Minggu, 14 Desember 2008

Airmata, Aisa...


Teruntuk Aisa,

seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Jika ditanya kenapa, Bapak akan kesulitan menjawabnya. Kepedihan selalu datang dan pergi, atau datang dan hinggap. Entah harus memulai dari mana. Segala sebab-musabab tidaklah sesederhana kata-kata. Seperti persamaan polinomial pangkat enam saja. Siapapun akan kesulitan mencari akar-akarnya. Tapi, alasan apa pun tidaklah penting, Aisa. Bukankah airmata juga merupakan pelembut jiwa? Lalu kenapa kita harus disibukkan dengan mencari sumbernya?

Kamu tahu, Sayang. Bapak berani bertaruh bahwa kamu nyaris tidak pernah menemukan ibumu menangis. Bukan. Dia memang tangguh, tapi bukan karena itu. Ibumu adalah seorang perempuan yang sangat pandai dalam menyembunyikan kesedihannya. Teramat pandai. Dia bisa saja tersenyum dan tertawa di keramaian orang, padahal mungkin saja kesedihan tengah mengendap di dasar hatinya. Bapak saja baru satu-dua kali melihat air mata ibumu mengalir. Itu pun akibat tingkah-polah ayahmu ini.

Ya. Bapak kadang-kadang menyebalkan juga, Aisa. Maafkan.


Tapi Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.



“Perhaps our eyes need to be washed by our tears once in a while, so that we can see life with a clearer view again.”
[Alex Tan]


Airmata, Aisa...


Teruntuk Aisa,

seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Jika ditanya kenapa, Bapak akan kesulitan menjawabnya. Kepedihan selalu datang dan pergi, atau datang dan hinggap. Entah harus memulai dari mana. Segala sebab-musabab tidaklah sesederhana kata-kata. Seperti persamaan polinomial pangkat enam saja. Siapapun akan kesulitan mencari akar-akarnya. Tapi, alasan apa pun tidaklah penting, Aisa. Bukankah airmata juga merupakan pelembut jiwa? Lalu kenapa kita harus disibukkan dengan mencari sumbernya?

Kamu tahu, Sayang. Bapak berani bertaruh bahwa kamu nyaris tidak pernah menemukan ibumu menangis. Bukan. Dia memang tangguh, tapi bukan karena itu. Ibumu adalah seorang perempuan yang sangat pandai dalam menyembunyikan kesedihannya. Teramat pandai. Dia bisa saja tersenyum dan tertawa di keramaian orang, padahal mungkin saja kesedihan tengah mengendap di dasar hatinya. Bapak saja baru satu-dua kali melihat air mata ibumu mengalir. Itu pun akibat tingkah-polah ayahmu ini.

Ya. Bapak kadang-kadang menyebalkan juga, Aisa. Maafkan.


Tapi Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.



“Perhaps our eyes need to be washed by our tears once in a while, so that we can see life with a clearer view again.”
[Alex Tan]


Rabu, 10 Desember 2008


“Andi, apakah setelah menikah nanti kamu akan selingkuh?”

Tadi malam, pertanyaan tersebut diajukan kepada saya oleh seorang calon ibu yang tengah hamil tiga bulan. Bukan. Bukan saya si pelaku penghamilan, tapi suaminya sendiri, tentu saja. Saat ini si suami sedang bertugas di negeri nabi berasal. Tak perlulah kita lakukan test DNA. Buang-buang waktu dan uang berharga.

“Tidak.”

Begitulah jawaban saya. Saya menjawabnya begitu cepat. Sangat cepat. Kurang dari satu detik. Tanpa menimbang. Tanpa berpikir. Tanpa merengut, menggerakkan alis, atau mengerutkan dahi. Kuping saya tidak bergerak dan sudut mata tidak berkedut. Air muka saya tidak berubah. Refleks saja. Seperti seorang jagoan silat yang menangkis serangan tiba-tiba dari arah belakang.

”Andi bohong.”

Begitulah reaksi si penanya. Cepat juga. Seakan-akan, dia sudah menyiapkan opsinya sejak awal. Jika jawaban Ya, maka begini. Jika Tidak, maka begitu. Bagai jagoan kungfu yang bisa menangkis semua jurus musuh. Rupa-rupanya beliau memang tidak sedang bertanya. Atau sekedar iseng-iseng survey belaka.

Beliau sedang bimbang dengan apa yang coba diyakininya. Dilanda ragu. Bingung dan cemas. Khawatir. Gundah. Gulana.

Si calon ibu sudah saya kenal sejak beliau masih duduk di kelas 5 SD. Saya menyaksikan sendiri bagaimana dia tumbuh dan membesar. Tinggi dan melebar. Selama tahunan, beliau memang sudah kenyang dengan bualan saya. Bukan buaian. BUALAN. Ibarat berjalan, selalu saja dia terjatuh di lubang-lubang yang saya buat.

Kemudian kali ini dia menuduh saya berbohong.

”Laki-laki kan di mana-mana juga sama. Termasuk Andi.”

Dengan cepat saya bilang begini,

”Kamu boleh saja menuduh saya kelak akan selingkuh. Tapi, jangan sekali-kali menyamakan saya dengan laki-laki kebanyakan.”

Sejujurnya, saya sendiri tidak begitu mengerti akan apa yang saya bilang di atas. Sungguh. Karena lagi-lagi, yang berperan dalam menjawabnya adalah sensor saraf sumsum tulang belakang. Refleks belaka. Apakah artinya,

Saya memang pembohong, tapi saya tidak akan pernah berselingkuh.

Atau,

Selingkuh saya berbeda dengan selingkuh laki-laki lain.

Sungguh. Saya tidak tahu mana yang benar. Mungkin sama saja. Mungkin beda. Ah, tidaklah patut saya berpusing-pusing dalam masalah ini. Lain kali saja saya pikirkan lebih jauh.

Yang genting saat ini adalah bahwa si ibu hamil muda sedang butuh sokongan moral dari saya. Mungkin dalam pikirannya, jika seorang Andi saja tidak selingkuh, maka dengan sendirinya, sang suami yang baik hati itu tentu akan setia. Dan beliau dapat menunggu suami pulang dengan hati yang tenang.

*sigh

Tak apa-apa. Biarlah kali ini saya dijadikan sebuah patokan. Sebuah standard. Barometer di mana saya berada pada nilai minimal. Maka dengan penuh kesabaran, dedikasi dan hati yang tulus, saya katakan padanya bahwa,

”Saya seorang yang setia. Takkan berselingkuh ria.”

”Apa buktinya?”

”Selama lebih dari 13 tahun, saya masih setia berteman dengan kakakmu, bukan?”

”Apa hubungannya?”

”Sama lelaki saja saya setia, apalagi dengan seorang perempuan cantik, seksi, solehah, dan pandai yang kelak saya nikahi?”



Dan si ibu hamil yang sudah bukan gadis itu pun kini merasa lebih mantap dalam menunggu sang suami pulang.




Jangan lupa oleh-oleh bagian untuk saya, ya.

Onta.



“Only the person who has faith in himself is able to be faithful to others.”
[Erich Formm]






“Andi, apakah setelah menikah nanti kamu akan selingkuh?”

Tadi malam, pertanyaan tersebut diajukan kepada saya oleh seorang calon ibu yang tengah hamil tiga bulan. Bukan. Bukan saya si pelaku penghamilan, tapi suaminya sendiri, tentu saja. Saat ini si suami sedang bertugas di negeri nabi berasal. Tak perlulah kita lakukan test DNA. Buang-buang waktu dan uang berharga.

“Tidak.”

Begitulah jawaban saya. Saya menjawabnya begitu cepat. Sangat cepat. Kurang dari satu detik. Tanpa menimbang. Tanpa berpikir. Tanpa merengut, menggerakkan alis, atau mengerutkan dahi. Kuping saya tidak bergerak dan sudut mata tidak berkedut. Air muka saya tidak berubah. Refleks saja. Seperti seorang jagoan silat yang menangkis serangan tiba-tiba dari arah belakang.

”Andi bohong.”

Begitulah reaksi si penanya. Cepat juga. Seakan-akan, dia sudah menyiapkan opsinya sejak awal. Jika jawaban Ya, maka begini. Jika Tidak, maka begitu. Bagai jagoan kungfu yang bisa menangkis semua jurus musuh. Rupa-rupanya beliau memang tidak sedang bertanya. Atau sekedar iseng-iseng survey belaka.

Beliau sedang bimbang dengan apa yang coba diyakininya. Dilanda ragu. Bingung dan cemas. Khawatir. Gundah. Gulana.

Si calon ibu sudah saya kenal sejak beliau masih duduk di kelas 5 SD. Saya menyaksikan sendiri bagaimana dia tumbuh dan membesar. Tinggi dan melebar. Selama tahunan, beliau memang sudah kenyang dengan bualan saya. Bukan buaian. BUALAN. Ibarat berjalan, selalu saja dia terjatuh di lubang-lubang yang saya buat.

Kemudian kali ini dia menuduh saya berbohong.

”Laki-laki kan di mana-mana juga sama. Termasuk Andi.”

Dengan cepat saya bilang begini,

”Kamu boleh saja menuduh saya kelak akan selingkuh. Tapi, jangan sekali-kali menyamakan saya dengan laki-laki kebanyakan.”

Sejujurnya, saya sendiri tidak begitu mengerti akan apa yang saya bilang di atas. Sungguh. Karena lagi-lagi, yang berperan dalam menjawabnya adalah sensor saraf sumsum tulang belakang. Refleks belaka. Apakah artinya,

Saya memang pembohong, tapi saya tidak akan pernah berselingkuh.

Atau,

Selingkuh saya berbeda dengan selingkuh laki-laki lain.

Sungguh. Saya tidak tahu mana yang benar. Mungkin sama saja. Mungkin beda. Ah, tidaklah patut saya berpusing-pusing dalam masalah ini. Lain kali saja saya pikirkan lebih jauh.

Yang genting saat ini adalah bahwa si ibu hamil muda sedang butuh sokongan moral dari saya. Mungkin dalam pikirannya, jika seorang Andi saja tidak selingkuh, maka dengan sendirinya, sang suami yang baik hati itu tentu akan setia. Dan beliau dapat menunggu suami pulang dengan hati yang tenang.

*sigh

Tak apa-apa. Biarlah kali ini saya dijadikan sebuah patokan. Sebuah standard. Barometer di mana saya berada pada nilai minimal. Maka dengan penuh kesabaran, dedikasi dan hati yang tulus, saya katakan padanya bahwa,

”Saya seorang yang setia. Takkan berselingkuh ria.”

”Apa buktinya?”

”Selama lebih dari 13 tahun, saya masih setia berteman dengan kakakmu, bukan?”

”Apa hubungannya?”

”Sama lelaki saja saya setia, apalagi dengan seorang perempuan cantik, seksi, solehah, dan pandai yang kelak saya nikahi?”



Dan si ibu hamil yang sudah bukan gadis itu pun kini merasa lebih mantap dalam menunggu sang suami pulang.




Jangan lupa oleh-oleh bagian untuk saya, ya.

Onta.



“Only the person who has faith in himself is able to be faithful to others.”
[Erich Formm]





Selasa, 09 Desember 2008

Jumpalitan


Teruntuk Litan,

seorang perempuan
yang padanya ingin kutitipkan
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

Hanya untuk Litan,
seorang perempuan di mana
setiap bait kata yang diucapkannya,
setiap lirik lagu yang disukainya,
setiap syair puisi yang mengendap di hatinya,
telah membuat lelaki ini
selalu menyebutkan namanya
setiap kali ia berdoa

yang jarang itu
yang sekedarnya itu
yang kadang-kadang itu

Litan,
tahukah kamu
lelaki ini
punya seribu pertanyaan
melayang berterbangan
di kepalanya
memiliki sejuta harapan
mengendap hinggap
di dadanya
semilyar mimpi
menyelam dalam
di hatinya

tentang kamu
jika kamu ingin tahu

namun sayang,
ia bukan siapa-siapa
tidak dimilikinya talenta
seperti para penyair itu
tidak dipunyainya motor besar
seperti pembalap itu
dan jangan ditanya
ia bisa menyanyi atau tidak

dirinya hanyalah seorang lelaki
yang bertekad menjaganya baik-baik
dan memeliharanya sungguh-sungguh
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

yang kamu titipkan
jika lelaki ini diberi kesempatan




Mereka yang mengenal saya sungguh tahu bahwa saya adalah seorang lelaki pejuang. Itu tidak diragukan lagi. Jika menginginkan sesuatu, saya akan mengejarnya. Tak peduli berapa lama waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang harus keluar.

Hutan golok, laut pedang. Saya tidak peduli. Hajar!

Namun, kali ini sungguh berbeda.

Ada misi yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Begitu banyak yang menaruh harapan pada lelaki sombong ini. Ada tanggungjawab yang harus diembannya. Saya, tidak lagi hidup hanya demi seseorang.

Para pujangga selalu berkata: jika cinta, kejar. Buktikan.
Tapi sahut pendekar: bukan laki-laki sejati mereka yang mengkhianati harapan.

*sigh

Mungkin dengan begini, saya akan betul-betul kehilangan. Dan harapan yang semula kecil itu, terhapus benar-benar. Dan saya tak punya kesempatan lagi mendapatkan porsi hati kamu yang paling besar. Lalu mereka akan mencibir: kalau saja kamu berangkat ke sana…

Jika kamu ingin pergi, saya tidak kuasa menahan.
Takkan saya merengek lagi.
Biar saya pelototi inbox kosong itu sampai bosan.
Kamu, saya bebaskan.



Sampai Jumpalitan…







Jumpalitan


Teruntuk Litan,

seorang perempuan
yang padanya ingin kutitipkan
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

Hanya untuk Litan,
seorang perempuan di mana
setiap bait kata yang diucapkannya,
setiap lirik lagu yang disukainya,
setiap syair puisi yang mengendap di hatinya,
telah membuat lelaki ini
selalu menyebutkan namanya
setiap kali ia berdoa

yang jarang itu
yang sekedarnya itu
yang kadang-kadang itu

Litan,
tahukah kamu
lelaki ini
punya seribu pertanyaan
melayang berterbangan
di kepalanya
memiliki sejuta harapan
mengendap hinggap
di dadanya
semilyar mimpi
menyelam dalam
di hatinya

tentang kamu
jika kamu ingin tahu

namun sayang,
ia bukan siapa-siapa
tidak dimilikinya talenta
seperti para penyair itu
tidak dipunyainya motor besar
seperti pembalap itu
dan jangan ditanya
ia bisa menyanyi atau tidak

dirinya hanyalah seorang lelaki
yang bertekad menjaganya baik-baik
dan memeliharanya sungguh-sungguh
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

yang kamu titipkan
jika lelaki ini diberi kesempatan




Mereka yang mengenal saya sungguh tahu bahwa saya adalah seorang lelaki pejuang. Itu tidak diragukan lagi. Jika menginginkan sesuatu, saya akan mengejarnya. Tak peduli berapa lama waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang harus keluar.

Hutan golok, laut pedang. Saya tidak peduli. Hajar!

Namun, kali ini sungguh berbeda.

Ada misi yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Begitu banyak yang menaruh harapan pada lelaki sombong ini. Ada tanggungjawab yang harus diembannya. Saya, tidak lagi hidup hanya demi seseorang.

Para pujangga selalu berkata: jika cinta, kejar. Buktikan.
Tapi sahut pendekar: bukan laki-laki sejati mereka yang mengkhianati harapan.

*sigh

Mungkin dengan begini, saya akan betul-betul kehilangan. Dan harapan yang semula kecil itu, terhapus benar-benar. Dan saya tak punya kesempatan lagi mendapatkan porsi hati kamu yang paling besar. Lalu mereka akan mencibir: kalau saja kamu berangkat ke sana…

Jika kamu ingin pergi, saya tidak kuasa menahan.
Takkan saya merengek lagi.
Biar saya pelototi inbox kosong itu sampai bosan.
Kamu, saya bebaskan.



Sampai Jumpalitan…







Sabtu, 06 Desember 2008

Masturbasi Emosional dan Spiritual


Istilah ini saya pinjam dari seorang teman kantor ketika kami membicarakan betapa maraknya berbagai training motivasi. Tujuan setiap program adalah sama, meningkatkan motivasi para peserta agar mereka dapat lebih bersemangat, baik dalam konteks bekerja, menjalankan kehidupan sampai mengejar kekayaan. Juga meningkatkan keimanan.

Saya sendiri bukan tidak pernah mengikuti berbagai training seperti itu. Di tahun-tahun pertama kuliah, entah berapa banyak jenis training motivasi yang pernah saya ikuti. Termasuk doa-doa bersama yang mencucurkan air mata. Setiap kali lulus dari program tersebut, saya serasa lahir kembali dengan jiwa baru. Merasa lebih bersih dan bersemangat.

Begitu juga ketika saya menonton film atau membaca novel dengan cerita yang demikian menggugah. Hati saya tersentuh, tidak jarang sampai menangis. Pengaruhnya begitu luar biasa sehingga ketika usai menontonnya atau menutup halaman terakhir, saya bertekad untuk mencontoh nilai-nilai yang terkandung di sana, mengidolakan para tokohnya dan mengikuti jalan hidup mereka.

Yang menjadi masalah adalah… berapa lama hal itu bisa bertahan?

Kalau sekedar pemuasan batin dan pengkayaan informasi di kepala, tanpa diikuti tindakan yang nyata secara berkesinambungan, istilah maturbasi emosional dan masturbasi spiritual menjadi sangat cocok, bukan?





Tuhan,
Saya tidak mau lagi.








Kampung Cilutung
Garut
seusai membaca Into the Wild
yang ke dua kalinya




“How can you be in hell, when you are in my heart?”
[Balian of Ibelin, Kingdom of Heaven]