: Forrest Gump, Robin Wright
Sutradara: Robert Zemeckis

Jenny (Robin Wright Penn) berpamitan untuk tidur, tapi Forrest (Tom Hanks) bergegas mengejarnya. “Will you marry me?” tanya Forrest tiba-tiba dengan suaranya yang dalam.

Jenny tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berdiri di anak tangga, menatap Forrest dengan kebingungan.

“I’d make a good husband, Jenny,” tambah Forret polos.

Jenny mengangguk tulus. “You would, Forrest.”

“But you won’t merry me, Jenny?”

“You don’t want to merry me,” Jenny membetulkan.

Jenny dapat menangkap perubahan ekspresi pada wajah Forrest. Suatu pemandangan yang memilukan baginya. Karena hal terakhir yang ingin ia lakukan adalah menyakiti hati sahabatnya itu.

“Why don’t you love me, Jenny?”

Jenny berusaha mencari kata-kata tapi tidak menemukannya.

“I’m not a smart man, but I know what love is,“ kata Forrest sambil berlalu.

Cara ini menunjukkan rasa tulus bahwa kamu sungguh-sungguh. Tidak ada embel-embel ini-itu. Strick to the point. Seakan-akan, tujuan hidup kamu hanyalah membuat pasangan kamu bahagia. Ditambah lagi, cara ini pun akan sukses menumbukan rasa kasihan yang besar sehingga calon pasangan akan sangat tidak tega untuk menolak lamaran kamu. Bahkan, meski kamu seorang idiot.

Judul: The Godfather
Penulis: Mario Puzo


Michael menyandar ke kursi dan mengawasi orang itu sejenak. Lalu ia berkata dengan sangat pelan, “Aku mengerti telah menyinggung perasaanmu karena membicarakan putrimu. Aku minta maaf, aku orang asing di daerah ini, aku tidak begitu memahami adat istiadat di sini. Begini, aku tidak bermaksud tak menghormati dirimu atau putrimu.”

Ada nada berkuasa dan penuh wibawa dalam suaranya sekalipun ia tengah meminta maaf. Pemilik kafe mengangkat bahu, lebih waspada lagi, mengetahui dirinya bukan berurusan dengan buruh tani. “Kau siapa dan apa yang kau inginkan dari putriku?”

Tanpa keraguan sedikit pun Michael berkata, “Aku orang Amerika yang sedang bersembunyi di Sisilia, dari polisi dan dari negaraku. Namaku Michael. Kau bisa memberitahu polisi dan mendapatkan banyak uang, tapi lalu putrimu akan kehilangan ayah dan bukannya mendapatkan suami. Bagaimanapun, aku ingin menemui putrimu. Dengan seizinmu dan di bawah pengawasan keluargamu. Dengan penuh sopan santun. Dengan penuh rasa hormat. Aku orang terhormat dan tidak pernah berpikir akan bertindak tidak hormat terhadap putrimu. Aku ingin bertemu dengannya, berbicara dengannya, lalu kalau di antara kami ada kecocokan aku ingin menikahinya. Kalau tidak, kau tidak akan melihatku lagi. Mungkin ia takkan menganggap diriku orang yang simpatik sedikit pun, dan tidak ada yang bisa mengubah pendapat itu. Tapi sesudah saat yang tepat tiba, akan kuceritakan segala sesuatu mengenai diriku padamu, semua yang harus diketahui ayah seorang istri.”

Prinsip utamanya adalah menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ditolak. Cara ini sangat cocok bila kamu berhadapan dengan calon mertua yang over protektif. Bahkan, meski kamu seorang buronan.

note: yeah, rite!

Selasa, 12 April 2005

The Name of the Rose: Book vs Movie


Membaca novel Umberto Eco: The Name of the Rose ini seperti membaca sebuah manuskrip tua zaman Mesir kuno. Kaga ngarti. Meski saya percaya bahwa si penulis memang seorang ahli semiotika kelas dunia... tapi plis dong... membacanya saja sulit. Setidaknya, dua teman saya yang sudah membacanya, dan saya yakini mereka memiliki intelejensia di atas rata-rata pun menyatakan hal yang serupa. Apalagi, terbit pula buku panduan bagaimana membaca The Name of the Rose.

Kalau begitu, apa yang sudah membuat novel ini terjual sampai 50 juta copy??

Menurut teman saya yang lain, sebut saja namanya U. Si U ini bilang, bahwa memusingkannya sebuah novel berbanding lurus dengan angka penjualannya. Dengan kata lain, semakin novel itu njelimet dan memusingkan pembaca, maka semakin laku novel tersebut. Lihat saja Supernova...:p

Tapi ternyata....

Setelah bulanan novel itu saya simpan sebagai pajangan, tanpa sengaja, minggu lalu saya temukan The Name of the Rose dalam versi film-nya. Diperankan dengan baik oleh Sean Connery dan Christian Slater, The Name of the Rose tidak lagi menjadi cerita njlimet dan memusingkan. Malahan, saya nilai bobot konflik cerita tidak berat sama sekali. Setidaknya, tidak saya temukan film panduan bagaimana menonton film The Name of the Rose...:p

The Name of the Rose: Book vs Movie


Membaca novel Umberto Eco: The Name of the Rose ini seperti membaca sebuah manuskrip tua zaman Mesir kuno. Kaga ngarti. Meski saya percaya bahwa si penulis memang seorang ahli semiotika kelas dunia... tapi plis dong... membacanya saja sulit. Setidaknya, dua teman saya yang sudah membacanya, dan saya yakini mereka memiliki intelejensia di atas rata-rata pun menyatakan hal yang serupa. Apalagi, terbit pula buku panduan bagaimana membaca The Name of the Rose.

Kalau begitu, apa yang sudah membuat novel ini terjual sampai 50 juta copy??

Menurut teman saya yang lain, sebut saja namanya U. Si U ini bilang, bahwa memusingkannya sebuah novel berbanding lurus dengan angka penjualannya. Dengan kata lain, semakin novel itu njelimet dan memusingkan pembaca, maka semakin laku novel tersebut. Lihat saja Supernova...:p

Tapi ternyata....

Setelah bulanan novel itu saya simpan sebagai pajangan, tanpa sengaja, minggu lalu saya temukan The Name of the Rose dalam versi film-nya. Diperankan dengan baik oleh Sean Connery dan Christian Slater, The Name of the Rose tidak lagi menjadi cerita njlimet dan memusingkan. Malahan, saya nilai bobot konflik cerita tidak berat sama sekali. Setidaknya, tidak saya temukan film panduan bagaimana menonton film The Name of the Rose...:p

Sabtu, 09 April 2005

My 1st...

Hari Selasa kemarin, saya ikut numpang acara workshop-nya Pondok Kreasi-Common Room di SMA 5 Bandung. Dengan mengambil tema bahwa "Menulis Itu Asik", kita bagi2 sharing pengalaman menulis sama anak2 sma. Ada beberapa pertanyaan yang agak sulit dijawab waktu itu. Salah satunya adalah, "Bagaimana antisipasinya kalau ide mentok?"
Semua kompak menyatakan bahwa hal itu hampir sering dialami semua orang, dan sulit mencari solusinya. Mungkin itu juga sebabnya kenapa diambil tema: "Menulis Itu Asik", bukan... "Menulis Itu Gampang"
Tapi gara2 acara itu, jadi teringat tulisan2 pertama saya, yang waktu itu masih merasa "Menulis Itu Asik". Ngga perlu EYD dan ngga perlu Editor. Waktu itu, saya baru kelas 2 SMA, sering menulis jurnal di luslif dan digilir untuk dibaca temen2 (ngga ada blog kalo dulu). Jurnal tentang kejadian di sekolah, yang kebanyakan lagi musim tawuran. Dan... waktu itu punya nama pena pula. Selamat Baca!
------------------------------
Bandung, 7 April 1997 (1)

Edan! Edan! Everybody was edan!
SMA 5 sedang mengalami masa-masa panas. Peristiwa-demi peristiwa yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya adalah tragedi Underlamp (2). Hal negatif yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila kita masing-masing menghadapi suatu masalah dengan kepala dingin. Hanya karena salah paham, emosi dikobarkan. Hanya karena tatapan, mengapa darah harus ditumpahkan? Mengapa persatuan yang harus kita junjung, tecerai-berai di sekolah kita sendiri? Anjing teh, bagong pisan maneh! Goblok!
Bagaimana kita harus melawan seteru kita (3) kalau dalam diri sendiri kita harus berkobar. Bagaimana tanggung jawab kita pada Pak Supomo (4), orangtua, Pak Bahrudin (5)? Dan pada diri kita sendiri? Maukah kita dicap sebagai Pemuda Urakan Namun Kreatif (6)? Tidak adalah jawabannya. Setelah susah payah datang ke SMA 5, ada yang dari Cianjur, Jakarta, Surabaya, Brebes, Wonosobo, Ujungberung, tapi malah begini hasilnya. Tawuran. Pertengkaran. Permusuhan. Bagaimana mengenai BHINEKA TUNGGAL IKA? Bukankah sesama muslim adalah saudara maka damikanlah permusuhan saudaramu itu? Kendalikan emosi kalian, Bung! Ingat, Pemilu diambang pintu! Pergunakan hak pilih Saudara. Hal itu adalah bukti kepedulian terhadap negara! Jangan permasalahkan Irian Barat dan Timor Timur yang merupakan utopia yang basi! Pikirkan diri sendiri, tapi jangan egois. Sebab dalam pada itu terdapat hak-hak anak yatim, janda-janda tua dan para manula (7). Ingat, kita tinggal dua bulan lagi di kelas 2. Karena itu, puas-puaskanlah ke Bu Tata dan waktu sholatmu (8)! Hanya satu pesanku: Be your self in reality, don’t be another personality. Masih ada langit di atas langit. Masih ada gunung di balik gunung.

“dari suara hati yang tidak bersuara”
Notes:
(1) waktu itu kelas 2 sma, menjelang pemilu orba terakhir
(2) tempat nongkrong depan sma 5
(3) waktu itu lagi musuhan dengan SMA 2
(4) kepsek
(5) wali kelas
(6) PUNK
(7) lagi ngetren iklannya KH Zainudin, MZwaktu itu kelas 2 masuknya siang, jadi kalau mau bolos tinggal bilng mau solat, padahal ke kantin Bu Tata
Bandung, 11 April 1997
Gelo bangbang pispot! Akhirnya, meledak juga apa yang selama ini memanasi jiwa-jiwa yang tergadai!! Hal itu terjadi pada hari Selasa di Kantin Biru ujung, tempat mangkal keluarga buah-buahan (Toge dan Cau bersaudara, kelas tiga-red). Tokoh utama pada tragedi berbenjol itu mengalami kekalahan yang dilihat tinggi sebelah antara korban dan dan pelaku penamparan (sekitar 20 senti).
Sungguh saya merasa sedih, terharu, sengsara sekaligus bangga (naon, deuih!). Sungguh disayangkan, hal demikian harus terjadi. Perpecahan dan kesenjangan sosial sudah jelas-jelasnya hinggap di bumi parahyangn ini, khususnya SMA 5 yang katanya berdisiplin tinggi. Malahan… ada kelompok-kelompok tertentu yang sengaja memisahkan diri dari pergaulan kita. Seperti KASUS (nama kelas 2K-red)!!! Apa itu?? Bukankah kita sama-sama orang Indonesia? Lalu kenapa mesti muncul geng-geng yang katanya mempunya paham dan pandangan yang berbeda. Untung saja ada KECUTE (kelas saya-red), yang berani tampil beda tanpa malu-malu dan ngga tahu malu, yang berani membela yang CUTE dan melawan yang FUNKY dan COOL (naon, anjing teh!). Tapi saya simpati dengan apa yang mereka perjuangkan, yaitu menegakkan hak-hak orang boni. Apalagi sekarang ada peraturan baru yang malah dapat merangsang siswa bolos, yaitu Jum’at bersih (semakin tidak nyambung, Bung! Kita stop saja sampai di sini).
“dari suara hati yang tuli”
Bandung, 16 April 1997
Sekoah yang dirintis sudah bertahun-tahun, apakah harus hancur sekarang setelah mencapai titik akumulasi? Apalagi Pak Pomo dengan sponsornya “si kuning” (Golkar-red) sedang giat-giatnya membangun kelas dan masjid baru. Sayang, sungguh sayang!! Masa persaudaraan yang tadinya begitu erat harus terpupus dan putus oleh generasi kita? Apa tega kita melihat tanah Belitung (nama jalan-red) bersimbah darah akibat peperangan antar saudara sependidikan?
Mungkin para pembaca bingung atas apa yang ditulis di atas. Tapi… ketahuilah! Belitung… di ambang perpecahan! (ayo baca 7 kali). Sungguh ironi, 2 sekolah (SMA 3 dan 5) yang dianggap panutan, teladan bagi sekolah-sekolah di Jawa Barat, bahkan Timor Timur, WC-nya bau dan jorok (eh, maaf… ini kritik buat yang suka pipis dan buat Pak Pomo dengan sponsornya “si kuning”). Tapi, mohon kendalikan emosi kita bila mendengar selentingan yang bisa bikin mata melotot, telinga mendelik, jantung copot, lidah kelu, hati pilu, keringat bercucuran, ketombe dan belek berhamburan. Tahan! Salurkan emosi dan energi agar jangan terbuang. Bila ingin berkelahi, tahan!!! Jangan diumbar! Salurkan bakat dan minatmu ke tempatnya yang cocok, seperti beladiri. Bila ingin berteriak, tahan!! Jangan sampai meneriaki orang. Ikuti saja lomba adzan. Kalau menang dapat hadiah dan pahala. Bila ingin menangis, tahan!! Salurkan tangisanmu ke film India. Selain tidak sia-sia juga dapat uang. Apabila perpecahan terjadi jua, siapa yang harus dikambinghitamkan? Andi? Dia hitam, tapi bukan kambing. Atau Doni? Dia seperti kambing tapi tidak hitam. Apakah Akhmad? Akhmad hitam tapi buaya, bukan kambing. Apakah kita harus menunggu Idul Adha untuk mendapatkan kambing hitam? Tidak, Saudara!!! Jangan mengkambinghitamkan Andi hanya karena dia hitam. Jangan menghitamkan Doni hanya karena dia kambing. Jangan membuayahitamkan Akhmad hanya karena Akhmad buaya. Tapi kita harus bertakbir, karena Idul Adha sebentar lagi! Ingat, besok malam takbiran. Siapkan kopi karena kita akan begadang!
“dari teriakan hati”

My 1st...

Hari Selasa kemarin, saya ikut numpang acara workshop-nya Pondok Kreasi-Common Room di SMA 5 Bandung. Dengan mengambil tema bahwa "Menulis Itu Asik", kita bagi2 sharing pengalaman menulis sama anak2 sma. Ada beberapa pertanyaan yang agak sulit dijawab waktu itu. Salah satunya adalah, "Bagaimana antisipasinya kalau ide mentok?"
Semua kompak menyatakan bahwa hal itu hampir sering dialami semua orang, dan sulit mencari solusinya. Mungkin itu juga sebabnya kenapa diambil tema: "Menulis Itu Asik", bukan... "Menulis Itu Gampang"
Tapi gara2 acara itu, jadi teringat tulisan2 pertama saya, yang waktu itu masih merasa "Menulis Itu Asik". Ngga perlu EYD dan ngga perlu Editor. Waktu itu, saya baru kelas 2 SMA, sering menulis jurnal di luslif dan digilir untuk dibaca temen2 (ngga ada blog kalo dulu). Jurnal tentang kejadian di sekolah, yang kebanyakan lagi musim tawuran. Dan... waktu itu punya nama pena pula. Selamat Baca!
------------------------------
Bandung, 7 April 1997 (1)

Edan! Edan! Everybody was edan!
SMA 5 sedang mengalami masa-masa panas. Peristiwa-demi peristiwa yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya adalah tragedi Underlamp (2). Hal negatif yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila kita masing-masing menghadapi suatu masalah dengan kepala dingin. Hanya karena salah paham, emosi dikobarkan. Hanya karena tatapan, mengapa darah harus ditumpahkan? Mengapa persatuan yang harus kita junjung, tecerai-berai di sekolah kita sendiri? Anjing teh, bagong pisan maneh! Goblok!
Bagaimana kita harus melawan seteru kita (3) kalau dalam diri sendiri kita harus berkobar. Bagaimana tanggung jawab kita pada Pak Supomo (4), orangtua, Pak Bahrudin (5)? Dan pada diri kita sendiri? Maukah kita dicap sebagai Pemuda Urakan Namun Kreatif (6)? Tidak adalah jawabannya. Setelah susah payah datang ke SMA 5, ada yang dari Cianjur, Jakarta, Surabaya, Brebes, Wonosobo, Ujungberung, tapi malah begini hasilnya. Tawuran. Pertengkaran. Permusuhan. Bagaimana mengenai BHINEKA TUNGGAL IKA? Bukankah sesama muslim adalah saudara maka damikanlah permusuhan saudaramu itu? Kendalikan emosi kalian, Bung! Ingat, Pemilu diambang pintu! Pergunakan hak pilih Saudara. Hal itu adalah bukti kepedulian terhadap negara! Jangan permasalahkan Irian Barat dan Timor Timur yang merupakan utopia yang basi! Pikirkan diri sendiri, tapi jangan egois. Sebab dalam pada itu terdapat hak-hak anak yatim, janda-janda tua dan para manula (7). Ingat, kita tinggal dua bulan lagi di kelas 2. Karena itu, puas-puaskanlah ke Bu Tata dan waktu sholatmu (8)! Hanya satu pesanku: Be your self in reality, don’t be another personality. Masih ada langit di atas langit. Masih ada gunung di balik gunung.

“dari suara hati yang tidak bersuara”
Notes:
(1) waktu itu kelas 2 sma, menjelang pemilu orba terakhir
(2) tempat nongkrong depan sma 5
(3) waktu itu lagi musuhan dengan SMA 2
(4) kepsek
(5) wali kelas
(6) PUNK
(7) lagi ngetren iklannya KH Zainudin, MZwaktu itu kelas 2 masuknya siang, jadi kalau mau bolos tinggal bilng mau solat, padahal ke kantin Bu Tata
Bandung, 11 April 1997
Gelo bangbang pispot! Akhirnya, meledak juga apa yang selama ini memanasi jiwa-jiwa yang tergadai!! Hal itu terjadi pada hari Selasa di Kantin Biru ujung, tempat mangkal keluarga buah-buahan (Toge dan Cau bersaudara, kelas tiga-red). Tokoh utama pada tragedi berbenjol itu mengalami kekalahan yang dilihat tinggi sebelah antara korban dan dan pelaku penamparan (sekitar 20 senti).
Sungguh saya merasa sedih, terharu, sengsara sekaligus bangga (naon, deuih!). Sungguh disayangkan, hal demikian harus terjadi. Perpecahan dan kesenjangan sosial sudah jelas-jelasnya hinggap di bumi parahyangn ini, khususnya SMA 5 yang katanya berdisiplin tinggi. Malahan… ada kelompok-kelompok tertentu yang sengaja memisahkan diri dari pergaulan kita. Seperti KASUS (nama kelas 2K-red)!!! Apa itu?? Bukankah kita sama-sama orang Indonesia? Lalu kenapa mesti muncul geng-geng yang katanya mempunya paham dan pandangan yang berbeda. Untung saja ada KECUTE (kelas saya-red), yang berani tampil beda tanpa malu-malu dan ngga tahu malu, yang berani membela yang CUTE dan melawan yang FUNKY dan COOL (naon, anjing teh!). Tapi saya simpati dengan apa yang mereka perjuangkan, yaitu menegakkan hak-hak orang boni. Apalagi sekarang ada peraturan baru yang malah dapat merangsang siswa bolos, yaitu Jum’at bersih (semakin tidak nyambung, Bung! Kita stop saja sampai di sini).
“dari suara hati yang tuli”
Bandung, 16 April 1997
Sekoah yang dirintis sudah bertahun-tahun, apakah harus hancur sekarang setelah mencapai titik akumulasi? Apalagi Pak Pomo dengan sponsornya “si kuning” (Golkar-red) sedang giat-giatnya membangun kelas dan masjid baru. Sayang, sungguh sayang!! Masa persaudaraan yang tadinya begitu erat harus terpupus dan putus oleh generasi kita? Apa tega kita melihat tanah Belitung (nama jalan-red) bersimbah darah akibat peperangan antar saudara sependidikan?
Mungkin para pembaca bingung atas apa yang ditulis di atas. Tapi… ketahuilah! Belitung… di ambang perpecahan! (ayo baca 7 kali). Sungguh ironi, 2 sekolah (SMA 3 dan 5) yang dianggap panutan, teladan bagi sekolah-sekolah di Jawa Barat, bahkan Timor Timur, WC-nya bau dan jorok (eh, maaf… ini kritik buat yang suka pipis dan buat Pak Pomo dengan sponsornya “si kuning”). Tapi, mohon kendalikan emosi kita bila mendengar selentingan yang bisa bikin mata melotot, telinga mendelik, jantung copot, lidah kelu, hati pilu, keringat bercucuran, ketombe dan belek berhamburan. Tahan! Salurkan emosi dan energi agar jangan terbuang. Bila ingin berkelahi, tahan!!! Jangan diumbar! Salurkan bakat dan minatmu ke tempatnya yang cocok, seperti beladiri. Bila ingin berteriak, tahan!! Jangan sampai meneriaki orang. Ikuti saja lomba adzan. Kalau menang dapat hadiah dan pahala. Bila ingin menangis, tahan!! Salurkan tangisanmu ke film India. Selain tidak sia-sia juga dapat uang. Apabila perpecahan terjadi jua, siapa yang harus dikambinghitamkan? Andi? Dia hitam, tapi bukan kambing. Atau Doni? Dia seperti kambing tapi tidak hitam. Apakah Akhmad? Akhmad hitam tapi buaya, bukan kambing. Apakah kita harus menunggu Idul Adha untuk mendapatkan kambing hitam? Tidak, Saudara!!! Jangan mengkambinghitamkan Andi hanya karena dia hitam. Jangan menghitamkan Doni hanya karena dia kambing. Jangan membuayahitamkan Akhmad hanya karena Akhmad buaya. Tapi kita harus bertakbir, karena Idul Adha sebentar lagi! Ingat, besok malam takbiran. Siapkan kopi karena kita akan begadang!
“dari teriakan hati”