Rabu, 13 Agustus 2008

Gundul Pacul

Akhirnya...
Setelah berjibaku dengan "the man on the mirror", si gua, saya, a.k.a Andi Eriawan, memutuskan untuk... MENGGUNDULI KEPALA.

Tiga tahun dalam masa gondrong, memaksa saya untuk keramas hampir tiap hari. Padahal, pada dasarnya, saya adalah orang yang... jarang mandi. Ini bukan saya, saya pikir. Pantas saja saya merasa ada yang keliru. Meski, tentu saja, rambut saya bebas dari kutu.

Jadilah, seminggu kemarin saya digunduli.

Mutilasi rambut dimulai dengan penuh khidmad, pada mulanya. Diawali tekad baja dari rumah, hati saya tiba-tiba gentar sewaktu memasuki sebuah barbershop di kawasan dekat Taman Lalu Lintas, Bandung. Bagaimana tidak?! Sewaktu kaki melangkah masuk, saya tidak hanya disambut hembusan pendingin ruangan, tapi sapaan seorang makhluk manis bernama perempuan. Untuk sesaat saya hanya berdiri mematung, mungkinkah saya salah masuk salon?

Setelah melihat beberapa pelanggan lelaki mengantri, akhirnya saya sadar bahwa barbershop tersebut memang diperuntukkan khusus lelaki, tapi si tukang cukur adalah seorang cewek manis. Sendiri. Aih, malu untuk mengakui. Dalam hati, saya tidak jadi digunduli. Karena itu, sambil menunggu giliran, saya buka beberapa majalah.

Gaya rambut F4, Kangen Band atau Duran-Duran, ya?










Satu jam berlalu. Saat nyaris kesabaran habis, akhirnya tiba juga giliran saya. Saya berdiri dengan gagah. Dalam hati, gaya rambut Tony Leung dalam Infernal Affair menjadi pilihan pertama.

Kaki saya melangkah menuju kursi dengan dada berdebar, seperti terpidana mati menuju tempat duduk yang bisa disetrum. Satu, dua. Lalu tiba-tiba pintu barbershop terbuka dan seorang laki-laki masuk.

"Papa, lama sekali, sih."
"Tadi macet, Ma."

Lelaki itu beralih pada saya, mempersilakan duduk. "Mau dipotong gimana, Mas?"

Dipotong leher kambing!

"Gundul," jawab saya mantap.










“Just cause you wear sunglasses don’t mean you’re blind, ese…”

Gundul Pacul

Akhirnya...
Setelah berjibaku dengan "the man on the mirror", si gua, saya, a.k.a Andi Eriawan, memutuskan untuk... MENGGUNDULI KEPALA.

Tiga tahun dalam masa gondrong, memaksa saya untuk keramas hampir tiap hari. Padahal, pada dasarnya, saya adalah orang yang... jarang mandi. Ini bukan saya, saya pikir. Pantas saja saya merasa ada yang keliru. Meski, tentu saja, rambut saya bebas dari kutu.

Jadilah, seminggu kemarin saya digunduli.

Mutilasi rambut dimulai dengan penuh khidmad, pada mulanya. Diawali tekad baja dari rumah, hati saya tiba-tiba gentar sewaktu memasuki sebuah barbershop di kawasan dekat Taman Lalu Lintas, Bandung. Bagaimana tidak?! Sewaktu kaki melangkah masuk, saya tidak hanya disambut hembusan pendingin ruangan, tapi sapaan seorang makhluk manis bernama perempuan. Untuk sesaat saya hanya berdiri mematung, mungkinkah saya salah masuk salon?

Setelah melihat beberapa pelanggan lelaki mengantri, akhirnya saya sadar bahwa barbershop tersebut memang diperuntukkan khusus lelaki, tapi si tukang cukur adalah seorang cewek manis. Sendiri. Aih, malu untuk mengakui. Dalam hati, saya tidak jadi digunduli. Karena itu, sambil menunggu giliran, saya buka beberapa majalah.

Gaya rambut F4, Kangen Band atau Duran-Duran, ya?










Satu jam berlalu. Saat nyaris kesabaran habis, akhirnya tiba juga giliran saya. Saya berdiri dengan gagah. Dalam hati, gaya rambut Tony Leung dalam Infernal Affair menjadi pilihan pertama.

Kaki saya melangkah menuju kursi dengan dada berdebar, seperti terpidana mati menuju tempat duduk yang bisa disetrum. Satu, dua. Lalu tiba-tiba pintu barbershop terbuka dan seorang laki-laki masuk.

"Papa, lama sekali, sih."
"Tadi macet, Ma."

Lelaki itu beralih pada saya, mempersilakan duduk. "Mau dipotong gimana, Mas?"

Dipotong leher kambing!

"Gundul," jawab saya mantap.










“Just cause you wear sunglasses don’t mean you’re blind, ese…”

Sabtu, 26 Juli 2008

“I mean, you’re sittin’ on a winning lottery ticket. You’re too much of a pussy to cash it in.”
Good Will Hunting

Beberapa bulan terakhir ini adalah masa-masa yang amat melelahkan bagi saya. Selain perut yang semakin tebal dan dompet yang kian menipis, waktu tak ada dan uang tak punya, rasa bahagia pun menjadi hal yang semakin langka. Tujuan menjadi tidak jelas, dan langkah kaki entah hendak ke mana.

Baru sekali terjadi dalam hidup ini, ingin rasanya menyerah saja.

Dibesarkan oleh dua pedagang yang merintis usaha mereka sejak nol besar, rasanya hidup ini selalu dipenuhi dengan semangat perjuangan tanpa kenal lelah. Jatuh-bangun, dalam bentuk apa pun, selalu siap untuk dihadapi. Setidaknya, begitulah yang selama ini selalu saya percaya.

Lalu semua terbuyarkan. Perlahan pada awalnya, lalu tiba-tiba mengalami akselerasi yang sangat tinggi. Seperti... tiba-tiba menemukan kesalahan yang sangat mendasar pada tatanan hidup yang selama ini coba dibangun. Keyakinan luluh-lantah.... keyakinan pada diri sendiri.

Sementara, jika saya tidak sombong, apalagi yang saya punya, bukan?

Semuanya berawal ketika saya mencoba untuk lupa; menghapus ingatan akan sebuah nama dan sebentuk senyuman. Juga gerak-gerik dan gelak tawa. Langkah kaki, postur tubuh serta kedip mata. Tentu saja, termasuk suaranya. Dan tidak ketinggalan hangatnya kopi, semangkuk mie dan agar-agar yang pernah dibuatnya.

Terasa berlebihan, memang. Tapi bagaimana lagi. Ada hal-hal yang berkaitan satu dan lainnya.
“I mean, you’re sittin’ on a winning lottery ticket. You’re too much of a pussy to cash it in.”
Good Will Hunting

Beberapa bulan terakhir ini adalah masa-masa yang amat melelahkan bagi saya. Selain perut yang semakin tebal dan dompet yang kian menipis, waktu tak ada dan uang tak punya, rasa bahagia pun menjadi hal yang semakin langka. Tujuan menjadi tidak jelas, dan langkah kaki entah hendak ke mana.

Baru sekali terjadi dalam hidup ini, ingin rasanya menyerah saja.

Dibesarkan oleh dua pedagang yang merintis usaha mereka sejak nol besar, rasanya hidup ini selalu dipenuhi dengan semangat perjuangan tanpa kenal lelah. Jatuh-bangun, dalam bentuk apa pun, selalu siap untuk dihadapi. Setidaknya, begitulah yang selama ini selalu saya percaya.

Lalu semua terbuyarkan. Perlahan pada awalnya, lalu tiba-tiba mengalami akselerasi yang sangat tinggi. Seperti... tiba-tiba menemukan kesalahan yang sangat mendasar pada tatanan hidup yang selama ini coba dibangun. Keyakinan luluh-lantah.... keyakinan pada diri sendiri.

Sementara, jika saya tidak sombong, apalagi yang saya punya, bukan?

Semuanya berawal ketika saya mencoba untuk lupa; menghapus ingatan akan sebuah nama dan sebentuk senyuman. Juga gerak-gerik dan gelak tawa. Langkah kaki, postur tubuh serta kedip mata. Tentu saja, termasuk suaranya. Dan tidak ketinggalan hangatnya kopi, semangkuk mie dan agar-agar yang pernah dibuatnya.

Terasa berlebihan, memang. Tapi bagaimana lagi. Ada hal-hal yang berkaitan satu dan lainnya.

Minggu, 27 April 2008

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Alexander The Great yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin.

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Tadinya aku hendak menambahkan bahwa aku juga menyesal telah mentraktirnya menonton film barusan, tapi tidak tega setelah melihat air mata menetesi pipinya. Oh, bukan. Ternyata itu air hujan. Lalu aku duduk dengan kesal sambil bertopang dagu. Dari kemeja hingga kaos kakiku basah kuyup. Dalam sepuluh menit lagi dapat dipastikan aku akan masuk angin. Dan dalam empatpuluh menit ke depan aku sudah tidak sadarkan diri.

”Andi,” dia menyebut namaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Sekali lagi dia memanggilku, tapi aku tetap bergeming. Mungkin karena merasa pegal terus berdiri, perempuan itu duduk di sampingku dan kurasakan bahu kami merapat. Tak ada yang bicara untuk beberapa lama. Sesekali cahaya lampu kendaraan menyoroti halte yang hanya menyisakan kami berdua.

”Kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” akhirnya kudengar juga suaranya.

Aku hanya menggeleng. Sudah lima menit berlalu dan dia belum juga minta maaf.

”Empat puluh hari yang lalu di resepsi pernikahan Zoel,” lanjutnya tanpa mempedulikan sikapku yang masih tidak ramah. ”Waktu itu rambut kamu lebih panjang, tapi aku masih ingat sepatu yang kamu pakai sama dengan hari ini. Aku yang sedang duduk di pojokan gedung sambil menikmati semangkuk eskrim, melihat sepasang sepatu jelek itu mendekat. Lalu pemiliknya duduk begitu saja di samping aku tanpa menyapa atau permisi. Aku segera menoleh. Ternyata dia hanya seorang cowok dengan kemeja batik yang ukuran, motif dan warnanya sama sekali ngga cocok dipakai.”

Memang. Batik itu milik ayahku sebelum beliau pensiun. Batik KORPRI. Berwarna biru tua dengan motif sayap yang dilengkapi berbagai ornamennya. Sama sekali tidak cocok untuk resepsi pernikahan. Waktu itu aku tidak sadar bahwa aku lebih terlihat tolol daripada retro. Diingatkan demikian, mau tidak mau rasa kesalku sedikit berkurang.

”Kamu tahu,” katanya lagi sambil menggandeng lenganku, ”sebenarnya aku berharap cowok itu mengajak aku berkenalan, atau pura-pura bertanya di mana stand eskrim berada, atau sekedar basa-basi tentang cerahnya cuaca. Tapi, ngga begitu. Ngga sama sekali. Rupanya dia lebih tertarik menghabiskan enam potong kambing guling, dua mangkuk zuppa-zuppa, sepiring besar kentang goreng, plus sepuluh tusuk sate ayam daripada berkenalan dengan gadis cantik yang duduk manis sendirian di sebelahnya.”

”Bohong,” kilahku. Tanpa sadar aku bersuara juga. Bagaimana lagi, hal yang barusan dia bilang itu bohong. Memang benar bahwa dia cantik. Kuakui itu. Cantik sekali, malah. Bahkan ketika dia mengaku-aku dirinya cantik pun aku tidak sanggup memberi sanggahan apa-apa.

Dan benar juga bahwa aku lebih tertarik untuk makan daripada berkenalan dengannya, atau menjalin percakapan basa-basi, atau sekedar mengingatkannya tentang musim hujan yang akan tiba tidak lama lagi. Tidak. Di seluas pandanganku waktu itu terhidang daging kambing muda yang empuk, sate ayam tanpa lemak, kentang goreng dengan saus terbaik dan zuppa-zuppa yang bisa melelehkan lidah. Dia lupa menyebutkan coto makasar dan sop konro yang juga tidak kalah istimewa. Benar-benar hidangan terbaik dari semua hidangan resepsi pernikahan yang pernah aku kunjungi.

Maka, tidak logis jika aku mau menukarkan itu semua hanya demi mendapatkan nama seorang perempuan, secantik apapun dia. Terlebih lagi aku sudah merogoh empatpuluh ribu rupiah sebagai angpao untuk Zoel dan pengantinnya. Mulanya hendak kuberi limapuluh ribu, tapi aku butuh tambahan sepuluh ribu untuk sebungkus rokok.

”Andi, aku bohong apa?” tanya perempuan itu dengan manja. Nafasnya terasa hangat dan gandengan tangannya semakin erat.

Huh! Dia berbohong jika mengaku duduk sendiri waktu itu. Ada seorang lelaki berjas di sampingnya. Si jahanam itu sesekali mengelus rambutnya, memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia. Suara canda dan tawanya benar-benar mengganggu telinga. Yang menyakitkan, kusadari bahwa akulah yang sedang mereka jadikan bahan guyonan.

”Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” perempuan itu melanjutkan lagi ceritanya. Kali ini bahuku telah menjadi sandaran kepalanya. ”Cowok bersepatu jelek dan berbatik aneh itu tiba-tiba berdiri dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelasnya ke arahku. Kontan, atasan gaun putih yang aku pakai berubah warna menjadi keunguan.”

Aku terkekeh. Sebenarnya, sasaranku lelaki berjas itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Siapa yang tidak kesal jika ada dua orang asing yang membicarakan kita selama empatpuluh menit lebih sambil berbisik-bisik diiringi suara tawa tercekik.

”Dengan gugup, cowok itu meminta maaf dan menunjukkan penyesalan yang dalam. Aku dimintanya duduk saja, sementara dia berlari mencari kain lap atau kertas tisyu. Aku menunggu dan menunggu, tapi batik aneh itu ngga juga muncul. Entah berapa lama, sampai akhirnya aku sadar bahwa tinggal aku satu-satunya tamu di sana.”

Aku tertawa lepas. Tentu saja. Waktu itu aku langsung pulang, main PS sebentar, dilanjutkan tidur siang.

”Aku hampiri Zoel dan istrinya, berharap mereka kenal siapa dia. Namanya Andi, kata Zoel. Dari dia pula aku tahu alamat rumahnya.”

Cerita perempuan itu terus mengalir seiring dengan naiknya temperatur tubuhku. Mungkin saat ini sudah mencapai empatpuluh derajar celcius. Mungkin seribu. Kepalaku terasa berat dan sesekali aku bersin. Tapi aku mulai menikmati caranya menceritakan kisah kami.

”Besok paginya, sendirian aku datangi rumah Andi karena cemas kalau-kalau terjadi hal yang buruk padanya.”

Dia berbohong lagi. Dia datang bersama si jahanam itu membawa secarik kwitansi laundry. Selain marah-marah atas menghilangnya aku sehari sebelumnya, mereka berdua menuntut ganti rugi seratus ribu. Tentu saja kutolak. Aku yang meski sudah menjadi sarjana, waktu itu masih dalam proses lamaran kerja. Tidak punya penghasilan apa-apa kecuali belas kasihan orangtua. Sandainya aku punya uang pun, tidak sudi aku membayarnya.

”Ternyata Andi ini adalah sesosok cowok yang sangat ramah. Juga menyenangkan. Aku diperlakukan layaknya seorang tamu agung yang datang dari jauh. Diajaknya aku mengelilingi rumah sambil bercerita tentang asal-usul keluarganya berasal. Kami makan siang bersama, mendengarkan CD Buble bajakan, dilanjutkan ping-pong hingga sore.”

Aku berdehem. Kali ini dengan agak malu kuakui bahwa dia lagi-lagi berbohong. Yang sesungguhnya terjadi adalah aku merobek-robek kwitansi laundry itu dan mengusir mereka berdua dengan kasar. Ada goblok, ada kampret, ada setan. Sementara yang tadi dia ceritakan terjadi pada pertemuan kami di hari berikutnya. Bagaimana lagi, malam itu Zoel menelepon di bandara menuju bulan madu, menyuruhku minta maaf dengan ancaman lamaran kerjaku ditolak perusahaan ayahnya. Tidak punya pilihan, aku menurut. Sejak itu, tak satu pun hari kami lewati tanpa bertemu.

”Kamu pasti ngga tahu alasan kenapa aku ingin selalu kita ketemu.”

Aku menggeleng dan bersin tiga kali. Hidungku mulai basah.

Perempuan itu menatapku sesaat, lalu menunduk sedikit. Pipinya merona merah. Mungkin dia agak malu dengan apa yang hendak dia utarakan. Sementara aku mulai kehilangan konsentrasi dan tubuhku menggigil kedinginan.

Bersambung ke edisi berikutnya...

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Alexander The Great yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin.

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa.

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Tadinya aku hendak menambahkan bahwa aku juga menyesal telah mentraktirnya menonton film barusan, tapi tidak tega setelah melihat air mata menetesi pipinya. Oh, bukan. Ternyata itu air hujan. Lalu aku duduk dengan kesal sambil bertopang dagu. Dari kemeja hingga kaos kakiku basah kuyup. Dalam sepuluh menit lagi dapat dipastikan aku akan masuk angin. Dan dalam empatpuluh menit ke depan aku sudah tidak sadarkan diri.

”Andi,” dia menyebut namaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Sekali lagi dia memanggilku, tapi aku tetap bergeming. Mungkin karena merasa pegal terus berdiri, perempuan itu duduk di sampingku dan kurasakan bahu kami merapat. Tak ada yang bicara untuk beberapa lama. Sesekali cahaya lampu kendaraan menyoroti halte yang hanya menyisakan kami berdua.

”Kamu masih ingat kapan pertama kali kita ketemu?” akhirnya kudengar juga suaranya.

Aku hanya menggeleng. Sudah lima menit berlalu dan dia belum juga minta maaf.

”Empat puluh hari yang lalu di resepsi pernikahan Zoel,” lanjutnya tanpa mempedulikan sikapku yang masih tidak ramah. ”Waktu itu rambut kamu lebih panjang, tapi aku masih ingat sepatu yang kamu pakai sama dengan hari ini. Aku yang sedang duduk di pojokan gedung sambil menikmati semangkuk eskrim, melihat sepasang sepatu jelek itu mendekat. Lalu pemiliknya duduk begitu saja di samping aku tanpa menyapa atau permisi. Aku segera menoleh. Ternyata dia hanya seorang cowok dengan kemeja batik yang ukuran, motif dan warnanya sama sekali ngga cocok dipakai.”

Memang. Batik itu milik ayahku sebelum beliau pensiun. Batik KORPRI. Berwarna biru tua dengan motif sayap yang dilengkapi berbagai ornamennya. Sama sekali tidak cocok untuk resepsi pernikahan. Waktu itu aku tidak sadar bahwa aku lebih terlihat tolol daripada retro. Diingatkan demikian, mau tidak mau rasa kesalku sedikit berkurang.

”Kamu tahu,” katanya lagi sambil menggandeng lenganku, ”sebenarnya aku berharap cowok itu mengajak aku berkenalan, atau pura-pura bertanya di mana stand eskrim berada, atau sekedar basa-basi tentang cerahnya cuaca. Tapi, ngga begitu. Ngga sama sekali. Rupanya dia lebih tertarik menghabiskan enam potong kambing guling, dua mangkuk zuppa-zuppa, sepiring besar kentang goreng, plus sepuluh tusuk sate ayam daripada berkenalan dengan gadis cantik yang duduk manis sendirian di sebelahnya.”

”Bohong,” kilahku. Tanpa sadar aku bersuara juga. Bagaimana lagi, hal yang barusan dia bilang itu bohong. Memang benar bahwa dia cantik. Kuakui itu. Cantik sekali, malah. Bahkan ketika dia mengaku-aku dirinya cantik pun aku tidak sanggup memberi sanggahan apa-apa.

Dan benar juga bahwa aku lebih tertarik untuk makan daripada berkenalan dengannya, atau menjalin percakapan basa-basi, atau sekedar mengingatkannya tentang musim hujan yang akan tiba tidak lama lagi. Tidak. Di seluas pandanganku waktu itu terhidang daging kambing muda yang empuk, sate ayam tanpa lemak, kentang goreng dengan saus terbaik dan zuppa-zuppa yang bisa melelehkan lidah. Dia lupa menyebutkan coto makasar dan sop konro yang juga tidak kalah istimewa. Benar-benar hidangan terbaik dari semua hidangan resepsi pernikahan yang pernah aku kunjungi.

Maka, tidak logis jika aku mau menukarkan itu semua hanya demi mendapatkan nama seorang perempuan, secantik apapun dia. Terlebih lagi aku sudah merogoh empatpuluh ribu rupiah sebagai angpao untuk Zoel dan pengantinnya. Mulanya hendak kuberi limapuluh ribu, tapi aku butuh tambahan sepuluh ribu untuk sebungkus rokok.

”Andi, aku bohong apa?” tanya perempuan itu dengan manja. Nafasnya terasa hangat dan gandengan tangannya semakin erat.

Huh! Dia berbohong jika mengaku duduk sendiri waktu itu. Ada seorang lelaki berjas di sampingnya. Si jahanam itu sesekali mengelus rambutnya, memamerkan kemesraan mereka berdua ke seluruh dunia. Suara canda dan tawanya benar-benar mengganggu telinga. Yang menyakitkan, kusadari bahwa akulah yang sedang mereka jadikan bahan guyonan.

”Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” perempuan itu melanjutkan lagi ceritanya. Kali ini bahuku telah menjadi sandaran kepalanya. ”Cowok bersepatu jelek dan berbatik aneh itu tiba-tiba berdiri dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelasnya ke arahku. Kontan, atasan gaun putih yang aku pakai berubah warna menjadi keunguan.”

Aku terkekeh. Sebenarnya, sasaranku lelaki berjas itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Siapa yang tidak kesal jika ada dua orang asing yang membicarakan kita selama empatpuluh menit lebih sambil berbisik-bisik diiringi suara tawa tercekik.

”Dengan gugup, cowok itu meminta maaf dan menunjukkan penyesalan yang dalam. Aku dimintanya duduk saja, sementara dia berlari mencari kain lap atau kertas tisyu. Aku menunggu dan menunggu, tapi batik aneh itu ngga juga muncul. Entah berapa lama, sampai akhirnya aku sadar bahwa tinggal aku satu-satunya tamu di sana.”

Aku tertawa lepas. Tentu saja. Waktu itu aku langsung pulang, main PS sebentar, dilanjutkan tidur siang.

”Aku hampiri Zoel dan istrinya, berharap mereka kenal siapa dia. Namanya Andi, kata Zoel. Dari dia pula aku tahu alamat rumahnya.”

Cerita perempuan itu terus mengalir seiring dengan naiknya temperatur tubuhku. Mungkin saat ini sudah mencapai empatpuluh derajar celcius. Mungkin seribu. Kepalaku terasa berat dan sesekali aku bersin. Tapi aku mulai menikmati caranya menceritakan kisah kami.

”Besok paginya, sendirian aku datangi rumah Andi karena cemas kalau-kalau terjadi hal yang buruk padanya.”

Dia berbohong lagi. Dia datang bersama si jahanam itu membawa secarik kwitansi laundry. Selain marah-marah atas menghilangnya aku sehari sebelumnya, mereka berdua menuntut ganti rugi seratus ribu. Tentu saja kutolak. Aku yang meski sudah menjadi sarjana, waktu itu masih dalam proses lamaran kerja. Tidak punya penghasilan apa-apa kecuali belas kasihan orangtua. Sandainya aku punya uang pun, tidak sudi aku membayarnya.

”Ternyata Andi ini adalah sesosok cowok yang sangat ramah. Juga menyenangkan. Aku diperlakukan layaknya seorang tamu agung yang datang dari jauh. Diajaknya aku mengelilingi rumah sambil bercerita tentang asal-usul keluarganya berasal. Kami makan siang bersama, mendengarkan CD Buble bajakan, dilanjutkan ping-pong hingga sore.”

Aku berdehem. Kali ini dengan agak malu kuakui bahwa dia lagi-lagi berbohong. Yang sesungguhnya terjadi adalah aku merobek-robek kwitansi laundry itu dan mengusir mereka berdua dengan kasar. Ada goblok, ada kampret, ada setan. Sementara yang tadi dia ceritakan terjadi pada pertemuan kami di hari berikutnya. Bagaimana lagi, malam itu Zoel menelepon di bandara menuju bulan madu, menyuruhku minta maaf dengan ancaman lamaran kerjaku ditolak perusahaan ayahnya. Tidak punya pilihan, aku menurut. Sejak itu, tak satu pun hari kami lewati tanpa bertemu.

”Kamu pasti ngga tahu alasan kenapa aku ingin selalu kita ketemu.”

Aku menggeleng dan bersin tiga kali. Hidungku mulai basah.

Perempuan itu menatapku sesaat, lalu menunduk sedikit. Pipinya merona merah. Mungkin dia agak malu dengan apa yang hendak dia utarakan. Sementara aku mulai kehilangan konsentrasi dan tubuhku menggigil kedinginan.

Bersambung ke edisi berikutnya...

Senin, 24 Maret 2008

Hate My Self...


Pernahkah kamu menjadi orang yang kamu benci? Saat ini saya sedang mengalaminya. Sialan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, dalam satu bulan terakhir, mulut saya selalu menempel di mikoropon ponsel selama enam jam per hari. Tiga ratus ribu rupiah saya belanjakan hanya untuk pulsa simpati. Pikiran saya seperti dihantui. Jam tidur saya semakin menuju ke arah dini hari. Dan tentunya, semua pekerjaan saya jadi teraba-i. Dan celakanya, saya jatuh hati pada seseorang yang belum pernah saya temui. Tapi masalah tidak selesai sampai di sini. Saya tidak tahu apakah si seseorang tersebut adalah perempuan atau ... banci.

Rasa curiga tersebut muncul bukan dengan tanpa alasan. Seperti yang telah banyak diketahui banyak orang, saya adalah seorang lelaki pengagum kecantikan. Karena itu, ketika si seseorang tersebut menunjukkan gambar wajahnya, segera saya simpulkan bahwa titel cantik layak disandanginya. Penilaian saya tidak akan salah. Sekali-kali, tidak.

Yang menimbulkan rasa aneh adalah...suaranya. Serak-serak basah. Ditambah pula dengan selalu tertundanya pertemuan kami berdua. Terjangkiti demam berdarah. Atau salah satu sepupunya menikah. Dan yang terakhir acara perayaan Paskah.

Karena itu, telah diputuskan, bulan ini saya tidak akan membeli pulsa. Jika tigaratus ribu itu saya sedekahkan, atau enam jam per hari saya pakai untuk berkarya, atau saya tidur tepat pada waktunya, tentu saya akan menjadi lelaki yang jauh lebih baik, sehat dan kaya.

Amin.