Jumat, 31 Oktober 2008

Aisa Sayang, Aisa Malang...




Aisa sayang, ketika menulis ini, bapak sedang berada dalam cobaan-Nya. Sudah tiga hari tubuh satu-satunya ini dilanda panas dan demam. Kemampuan bapak dalam mencicipi makanan pun ditawan entah sampai kapan. Tidak berasa itu makanan. Sampai merokok pun tak enak rasa. Di malam hari, tidur bapak gelisah gundah gulana. Pantat pun tidak bisa diam di satu tempat saja. Semua posisi selalu serba salah. Setiap pukul dua dini hari bapak terbangun lalu ke kamar mandi. Tidak usahlah bapak jelaskan di sana apa yang terjadi.

Aisa malang, jika ada yang harus disalahkan dengan nasib buruk yang menimpa bapak ini, maka ibumulah pelakunya. Ya, ibumu. Pesonanya yang ia tebar, kisah-kisah yang ia ceritakan dalam surat-suratnya, serta mimpi-mimpinya yang ia bagi pada bapak sudah cukup lama menjadi candu yang memabukkan. Kadang-kadang sampai slebor bapak dibuatnya. Tidak jarang tertawa sendiri. Atau sekedar senyum menawan, menangis tersedu pilu.

Lalu tiba-tiba saja dihentikannya semua itu tanpa aba-aba terlebih dahulu. Dua minggu, sebutnya. Itu pun bisa lebih lama, atau jika kami beruntung, bisa kurang dari itu.

Karenanya, Aisa. Jangan terkejut seandainya kelak kamu temukan bapak sedang berada di pusat rehabilitasi. Atau di pesantren Abah Anom, Tasik.

Sekali lagi. Ibumu itu, Aisa, pelakunya.




"I don't need drugs to make my life tragic."
[Anonymous]

Aisa Sayang, Aisa Malang...




Aisa sayang, ketika menulis ini, bapak sedang berada dalam cobaan-Nya. Sudah tiga hari tubuh satu-satunya ini dilanda panas dan demam. Kemampuan bapak dalam mencicipi makanan pun ditawan entah sampai kapan. Tidak berasa itu makanan. Sampai merokok pun tak enak rasa. Di malam hari, tidur bapak gelisah gundah gulana. Pantat pun tidak bisa diam di satu tempat saja. Semua posisi selalu serba salah. Setiap pukul dua dini hari bapak terbangun lalu ke kamar mandi. Tidak usahlah bapak jelaskan di sana apa yang terjadi.

Aisa malang, jika ada yang harus disalahkan dengan nasib buruk yang menimpa bapak ini, maka ibumulah pelakunya. Ya, ibumu. Pesonanya yang ia tebar, kisah-kisah yang ia ceritakan dalam surat-suratnya, serta mimpi-mimpinya yang ia bagi pada bapak sudah cukup lama menjadi candu yang memabukkan. Kadang-kadang sampai slebor bapak dibuatnya. Tidak jarang tertawa sendiri. Atau sekedar senyum menawan, menangis tersedu pilu.

Lalu tiba-tiba saja dihentikannya semua itu tanpa aba-aba terlebih dahulu. Dua minggu, sebutnya. Itu pun bisa lebih lama, atau jika kami beruntung, bisa kurang dari itu.

Karenanya, Aisa. Jangan terkejut seandainya kelak kamu temukan bapak sedang berada di pusat rehabilitasi. Atau di pesantren Abah Anom, Tasik.

Sekali lagi. Ibumu itu, Aisa, pelakunya.




"I don't need drugs to make my life tragic."
[Anonymous]

Selasa, 28 Oktober 2008

Menghadap Tembok

“When you hate, the only one that suffers is you, because most of the people you hate don’t know it and the rest don’t care.” [Myrlie Evers, Ghost of Mississippi]




Sewaktu saya masih sekolah SD dahulu, pernah suatu kali bapak saya memanggil saya dan bilang begini. "Andi, maukah bapak ceritakan tentang dunia perempuan dan seluruh penghuninya?"

"Tidak, bapak. Jangan. Saya masih kecil."

"Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang dunia mereka, Andi. Suatu hari nanti kamu akan memasukinya. Sudah sepantasnya bapak memberikan bekal pengetahuan tentang hal tersebut. Semoga kelak, jikalau kamu menghadapi tembok besar dalam hidupmu, kamu akan teringat akan pesan-pesan bapak yang tidak seberapa ini."

"Baiklah, bapak. Silakan. Jangan lama-lama, ya. Sebentar lagi Rumah Masa Depan akan segera dimulai."

Tapi bapak nampak tidak peduli. Diperintahkannya saya untuk segera duduk di atas dipan rumah kami yang sederhana. Karena khawatir akan dipotongnya uang jajan, maka saya tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kemauannya. Kemudian, mulailah ia memberikan petuah-petuahnya.

"Tahukah kamu, Andi, bahwa sebelum menjadi seorang ibu, seorang perempuan itu tidaklah mengerti sama sekali tentang kita, kaum laki-laki. Mereka mengira, antariksa berputar pada dirinya seorang. Padahal Copernicus sudah memberi penjelasan bahwa mataharilah pusat tata surya. Karena itu, Andi, janganlah kamu sekali-kali memperlakukan perempuan yang belum menjadi istrimu dengan semena-mena. Jangan pernah pula kamu menuntut ini-itu. Meminta perhatian dan memelas kasih sayang. Berputar-putar saja mengelilinginya. Biarlah ia sendiri yang menarik atau melempar kamu dari orbit yang sudah kamu bentuk sendiri."

"Ke dua, para perempuan itu tidak mengerti akan apa yang mereka inginkan sebenarnya. Juga, tidak mengerti akan apa yang mereka butuhkan...."

"Ke tiga, perempuan itu..."

"..."

"Ke enambelas..."

"...bla bla bla..."










Bapak, seandainya dulu saya dengarkan nasihatmu dengan seksama... seandainya dahulu saya tidak tertidur sewaktu engkau memberikan petuah-petuah itu... tentu anakmu ini tidak akan tersesat seperti sekarang.


Bapak, saya sedang berhadapan dengan tembok.

Menghadap Tembok

“When you hate, the only one that suffers is you, because most of the people you hate don’t know it and the rest don’t care.” [Myrlie Evers, Ghost of Mississippi]




Sewaktu saya masih sekolah SD dahulu, pernah suatu kali bapak saya memanggil saya dan bilang begini. "Andi, maukah bapak ceritakan tentang dunia perempuan dan seluruh penghuninya?"

"Tidak, bapak. Jangan. Saya masih kecil."

"Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang dunia mereka, Andi. Suatu hari nanti kamu akan memasukinya. Sudah sepantasnya bapak memberikan bekal pengetahuan tentang hal tersebut. Semoga kelak, jikalau kamu menghadapi tembok besar dalam hidupmu, kamu akan teringat akan pesan-pesan bapak yang tidak seberapa ini."

"Baiklah, bapak. Silakan. Jangan lama-lama, ya. Sebentar lagi Rumah Masa Depan akan segera dimulai."

Tapi bapak nampak tidak peduli. Diperintahkannya saya untuk segera duduk di atas dipan rumah kami yang sederhana. Karena khawatir akan dipotongnya uang jajan, maka saya tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kemauannya. Kemudian, mulailah ia memberikan petuah-petuahnya.

"Tahukah kamu, Andi, bahwa sebelum menjadi seorang ibu, seorang perempuan itu tidaklah mengerti sama sekali tentang kita, kaum laki-laki. Mereka mengira, antariksa berputar pada dirinya seorang. Padahal Copernicus sudah memberi penjelasan bahwa mataharilah pusat tata surya. Karena itu, Andi, janganlah kamu sekali-kali memperlakukan perempuan yang belum menjadi istrimu dengan semena-mena. Jangan pernah pula kamu menuntut ini-itu. Meminta perhatian dan memelas kasih sayang. Berputar-putar saja mengelilinginya. Biarlah ia sendiri yang menarik atau melempar kamu dari orbit yang sudah kamu bentuk sendiri."

"Ke dua, para perempuan itu tidak mengerti akan apa yang mereka inginkan sebenarnya. Juga, tidak mengerti akan apa yang mereka butuhkan...."

"Ke tiga, perempuan itu..."

"..."

"Ke enambelas..."

"...bla bla bla..."










Bapak, seandainya dulu saya dengarkan nasihatmu dengan seksama... seandainya dahulu saya tidak tertidur sewaktu engkau memberikan petuah-petuah itu... tentu anakmu ini tidak akan tersesat seperti sekarang.


Bapak, saya sedang berhadapan dengan tembok.

Basah Basah Basah


Basah bumi di luar sana. Empat hari tidak saya lihat matahari. Tuhan, adakah ini pertanda cucian saya tidak kering lagi? Haruskah saya kenakan juga kemeja hari kemarin? Bagaimana dengan besok?

Ataukah ini sekedar gambaran... cuaca di hati?

Basah Basah Basah


Basah bumi di luar sana. Empat hari tidak saya lihat matahari. Tuhan, adakah ini pertanda cucian saya tidak kering lagi? Haruskah saya kenakan juga kemeja hari kemarin? Bagaimana dengan besok?

Ataukah ini sekedar gambaran... cuaca di hati?

5 Hal Sangat Penting Tentang Saya


Seorang kawan lama mengunjungi blog ini. Komentar pertama dia adalah, "Mana tentang kamu-nya?"
Saya bingung. "Maksud kamu?"
"Maksud saya... mana tentang kamu-nya?"
Diam sesaat. "Maksud kamu?"




Baiklah. Daripada daripada, mendingan-mendingan. Mari saya jelaskan 5 hal penting tentang saya. Iya, saya ini, a.k.a Andi Eriawan.

#1 Saya adalah seorang seniman
Seniman dalam berbohong. Karena seniman, maka tidak akan pernah saya berbohong akan hal yang murahan, gampang tertebak dan mudah tertangkap. Tidak akan saya berbohong untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Apalagi kalian. Terutama kamu.
Bohong saya tingkatnya tinggi. Saking tingginya, tidak akan ada yang bisa melihat tepian puncaknya. Kecuali, tentu saja, sesama seniman.

#2 Saya tidak suka protes
Saya lebih memilih balas dendam. Karena itu, jika diperlakukan tidak adil, saya tidak akan protes. Saya cuma diam, mengamati situasi dan memberikan kesempatan pada mereka yang telah bertindak demikian untuk bertobat. Untuk meminta maaf. Satu, dua kali kesempatan. Jika tidak ada perubahan, maka saya lancarkan serangan yang setimpal.

#3 Saya miskin
Mari bahas bagian ini lebih dalam.

"Andi, traktir, dong. Kamu kan sudah kerja, punya multi perusahaan, menerima royalti, bujangan pula."

Itu adalah kalimat yang sering, amat sering, saya dengar. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sudah lama tidak bertemu. Saya selalu kebingungan bagaimana menjelaskan pada mereka bahwa saya ini seorang miskin. Karena tidak mungkin jika saya bilang pada mereka bahwa saya punya beberapa anak asuh yang segala keperluannya harus saya tanggung. Dari mulai makan, tempat tinggal sampai kesehatan. Belum lagi 4-5 adik asuh.

Ada juga beberapa janda asuh.

Belum terhitung pula puluhan gadis asuh yang harus saya biayai kosmetiknya, uang jajannya, tiket nonton bioskop dan konser musiknya...

Jadi, saya bilang saja pada mereka yang selalu minta traktir setiap kali kami bertemu itu dengan jawaban,
"Maaf. Saya baru kalah judi."


#4 Saya sombong
Ah, tak usahlah kita bahas ini.

#5 Saya jago menghilang
Nah, ini bakat lain lagi. Saya hebat dalam hal hilang-menghilang. Juga menyamar menjadi orang yang sama sekali tidak dikenal. Tiba-tiba saja, saya bisa sangat sulit dihubungi. SMS tidak sampai, ditelpon tulalit. Semua koneksi yang menghubungi saya bisa diputuskan kapan saya mau. Di kelurahan saja, data saya nyaris tidak ada. Wong, KTP saja saya palsu. SIM sih jangan ditanya.

#6 Saya seorang yang adil
Sekiranya saya beristri empat, maka keempatnya akan sama rata bahagianya. Itu merupakan gambaran betapa saya ini adil. Kamu memberi saya A, saya kasih A+ sebagai balasannya. Seperti itulah.

#7 Saya setia
Ini lain lagi. Kesetiaan saya tidak bisa diukur dengan uang ataupun kecantikan fisik. Sungguh malang nasib para pengkhianat.

#8 Saya pekerja keras
Betul sekali. Saya terbangun sewaktu orang-orang masih tidur. Saya masih bekerja sewaktu orang-orang mulai naik ke atas ranjang mereka. Meski, saya sering tertidur sewaktu orang-orang sedang bekerja.

#9 Saya tipe pejuang
Menyerah tidak saya kenal dalam Kamus Besar Panduan Hidup.

#10 Saya tidak peduli
Ya. Saya tidak peduli mereka akan bilang apa tentang saya. Terutama kalian. Saya cuma peduli keluarga, tetangga, saudara, kawan, sahabat, istri saya kelak, orang-orang yang saya temui di jalan, kantor, angkot, terminal dan di mana pun, serta orang-orang yang peduli pada saya. Juga Aisa Adinda Kita.







"Kenapa ada 10?" teman saya tanya lagi. "Di awal bilang cuma ada 5 hal tentang kamu."
"Iya. Dari 10 itu, yang benar cuma 5."