Minggu, 22 Februari 2009

Monyet Berbulu Domba




“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Si anak berlari ke arah dapur. “Bi, katanya sedang menghangatkan bulan?”

“Iya. Mau kamu cicipi?” si Bibi menyodorkan sepotong kue tiong chiu pia.

Si anak langsung melahapnya. “MMmm… enak sekali, Bi. Dibuat dari apa ini?”

“Bahan utamanya cinta, Nak,” Bibi menjawab seakan beliau seorang penyair. “Dicampur sesendok teh rindu dan secukupnya cemburu. Dibuatnya harus tanggal tua saat menanti turunnya gaji dan kekasih yang tak kunjung kembali.”

“Cinta itu apa, Bi?” si Anak terus bertanya.

“Tanya kakakmu. Dia tentu sudah tahu.”

Anak itu pun berlari ke kamar kakaknya. “Kak, apa itu cinta?”

Sang kakak malah balik bertanya, ”Kenapa tanya Kakak?”

“Kata Bibi, Kakak lebih tahu tentang cinta daripada dia.”

“Tapi kakak cuma tahu cinta monyet. Dan monyet tentu lebih tahu itu daripada Kakak. Tutup pintunya! Kakak sedang patah hati!” sang Kakak berteriak dengan galak.

Kemudian, si anak pun pergi menuju Kebun Binatang dan mencari sekumpulan monyet di sana. “Ada diantara kalian yang tahu apa itu cinta?” tanyanya pada mereka.

Seekor monyet paling besar mengangkat tangan. “Cinta itu persis sama dengan yang didefinisikan oleh Wikipedia, yaitu sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain.”

Si anak mangut-mangut, seakan ia sudah mengerti saja. “Lalu, apa itu patah hati? Adakah hubungan antara keduanya?”

“Tentu, Nak,” kali ini monyet berbulu domba yang menjawab. “Patah hati adalah perasaan kecewa karena si objek lain tersebut hanya pasif saja, tidak balas melakukan aksi/kegiatan aktif.”

Merasa telah dibekali pengetahuan yang cukup, si anak itu pun pamit untuk pulang. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.





Bandung, 23 Feb 09
Kantor, pagi hari...



Monyet Berbulu Domba




“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Si anak berlari ke arah dapur. “Bi, katanya sedang menghangatkan bulan?”

“Iya. Mau kamu cicipi?” si Bibi menyodorkan sepotong kue tiong chiu pia.

Si anak langsung melahapnya. “MMmm… enak sekali, Bi. Dibuat dari apa ini?”

“Bahan utamanya cinta, Nak,” Bibi menjawab seakan beliau seorang penyair. “Dicampur sesendok teh rindu dan secukupnya cemburu. Dibuatnya harus tanggal tua saat menanti turunnya gaji dan kekasih yang tak kunjung kembali.”

“Cinta itu apa, Bi?” si Anak terus bertanya.

“Tanya kakakmu. Dia tentu sudah tahu.”

Anak itu pun berlari ke kamar kakaknya. “Kak, apa itu cinta?”

Sang kakak malah balik bertanya, ”Kenapa tanya Kakak?”

“Kata Bibi, Kakak lebih tahu tentang cinta daripada dia.”

“Tapi kakak cuma tahu cinta monyet. Dan monyet tentu lebih tahu itu daripada Kakak. Tutup pintunya! Kakak sedang patah hati!” sang Kakak berteriak dengan galak.

Kemudian, si anak pun pergi menuju Kebun Binatang dan mencari sekumpulan monyet di sana. “Ada diantara kalian yang tahu apa itu cinta?” tanyanya pada mereka.

Seekor monyet paling besar mengangkat tangan. “Cinta itu persis sama dengan yang didefinisikan oleh Wikipedia, yaitu sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain.”

Si anak mangut-mangut, seakan ia sudah mengerti saja. “Lalu, apa itu patah hati? Adakah hubungan antara keduanya?”

“Tentu, Nak,” kali ini monyet berbulu domba yang menjawab. “Patah hati adalah perasaan kecewa karena si objek lain tersebut hanya pasif saja, tidak balas melakukan aksi/kegiatan aktif.”

Merasa telah dibekali pengetahuan yang cukup, si anak itu pun pamit untuk pulang. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.





Bandung, 23 Feb 09
Kantor, pagi hari...



Kamis, 19 Februari 2009

Einstein vs Bohr





Beberapa hari yang lalu, di tengah jam makan siang pada hari yang cerah tapi banyak awan mengancam, saya terlibat dalam sebuah pembicaraan serius dengan seorang teman kantor. Teramat serius. Pembicaraan paling serius yang pernah kami alami sejak kami saling mengenal. Teman yang saya maksud ini kebetulan adalah seorang perempuan dan junior saya di kampus dahulu. Bukan kebetulan, sebenarnya. Karena Tuhan tidak sedang bermain dadu. Begitu kata Einstein. Atau kata Bohr, si penemu model atom itu? Ah, tidak penting.

Penting, sih. Karena ini adalah filosofi hidup yang juga penting.

Tapi terlepas dari Einstein ataupun Bohr, saya cukup yakin bahwa isi pembicaraan yang saya maksud tidak kalah pentingnya. Bahkan cukup penting untuk disimak dan dihayati. Sekiranya pekerjaan sedang menumpuk pun, sudah sepatutnya kamu diam sejenak dan memperhatikan apa yang hendak saya paparkan.

Begini.

Teman saya ini, sebut saja S, sedang menyelesaikan tesis S2 mengenai sebuah cabang ilmu yang saya tidak mau repot-repot menerangkan karena saya yakin kamu pun tidak akan mengerti dan seandainya kamu mengerti pun kamu akan lanjut bertanya ke hal lain yang membuat saya tidak juga memulai ceritanya. Karena itu, amat wajar jika saya bertanya kepada beliau tentang rencana selanjutnya seusai S2.

Sebagai catatan, beliau ini adalah lulusan terbaik pada angkatannya. Jadi, cukup pintarlah. Dibandingkan saya? Hmm… bagaimana, ya… sebagaimanapun pintarnya S, saya adalah asisten dosen waktu dia kuliah.

Kembali ke pembicaraan kami berdua, S memberi jawaban yang cukup mengecewakan saya.

“Saya akan kembali menekuni pekerjaan semula karena saya merasa nyaman dan enjoy di sana.”

Saya pun dengan blak-blakan, blak nangkarak blak nangkuban, menyatakan kekecewaan. Kenapa saya kecewa? Dia pun bingung kenapa. Dan kamu pasti bingung juga.

Wajar. Ada jurang intelejensi diantara kita.

Saya kecewa. Sungguh. Begitu kata saya dengan penuh api.

Tapi saya merasa nyaman dan enjoy, Andri. Eh, Andi. Katanya. Dan setiap orang punya hak untuk itu, bukan?

Saya bilang, merasa enjoy dengan apa yang kita kerjakan adalah tahap awal untuk hidup yang baik. Level pertama untuk menjadi manusia seutuhnya dan bahagia. Begitu saya jawab. Tapi, ada tapi di sini. Bagi mereka yang diberi kesempatan lebih dibandingkan orang lain, baik itu berupa kecerdasan, keterampilan ataupun kekayaan, tahap itu harus sudah dilewati dan naik menuju tahap berikutnya.

Maksud kamu?

Begitu dia bertanya dengan mimik wajah yang tidak bisa dibilang mimik lulusan terbaik. Dia tidak mengerti. Begitu juga kamu, saya yakin. Baiklah, akan saya jelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Melakukan perubahan.

Begitu saya bilang. Singkat. Padat. Tanpa keraguan.

Kamu yang cukup cerdas, dan tidak lama lagi bergelar S2. Kamu satu-satunya yang punya cabang ilmu itu. Kamu tidak boleh kembali ke tempatmu semula, S. Kamu harus berbuat sesuatu yang bisa membawa perubahan ke arah lebih baik bagi perusahaan ini. Sungguh curang jika dengan segala kesempatan yang sudah diberikan, kamu sekedar enjoying your life.

Tidakkah kamu ingin tercatat dalam sejarah, S? Meski, hanya dalam sejarah perusahaan ini?

Dan S pun mangut-mangut. Saya yakin, dia masih juga tidak mengerti maksud saya.








Einstein vs Bohr





Beberapa hari yang lalu, di tengah jam makan siang pada hari yang cerah tapi banyak awan mengancam, saya terlibat dalam sebuah pembicaraan serius dengan seorang teman kantor. Teramat serius. Pembicaraan paling serius yang pernah kami alami sejak kami saling mengenal. Teman yang saya maksud ini kebetulan adalah seorang perempuan dan junior saya di kampus dahulu. Bukan kebetulan, sebenarnya. Karena Tuhan tidak sedang bermain dadu. Begitu kata Einstein. Atau kata Bohr, si penemu model atom itu? Ah, tidak penting.

Penting, sih. Karena ini adalah filosofi hidup yang juga penting.

Tapi terlepas dari Einstein ataupun Bohr, saya cukup yakin bahwa isi pembicaraan yang saya maksud tidak kalah pentingnya. Bahkan cukup penting untuk disimak dan dihayati. Sekiranya pekerjaan sedang menumpuk pun, sudah sepatutnya kamu diam sejenak dan memperhatikan apa yang hendak saya paparkan.

Begini.

Teman saya ini, sebut saja S, sedang menyelesaikan tesis S2 mengenai sebuah cabang ilmu yang saya tidak mau repot-repot menerangkan karena saya yakin kamu pun tidak akan mengerti dan seandainya kamu mengerti pun kamu akan lanjut bertanya ke hal lain yang membuat saya tidak juga memulai ceritanya. Karena itu, amat wajar jika saya bertanya kepada beliau tentang rencana selanjutnya seusai S2.

Sebagai catatan, beliau ini adalah lulusan terbaik pada angkatannya. Jadi, cukup pintarlah. Dibandingkan saya? Hmm… bagaimana, ya… sebagaimanapun pintarnya S, saya adalah asisten dosen waktu dia kuliah.

Kembali ke pembicaraan kami berdua, S memberi jawaban yang cukup mengecewakan saya.

“Saya akan kembali menekuni pekerjaan semula karena saya merasa nyaman dan enjoy di sana.”

Saya pun dengan blak-blakan, blak nangkarak blak nangkuban, menyatakan kekecewaan. Kenapa saya kecewa? Dia pun bingung kenapa. Dan kamu pasti bingung juga.

Wajar. Ada jurang intelejensi diantara kita.

Saya kecewa. Sungguh. Begitu kata saya dengan penuh api.

Tapi saya merasa nyaman dan enjoy, Andri. Eh, Andi. Katanya. Dan setiap orang punya hak untuk itu, bukan?

Saya bilang, merasa enjoy dengan apa yang kita kerjakan adalah tahap awal untuk hidup yang baik. Level pertama untuk menjadi manusia seutuhnya dan bahagia. Begitu saya jawab. Tapi, ada tapi di sini. Bagi mereka yang diberi kesempatan lebih dibandingkan orang lain, baik itu berupa kecerdasan, keterampilan ataupun kekayaan, tahap itu harus sudah dilewati dan naik menuju tahap berikutnya.

Maksud kamu?

Begitu dia bertanya dengan mimik wajah yang tidak bisa dibilang mimik lulusan terbaik. Dia tidak mengerti. Begitu juga kamu, saya yakin. Baiklah, akan saya jelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Melakukan perubahan.

Begitu saya bilang. Singkat. Padat. Tanpa keraguan.

Kamu yang cukup cerdas, dan tidak lama lagi bergelar S2. Kamu satu-satunya yang punya cabang ilmu itu. Kamu tidak boleh kembali ke tempatmu semula, S. Kamu harus berbuat sesuatu yang bisa membawa perubahan ke arah lebih baik bagi perusahaan ini. Sungguh curang jika dengan segala kesempatan yang sudah diberikan, kamu sekedar enjoying your life.

Tidakkah kamu ingin tercatat dalam sejarah, S? Meski, hanya dalam sejarah perusahaan ini?

Dan S pun mangut-mangut. Saya yakin, dia masih juga tidak mengerti maksud saya.








Minggu, 15 Februari 2009

14 Februari 2009




Buitenzorg,
Lewat Dini Hari

Aisa,
Ada yang membuat Bapak tidak bisa tidur malam ini. Di luar sana, temperatur udara mendekati titik terendahnya. Juga gulita. Bulan sama sekali tidak terlihat, padahal ini malam purnama. Awan telah menelannya bulat-bulat, seperti yang dilakukannya pada matahari akhir-akhir ini. Satu-satunya sumber cahaya adalah mata ibumu di kejauhan. Dan itu pun mulai meredup secara perlahan.

Aisa Sayang,
Tahukah kamu bahwa mereka menyebut kota ini dengan sebutan Kota Hujan? Anak pintar seperti kamu tentu dapat dengan mudah menebak kenapa dinamakan demikian. Benar, Aisa. Itu disebabkan tidak ada, atau belum ada, hal yang bisa dibanggakan darinya. London tidak pernah disebut Kota Hujan meski hujan bisa turun setiap saat dan setiap musim di sana.

Belum, Aisa. Bapak belum sempat ke London. Tepatnya, belum ada ongkos.




Dan hujan turun merintik pada pukul 3 malam di Buitenzorg. Titip peluk cium untuk ibumu. Malam ini usianya bertambah satu.



The secret of staying young is to live honestly, eat slowly, and lie about your age.
[Lucille Ball
]





14 Februari 2009




Buitenzorg,
Lewat Dini Hari

Aisa,
Ada yang membuat Bapak tidak bisa tidur malam ini. Di luar sana, temperatur udara mendekati titik terendahnya. Juga gulita. Bulan sama sekali tidak terlihat, padahal ini malam purnama. Awan telah menelannya bulat-bulat, seperti yang dilakukannya pada matahari akhir-akhir ini. Satu-satunya sumber cahaya adalah mata ibumu di kejauhan. Dan itu pun mulai meredup secara perlahan.

Aisa Sayang,
Tahukah kamu bahwa mereka menyebut kota ini dengan sebutan Kota Hujan? Anak pintar seperti kamu tentu dapat dengan mudah menebak kenapa dinamakan demikian. Benar, Aisa. Itu disebabkan tidak ada, atau belum ada, hal yang bisa dibanggakan darinya. London tidak pernah disebut Kota Hujan meski hujan bisa turun setiap saat dan setiap musim di sana.

Belum, Aisa. Bapak belum sempat ke London. Tepatnya, belum ada ongkos.




Dan hujan turun merintik pada pukul 3 malam di Buitenzorg. Titip peluk cium untuk ibumu. Malam ini usianya bertambah satu.



The secret of staying young is to live honestly, eat slowly, and lie about your age.
[Lucille Ball
]





Selasa, 10 Februari 2009

Kampung Trip I

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Dan tidak seperti waktu di masa sekolah, bukan sekedar kehadiran yang dibutuhkan. Tapi lebih dari itu. Di acara talkshow tersebut, saya diberi peran sebagai pembicara. Sebenarnya, istilah “acara talkshow” itu keliru. Atau salah. Cukup “talkshow”, tidak perlu ditambah dengan embel-embel kata “acara”. Tapi, di jaman begini, orang banyak tidak peduli.

Saya pun tidak sekedar berbicara. Kadang-kadang, tertawa. Sesekali, menganggukkan kepala.

Bersama seorang penulis wanita beranak satu, kami bercerita di depan puluhan anak SMP tentang bagaimana menulis. Diantara mereka ada yang mirip Agnes Monica dan Chintami Atmanegara. Tentu, Agnes dan Chintami sewaktu mereka masih remaja.

“Menulis itu sangat susah, Ade-ade. Apalagi menulis kaligrafi Arab dan huruf Cina.”

Garut adalah salah satu kampung halaman saya. Tempat saya dititipkan sewaktu kecil. Setiap liburan sekolah. Tempat saya pulang berlebaran. Di sana, ibu saya dilahirkan. Di sana pula kedua orangtua saya berjumpa. Karena itu, pantaslah kiranya jika saya tahu benar bagaimana budaya penduduknya di masa lalu.

Dan sebagai penganut paham ultra-konservatif, saya sangat dikejutkan oleh foto-foto pengisi acara Gebyar Buku Murah Garut itu di hari Minggu sebelumnya: Garut Sexy Dancers.

Sungguh, saya sangat syok. Terkejut. Sampai-sampai saya mengelus dada dibuatnya.

Dada saya. Bukan dada ayam.

Garut, kampung halaman saya itu…
Kota santri itu… kini memiliki koleksi tim sexy dancer.
Dan sangat sexy.
Atau seksi.

Entah kenapa, saya merasa sedikit kecewa. Juga marah. Seperti melihat adik sendiri mempertontonkan tubuhnya di muka umum...





Kalau Bandung Sexy Dancer... Jakarta Sexy Dancer... bolehlah saya ikut menonton.