Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2009

Satu Milyar Duapuluh Satu




Adalah waktu itu tengah malam di bukit Sukawana. Berempat kami membangun sebuah tenda, menghangatkan tubuh di sekeliling api unggun sambil memanggang sosis yang ditusuk ranting cemara. Di belakang kami, bayang gelap Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu. Di hadapan, terhampar kerlip lampu kota Bandung penuh warna dan warni. Ada biru laut. Ada kuning langsat. Ada pink tua. Juga ada hijau botol. Botolnya botol saos.

Sementara langit, tidak ada yang dapat diceritakan tentangnya. Seperti bintik jerawat di wajah kamu, langit malam ditaburi semilyar duapuluh dua bintang. Baru usai saya hitung semua, satu persatu. Lalu kembali mengulangnya dari awal. Kali ini masing-masing saya beri nama.

Dan bulan, di manakah kamu berada?

Begitu saya bertanya dalam hati. Lupa, jika saat itu akhir bulan. Pantas saja dompet terasa tipis sekali di pantat.

Acara yang sungguh membosankan mengingat tidak ada satu pun yang membawa gitar. Apalagi harmonika. Tapi, sekalipun seseorang membawa harmonika, tidak ada satupun diantara kami yang bisa memainkannya. Jangankan meniup harmonika, bersiul saja kami sumbang.

Setelah usai memberi nama pada bintang-bintang di langit (tentu, saya beri nama kamu pada yang paling terang), seseorang akhirnya membuka suara.

Yaitu, saya sendiri.

“Menurut kalian, apa yang paling menarik di dunia ini?”

.

.

Tak ada yang menjawab. Diam semua. Ada yang terlihat begitu mengantuk, membiarkan sosis panggangannya hangus hitam. Ada yang melamun, memandang ke arah semilyar duapuluh satu bintang (iya, sudah saya simpan satu untuk kamu sebagai oleh-oleh pulang). Mungkin sedang memikirkan pacarnya. Mungkin selingkuhannya. Dan ada yang duduk berjongkok memunggungi kami, menghadapkan tubuhnya ke arah gunung. Sama-sama melamun. Atau sedang pundung?

Sepertinya pertanyaan saya tentang hal yang paling menarik di dunia ini sama sekali tidak menarik bagi mereka. Tak tega diri ini mengganggu keasyikan masing-masing. Tapi, setelah dipikir ulang, lebih baik tega daripada bengong.

“Kamu,” kata saya pada teman nomor satu sambil menunjuk ke arah wajahnya menggunakan sosis hangus, “lakukan sesuatu untuk menghibur kita semua.”

Maka jadilah area api unggun ini sebagai panggung hiburan.

“Untuk menghibur hati yang murung, ijinkanlah saya menyumbangkan sebuah lagu.”

Teman nomor satu ini memang punya suara yang mumpuni. Merdu sangat. Juga khas. Nafasnya pun amat kuat. Jika beliau menyanyi, burung-burung pun akan diam khidmad medengarkan. Daun-daun berguguran, tak kuasa menahan berat suaranya. Lalu air mata kita akan mengalir tanpa terasa. Dan ingatan pun terbang menuju berbagai peristiwa. Kekasih yang pergi, keluarga yang ditinggalkan, serta gaduh seisi rumah saat merayakan lebaran.

Sudah beberapa kali dia menjuarai Festival Bintang Radio dan Televisi. Tawaran untuk masuk ke dapur rekaman bukannya tidak pernah datang, tapi justru sebaliknya. Ia tolak satu persatu setiap kontrak yang disodorkan.

“Saya cuma ingin berduet…
…Dan saya menunggu pasangan yang benar-benar tepat.”

Dan suasana di bukit Sukawana menjadi syahdu sewaktu beliau membawakan Perfect Day. Mata kami mulai basah di Merepih Alam. Lalu, kerinduan pada ayah menjadi menggebu sewaktu beliau mendendangkan lagu Daddy. Terpaksa saya menghentikannya sebelum kami semua ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan memeluk ayah kami.

“Berikutnya,” kata saya pada teman nomor dua yang kedapatan sedang menyeka air mata.

Tahu benar bahwa saya tidak suka menunggu, teman saya mengeluarkan sesuatu dari tasnya: sebuah saklar. Dia berdiri, sebentar membersihkan tanah di pantat, lalu menghadap ke arah hamparan kota. Bibirnya tersenyum, kini. Tersenyum simpul. Tapi dia sungguh keliru jika mengira manis senyumannya. Namun demikian, itu sungguh senyum yang sangat misterius dan membuat penasaran.

“Lihat,” dia bilang.

Tombol saklar pun ditekan. Terdengar suara klik, dan satu-persatu lampu kota Bandung dan sekitarnya padam. Jutaan lampu padam. Padam tak bersisa. Dibuatnya Bandung gelap gulita. Juga Cimahi, Soreang dan Kabupaten Bandung Barat. Juga Banjaran. Juga Ujungberung. Juga Jatinangor.

Juga rumah kamu.

“Belum selesai,” katanya lagi, seakan masih ada kejutan lain.

Suara klik kembali terdengar. Tapi tidak ada sesuatu yang terjadi. Kami tidak melihat ada perubahan sesuatu apa.

“Lihat ke arah timur.”

Serta merta kami bertiga menggerakkan kepala. Tapi dasar mereka yang tidak terbiasa dengan mata angin, maka pandangan mereka berbeda-beda arahnya. Ada yang ke atas ke bawah. Dan ada yang ke semak-semak. Hanya saya, dan cuma saya yang mengarahkan pandangan dengan benar. Cuma saya yang tahu bagaimana menentukan arah timur di malam hari dengan benar. Karena sangat mudah. Amat mudah.

Untuk menentukan di mana itu timur, kamu cukup dengan mengetahui arah barat terlebih dahulu. Lalu, putar tubuhmu dengan sudut 180 derajat celcius.

Dan di sana, di arah timur sana, samar-samar saya melihat sebuah lampu menyala, menerangi sebuah rumah. Hanya satu, lain tidak.

Saya tahu pemilik rumah itu.

Rumah pacarnya.

.

Sungguh menarik. Menarik sekali. Lain waktu akan saya pinjam saklar tersebut. Akan saya padamkan lampu rumah kamu. Ya, hanya rumah kamu. Lalu saya datang ke sana dengan membawa sebatang lilin dan senter. Lalu kita berdua akan candle light dinner.

Setelah meminta si anak Direktur PLN mengembalikan lampu-lampu kota ke sedia kala, saya menunjuk teman nomor tiga.

“Giliran kamu. Berceritalah.”

Nah, teman satu ini rajanya mendongeng. Beliau punya koleksi dongeng klasik yang nyaris tak terbatas. Dari manca negara. Berbagai daerah. Maka, dimulailah cerita nasib buruk tukang celup yang terkenal itu.

Alkisah, seorang pencuri sedang beraksi. Mengendap-endap ia pada atap sebuah rumah yang diincarnya. Dasar nasib buruk, atap rumah tersebut tiba-tiba roboh, tidak kuat menahan beban tubuhnya. Ia pun jatuh dan mati.

Anggota keluarga si pencuri tidak menerima kejadian tersebut, lalu menuntut si pemilik rumah ke pengadilan. Alasannya: Gara-gara atap rumah yang tidak kuat, saudara/ ayah/ putera/ menantu kami meninggal dunia. Sang hakim yang adil mengabulkan tuntutannya, menjatuhkan hukuman gantung sampai mati pada si pemilik rumah.
Tapi si pemilik rumah membela diri.

“Bukan salah saya, Pak Hakim.Ini salah tukang kayu yang membuat atap. Dia yang membuat atap rumah saya tidak kuat.”

Maka sang hakim pun memanggil tukang kayu dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Tapi si tukang kayu membela diri.

“Ini salah si janda tetangga saya yang berbaju hijau, Pak Hakim. Gara-gara baju hijaunya yang menyala, perhatian saya terbagi sewaktu membuat atap rumah.”

Maka sang hakim memanggil si janda dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Si janda pun membela diri.

“Ini salah tukang celup, Pak Hakim. Saya meminta baju saya dicelup warna coklat, jadinya malah hijau muda.”

Maka tukang celup pun dipanggil. Tidak bisa membela diri, sang hakim menjatuhkan hukuman mati pada si tukang celup dengan cara digantung. Seorang algojo ditugaskan untuk melaksanakan eksekusi. Tapi dasar algojo, tiang gantungannya terlalu pendek bagi si tukang celup yang bertubuh tinggi itu. Akibatnya, meski tali gantungan sudah melingkar di leher, tapi tukang celup tidak mati-mati juga. Lalu sang algojo melaporkan masalah tersebut pada sang hakim.

Kata hakim, “Bodoh kamu. Cari saja tukang celup pendek.”

Maka, seorang tukang celup bertubuh pendek pun ditangkap dan dihukum gantung sampai mati.








Sebuah dongeng pengantar tidur yang sangat ciamik. Kami berempat mimpi indah malam itu. Senyum tipis menyungging di masing-masing wajah kami.











Sukawana, 10 Maret 2001







Satu Milyar Duapuluh Satu




Adalah waktu itu tengah malam di bukit Sukawana. Berempat kami membangun sebuah tenda, menghangatkan tubuh di sekeliling api unggun sambil memanggang sosis yang ditusuk ranting cemara. Di belakang kami, bayang gelap Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu. Di hadapan, terhampar kerlip lampu kota Bandung penuh warna dan warni. Ada biru laut. Ada kuning langsat. Ada pink tua. Juga ada hijau botol. Botolnya botol saos.

Sementara langit, tidak ada yang dapat diceritakan tentangnya. Seperti bintik jerawat di wajah kamu, langit malam ditaburi semilyar duapuluh dua bintang. Baru usai saya hitung semua, satu persatu. Lalu kembali mengulangnya dari awal. Kali ini masing-masing saya beri nama.

Dan bulan, di manakah kamu berada?

Begitu saya bertanya dalam hati. Lupa, jika saat itu akhir bulan. Pantas saja dompet terasa tipis sekali di pantat.

Acara yang sungguh membosankan mengingat tidak ada satu pun yang membawa gitar. Apalagi harmonika. Tapi, sekalipun seseorang membawa harmonika, tidak ada satupun diantara kami yang bisa memainkannya. Jangankan meniup harmonika, bersiul saja kami sumbang.

Setelah usai memberi nama pada bintang-bintang di langit (tentu, saya beri nama kamu pada yang paling terang), seseorang akhirnya membuka suara.

Yaitu, saya sendiri.

“Menurut kalian, apa yang paling menarik di dunia ini?”

.

.

Tak ada yang menjawab. Diam semua. Ada yang terlihat begitu mengantuk, membiarkan sosis panggangannya hangus hitam. Ada yang melamun, memandang ke arah semilyar duapuluh satu bintang (iya, sudah saya simpan satu untuk kamu sebagai oleh-oleh pulang). Mungkin sedang memikirkan pacarnya. Mungkin selingkuhannya. Dan ada yang duduk berjongkok memunggungi kami, menghadapkan tubuhnya ke arah gunung. Sama-sama melamun. Atau sedang pundung?

Sepertinya pertanyaan saya tentang hal yang paling menarik di dunia ini sama sekali tidak menarik bagi mereka. Tak tega diri ini mengganggu keasyikan masing-masing. Tapi, setelah dipikir ulang, lebih baik tega daripada bengong.

“Kamu,” kata saya pada teman nomor satu sambil menunjuk ke arah wajahnya menggunakan sosis hangus, “lakukan sesuatu untuk menghibur kita semua.”

Maka jadilah area api unggun ini sebagai panggung hiburan.

“Untuk menghibur hati yang murung, ijinkanlah saya menyumbangkan sebuah lagu.”

Teman nomor satu ini memang punya suara yang mumpuni. Merdu sangat. Juga khas. Nafasnya pun amat kuat. Jika beliau menyanyi, burung-burung pun akan diam khidmad medengarkan. Daun-daun berguguran, tak kuasa menahan berat suaranya. Lalu air mata kita akan mengalir tanpa terasa. Dan ingatan pun terbang menuju berbagai peristiwa. Kekasih yang pergi, keluarga yang ditinggalkan, serta gaduh seisi rumah saat merayakan lebaran.

Sudah beberapa kali dia menjuarai Festival Bintang Radio dan Televisi. Tawaran untuk masuk ke dapur rekaman bukannya tidak pernah datang, tapi justru sebaliknya. Ia tolak satu persatu setiap kontrak yang disodorkan.

“Saya cuma ingin berduet…
…Dan saya menunggu pasangan yang benar-benar tepat.”

Dan suasana di bukit Sukawana menjadi syahdu sewaktu beliau membawakan Perfect Day. Mata kami mulai basah di Merepih Alam. Lalu, kerinduan pada ayah menjadi menggebu sewaktu beliau mendendangkan lagu Daddy. Terpaksa saya menghentikannya sebelum kami semua ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan memeluk ayah kami.

“Berikutnya,” kata saya pada teman nomor dua yang kedapatan sedang menyeka air mata.

Tahu benar bahwa saya tidak suka menunggu, teman saya mengeluarkan sesuatu dari tasnya: sebuah saklar. Dia berdiri, sebentar membersihkan tanah di pantat, lalu menghadap ke arah hamparan kota. Bibirnya tersenyum, kini. Tersenyum simpul. Tapi dia sungguh keliru jika mengira manis senyumannya. Namun demikian, itu sungguh senyum yang sangat misterius dan membuat penasaran.

“Lihat,” dia bilang.

Tombol saklar pun ditekan. Terdengar suara klik, dan satu-persatu lampu kota Bandung dan sekitarnya padam. Jutaan lampu padam. Padam tak bersisa. Dibuatnya Bandung gelap gulita. Juga Cimahi, Soreang dan Kabupaten Bandung Barat. Juga Banjaran. Juga Ujungberung. Juga Jatinangor.

Juga rumah kamu.

“Belum selesai,” katanya lagi, seakan masih ada kejutan lain.

Suara klik kembali terdengar. Tapi tidak ada sesuatu yang terjadi. Kami tidak melihat ada perubahan sesuatu apa.

“Lihat ke arah timur.”

Serta merta kami bertiga menggerakkan kepala. Tapi dasar mereka yang tidak terbiasa dengan mata angin, maka pandangan mereka berbeda-beda arahnya. Ada yang ke atas ke bawah. Dan ada yang ke semak-semak. Hanya saya, dan cuma saya yang mengarahkan pandangan dengan benar. Cuma saya yang tahu bagaimana menentukan arah timur di malam hari dengan benar. Karena sangat mudah. Amat mudah.

Untuk menentukan di mana itu timur, kamu cukup dengan mengetahui arah barat terlebih dahulu. Lalu, putar tubuhmu dengan sudut 180 derajat celcius.

Dan di sana, di arah timur sana, samar-samar saya melihat sebuah lampu menyala, menerangi sebuah rumah. Hanya satu, lain tidak.

Saya tahu pemilik rumah itu.

Rumah pacarnya.

.

Sungguh menarik. Menarik sekali. Lain waktu akan saya pinjam saklar tersebut. Akan saya padamkan lampu rumah kamu. Ya, hanya rumah kamu. Lalu saya datang ke sana dengan membawa sebatang lilin dan senter. Lalu kita berdua akan candle light dinner.

Setelah meminta si anak Direktur PLN mengembalikan lampu-lampu kota ke sedia kala, saya menunjuk teman nomor tiga.

“Giliran kamu. Berceritalah.”

Nah, teman satu ini rajanya mendongeng. Beliau punya koleksi dongeng klasik yang nyaris tak terbatas. Dari manca negara. Berbagai daerah. Maka, dimulailah cerita nasib buruk tukang celup yang terkenal itu.

Alkisah, seorang pencuri sedang beraksi. Mengendap-endap ia pada atap sebuah rumah yang diincarnya. Dasar nasib buruk, atap rumah tersebut tiba-tiba roboh, tidak kuat menahan beban tubuhnya. Ia pun jatuh dan mati.

Anggota keluarga si pencuri tidak menerima kejadian tersebut, lalu menuntut si pemilik rumah ke pengadilan. Alasannya: Gara-gara atap rumah yang tidak kuat, saudara/ ayah/ putera/ menantu kami meninggal dunia. Sang hakim yang adil mengabulkan tuntutannya, menjatuhkan hukuman gantung sampai mati pada si pemilik rumah.
Tapi si pemilik rumah membela diri.

“Bukan salah saya, Pak Hakim.Ini salah tukang kayu yang membuat atap. Dia yang membuat atap rumah saya tidak kuat.”

Maka sang hakim pun memanggil tukang kayu dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Tapi si tukang kayu membela diri.

“Ini salah si janda tetangga saya yang berbaju hijau, Pak Hakim. Gara-gara baju hijaunya yang menyala, perhatian saya terbagi sewaktu membuat atap rumah.”

Maka sang hakim memanggil si janda dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Si janda pun membela diri.

“Ini salah tukang celup, Pak Hakim. Saya meminta baju saya dicelup warna coklat, jadinya malah hijau muda.”

Maka tukang celup pun dipanggil. Tidak bisa membela diri, sang hakim menjatuhkan hukuman mati pada si tukang celup dengan cara digantung. Seorang algojo ditugaskan untuk melaksanakan eksekusi. Tapi dasar algojo, tiang gantungannya terlalu pendek bagi si tukang celup yang bertubuh tinggi itu. Akibatnya, meski tali gantungan sudah melingkar di leher, tapi tukang celup tidak mati-mati juga. Lalu sang algojo melaporkan masalah tersebut pada sang hakim.

Kata hakim, “Bodoh kamu. Cari saja tukang celup pendek.”

Maka, seorang tukang celup bertubuh pendek pun ditangkap dan dihukum gantung sampai mati.








Sebuah dongeng pengantar tidur yang sangat ciamik. Kami berempat mimpi indah malam itu. Senyum tipis menyungging di masing-masing wajah kami.











Sukawana, 10 Maret 2001







Rabu, 11 Maret 2009

Alif Ba Ta

 
 
 
Dan tiba-tiba saja saya bilang, 

“Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.”

“Ijin diberikan.”

Begitu kamu menjawab pelan.

“Apa?”

Tanya saya, pura-pura tidak mendengar.

Kamu meraih secarik post it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya sambil lalu: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

Mengatur nafas, saya perhatikan kamu sesaat. Terlambat saya sadari bahwa Tuhan telah menitipkan padamu kecerdasan, selain bola mata yang begitu menarik, tentunya. 

Tapi, yang namanya titipan itu, harus dipergunakan dan dipelihara baik-baik, ya. Jangan digadai ke mana-mana. Atau dipakai lirik-melirik sembarangan. Juga bukan untuk dikedip-kedip pada laki-laki tidak dikenal.

“Ehm.”

Kamu berdehem, mengais perhatian.

“Ya?”

Saya bertanya dengan pandangan dermawan.

“Surat ijin itu ada masa berlakunya, Andi. Jangan terlalu lama membuat saya menunggu.”

Kamu memperingatkan saya. Ada nada mengancam dan tidak main-main yang berhasil saya tangkap di sana. 

Meski begitu, sepertinya kamu sungguh tahu jika saya paling senang sewaktu nama saya disebut penuh. Apalagi kalau kamu bersedia menambah sebutan “Kang” di depannya. Padahal, belum terlalu lama kita saling kenal. Mungkin di kehidupan sebelumnya, kita adalah saudara kembar.

Kamu duduk di situ, saya berdiri di sini. Memandang langit, mencoba mencari kata-kata pembuka. 

Mungkin awan bagus juga, keras saya berpikir. Atau gunung hijau di kejauhan? Sayang, di sini tidak ada pantai. Dan masih terlalu lama sampai matahari tenggelam.

“Boleh sambil merokok?”

Saya bertanya, mencari alasan untuk berlama-lama.

Kamu mengangguk, memandang saya tanpa berkedip.

Aih. Padahal sekiranya menolak, masih banyak waktu untuk berdebat.

Rokok pun dibakar, dan asapnya mulai keluar-masuk paru-paru. 

“Kamu mau?”

Tidak bermaksud kurang ajar, lho. Juga bukan sedang mencari perkara.

Masih menatap, kamu menggelengkan kepala dan tangan mengelus perut.

“Tidak baik untuk janin.”

“Sungguh?”

“Iya. Itu tertulis di kotak pembungkusnya, Kang Andi.”

Setengah tidak percaya, saya periksa si kotak pembungkus rokok di tangan kiri. Dan saya dapatkan peringatan itu. 

Wow. Lagi-lagi, kamu benar. Selalu saja kamu perhatikan banyak hal. Hal besar, hal kecil… tidak pernah luput dari perhatian kamu. Kamu hanya tidak tertarik memperhatikan kekurangan orang lain. Itu saja.

Saya pun membuat keputusan yang saya nilai teramat bijaksana, yaitu mengambil jarak lebih jauh dari kamu. Saya mundur. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Berusaha agar si asap tidak kamu hisap.

“Segini, cukup?!”

Saya berteriak.

“Apa? Tidak terdengar!”

Kamu balas berteriak.

Aih. Padahal asap rokok tadi kan tidak berbahaya bagi pendengaran, kenapa tiba-tiba suara saya tidak sampai ke telinga kamu.
Tadinya, saya hendak maju dua atau tiga langkah. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata kamu cantik juga jika dipandang dari jarak segini. Bukan. Bukan berarti jika sedang berdekatan, kamu jadi tidak menarik. Bukan itu. Jauhkan pikiran itu segera. Saat ini juga. Maksud saya adalah, saya berhasil melihat sesuatu lain sewaktu kita berjauhan. Ada sudut warna dan cahaya baru yang berhasil saya tangkap.

Sayang, saya tidak bawa kamera.

Eh, ralat.

Sayang, saya belum punya kamera. Jika punya, sudah saya abadikan kamu saat ini juga. Saya cetak besar-besar, lalu saya pampang di kamar. Biar dilepaskan saja itu poster What Women Want.

“Andi, kapan mulainya?!”

Ya, ampun. Ditunggu, rupanya. Saya pikir kamu sudah lupa. Ternyata kamu punya daya ingat juga, ya. Maaf. Tapi, senang rasanya menjadi lelaki yang ditunggu.

“Baiklah, saya mulai sekarang, ya. Siap?”

Kamu mengangguk.

“Suara saya jelas terdengar?”

“Iya, Andi. Cepat mulai!”

“Sungguh?”

“Iya.”

Saya pun mulai menghitung aba-aba dalam hati. Satu, dua. Belum juga keluar kata-kata. Lima… Keringat dingin mulai bercucuran. Sepuluh... Dan suara adzan ashar di masjid sebelah menyelamatkan saya.

“Nanti dilanjutkan, ya. Waktunya sembahyang dulu.”

Saya berjalan mendekat, dan kamu bangkit tanpa bisa menolak. 










biar ibu yang ajarkan melukis
bapak yang ajarkan menulis
lalu kanak-kanak kita 
membaca alif ba ta
dengan lancarnya





Alif Ba Ta

 
 
 
Dan tiba-tiba saja saya bilang, 

“Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.”

“Ijin diberikan.”

Begitu kamu menjawab pelan.

“Apa?”

Tanya saya, pura-pura tidak mendengar.

Kamu meraih secarik post it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya sambil lalu: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

Mengatur nafas, saya perhatikan kamu sesaat. Terlambat saya sadari bahwa Tuhan telah menitipkan padamu kecerdasan, selain bola mata yang begitu menarik, tentunya. 

Tapi, yang namanya titipan itu, harus dipergunakan dan dipelihara baik-baik, ya. Jangan digadai ke mana-mana. Atau dipakai lirik-melirik sembarangan. Juga bukan untuk dikedip-kedip pada laki-laki tidak dikenal.

“Ehm.”

Kamu berdehem, mengais perhatian.

“Ya?”

Saya bertanya dengan pandangan dermawan.

“Surat ijin itu ada masa berlakunya, Andi. Jangan terlalu lama membuat saya menunggu.”

Kamu memperingatkan saya. Ada nada mengancam dan tidak main-main yang berhasil saya tangkap di sana. 

Meski begitu, sepertinya kamu sungguh tahu jika saya paling senang sewaktu nama saya disebut penuh. Apalagi kalau kamu bersedia menambah sebutan “Kang” di depannya. Padahal, belum terlalu lama kita saling kenal. Mungkin di kehidupan sebelumnya, kita adalah saudara kembar.

Kamu duduk di situ, saya berdiri di sini. Memandang langit, mencoba mencari kata-kata pembuka. 

Mungkin awan bagus juga, keras saya berpikir. Atau gunung hijau di kejauhan? Sayang, di sini tidak ada pantai. Dan masih terlalu lama sampai matahari tenggelam.

“Boleh sambil merokok?”

Saya bertanya, mencari alasan untuk berlama-lama.

Kamu mengangguk, memandang saya tanpa berkedip.

Aih. Padahal sekiranya menolak, masih banyak waktu untuk berdebat.

Rokok pun dibakar, dan asapnya mulai keluar-masuk paru-paru. 

“Kamu mau?”

Tidak bermaksud kurang ajar, lho. Juga bukan sedang mencari perkara.

Masih menatap, kamu menggelengkan kepala dan tangan mengelus perut.

“Tidak baik untuk janin.”

“Sungguh?”

“Iya. Itu tertulis di kotak pembungkusnya, Kang Andi.”

Setengah tidak percaya, saya periksa si kotak pembungkus rokok di tangan kiri. Dan saya dapatkan peringatan itu. 

Wow. Lagi-lagi, kamu benar. Selalu saja kamu perhatikan banyak hal. Hal besar, hal kecil… tidak pernah luput dari perhatian kamu. Kamu hanya tidak tertarik memperhatikan kekurangan orang lain. Itu saja.

Saya pun membuat keputusan yang saya nilai teramat bijaksana, yaitu mengambil jarak lebih jauh dari kamu. Saya mundur. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Berusaha agar si asap tidak kamu hisap.

“Segini, cukup?!”

Saya berteriak.

“Apa? Tidak terdengar!”

Kamu balas berteriak.

Aih. Padahal asap rokok tadi kan tidak berbahaya bagi pendengaran, kenapa tiba-tiba suara saya tidak sampai ke telinga kamu.
Tadinya, saya hendak maju dua atau tiga langkah. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata kamu cantik juga jika dipandang dari jarak segini. Bukan. Bukan berarti jika sedang berdekatan, kamu jadi tidak menarik. Bukan itu. Jauhkan pikiran itu segera. Saat ini juga. Maksud saya adalah, saya berhasil melihat sesuatu lain sewaktu kita berjauhan. Ada sudut warna dan cahaya baru yang berhasil saya tangkap.

Sayang, saya tidak bawa kamera.

Eh, ralat.

Sayang, saya belum punya kamera. Jika punya, sudah saya abadikan kamu saat ini juga. Saya cetak besar-besar, lalu saya pampang di kamar. Biar dilepaskan saja itu poster What Women Want.

“Andi, kapan mulainya?!”

Ya, ampun. Ditunggu, rupanya. Saya pikir kamu sudah lupa. Ternyata kamu punya daya ingat juga, ya. Maaf. Tapi, senang rasanya menjadi lelaki yang ditunggu.

“Baiklah, saya mulai sekarang, ya. Siap?”

Kamu mengangguk.

“Suara saya jelas terdengar?”

“Iya, Andi. Cepat mulai!”

“Sungguh?”

“Iya.”

Saya pun mulai menghitung aba-aba dalam hati. Satu, dua. Belum juga keluar kata-kata. Lima… Keringat dingin mulai bercucuran. Sepuluh... Dan suara adzan ashar di masjid sebelah menyelamatkan saya.

“Nanti dilanjutkan, ya. Waktunya sembahyang dulu.”

Saya berjalan mendekat, dan kamu bangkit tanpa bisa menolak. 










biar ibu yang ajarkan melukis
bapak yang ajarkan menulis
lalu kanak-kanak kita 
membaca alif ba ta
dengan lancarnya





Minggu, 22 Februari 2009

Monyet Berbulu Domba




“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Si anak berlari ke arah dapur. “Bi, katanya sedang menghangatkan bulan?”

“Iya. Mau kamu cicipi?” si Bibi menyodorkan sepotong kue tiong chiu pia.

Si anak langsung melahapnya. “MMmm… enak sekali, Bi. Dibuat dari apa ini?”

“Bahan utamanya cinta, Nak,” Bibi menjawab seakan beliau seorang penyair. “Dicampur sesendok teh rindu dan secukupnya cemburu. Dibuatnya harus tanggal tua saat menanti turunnya gaji dan kekasih yang tak kunjung kembali.”

“Cinta itu apa, Bi?” si Anak terus bertanya.

“Tanya kakakmu. Dia tentu sudah tahu.”

Anak itu pun berlari ke kamar kakaknya. “Kak, apa itu cinta?”

Sang kakak malah balik bertanya, ”Kenapa tanya Kakak?”

“Kata Bibi, Kakak lebih tahu tentang cinta daripada dia.”

“Tapi kakak cuma tahu cinta monyet. Dan monyet tentu lebih tahu itu daripada Kakak. Tutup pintunya! Kakak sedang patah hati!” sang Kakak berteriak dengan galak.

Kemudian, si anak pun pergi menuju Kebun Binatang dan mencari sekumpulan monyet di sana. “Ada diantara kalian yang tahu apa itu cinta?” tanyanya pada mereka.

Seekor monyet paling besar mengangkat tangan. “Cinta itu persis sama dengan yang didefinisikan oleh Wikipedia, yaitu sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain.”

Si anak mangut-mangut, seakan ia sudah mengerti saja. “Lalu, apa itu patah hati? Adakah hubungan antara keduanya?”

“Tentu, Nak,” kali ini monyet berbulu domba yang menjawab. “Patah hati adalah perasaan kecewa karena si objek lain tersebut hanya pasif saja, tidak balas melakukan aksi/kegiatan aktif.”

Merasa telah dibekali pengetahuan yang cukup, si anak itu pun pamit untuk pulang. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.





Bandung, 23 Feb 09
Kantor, pagi hari...



Monyet Berbulu Domba




“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Si anak berlari ke arah dapur. “Bi, katanya sedang menghangatkan bulan?”

“Iya. Mau kamu cicipi?” si Bibi menyodorkan sepotong kue tiong chiu pia.

Si anak langsung melahapnya. “MMmm… enak sekali, Bi. Dibuat dari apa ini?”

“Bahan utamanya cinta, Nak,” Bibi menjawab seakan beliau seorang penyair. “Dicampur sesendok teh rindu dan secukupnya cemburu. Dibuatnya harus tanggal tua saat menanti turunnya gaji dan kekasih yang tak kunjung kembali.”

“Cinta itu apa, Bi?” si Anak terus bertanya.

“Tanya kakakmu. Dia tentu sudah tahu.”

Anak itu pun berlari ke kamar kakaknya. “Kak, apa itu cinta?”

Sang kakak malah balik bertanya, ”Kenapa tanya Kakak?”

“Kata Bibi, Kakak lebih tahu tentang cinta daripada dia.”

“Tapi kakak cuma tahu cinta monyet. Dan monyet tentu lebih tahu itu daripada Kakak. Tutup pintunya! Kakak sedang patah hati!” sang Kakak berteriak dengan galak.

Kemudian, si anak pun pergi menuju Kebun Binatang dan mencari sekumpulan monyet di sana. “Ada diantara kalian yang tahu apa itu cinta?” tanyanya pada mereka.

Seekor monyet paling besar mengangkat tangan. “Cinta itu persis sama dengan yang didefinisikan oleh Wikipedia, yaitu sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain.”

Si anak mangut-mangut, seakan ia sudah mengerti saja. “Lalu, apa itu patah hati? Adakah hubungan antara keduanya?”

“Tentu, Nak,” kali ini monyet berbulu domba yang menjawab. “Patah hati adalah perasaan kecewa karena si objek lain tersebut hanya pasif saja, tidak balas melakukan aksi/kegiatan aktif.”

Merasa telah dibekali pengetahuan yang cukup, si anak itu pun pamit untuk pulang. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.





Bandung, 23 Feb 09
Kantor, pagi hari...



Rabu, 19 November 2008

Berkencan dengan Iblis


“Andi, jika kamu diberi izin untuk membunuh 5 orang, siapa saja yang akan kamu masukkan ke dalam daftarnya?”

Itu adalah pertanyaan yang dilemparkan ke wajah saya kemarin malam di tengah kencan kami di sebuah kafe dengan menu yang teramat mahal, tidak enak dan tidak mengenyangkan. Sampai tersedak saya dibuatnya. Merasa tertampar, juga. Sekiranya ada cermin, ingin saya lihat rona merah di wajah saya. Sekaligus waktu yang tepat buat bedakan.

Untuk sesaat saya hanya diam membisu sambil menatap wajahnya yang, ehm, tanpa cela itu. Proporsi dan susunan daging-tulang yang nyaris sempurna. Sebuah jerawat kecil tampak samar-samar menempel di atas alis, sedikit merusak keseimbangan pola. Namun, langit malam bertambah indah justru karena adanya bintang, bukan?

”Andi, cepat jawab!”

”Jawab sekarang?”

”Tentu saja. Dan jawaban kamu akan menentukan apakah saya akan menerima lagi ajakan kencan kamu atau tidak.”

Saya menelan ludah. Memang benar kata teman-teman saya. Jangan pernah berkencan dengan polwan atau mantan gerwani. Mereka akan memakan kepalamu bulat-bulat seusai kalian bercinta.

”Jika saya diberi izin untuk membunuh 5 orang,” kata saya hati-hati, ”orang pertama yang akan masuk ke dalam daftarnya adalah... kamu.”

”Kenapa, Andi? Hati-hati dalam menjawab itu ada kalanya diperlukan.”

”Karena... saya khawatir kamu akan menolak ajakan kencan saya besok.”

Makhluk berjenis perempuan itu memandang saya tanpa berkedip. Saya kesulitan untuk tahu apakah dia sedang menahan marah atau menawan senyum.

”Ke dua?”

”Orang ke dua yang akan saya masukkan ke dalam daftar adalah... bapak kamu.”

”Andi, bapak saya itu baik sekali orangnya. Bahkan lembut. Tidak pernah ia menyakiti siapa pun. Atas dasar apa kamu hendak membunuh dia?”

”Karena... saya khawatir dia akan menolak lamaran saya pada puteri satu-satunya itu.”

”Jangan-jangan, orang ke tiga yang hendak kamu bunuh adalah ibu saya?”

Saya menggelengkan kepala. ”Saya tidak akan menyentuh beliau. Menghadapi ibu-ibu adalah keahlian istimewa saya. Tidak perlu ada pertumpahan darah diantara kami. Saya kan menantu idaman para ibu.”

”Terimakasih dan saya tidak percaya. Lalu siapa, Andi, orang ketiga yang akan kamu masukkan dalam daftar?”

”Sahabat terbaik kamu, yang paling kamu percaya itu.”

Sang iblis betina tampak kaget luar biasa. Ah, senangnya bisa kembali menguasai situasi.

”Kenapa, Andi? Kenapa dia?!”

”Karena saya pencemburu. Juga, saya tidak mau kamu membagi, seandainya itu ada, rahasia kita dengan orang lain. Apalagi jika orang itu laki-laki.”

”Jika kamu pencemburu, kenapa tidak memilih... mantan saya, misalnya?”

”Ah, seperti kamu tidak tahu saja. Seandainya saya bunuh kekasih kamu di masa lalu itu, maka kelak kamu tidak akan pernah bisa melupakannya. Kamu akan terus mengenangnya. Akan sangat sial bagi saya di kemudian hari.”

”Lalu, Andi, siapa lanjutannya, orang keempat yang malang itu?”

Saya tahu dia semakin tidak sabar. Pelan, saya mainkan ujung garpu, mirip pembunuh berdarah dingin yang sedang menyebutkan nama-nama calon korbannya.

“Atasan kamu di kantor.”

Untuk pertama kalinya dia tampak setuju. ”Andi, maukah kamu... membunuhnya secara perlahan, memutilasinya dan membuang serpihan tubuhnya di tujuh sungai dan tujuh lautan yang berbeda? Membuatnya sulit diidentifikasi, baik oleh otopsi maupun foto gigi sekalipun?”

Tenguk saya langsung merinding. Apakah saya sedang berhadapan dengan puteri Jack the Ripper...

”Maaf, saya tidak mau mencemari lingkungan.”

”Ah... ya... ya. Lalu, Andi, siapakah si orang nomor lima itu?”

”Orang ke lima yang akan saya masukkan ke dalam daftar adalah... John Lennon.”

”Andi, kamu jangan ngaco, ya. John Lennon sudah mati di tahun 80 yang lalu. Kamu terlambat 28 tahun dari Mark David Chapman.”

”Kalau begitu, Elvis saja.”

”Andi... dia sudah pulang ke planet asalnya.”

”JFK?”

”Kamu sengaja mempermainkan saya. Lima detik lagi saya akan pulang.”

Sialan. Sama sekali tidak terbayangkan siapa lagi yang harus saya bunuh. Bagaimanapun, pada dasarnya saya adalah lelaki sopan dan lembut. Tidak punya pengalaman dalam bunuh-membunuh. Saya jadi gugup.

”Hannibal Lecter.”

”Empat...”

“Andy Lau.”

“Tiga…”

“Ng Man Tat.”

“Dua…”

“Tao Ming Tse.”

Dia mulai siap-siap berdiri. “Satu…”

Saya segera menahannya. “OKE! STOP! ORANG KE LIMA YANG AKAN SAYA MASUKKAN KE DALAM DAFTAR ADALAH MANAJER CAFE INI. Makanannya ngga enak, mahal luar biasa dan sama sekali tidak bikin perut saya kenyang.”

Perempuan itu urung berdiri. Kami saling menatap. Ada ketegangan diantara kami berdua. Tidak lama kemudian, ia melemparkan senyum. Ah, sungguh sulit mengartikan senyumnya itu.

“Jemput saya besok seperti biasa, Andi. Dan jangan lupa, siapkan jawaban daftar 5 nama lelaki yang boleh berselingkuh dengan istri kamu nanti.”
















Tuhan, jika Engkau memberi izin kepada saya untuk membunuh, bolehkah saya mengakhiri iblis betina ini?


“There isn’t enough room for me and your ego.”
[Vesper Lynd, Casino Royale]

Berkencan dengan Iblis


“Andi, jika kamu diberi izin untuk membunuh 5 orang, siapa saja yang akan kamu masukkan ke dalam daftarnya?”

Itu adalah pertanyaan yang dilemparkan ke wajah saya kemarin malam di tengah kencan kami di sebuah kafe dengan menu yang teramat mahal, tidak enak dan tidak mengenyangkan. Sampai tersedak saya dibuatnya. Merasa tertampar, juga. Sekiranya ada cermin, ingin saya lihat rona merah di wajah saya. Sekaligus waktu yang tepat buat bedakan.

Untuk sesaat saya hanya diam membisu sambil menatap wajahnya yang, ehm, tanpa cela itu. Proporsi dan susunan daging-tulang yang nyaris sempurna. Sebuah jerawat kecil tampak samar-samar menempel di atas alis, sedikit merusak keseimbangan pola. Namun, langit malam bertambah indah justru karena adanya bintang, bukan?

”Andi, cepat jawab!”

”Jawab sekarang?”

”Tentu saja. Dan jawaban kamu akan menentukan apakah saya akan menerima lagi ajakan kencan kamu atau tidak.”

Saya menelan ludah. Memang benar kata teman-teman saya. Jangan pernah berkencan dengan polwan atau mantan gerwani. Mereka akan memakan kepalamu bulat-bulat seusai kalian bercinta.

”Jika saya diberi izin untuk membunuh 5 orang,” kata saya hati-hati, ”orang pertama yang akan masuk ke dalam daftarnya adalah... kamu.”

”Kenapa, Andi? Hati-hati dalam menjawab itu ada kalanya diperlukan.”

”Karena... saya khawatir kamu akan menolak ajakan kencan saya besok.”

Makhluk berjenis perempuan itu memandang saya tanpa berkedip. Saya kesulitan untuk tahu apakah dia sedang menahan marah atau menawan senyum.

”Ke dua?”

”Orang ke dua yang akan saya masukkan ke dalam daftar adalah... bapak kamu.”

”Andi, bapak saya itu baik sekali orangnya. Bahkan lembut. Tidak pernah ia menyakiti siapa pun. Atas dasar apa kamu hendak membunuh dia?”

”Karena... saya khawatir dia akan menolak lamaran saya pada puteri satu-satunya itu.”

”Jangan-jangan, orang ke tiga yang hendak kamu bunuh adalah ibu saya?”

Saya menggelengkan kepala. ”Saya tidak akan menyentuh beliau. Menghadapi ibu-ibu adalah keahlian istimewa saya. Tidak perlu ada pertumpahan darah diantara kami. Saya kan menantu idaman para ibu.”

”Terimakasih dan saya tidak percaya. Lalu siapa, Andi, orang ketiga yang akan kamu masukkan dalam daftar?”

”Sahabat terbaik kamu, yang paling kamu percaya itu.”

Sang iblis betina tampak kaget luar biasa. Ah, senangnya bisa kembali menguasai situasi.

”Kenapa, Andi? Kenapa dia?!”

”Karena saya pencemburu. Juga, saya tidak mau kamu membagi, seandainya itu ada, rahasia kita dengan orang lain. Apalagi jika orang itu laki-laki.”

”Jika kamu pencemburu, kenapa tidak memilih... mantan saya, misalnya?”

”Ah, seperti kamu tidak tahu saja. Seandainya saya bunuh kekasih kamu di masa lalu itu, maka kelak kamu tidak akan pernah bisa melupakannya. Kamu akan terus mengenangnya. Akan sangat sial bagi saya di kemudian hari.”

”Lalu, Andi, siapa lanjutannya, orang keempat yang malang itu?”

Saya tahu dia semakin tidak sabar. Pelan, saya mainkan ujung garpu, mirip pembunuh berdarah dingin yang sedang menyebutkan nama-nama calon korbannya.

“Atasan kamu di kantor.”

Untuk pertama kalinya dia tampak setuju. ”Andi, maukah kamu... membunuhnya secara perlahan, memutilasinya dan membuang serpihan tubuhnya di tujuh sungai dan tujuh lautan yang berbeda? Membuatnya sulit diidentifikasi, baik oleh otopsi maupun foto gigi sekalipun?”

Tenguk saya langsung merinding. Apakah saya sedang berhadapan dengan puteri Jack the Ripper...

”Maaf, saya tidak mau mencemari lingkungan.”

”Ah... ya... ya. Lalu, Andi, siapakah si orang nomor lima itu?”

”Orang ke lima yang akan saya masukkan ke dalam daftar adalah... John Lennon.”

”Andi, kamu jangan ngaco, ya. John Lennon sudah mati di tahun 80 yang lalu. Kamu terlambat 28 tahun dari Mark David Chapman.”

”Kalau begitu, Elvis saja.”

”Andi... dia sudah pulang ke planet asalnya.”

”JFK?”

”Kamu sengaja mempermainkan saya. Lima detik lagi saya akan pulang.”

Sialan. Sama sekali tidak terbayangkan siapa lagi yang harus saya bunuh. Bagaimanapun, pada dasarnya saya adalah lelaki sopan dan lembut. Tidak punya pengalaman dalam bunuh-membunuh. Saya jadi gugup.

”Hannibal Lecter.”

”Empat...”

“Andy Lau.”

“Tiga…”

“Ng Man Tat.”

“Dua…”

“Tao Ming Tse.”

Dia mulai siap-siap berdiri. “Satu…”

Saya segera menahannya. “OKE! STOP! ORANG KE LIMA YANG AKAN SAYA MASUKKAN KE DALAM DAFTAR ADALAH MANAJER CAFE INI. Makanannya ngga enak, mahal luar biasa dan sama sekali tidak bikin perut saya kenyang.”

Perempuan itu urung berdiri. Kami saling menatap. Ada ketegangan diantara kami berdua. Tidak lama kemudian, ia melemparkan senyum. Ah, sungguh sulit mengartikan senyumnya itu.

“Jemput saya besok seperti biasa, Andi. Dan jangan lupa, siapkan jawaban daftar 5 nama lelaki yang boleh berselingkuh dengan istri kamu nanti.”
















Tuhan, jika Engkau memberi izin kepada saya untuk membunuh, bolehkah saya mengakhiri iblis betina ini?


“There isn’t enough room for me and your ego.”
[Vesper Lynd, Casino Royale]

Minggu, 27 April 2008

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Alexander The Great yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin.

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Tadinya aku hendak menambahkan bahwa aku juga menyesal telah mentraktirnya menonton film barusan, tapi tidak tega setelah melihat air mata menetesi pipinya. Oh, bukan. Ternyata itu air hujan. Lalu aku duduk dengan kesal sambil bertopang dagu. Dari kemeja hingga kaos kakiku basah kuyup. Dalam sepuluh menit lagi dapat dipastikan aku akan masuk angin. Dan dalam empatpuluh menit ke depan aku sudah tidak sadarkan diri.

”Andi,” dia menyebut namaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Sekali lagi dia memanggilku, tapi aku tetap bergeming. Mungkin karena merasa pegal terus berdiri, perempuan itu duduk di sampingku dan kurasakan bahu kami merapat. Tak ada yang bicara untuk beberapa lama. Sesekali cahaya lampu kendaraan menyoroti halte yang hanya menyisakan kami berdua.

”Kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” akhirnya kudengar juga suaranya.

Aku hanya menggeleng. Sudah lima menit berlalu dan dia belum juga minta maaf.

”Empat puluh hari yang lalu di resepsi pernikahan Zoel,” lanjutnya tanpa mempedulikan sikapku yang masih tidak ramah. ”Waktu itu rambut kamu lebih panjang, tapi aku masih ingat sepatu yang kamu pakai sama dengan hari ini. Aku yang sedang duduk di pojokan gedung sambil menikmati semangkuk eskrim, melihat sepasang sepatu jelek itu mendekat. Lalu pemiliknya duduk begitu saja di samping aku tanpa menyapa atau permisi. Aku segera menoleh. Ternyata dia hanya seorang cowok dengan kemeja batik yang ukuran, motif dan warnanya sama sekali ngga cocok dipakai.”

Memang. Batik itu milik ayahku sebelum beliau pensiun. Batik KORPRI. Berwarna biru tua dengan motif sayap yang dilengkapi berbagai ornamennya. Sama sekali tidak cocok untuk resepsi pernikahan. Waktu itu aku tidak sadar bahwa aku lebih terlihat tolol daripada retro. Diingatkan demikian, mau tidak mau rasa kesalku sedikit berkurang.

”Kamu tahu,” katanya lagi sambil menggandeng lenganku, ”sebenarnya aku berharap cowok itu mengajak aku berkenalan, atau pura-pura bertanya di mana stand eskrim berada, atau sekedar basa-basi tentang cerahnya cuaca. Tapi, ngga begitu. Ngga sama sekali. Rupanya dia lebih tertarik menghabiskan enam potong kambing guling, dua mangkuk zuppa-zuppa, sepiring besar kentang goreng, plus sepuluh tusuk sate ayam daripada berkenalan dengan gadis cantik yang duduk manis sendirian di sebelahnya.”

”Bohong,” kilahku. Tanpa sadar aku bersuara juga. Bagaimana lagi, hal yang barusan dia bilang itu bohong. Memang benar bahwa dia cantik. Kuakui itu. Cantik sekali, malah. Bahkan ketika dia mengaku-aku dirinya cantik pun aku tidak sanggup memberi sanggahan apa-apa.

Dan benar juga bahwa aku lebih tertarik untuk makan daripada berkenalan dengannya, atau menjalin percakapan basa-basi, atau sekedar mengingatkannya tentang musim hujan yang akan tiba tidak lama lagi. Tidak. Di seluas pandanganku waktu itu terhidang daging kambing muda yang empuk, sate ayam tanpa lemak, kentang goreng dengan saus terbaik dan zuppa-zuppa yang bisa melelehkan lidah. Dia lupa menyebutkan coto makasar dan sop konro yang juga tidak kalah istimewa. Benar-benar hidangan terbaik dari semua hidangan resepsi pernikahan yang pernah aku kunjungi.

Maka, tidak logis jika aku mau menukarkan itu semua hanya demi mendapatkan nama seorang perempuan, secantik apapun dia. Terlebih lagi aku sudah merogoh empatpuluh ribu rupiah sebagai angpao untuk Zoel dan pengantinnya. Mulanya hendak kuberi limapuluh ribu, tapi aku butuh tambahan sepuluh ribu untuk sebungkus rokok.

”Andi, aku bohong apa?” tanya perempuan itu dengan manja. Nafasnya terasa hangat dan gandengan tangannya semakin erat.

Huh! Dia berbohong jika mengaku duduk sendiri waktu itu. Ada seorang lelaki berjas di sampingnya. Si jahanam itu sesekali mengelus rambutnya, memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia. Suara canda dan tawanya benar-benar mengganggu telinga. Yang menyakitkan, kusadari bahwa akulah yang sedang mereka jadikan bahan guyonan.

”Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” perempuan itu melanjutkan lagi ceritanya. Kali ini bahuku telah menjadi sandaran kepalanya. ”Cowok bersepatu jelek dan berbatik aneh itu tiba-tiba berdiri dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelasnya ke arahku. Kontan, atasan gaun putih yang aku pakai berubah warna menjadi keunguan.”

Aku terkekeh. Sebenarnya, sasaranku lelaki berjas itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Siapa yang tidak kesal jika ada dua orang asing yang membicarakan kita selama empatpuluh menit lebih sambil berbisik-bisik diiringi suara tawa tercekik.

”Dengan gugup, cowok itu meminta maaf dan menunjukkan penyesalan yang dalam. Aku dimintanya duduk saja, sementara dia berlari mencari kain lap atau kertas tisyu. Aku menunggu dan menunggu, tapi batik aneh itu ngga juga muncul. Entah berapa lama, sampai akhirnya aku sadar bahwa tinggal aku satu-satunya tamu di sana.”

Aku tertawa lepas. Tentu saja. Waktu itu aku langsung pulang, main PS sebentar, dilanjutkan tidur siang.

”Aku hampiri Zoel dan istrinya, berharap mereka kenal siapa dia. Namanya Andi, kata Zoel. Dari dia pula aku tahu alamat rumahnya.”

Cerita perempuan itu terus mengalir seiring dengan naiknya temperatur tubuhku. Mungkin saat ini sudah mencapai empatpuluh derajar celcius. Mungkin seribu. Kepalaku terasa berat dan sesekali aku bersin. Tapi aku mulai menikmati caranya menceritakan kisah kami.

”Besok paginya, sendirian aku datangi rumah Andi karena cemas kalau-kalau terjadi hal yang buruk padanya.”

Dia berbohong lagi. Dia datang bersama si jahanam itu membawa secarik kwitansi laundry. Selain marah-marah atas menghilangnya aku sehari sebelumnya, mereka berdua menuntut ganti rugi seratus ribu. Tentu saja kutolak. Aku yang meski sudah menjadi sarjana, waktu itu masih dalam proses lamaran kerja. Tidak punya penghasilan apa-apa kecuali belas kasihan orangtua. Sandainya aku punya uang pun, tidak sudi aku membayarnya.

”Ternyata Andi ini adalah sesosok cowok yang sangat ramah. Juga menyenangkan. Aku diperlakukan layaknya seorang tamu agung yang datang dari jauh. Diajaknya aku mengelilingi rumah sambil bercerita tentang asal-usul keluarganya berasal. Kami makan siang bersama, mendengarkan CD Buble bajakan, dilanjutkan ping-pong hingga sore.”

Aku berdehem. Kali ini dengan agak malu kuakui bahwa dia lagi-lagi berbohong. Yang sesungguhnya terjadi adalah aku merobek-robek kwitansi laundry itu dan mengusir mereka berdua dengan kasar. Ada goblok, ada kampret, ada setan. Sementara yang tadi dia ceritakan terjadi pada pertemuan kami di hari berikutnya. Bagaimana lagi, malam itu Zoel menelepon di bandara menuju bulan madu, menyuruhku minta maaf dengan ancaman lamaran kerjaku ditolak perusahaan ayahnya. Tidak punya pilihan, aku menurut. Sejak itu, tak satu pun hari kami lewati tanpa bertemu.

”Kamu pasti ngga tahu alasan kenapa aku ingin selalu kita ketemu.”

Aku menggeleng dan bersin tiga kali. Hidungku mulai basah.

Perempuan itu menatapku sesaat, lalu menunduk sedikit. Pipinya merona merah. Mungkin dia agak malu dengan apa yang hendak dia utarakan. Sementara aku mulai kehilangan konsentrasi dan tubuhku menggigil kedinginan.

Bersambung ke edisi berikutnya...

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Alexander The Great yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin.

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Tadinya aku hendak menambahkan bahwa aku juga menyesal telah mentraktirnya menonton film barusan, tapi tidak tega setelah melihat air mata menetesi pipinya. Oh, bukan. Ternyata itu air hujan. Lalu aku duduk dengan kesal sambil bertopang dagu. Dari kemeja hingga kaos kakiku basah kuyup. Dalam sepuluh menit lagi dapat dipastikan aku akan masuk angin. Dan dalam empatpuluh menit ke depan aku sudah tidak sadarkan diri.

”Andi,” dia menyebut namaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Sekali lagi dia memanggilku, tapi aku tetap bergeming. Mungkin karena merasa pegal terus berdiri, perempuan itu duduk di sampingku dan kurasakan bahu kami merapat. Tak ada yang bicara untuk beberapa lama. Sesekali cahaya lampu kendaraan menyoroti halte yang hanya menyisakan kami berdua.

”Kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” akhirnya kudengar juga suaranya.

Aku hanya menggeleng. Sudah lima menit berlalu dan dia belum juga minta maaf.

”Empat puluh hari yang lalu di resepsi pernikahan Zoel,” lanjutnya tanpa mempedulikan sikapku yang masih tidak ramah. ”Waktu itu rambut kamu lebih panjang, tapi aku masih ingat sepatu yang kamu pakai sama dengan hari ini. Aku yang sedang duduk di pojokan gedung sambil menikmati semangkuk eskrim, melihat sepasang sepatu jelek itu mendekat. Lalu pemiliknya duduk begitu saja di samping aku tanpa menyapa atau permisi. Aku segera menoleh. Ternyata dia hanya seorang cowok dengan kemeja batik yang ukuran, motif dan warnanya sama sekali ngga cocok dipakai.”

Memang. Batik itu milik ayahku sebelum beliau pensiun. Batik KORPRI. Berwarna biru tua dengan motif sayap yang dilengkapi berbagai ornamennya. Sama sekali tidak cocok untuk resepsi pernikahan. Waktu itu aku tidak sadar bahwa aku lebih terlihat tolol daripada retro. Diingatkan demikian, mau tidak mau rasa kesalku sedikit berkurang.

”Kamu tahu,” katanya lagi sambil menggandeng lenganku, ”sebenarnya aku berharap cowok itu mengajak aku berkenalan, atau pura-pura bertanya di mana stand eskrim berada, atau sekedar basa-basi tentang cerahnya cuaca. Tapi, ngga begitu. Ngga sama sekali. Rupanya dia lebih tertarik menghabiskan enam potong kambing guling, dua mangkuk zuppa-zuppa, sepiring besar kentang goreng, plus sepuluh tusuk sate ayam daripada berkenalan dengan gadis cantik yang duduk manis sendirian di sebelahnya.”

”Bohong,” kilahku. Tanpa sadar aku bersuara juga. Bagaimana lagi, hal yang barusan dia bilang itu bohong. Memang benar bahwa dia cantik. Kuakui itu. Cantik sekali, malah. Bahkan ketika dia mengaku-aku dirinya cantik pun aku tidak sanggup memberi sanggahan apa-apa.

Dan benar juga bahwa aku lebih tertarik untuk makan daripada berkenalan dengannya, atau menjalin percakapan basa-basi, atau sekedar mengingatkannya tentang musim hujan yang akan tiba tidak lama lagi. Tidak. Di seluas pandanganku waktu itu terhidang daging kambing muda yang empuk, sate ayam tanpa lemak, kentang goreng dengan saus terbaik dan zuppa-zuppa yang bisa melelehkan lidah. Dia lupa menyebutkan coto makasar dan sop konro yang juga tidak kalah istimewa. Benar-benar hidangan terbaik dari semua hidangan resepsi pernikahan yang pernah aku kunjungi.

Maka, tidak logis jika aku mau menukarkan itu semua hanya demi mendapatkan nama seorang perempuan, secantik apapun dia. Terlebih lagi aku sudah merogoh empatpuluh ribu rupiah sebagai angpao untuk Zoel dan pengantinnya. Mulanya hendak kuberi limapuluh ribu, tapi aku butuh tambahan sepuluh ribu untuk sebungkus rokok.

”Andi, aku bohong apa?” tanya perempuan itu dengan manja. Nafasnya terasa hangat dan gandengan tangannya semakin erat.

Huh! Dia berbohong jika mengaku duduk sendiri waktu itu. Ada seorang lelaki berjas di sampingnya. Si jahanam itu sesekali mengelus rambutnya, memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia. Suara canda dan tawanya benar-benar mengganggu telinga. Yang menyakitkan, kusadari bahwa akulah yang sedang mereka jadikan bahan guyonan.

”Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” perempuan itu melanjutkan lagi ceritanya. Kali ini bahuku telah menjadi sandaran kepalanya. ”Cowok bersepatu jelek dan berbatik aneh itu tiba-tiba berdiri dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelasnya ke arahku. Kontan, atasan gaun putih yang aku pakai berubah warna menjadi keunguan.”

Aku terkekeh. Sebenarnya, sasaranku lelaki berjas itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Siapa yang tidak kesal jika ada dua orang asing yang membicarakan kita selama empatpuluh menit lebih sambil berbisik-bisik diiringi suara tawa tercekik.

”Dengan gugup, cowok itu meminta maaf dan menunjukkan penyesalan yang dalam. Aku dimintanya duduk saja, sementara dia berlari mencari kain lap atau kertas tisyu. Aku menunggu dan menunggu, tapi batik aneh itu ngga juga muncul. Entah berapa lama, sampai akhirnya aku sadar bahwa tinggal aku satu-satunya tamu di sana.”

Aku tertawa lepas. Tentu saja. Waktu itu aku langsung pulang, main PS sebentar, dilanjutkan tidur siang.

”Aku hampiri Zoel dan istrinya, berharap mereka kenal siapa dia. Namanya Andi, kata Zoel. Dari dia pula aku tahu alamat rumahnya.”

Cerita perempuan itu terus mengalir seiring dengan naiknya temperatur tubuhku. Mungkin saat ini sudah mencapai empatpuluh derajar celcius. Mungkin seribu. Kepalaku terasa berat dan sesekali aku bersin. Tapi aku mulai menikmati caranya menceritakan kisah kami.

”Besok paginya, sendirian aku datangi rumah Andi karena cemas kalau-kalau terjadi hal yang buruk padanya.”

Dia berbohong lagi. Dia datang bersama si jahanam itu membawa secarik kwitansi laundry. Selain marah-marah atas menghilangnya aku sehari sebelumnya, mereka berdua menuntut ganti rugi seratus ribu. Tentu saja kutolak. Aku yang meski sudah menjadi sarjana, waktu itu masih dalam proses lamaran kerja. Tidak punya penghasilan apa-apa kecuali belas kasihan orangtua. Sandainya aku punya uang pun, tidak sudi aku membayarnya.

”Ternyata Andi ini adalah sesosok cowok yang sangat ramah. Juga menyenangkan. Aku diperlakukan layaknya seorang tamu agung yang datang dari jauh. Diajaknya aku mengelilingi rumah sambil bercerita tentang asal-usul keluarganya berasal. Kami makan siang bersama, mendengarkan CD Buble bajakan, dilanjutkan ping-pong hingga sore.”

Aku berdehem. Kali ini dengan agak malu kuakui bahwa dia lagi-lagi berbohong. Yang sesungguhnya terjadi adalah aku merobek-robek kwitansi laundry itu dan mengusir mereka berdua dengan kasar. Ada goblok, ada kampret, ada setan. Sementara yang tadi dia ceritakan terjadi pada pertemuan kami di hari berikutnya. Bagaimana lagi, malam itu Zoel menelepon di bandara menuju bulan madu, menyuruhku minta maaf dengan ancaman lamaran kerjaku ditolak perusahaan ayahnya. Tidak punya pilihan, aku menurut. Sejak itu, tak satu pun hari kami lewati tanpa bertemu.

”Kamu pasti ngga tahu alasan kenapa aku ingin selalu kita ketemu.”

Aku menggeleng dan bersin tiga kali. Hidungku mulai basah.

Perempuan itu menatapku sesaat, lalu menunduk sedikit. Pipinya merona merah. Mungkin dia agak malu dengan apa yang hendak dia utarakan. Sementara aku mulai kehilangan konsentrasi dan tubuhku menggigil kedinginan.

Bersambung ke edisi berikutnya...

Rabu, 28 September 2005

Mitos, Legenda dan Mistis

“Kamu percaya Sangkuriang?” Teman saya yang paling saya harapkan menghilang dari muka bumi itu bertanya sekali waktu, tanpa malu-malu dan sedikit belagu.

“Tentu saja tidak!” jawab saya ketus, melemparnya dengan tutup kakus. “Saya lebih percaya pada Dayang Sumbi.”

Mungkin karena terbiasa dengan sikap saya yang demikian, dia hanya tersenyum, menangkis lemparan tutup kakus saya dengan tutup drum. “Bukan itu maksud pertanyaan saya. Tapi, apa kamu percaya dengan keberadaan mereka?”

Saya tertegun, berdiri terpaku di hadapannya dengan berbagai macam isi pikiran, berusaha menebak ke arah mana pembicaraan. “Saya percaya,” jawab saya setelah merasa yakin bahwa teman saya tidak main-main.

Tiba-tiba saja teman saya itu terbahak-bahak. Sangat keras. Keras sekali. Bahkan saya sampai perlu menutup kedua telinga dengan tutup kakus dan drum.

“HAHAHAHAHAHAHA!! Dan sundal bolong? Kamu percaya dengan adanya sundal bolong?”
Tanpa ragu saya menjawab, “Tentu saja! Saya pernah melihatnya di bioskop dan tivi. Tetangga saya pun pernah bercerita melihatnya di kebun jagung dekat kampung.”

Teman saya kembali terbahak-bahak, melambaikan tangannya meremehkan saya.

“Apa itu salah?” saya bertanya dengan pertanyaan paling bodoh sedunia.

“Tidak… tidak… bukan kamu yang salah,” katanya di sela tawa. “Fiuuhhh. Capek juga. Sudah begitu lama saya tidak tertawa seperti ini.”

Saat itulah saya benar-benar merasa tersinggung. Benar-benar tersinggung. Dia… telah menertawaan saya. Saya! Saya, yang selama ini… ditertawakan oleh dia. Dia! Dia, yang hanya…
Dengan langkah tegap tak berirama, saya dekati dia hingga jarak kami cukup dekat. Cukup dekat sehingga orang-orang yang melihat akan mengira kami sedang berhomo ria. “Kenapa kamu tertawa?” tanya saya dingin dengan tatapan menusuk. Tutup kakus dan tutup drum yang saya genggam saya sembunyikan di belakang punggung.

Teman saya terdiam sesaat. Kilatan matanya meredup menandakan penyesalan mendalam. “Sa… ya,” katanya terbata, “hanya tidak mengira… kamu yang memiliki intelegensi tinggi dan sombong itu ternyata… percaya mitos, legenda, dan mistik murahan.”

Akibatnya, “Daaannnggggggggggggg!” Saya gabungkan tutup kakus dan drum dengan kepala teman saya diantaranya.
-------------

Itulah awal dari keraguan saya terhadap keberadaan Sangkuriang dan sundal bolong. Juga akhir dari keberadaan teman saya itu yang berasal dari Malangbong. Satu persatu, apa yang sebelumya saya percaya, luluh lantah. Saya jadi menganggap bahwa segala hal yang belum pernah saya lihat secara langsung hanyalah mitos, legenda, dan mistik belaka. Dan percaya pada hal-hal demikian adalah dosa besar.

“Jadi, kamu ngga percaya dengan adanya… rektor kampus?” tanya teman saya nomor dua.

“Tentu saja tidak. Saya belum pernah melihatnya. Kamu juga kan? Dia adalah makhluk ghaib.” Saya lalu berdiri di meja kelas. “Kalian semua! Ada yang pernah melihat rektor?”

Semuanya tertegun, menggeleng.

“Tapi…,” kata seseorang yang saya tidak ingat siapa namanya, “desas-desusnya, memang ada rektor itu. Hanya saja, perlu waktu. Untuk bisa melihatnya, kita harus menyelesaikan kuliah dulu.”

“Mereka, yang pernah bertemu dan bersalaman dengan rektor, tak pernah lagi kembali ke kampus ini. Itu salah satu tanda bahwa rektor kampus adalah makhluk gaib,” saya menjelaskan dengan bijaksana.

Tanpa disangka-sangka, seseorang mengangkat tangan, yang ternyata perempuan cantik rupawan. “Saya setuju dengan kamu, bahwa sebenarnya rektor itu tidak pernah ada. Bahkan, di kampus tetangga, Unpad, rektornya benar-benar mistis. Sampai lulus pun para wisudawan tidak diperkenankan melihat dan menjabat tangannya. Hanya mereka, yang lulus cumlaude saja, yang diberi kesempatan.”

Agak mengembang dada ini, merasa mendapat dukungan dari si cantik itu. “Ehm. Nama kamu siapa?”

“Apalah artinya nama?” Dia balik bertanya, seperti seorang pujangga pernah berkata.

Saya turun dari meja dan mendekatinya. “Tentu besar artinya. Atau kamu ingin saya panggil ‘Eh’ dan kadang-kadang ‘Hei’?”

Si cantik tertunduk malu dan pura-pura membaca buku. Pada saat saya hendak mengajak dia makan siang, seorang teman yang ke sekian datang mengganggu tanpa diundang. Namanya Agus Suragus, anaknya Dadang Suradang.

“Bagaimana kabar Dadang, Gus? Anakmu itu sudah bisa berdiri?” tanya saya sekedar basa-basi.

“Plakkk!!” Dia menampar saya tiba-tiba. “Saya sudah melihatnya!”

“Siapa???”

“SBY!”

“Kamu…,” saya terbata, “Yakin? Sudah pegang dia?”

“Ya! Saya jabat tangannya. Kenyal berdaging dan keras bertulang. Bukan hantu, boneka, hollogram atau trik kamera seperti yang selama ini kamu bilang!”

Keyakinan saya mulai goyah. Saya melotot dan mencengkram kerah kemejanya. “Kamu tidak sedang mempermainkan saya kan?”

“Dalam masalah ini, saya tidak pernah bercanda. Bahkan, saya mendengar dia berbicara. Suaranya sama dengan suara manusia seperti kita. Hanya berlogat Jawa.”

“Plakkk!” saya tampar dia. “Jangan sembarangan menggunakan kata ‘kita’!!!” Lalu, saya pergi, membawa berbagai macam pertanyaan dan kebingungan.

Sampai hari kemarin, jawaban itu akhirnya saya peroleh. Minggu, 25 September 2005, Jakarta. Saya menghadiri resepsi pernikahan kawan lama. Orang nomor satu itu muncul ketika saya sedang menghabiskan bebek panggang dan kambing guling porsi ke tiga. Jarak kami hanya lima atau enam meter saja. Saya terpaku. Diakah orangnya, si RI-1? Tidak terkesan angker dan tak tercium bau menyan. Saya pun mendengar derap langkahnya yang menandakan orang itu bukan trik kamera atau hollogram.

Untuk memuaskan rasa penasaran, saya berlari mendekat dengan membawa dua tutup panci, menembus barisan Paspampres yang siap mati. Saya berhasil mendekatinya. Kata saya, “Jadi, elo yang namanya SBY?”

Dan memang benar, beliau SBY. Maka, "Daaaaaannnngggg!"

Mitos, Legenda dan Mistis

“Kamu percaya Sangkuriang?” Teman saya yang paling saya harapkan menghilang dari muka bumi itu bertanya sekali waktu, tanpa malu-malu dan sedikit belagu.

“Tentu saja tidak!” jawab saya ketus, melemparnya dengan tutup kakus. “Saya lebih percaya pada Dayang Sumbi.”

Mungkin karena terbiasa dengan sikap saya yang demikian, dia hanya tersenyum, menangkis lemparan tutup kakus saya dengan tutup drum. “Bukan itu maksud pertanyaan saya. Tapi, apa kamu percaya dengan keberadaan mereka?”

Saya tertegun, berdiri terpaku di hadapannya dengan berbagai macam isi pikiran, berusaha menebak ke arah mana pembicaraan. “Saya percaya,” jawab saya setelah merasa yakin bahwa teman saya tidak main-main.

Tiba-tiba saja teman saya itu terbahak-bahak. Sangat keras. Keras sekali. Bahkan saya sampai perlu menutup kedua telinga dengan tutup kakus dan drum.

“HAHAHAHAHAHAHA!! Dan sundal bolong? Kamu percaya dengan adanya sundal bolong?”
Tanpa ragu saya menjawab, “Tentu saja! Saya pernah melihatnya di bioskop dan tivi. Tetangga saya pun pernah bercerita melihatnya di kebun jagung dekat kampung.”

Teman saya kembali terbahak-bahak, melambaikan tangannya meremehkan saya.

“Apa itu salah?” saya bertanya dengan pertanyaan paling bodoh sedunia.

“Tidak… tidak… bukan kamu yang salah,” katanya di sela tawa. “Fiuuhhh. Capek juga. Sudah begitu lama saya tidak tertawa seperti ini.”

Saat itulah saya benar-benar merasa tersinggung. Benar-benar tersinggung. Dia… telah menertawaan saya. Saya! Saya, yang selama ini… ditertawakan oleh dia. Dia! Dia, yang hanya…
Dengan langkah tegap tak berirama, saya dekati dia hingga jarak kami cukup dekat. Cukup dekat sehingga orang-orang yang melihat akan mengira kami sedang berhomo ria. “Kenapa kamu tertawa?” tanya saya dingin dengan tatapan menusuk. Tutup kakus dan tutup drum yang saya genggam saya sembunyikan di belakang punggung.

Teman saya terdiam sesaat. Kilatan matanya meredup menandakan penyesalan mendalam. “Sa… ya,” katanya terbata, “hanya tidak mengira… kamu yang memiliki intelegensi tinggi dan sombong itu ternyata… percaya mitos, legenda, dan mistik murahan.”

Akibatnya, “Daaannnggggggggggggg!” Saya gabungkan tutup kakus dan drum dengan kepala teman saya diantaranya.
-------------

Itulah awal dari keraguan saya terhadap keberadaan Sangkuriang dan sundal bolong. Juga akhir dari keberadaan teman saya itu yang berasal dari Malangbong. Satu persatu, apa yang sebelumya saya percaya, luluh lantah. Saya jadi menganggap bahwa segala hal yang belum pernah saya lihat secara langsung hanyalah mitos, legenda, dan mistik belaka. Dan percaya pada hal-hal demikian adalah dosa besar.

“Jadi, kamu ngga percaya dengan adanya… rektor kampus?” tanya teman saya nomor dua.

“Tentu saja tidak. Saya belum pernah melihatnya. Kamu juga kan? Dia adalah makhluk ghaib.” Saya lalu berdiri di meja kelas. “Kalian semua! Ada yang pernah melihat rektor?”

Semuanya tertegun, menggeleng.

“Tapi…,” kata seseorang yang saya tidak ingat siapa namanya, “desas-desusnya, memang ada rektor itu. Hanya saja, perlu waktu. Untuk bisa melihatnya, kita harus menyelesaikan kuliah dulu.”

“Mereka, yang pernah bertemu dan bersalaman dengan rektor, tak pernah lagi kembali ke kampus ini. Itu salah satu tanda bahwa rektor kampus adalah makhluk gaib,” saya menjelaskan dengan bijaksana.

Tanpa disangka-sangka, seseorang mengangkat tangan, yang ternyata perempuan cantik rupawan. “Saya setuju dengan kamu, bahwa sebenarnya rektor itu tidak pernah ada. Bahkan, di kampus tetangga, Unpad, rektornya benar-benar mistis. Sampai lulus pun para wisudawan tidak diperkenankan melihat dan menjabat tangannya. Hanya mereka, yang lulus cumlaude saja, yang diberi kesempatan.”

Agak mengembang dada ini, merasa mendapat dukungan dari si cantik itu. “Ehm. Nama kamu siapa?”

“Apalah artinya nama?” Dia balik bertanya, seperti seorang pujangga pernah berkata.

Saya turun dari meja dan mendekatinya. “Tentu besar artinya. Atau kamu ingin saya panggil ‘Eh’ dan kadang-kadang ‘Hei’?”

Si cantik tertunduk malu dan pura-pura membaca buku. Pada saat saya hendak mengajak dia makan siang, seorang teman yang ke sekian datang mengganggu tanpa diundang. Namanya Agus Suragus, anaknya Dadang Suradang.

“Bagaimana kabar Dadang, Gus? Anakmu itu sudah bisa berdiri?” tanya saya sekedar basa-basi.

“Plakkk!!” Dia menampar saya tiba-tiba. “Saya sudah melihatnya!”

“Siapa???”

“SBY!”

“Kamu…,” saya terbata, “Yakin? Sudah pegang dia?”

“Ya! Saya jabat tangannya. Kenyal berdaging dan keras bertulang. Bukan hantu, boneka, hollogram atau trik kamera seperti yang selama ini kamu bilang!”

Keyakinan saya mulai goyah. Saya melotot dan mencengkram kerah kemejanya. “Kamu tidak sedang mempermainkan saya kan?”

“Dalam masalah ini, saya tidak pernah bercanda. Bahkan, saya mendengar dia berbicara. Suaranya sama dengan suara manusia seperti kita. Hanya berlogat Jawa.”

“Plakkk!” saya tampar dia. “Jangan sembarangan menggunakan kata ‘kita’!!!” Lalu, saya pergi, membawa berbagai macam pertanyaan dan kebingungan.

Sampai hari kemarin, jawaban itu akhirnya saya peroleh. Minggu, 25 September 2005, Jakarta. Saya menghadiri resepsi pernikahan kawan lama. Orang nomor satu itu muncul ketika saya sedang menghabiskan bebek panggang dan kambing guling porsi ke tiga. Jarak kami hanya lima atau enam meter saja. Saya terpaku. Diakah orangnya, si RI-1? Tidak terkesan angker dan tak tercium bau menyan. Saya pun mendengar derap langkahnya yang menandakan orang itu bukan trik kamera atau hollogram.

Untuk memuaskan rasa penasaran, saya berlari mendekat dengan membawa dua tutup panci, menembus barisan Paspampres yang siap mati. Saya berhasil mendekatinya. Kata saya, “Jadi, elo yang namanya SBY?”

Dan memang benar, beliau SBY. Maka, "Daaaaaannnngggg!"

Rabu, 14 September 2005

Kolam Spirtus

Terlalu menyedihkan rasanya setiap kali orang yang sangat istimewa bagi kita akan pergi jauh. Apalagi, bagi saya yang masih menganggap bahwa surat, kabel, sinyal GSM, CDMA ataupun GPRS belum mampu menggantikan kehadiran dan suara sang teristimewa tersebut. Apalagi, argo pulsa yang bergerak cepat seperti kuda, bisa membuat gajian tanggal satu habis tanggal dua.

"Maksud kamu... kamu ngga bisa pacaran jarak jauh?" tiba-tiba teman saya yang, maaf, belum cukup umur itu bertanya.

"Apakah saya barusan mengatakan... kata 'pacaran'?" tanya saya tersinggung, menatapnya penuh nanar.

"Jadi... kamu sedih perempuan itu akan pergi?" tanya dia lagi, tidak sopan.

"Tentu saja! Apakah kamu pernah mendengar kata kesepian? Dan, sesuatu itu semakin berharga justru karena hilang, kan?" cerocos saya sambil mencengkram kerah kemejanya dan mendorongnya pada dinding.

Dengan kalem, teman saya itu menepiskan cengkraman saya. "Sampai kapan kamu akan terus kekanak-kanakan begini?"

Dikatai seperti itu, darah muda saya bergejolak ria. Jotosan pun terlepas dari tangan saya ke wajahnya yang, maaf, sangat berjerawat. Kemudian tendangan. Cekikan. Teman saya itu tidak juga membalas. Malah terus menyebut saya seperti anak kecil, bau kencur, abege dan anak kemarin sore. Hampir saja saya menceburkannya ke kolam bensin dan melemparkan korek api. Tapi, tiba-tiba saya sadar bahwa harga BBM saat ini sangat mahal.

"Puas?" tanya dia setelah saya berhenti menyiksanya.

Napas saya naik turun, karena capek dan emosi. "Kenapa? Kenapa kamu ngga berpihak pada saya?!"

Teman saya yang hidungnya mulai mimisan, menggeleng. "Saya berada di pihak kamu. Tapi, kamu bodoh!"

Darah saya naik lagi. "Bodoh? Kamu menyebut saya bodoh? Dengan IPe tiga koma alhamdulillah kamu menyebut saya bodoh?"

"Ya. Kamu bodoh! Kamu tidak pernah membuka mata. Tidakkah kamu sadar, perempuan cantik ada di mana-mana? Bukan cuma dia!"

"..."

"Ya. Kamu bodoh! Kamu tidak pernah membuka hati. Padahal, kamu bisa jatuh cinta kapan saja, di mana saja. Tidak terbatas dimensi ruang dan waktu."

"^...^"

"Ya. Kamu bodoh! Padahal kamu bisa mencegahnya pergi. Mengutarakan semua dan menawarkan pada dia hal yang lebih berarti."

"(^...^)"

"Ya. Kamu bodoh! Karena kamu memilih untuk berpura-pura mengerti dan tidak terluka."

Akhirnya, kesabaran saya habis juga. Saya cemplungkan saja dia ke kolam spirtus dan melemparkan sisa puntung rokok saya yang masih membara.

"Byaaarrrr."

Setelah memastikan tubuhnya hangus terbakar dan menjadi abu, saya pulang. Tapi justru di dalam kamar kata-katanya tadi kembali terngiang dan mulai saya pikirkan. Ah, saya sungguh bodoh! Padahal saya bisa mencegahnya pergi. Mengutarakan semua dan menawarkan pada dia hal yang lebih berarti.

"Memangnya, apa yang hendak kamu tawarkan pada dia?" tanya teman saya nomor dua, yang tiba-tiba muncul dari kolong kasur. "Kamu hanya seorang biasa, baik tingkah mau pun rupa. Kamu hanya seorang miskin yang sombong. Kamu memang lelaki baik-baik, tapi kamu tidak gentle. Kamu butuh waktu dua tahun untuk sekedar tahu nama lengkap perempuan itu dan membutuhkan setahun lagi untuk tahu kapan ulang tahunnya. Kamu membutuhkan waktu lama untuk tahu apa yang dia suka dan tidak. Bahkan sampai saat ini, yang kamu tahu hanyalah bagaimana membuat dia marah."

Pada teman yang satu ini, saya hanya bisa menunduk, membenarkan kata-katanya. "Kamu benar," desah saya. "Tapi..."

Teman nomor dua ini tiba-tiba menampar saya dengan keras. Plakk!

"Tapi apa???!!" bentaknya.

"Tapi..."

Sekali lagi beliau menampar saya. Bahkan dengan bonus tiga buah tendangan. "Tapi apa??? Cepat jawab, waktu saya tidak banyak!"

Saya menengadah dan memberanikan diri menatapnya. "Tapi... saya... cinta dia."

Akibat jawaban itu, saya menerima siksaan bertubi-tubi. Tendangan, jotosan, pitingan tak terhitung jumlahnya tanpa saya berani membalas. Hidung saya mimisan, kepala benjol, airmata berlinang, lidah saya kelu dan seluruh badan pegel linu.

"Jangan...!! Jangan sekali-kali kamu mengatakan kata itu!! Kamu... sungguh belum pantas!" kata beliau geram. Lalu beliau berbalik dan pergi, meninggalkan saya babak belur sendiri. Namun, beberapa detik kemudian teman saya nomor dua itu kembali dan berdiri di dekat pintu.

Katanya pelan, "Cinta itu bukan milik arjuna atau cleopatra. Tapi milik ayah-ibu atau kakek-nenek kita. Saat rambut mulai memutih, dan berjalan mulai tertatih, barulah cinta sudah lulus teruji. Dan yang dipertengkarkan hanyalah... siapa yang lebih mencintai siapa."

Kali ini, beliau pergi dan benar-benar tidak pernah kembali. Ah, teman saya yang satu itu, selalu saja membuat saya tenggelam dalam ketidakmengertian.





(suatu ketika di kosan, saat mengantri mandi)
(untuk teman-teman saya yang sudah dan berencana menikah)