Minggu, 27 April 2008

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Alexander The Great yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin.

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Tadinya aku hendak menambahkan bahwa aku juga menyesal telah mentraktirnya menonton film barusan, tapi tidak tega setelah melihat air mata menetesi pipinya. Oh, bukan. Ternyata itu air hujan. Lalu aku duduk dengan kesal sambil bertopang dagu. Dari kemeja hingga kaos kakiku basah kuyup. Dalam sepuluh menit lagi dapat dipastikan aku akan masuk angin. Dan dalam empatpuluh menit ke depan aku sudah tidak sadarkan diri.

”Andi,” dia menyebut namaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Sekali lagi dia memanggilku, tapi aku tetap bergeming. Mungkin karena merasa pegal terus berdiri, perempuan itu duduk di sampingku dan kurasakan bahu kami merapat. Tak ada yang bicara untuk beberapa lama. Sesekali cahaya lampu kendaraan menyoroti halte yang hanya menyisakan kami berdua.

”Kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” akhirnya kudengar juga suaranya.

Aku hanya menggeleng. Sudah lima menit berlalu dan dia belum juga minta maaf.

”Empat puluh hari yang lalu di resepsi pernikahan Zoel,” lanjutnya tanpa mempedulikan sikapku yang masih tidak ramah. ”Waktu itu rambut kamu lebih panjang, tapi aku masih ingat sepatu yang kamu pakai sama dengan hari ini. Aku yang sedang duduk di pojokan gedung sambil menikmati semangkuk eskrim, melihat sepasang sepatu jelek itu mendekat. Lalu pemiliknya duduk begitu saja di samping aku tanpa menyapa atau permisi. Aku segera menoleh. Ternyata dia hanya seorang cowok dengan kemeja batik yang ukuran, motif dan warnanya sama sekali ngga cocok dipakai.”

Memang. Batik itu milik ayahku sebelum beliau pensiun. Batik KORPRI. Berwarna biru tua dengan motif sayap yang dilengkapi berbagai ornamennya. Sama sekali tidak cocok untuk resepsi pernikahan. Waktu itu aku tidak sadar bahwa aku lebih terlihat tolol daripada retro. Diingatkan demikian, mau tidak mau rasa kesalku sedikit berkurang.

”Kamu tahu,” katanya lagi sambil menggandeng lenganku, ”sebenarnya aku berharap cowok itu mengajak aku berkenalan, atau pura-pura bertanya di mana stand eskrim berada, atau sekedar basa-basi tentang cerahnya cuaca. Tapi, ngga begitu. Ngga sama sekali. Rupanya dia lebih tertarik menghabiskan enam potong kambing guling, dua mangkuk zuppa-zuppa, sepiring besar kentang goreng, plus sepuluh tusuk sate ayam daripada berkenalan dengan gadis cantik yang duduk manis sendirian di sebelahnya.”

”Bohong,” kilahku. Tanpa sadar aku bersuara juga. Bagaimana lagi, hal yang barusan dia bilang itu bohong. Memang benar bahwa dia cantik. Kuakui itu. Cantik sekali, malah. Bahkan ketika dia mengaku-aku dirinya cantik pun aku tidak sanggup memberi sanggahan apa-apa.

Dan benar juga bahwa aku lebih tertarik untuk makan daripada berkenalan dengannya, atau menjalin percakapan basa-basi, atau sekedar mengingatkannya tentang musim hujan yang akan tiba tidak lama lagi. Tidak. Di seluas pandanganku waktu itu terhidang daging kambing muda yang empuk, sate ayam tanpa lemak, kentang goreng dengan saus terbaik dan zuppa-zuppa yang bisa melelehkan lidah. Dia lupa menyebutkan coto makasar dan sop konro yang juga tidak kalah istimewa. Benar-benar hidangan terbaik dari semua hidangan resepsi pernikahan yang pernah aku kunjungi.

Maka, tidak logis jika aku mau menukarkan itu semua hanya demi mendapatkan nama seorang perempuan, secantik apapun dia. Terlebih lagi aku sudah merogoh empatpuluh ribu rupiah sebagai angpao untuk Zoel dan pengantinnya. Mulanya hendak kuberi limapuluh ribu, tapi aku butuh tambahan sepuluh ribu untuk sebungkus rokok.

”Andi, aku bohong apa?” tanya perempuan itu dengan manja. Nafasnya terasa hangat dan gandengan tangannya semakin erat.

Huh! Dia berbohong jika mengaku duduk sendiri waktu itu. Ada seorang lelaki berjas di sampingnya. Si jahanam itu sesekali mengelus rambutnya, memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia. Suara canda dan tawanya benar-benar mengganggu telinga. Yang menyakitkan, kusadari bahwa akulah yang sedang mereka jadikan bahan guyonan.

”Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” perempuan itu melanjutkan lagi ceritanya. Kali ini bahuku telah menjadi sandaran kepalanya. ”Cowok bersepatu jelek dan berbatik aneh itu tiba-tiba berdiri dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelasnya ke arahku. Kontan, atasan gaun putih yang aku pakai berubah warna menjadi keunguan.”

Aku terkekeh. Sebenarnya, sasaranku lelaki berjas itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Siapa yang tidak kesal jika ada dua orang asing yang membicarakan kita selama empatpuluh menit lebih sambil berbisik-bisik diiringi suara tawa tercekik.

”Dengan gugup, cowok itu meminta maaf dan menunjukkan penyesalan yang dalam. Aku dimintanya duduk saja, sementara dia berlari mencari kain lap atau kertas tisyu. Aku menunggu dan menunggu, tapi batik aneh itu ngga juga muncul. Entah berapa lama, sampai akhirnya aku sadar bahwa tinggal aku satu-satunya tamu di sana.”

Aku tertawa lepas. Tentu saja. Waktu itu aku langsung pulang, main PS sebentar, dilanjutkan tidur siang.

”Aku hampiri Zoel dan istrinya, berharap mereka kenal siapa dia. Namanya Andi, kata Zoel. Dari dia pula aku tahu alamat rumahnya.”

Cerita perempuan itu terus mengalir seiring dengan naiknya temperatur tubuhku. Mungkin saat ini sudah mencapai empatpuluh derajar celcius. Mungkin seribu. Kepalaku terasa berat dan sesekali aku bersin. Tapi aku mulai menikmati caranya menceritakan kisah kami.

”Besok paginya, sendirian aku datangi rumah Andi karena cemas kalau-kalau terjadi hal yang buruk padanya.”

Dia berbohong lagi. Dia datang bersama si jahanam itu membawa secarik kwitansi laundry. Selain marah-marah atas menghilangnya aku sehari sebelumnya, mereka berdua menuntut ganti rugi seratus ribu. Tentu saja kutolak. Aku yang meski sudah menjadi sarjana, waktu itu masih dalam proses lamaran kerja. Tidak punya penghasilan apa-apa kecuali belas kasihan orangtua. Sandainya aku punya uang pun, tidak sudi aku membayarnya.

”Ternyata Andi ini adalah sesosok cowok yang sangat ramah. Juga menyenangkan. Aku diperlakukan layaknya seorang tamu agung yang datang dari jauh. Diajaknya aku mengelilingi rumah sambil bercerita tentang asal-usul keluarganya berasal. Kami makan siang bersama, mendengarkan CD Buble bajakan, dilanjutkan ping-pong hingga sore.”

Aku berdehem. Kali ini dengan agak malu kuakui bahwa dia lagi-lagi berbohong. Yang sesungguhnya terjadi adalah aku merobek-robek kwitansi laundry itu dan mengusir mereka berdua dengan kasar. Ada goblok, ada kampret, ada setan. Sementara yang tadi dia ceritakan terjadi pada pertemuan kami di hari berikutnya. Bagaimana lagi, malam itu Zoel menelepon di bandara menuju bulan madu, menyuruhku minta maaf dengan ancaman lamaran kerjaku ditolak perusahaan ayahnya. Tidak punya pilihan, aku menurut. Sejak itu, tak satu pun hari kami lewati tanpa bertemu.

”Kamu pasti ngga tahu alasan kenapa aku ingin selalu kita ketemu.”

Aku menggeleng dan bersin tiga kali. Hidungku mulai basah.

Perempuan itu menatapku sesaat, lalu menunduk sedikit. Pipinya merona merah. Mungkin dia agak malu dengan apa yang hendak dia utarakan. Sementara aku mulai kehilangan konsentrasi dan tubuhku menggigil kedinginan.

Bersambung ke edisi berikutnya...

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Alexander The Great yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin.

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Tadinya aku hendak menambahkan bahwa aku juga menyesal telah mentraktirnya menonton film barusan, tapi tidak tega setelah melihat air mata menetesi pipinya. Oh, bukan. Ternyata itu air hujan. Lalu aku duduk dengan kesal sambil bertopang dagu. Dari kemeja hingga kaos kakiku basah kuyup. Dalam sepuluh menit lagi dapat dipastikan aku akan masuk angin. Dan dalam empatpuluh menit ke depan aku sudah tidak sadarkan diri.

”Andi,” dia menyebut namaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Sekali lagi dia memanggilku, tapi aku tetap bergeming. Mungkin karena merasa pegal terus berdiri, perempuan itu duduk di sampingku dan kurasakan bahu kami merapat. Tak ada yang bicara untuk beberapa lama. Sesekali cahaya lampu kendaraan menyoroti halte yang hanya menyisakan kami berdua.

”Kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” akhirnya kudengar juga suaranya.

Aku hanya menggeleng. Sudah lima menit berlalu dan dia belum juga minta maaf.

”Empat puluh hari yang lalu di resepsi pernikahan Zoel,” lanjutnya tanpa mempedulikan sikapku yang masih tidak ramah. ”Waktu itu rambut kamu lebih panjang, tapi aku masih ingat sepatu yang kamu pakai sama dengan hari ini. Aku yang sedang duduk di pojokan gedung sambil menikmati semangkuk eskrim, melihat sepasang sepatu jelek itu mendekat. Lalu pemiliknya duduk begitu saja di samping aku tanpa menyapa atau permisi. Aku segera menoleh. Ternyata dia hanya seorang cowok dengan kemeja batik yang ukuran, motif dan warnanya sama sekali ngga cocok dipakai.”

Memang. Batik itu milik ayahku sebelum beliau pensiun. Batik KORPRI. Berwarna biru tua dengan motif sayap yang dilengkapi berbagai ornamennya. Sama sekali tidak cocok untuk resepsi pernikahan. Waktu itu aku tidak sadar bahwa aku lebih terlihat tolol daripada retro. Diingatkan demikian, mau tidak mau rasa kesalku sedikit berkurang.

”Kamu tahu,” katanya lagi sambil menggandeng lenganku, ”sebenarnya aku berharap cowok itu mengajak aku berkenalan, atau pura-pura bertanya di mana stand eskrim berada, atau sekedar basa-basi tentang cerahnya cuaca. Tapi, ngga begitu. Ngga sama sekali. Rupanya dia lebih tertarik menghabiskan enam potong kambing guling, dua mangkuk zuppa-zuppa, sepiring besar kentang goreng, plus sepuluh tusuk sate ayam daripada berkenalan dengan gadis cantik yang duduk manis sendirian di sebelahnya.”

”Bohong,” kilahku. Tanpa sadar aku bersuara juga. Bagaimana lagi, hal yang barusan dia bilang itu bohong. Memang benar bahwa dia cantik. Kuakui itu. Cantik sekali, malah. Bahkan ketika dia mengaku-aku dirinya cantik pun aku tidak sanggup memberi sanggahan apa-apa.

Dan benar juga bahwa aku lebih tertarik untuk makan daripada berkenalan dengannya, atau menjalin percakapan basa-basi, atau sekedar mengingatkannya tentang musim hujan yang akan tiba tidak lama lagi. Tidak. Di seluas pandanganku waktu itu terhidang daging kambing muda yang empuk, sate ayam tanpa lemak, kentang goreng dengan saus terbaik dan zuppa-zuppa yang bisa melelehkan lidah. Dia lupa menyebutkan coto makasar dan sop konro yang juga tidak kalah istimewa. Benar-benar hidangan terbaik dari semua hidangan resepsi pernikahan yang pernah aku kunjungi.

Maka, tidak logis jika aku mau menukarkan itu semua hanya demi mendapatkan nama seorang perempuan, secantik apapun dia. Terlebih lagi aku sudah merogoh empatpuluh ribu rupiah sebagai angpao untuk Zoel dan pengantinnya. Mulanya hendak kuberi limapuluh ribu, tapi aku butuh tambahan sepuluh ribu untuk sebungkus rokok.

”Andi, aku bohong apa?” tanya perempuan itu dengan manja. Nafasnya terasa hangat dan gandengan tangannya semakin erat.

Huh! Dia berbohong jika mengaku duduk sendiri waktu itu. Ada seorang lelaki berjas di sampingnya. Si jahanam itu sesekali mengelus rambutnya, memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia. Suara canda dan tawanya benar-benar mengganggu telinga. Yang menyakitkan, kusadari bahwa akulah yang sedang mereka jadikan bahan guyonan.

”Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” perempuan itu melanjutkan lagi ceritanya. Kali ini bahuku telah menjadi sandaran kepalanya. ”Cowok bersepatu jelek dan berbatik aneh itu tiba-tiba berdiri dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelasnya ke arahku. Kontan, atasan gaun putih yang aku pakai berubah warna menjadi keunguan.”

Aku terkekeh. Sebenarnya, sasaranku lelaki berjas itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Siapa yang tidak kesal jika ada dua orang asing yang membicarakan kita selama empatpuluh menit lebih sambil berbisik-bisik diiringi suara tawa tercekik.

”Dengan gugup, cowok itu meminta maaf dan menunjukkan penyesalan yang dalam. Aku dimintanya duduk saja, sementara dia berlari mencari kain lap atau kertas tisyu. Aku menunggu dan menunggu, tapi batik aneh itu ngga juga muncul. Entah berapa lama, sampai akhirnya aku sadar bahwa tinggal aku satu-satunya tamu di sana.”

Aku tertawa lepas. Tentu saja. Waktu itu aku langsung pulang, main PS sebentar, dilanjutkan tidur siang.

”Aku hampiri Zoel dan istrinya, berharap mereka kenal siapa dia. Namanya Andi, kata Zoel. Dari dia pula aku tahu alamat rumahnya.”

Cerita perempuan itu terus mengalir seiring dengan naiknya temperatur tubuhku. Mungkin saat ini sudah mencapai empatpuluh derajar celcius. Mungkin seribu. Kepalaku terasa berat dan sesekali aku bersin. Tapi aku mulai menikmati caranya menceritakan kisah kami.

”Besok paginya, sendirian aku datangi rumah Andi karena cemas kalau-kalau terjadi hal yang buruk padanya.”

Dia berbohong lagi. Dia datang bersama si jahanam itu membawa secarik kwitansi laundry. Selain marah-marah atas menghilangnya aku sehari sebelumnya, mereka berdua menuntut ganti rugi seratus ribu. Tentu saja kutolak. Aku yang meski sudah menjadi sarjana, waktu itu masih dalam proses lamaran kerja. Tidak punya penghasilan apa-apa kecuali belas kasihan orangtua. Sandainya aku punya uang pun, tidak sudi aku membayarnya.

”Ternyata Andi ini adalah sesosok cowok yang sangat ramah. Juga menyenangkan. Aku diperlakukan layaknya seorang tamu agung yang datang dari jauh. Diajaknya aku mengelilingi rumah sambil bercerita tentang asal-usul keluarganya berasal. Kami makan siang bersama, mendengarkan CD Buble bajakan, dilanjutkan ping-pong hingga sore.”

Aku berdehem. Kali ini dengan agak malu kuakui bahwa dia lagi-lagi berbohong. Yang sesungguhnya terjadi adalah aku merobek-robek kwitansi laundry itu dan mengusir mereka berdua dengan kasar. Ada goblok, ada kampret, ada setan. Sementara yang tadi dia ceritakan terjadi pada pertemuan kami di hari berikutnya. Bagaimana lagi, malam itu Zoel menelepon di bandara menuju bulan madu, menyuruhku minta maaf dengan ancaman lamaran kerjaku ditolak perusahaan ayahnya. Tidak punya pilihan, aku menurut. Sejak itu, tak satu pun hari kami lewati tanpa bertemu.

”Kamu pasti ngga tahu alasan kenapa aku ingin selalu kita ketemu.”

Aku menggeleng dan bersin tiga kali. Hidungku mulai basah.

Perempuan itu menatapku sesaat, lalu menunduk sedikit. Pipinya merona merah. Mungkin dia agak malu dengan apa yang hendak dia utarakan. Sementara aku mulai kehilangan konsentrasi dan tubuhku menggigil kedinginan.

Bersambung ke edisi berikutnya...

Senin, 24 Maret 2008

Hate My Self...


Pernahkah kamu menjadi orang yang kamu benci? Saat ini saya sedang mengalaminya. Sialan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, dalam satu bulan terakhir, mulut saya selalu menempel di mikoropon ponsel selama enam jam per hari. Tiga ratus ribu rupiah saya belanjakan hanya untuk pulsa simpati. Pikiran saya seperti dihantui. Jam tidur saya semakin menuju ke arah dini hari. Dan tentunya, semua pekerjaan saya jadi teraba-i. Dan celakanya, saya jatuh hati pada seseorang yang belum pernah saya temui. Tapi masalah tidak selesai sampai di sini. Saya tidak tahu apakah si seseorang tersebut adalah perempuan atau ... banci.

Rasa curiga tersebut muncul bukan dengan tanpa alasan. Seperti yang telah banyak diketahui banyak orang, saya adalah seorang lelaki pengagum kecantikan. Karena itu, ketika si seseorang tersebut menunjukkan gambar wajahnya, segera saya simpulkan bahwa titel cantik layak disandanginya. Penilaian saya tidak akan salah. Sekali-kali, tidak.

Yang menimbulkan rasa aneh adalah...suaranya. Serak-serak basah. Ditambah pula dengan selalu tertundanya pertemuan kami berdua. Terjangkiti demam berdarah. Atau salah satu sepupunya menikah. Dan yang terakhir acara perayaan Paskah.

Karena itu, telah diputuskan, bulan ini saya tidak akan membeli pulsa. Jika tigaratus ribu itu saya sedekahkan, atau enam jam per hari saya pakai untuk berkarya, atau saya tidur tepat pada waktunya, tentu saya akan menjadi lelaki yang jauh lebih baik, sehat dan kaya.

Amin.

Hate My Self...


Pernahkah kamu menjadi orang yang kamu benci? Saat ini saya sedang mengalaminya. Sialan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, dalam satu bulan terakhir, mulut saya selalu menempel di mikoropon ponsel selama enam jam per hari. Tiga ratus ribu rupiah saya belanjakan hanya untuk pulsa simpati. Pikiran saya seperti dihantui. Jam tidur saya semakin menuju ke arah dini hari. Dan tentunya, semua pekerjaan saya jadi teraba-i. Dan celakanya, saya jatuh hati pada seseorang yang belum pernah saya temui. Tapi masalah tidak selesai sampai di sini. Saya tidak tahu apakah si seseorang tersebut adalah perempuan atau ... banci.

Rasa curiga tersebut muncul bukan dengan tanpa alasan. Seperti yang telah banyak diketahui banyak orang, saya adalah seorang lelaki pengagum kecantikan. Karena itu, ketika si seseorang tersebut menunjukkan gambar wajahnya, segera saya simpulkan bahwa titel cantik layak disandanginya. Penilaian saya tidak akan salah. Sekali-kali, tidak.

Yang menimbulkan rasa aneh adalah...suaranya. Serak-serak basah. Ditambah pula dengan selalu tertundanya pertemuan kami berdua. Terjangkiti demam berdarah. Atau salah satu sepupunya menikah. Dan yang terakhir acara perayaan Paskah.

Karena itu, telah diputuskan, bulan ini saya tidak akan membeli pulsa. Jika tigaratus ribu itu saya sedekahkan, atau enam jam per hari saya pakai untuk berkarya, atau saya tidur tepat pada waktunya, tentu saya akan menjadi lelaki yang jauh lebih baik, sehat dan kaya.

Amin.

Selasa, 04 Maret 2008

L'Issey Miyake Pour Homme


SEUMUR hidup, saya selalu berjalan tegak di muka bumi karena tidak pernah melakukan hal yang bertentangan dengan nurani. Hitam-putih tampak jelas di mata saya. Meski berat, jalan lurus selalu saya tempuh. Keraguan hanya milik mereka yang berhati lemah. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.

Tapi tiba-tiba kebimbangan itu datang. Jiwa saya goyah tak tertahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini saya merasa takut. Sampai-sampai saya meringkuk di pojok kamar seharian dengan tubuh menggigil. Langit-langit terasa berputar.

Siang itu saya sedang berjalan pulang seusai belanja kebutuhan bulanan di sebuah mall. Indra penciuman saya menangkap sesuatu yang exiting ketika melewati sebuah toko parfum. Ada yang berbeda di sana. Samar-samar, memang, tapi cukup kuat untuk membuat langkah saya tertahan. Sedikit ragu, saya hirup udara lebih dalam. Benar-benar wangi yang tidak biasa. Wangi yang sanggup meluluhkan hati, menaklukkan jiwa dan menciptakan sensasi.

Seakan teripnotis, saya melangkah masuk. Bahkan saya tidak sadar bahwa itulah untuk pertama kalinya kedua kaki saya berpijak di atas lantai sebuah toko parfum, tempat yang selama ini saya anggap terlarang.

Seorang pramuniaga menghampiri dan bertanya parfum apa yang sedang saya cari. Petanyaan tersebut membuat saya segera tersadar sedang berada di mana. Bukan menjawab, saya memilih lari meninggalkan tempat itu. Lari dan terus berlari, tidak peduli apa dan siapa yang menghalangi. Isi kantong belanja jatuh berhamburan dan orang-orang berusaha menghindar di sepanjang pelarian. Saya tidak mau teman-teman dan keluarga menangkap basah saya masuk ke tokom parfum tadi. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.

Namun, justru ketika berada di rumah memori akan wangi itu muncul kembali. Bahkan lebih kuat. Tumbuh dan berkembang keinginan dalam benak untuk menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuh dan memamerkannya pada dunia. Di hati yang terdalam, ternyata sayapun ingin tercium harum untuk memperkuat eksistensi diri dan merebut hati banyak orang.

Lalu ditanya diri, adakah saya masih lelaki, penerus Musashi?




L'Issey Miyake Pour Homme


SEUMUR hidup, saya selalu berjalan tegak di muka bumi karena tidak pernah melakukan hal yang bertentangan dengan nurani. Hitam-putih tampak jelas di mata saya. Meski berat, jalan lurus selalu saya tempuh. Keraguan hanya milik mereka yang berhati lemah. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.

Tapi tiba-tiba kebimbangan itu datang. Jiwa saya goyah tak tertahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini saya merasa takut. Sampai-sampai saya meringkuk di pojok kamar seharian dengan tubuh menggigil. Langit-langit terasa berputar.

Siang itu saya sedang berjalan pulang seusai belanja kebutuhan bulanan di sebuah mall. Indra penciuman saya menangkap sesuatu yang exiting ketika melewati sebuah toko parfum. Ada yang berbeda di sana. Samar-samar, memang, tapi cukup kuat untuk membuat langkah saya tertahan. Sedikit ragu, saya hirup udara lebih dalam. Benar-benar wangi yang tidak biasa. Wangi yang sanggup meluluhkan hati, menaklukkan jiwa dan menciptakan sensasi.

Seakan teripnotis, saya melangkah masuk. Bahkan saya tidak sadar bahwa itulah untuk pertama kalinya kedua kaki saya berpijak di atas lantai sebuah toko parfum, tempat yang selama ini saya anggap terlarang.

Seorang pramuniaga menghampiri dan bertanya parfum apa yang sedang saya cari. Petanyaan tersebut membuat saya segera tersadar sedang berada di mana. Bukan menjawab, saya memilih lari meninggalkan tempat itu. Lari dan terus berlari, tidak peduli apa dan siapa yang menghalangi. Isi kantong belanja jatuh berhamburan dan orang-orang berusaha menghindar di sepanjang pelarian. Saya tidak mau teman-teman dan keluarga menangkap basah saya masuk ke tokom parfum tadi. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.

Namun, justru ketika berada di rumah memori akan wangi itu muncul kembali. Bahkan lebih kuat. Tumbuh dan berkembang keinginan dalam benak untuk menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuh dan memamerkannya pada dunia. Di hati yang terdalam, ternyata sayapun ingin tercium harum untuk memperkuat eksistensi diri dan merebut hati banyak orang.

Lalu ditanya diri, adakah saya masih lelaki, penerus Musashi?




Selasa, 19 Februari 2008

People Change (yeah, rite!)

JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.

People change? Yeah, rite!

Kebanyakan orang memang tidak tahu diri dengan meminta Anda berubah. Istilahnya, siapa elo yang baru saja kenal tidak lebih dari setahun meminta Anda untuk berhenti merokok, suatu aktivitas yang Anda nikmati sejak lima-sepuluh tahun lalu. Atau, malas sekali jika sedikit-sedikit Anda harus menulis catatan kecil agar tidak lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Atau, yang Anda lakukan bukan bergosip, tapi membicarakan kebiasaan buruk orang lain agar Anda dan teman-teman tidak mencontoh kebiasaan buruk itu. Atau, selama Anda meminta maaf, orang lain tidak semestinya marah karena janji Anda tidak terpenuhi, bukan? Atau, apa mereka tidak tahu bahwa ongkos konsultasi dengan psikiater untuk mengendalikan emosi itu mahal? Atau, Anda memang serba tahu, kok. Wong lulusan terbaik MIT dengan GPA 4,0.

Jadi, Anda memang tidak perlu berubah. Selain itu, memang mustahil. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang Anda miliki adalah hasil investasi yang Anda tanam sejak lama. Mungkin sejak balita. Bahkan kebanyakan orang, termasuk Anda, tidak sadar bahwa dirinya mengidap bad habit tertentu. Yang lebih parah, mereka tidak tahu bahwa kebiasaan yang dilakukannya itu dinilai buruk dan mengganggu oleh orang-orang sekitar.

Karena Anda tidak bisa berharap mereka mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan buruk Anda, dan sebaliknya, Anda pun mustahil untuk berubah, maka win-win solution-nya adalah hindari atau kurangi kontak dengan mereka. Kenapa? Karena kini saatnya Anda untuk STOP ANNOYING PEOPLE!

Sekirannya Anda memilki segudang bad habit, biarlah itu menjadi milik dan rahasia Anda pribadi. Jangan libatkan orang lain. Jangan buat mereka sesak nafas karena asap rokok Anda. Jangan sampai orang sekantor kehilangan pekerjaan gara-gara Anda lelet menyelesaikan proyek. Jangan pernah mengundang orang masuk kamar Anda yang super berantakan. Jangan pernah membuat janji dengan orang lain. Bergabunglah dengan klub debat, komunitas penggerutu dan kelompok short term memory. Bekerjalah pada perusahaan yang tidak memasang target, deadline dan memulai aktivitas kantornya di atas jam sembilan. Percayalah, Anda tidak sendirian.

You don’t have to be changed but stop annoying people!