Selasa, 28 Oktober 2008

Menghadap Tembok

“When you hate, the only one that suffers is you, because most of the people you hate don’t know it and the rest don’t care.” [Myrlie Evers, Ghost of Mississippi]




Sewaktu saya masih sekolah SD dahulu, pernah suatu kali bapak saya memanggil saya dan bilang begini. "Andi, maukah bapak ceritakan tentang dunia perempuan dan seluruh penghuninya?"

"Tidak, bapak. Jangan. Saya masih kecil."

"Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang dunia mereka, Andi. Suatu hari nanti kamu akan memasukinya. Sudah sepantasnya bapak memberikan bekal pengetahuan tentang hal tersebut. Semoga kelak, jikalau kamu menghadapi tembok besar dalam hidupmu, kamu akan teringat akan pesan-pesan bapak yang tidak seberapa ini."

"Baiklah, bapak. Silakan. Jangan lama-lama, ya. Sebentar lagi Rumah Masa Depan akan segera dimulai."

Tapi bapak nampak tidak peduli. Diperintahkannya saya untuk segera duduk di atas dipan rumah kami yang sederhana. Karena khawatir akan dipotongnya uang jajan, maka saya tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kemauannya. Kemudian, mulailah ia memberikan petuah-petuahnya.

"Tahukah kamu, Andi, bahwa sebelum menjadi seorang ibu, seorang perempuan itu tidaklah mengerti sama sekali tentang kita, kaum laki-laki. Mereka mengira, antariksa berputar pada dirinya seorang. Padahal Copernicus sudah memberi penjelasan bahwa mataharilah pusat tata surya. Karena itu, Andi, janganlah kamu sekali-kali memperlakukan perempuan yang belum menjadi istrimu dengan semena-mena. Jangan pernah pula kamu menuntut ini-itu. Meminta perhatian dan memelas kasih sayang. Berputar-putar saja mengelilinginya. Biarlah ia sendiri yang menarik atau melempar kamu dari orbit yang sudah kamu bentuk sendiri."

"Ke dua, para perempuan itu tidak mengerti akan apa yang mereka inginkan sebenarnya. Juga, tidak mengerti akan apa yang mereka butuhkan...."

"Ke tiga, perempuan itu..."

"..."

"Ke enambelas..."

"...bla bla bla..."










Bapak, seandainya dulu saya dengarkan nasihatmu dengan seksama... seandainya dahulu saya tidak tertidur sewaktu engkau memberikan petuah-petuah itu... tentu anakmu ini tidak akan tersesat seperti sekarang.


Bapak, saya sedang berhadapan dengan tembok.

4 komentar:

Monique mengatakan...

Setidaknya udah denger petuah yang nomor satu itu kang....itu sudah lumayan mewakili kaum wanita kok...

Kalo berhadapan dengan tembok, pecahkan saja temboknya, biar gaduh sampai mengaduh.... :))

Enno mengatakan...

kan temboknya masih bisa diruntuhin... gedor aja pake palu hehehe.... ;p

qbonk mengatakan...

ndi, lagi galaw ya? pantes lama tak menyurati aisya,,

Andi Eriawan mengatakan...

namanya aisa, bonx..
kalo aisha sih adinda kamu.