Rabu, 26 Desember 2007

Gagal Maning

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah:

Kita mendapatkan pelajaran lebih banyak dari sebuah kegagalan dibandingkan lima keberhasilan.

Hmm. Tidak. Mungkin yang lebih bagus:

Setiap orang sukses pasti lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan jumlah keberhasilannya.

Yeah, rite.
Tetap saja, bagaimanapun, mengalami kegagalan itu pahit rasanya untuk waktu yang cukup lama.

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti seleksi penawaran beasiswa S2 jurusan Defense Management di ITB. Berbekal Indeks Prestasi paspasan, speaking English yang minim dan rasa percaya diri berlebih, saya diinterview selama limabelas menit. Cas cis cus dan wes wes wey.
Sayang, beberapa hari kemudian diumumkan bahwa saya unsuccessful, katanya.

Ada rasa seperti tertekan dada ini sewaktu menerima kabar tersebut. Juga rasa ngilu yang lumayan. Plus pegal-pegal. Saya termenung untuk beberapa saat, tidak sanggup bereaksi apa-apa. Karena sungguh, saya benar-benar ingin mendapatkan beasiswa ini.

Tapi, bukan Andi Eriawan namanya jika harus menyerah. Saat itu juga, melalui email, saya menghubungi salah satu panitia untuk menanyakan hal ihwal dan sebab-musabab kegagalan saya. Sekiranya mungkin saya masih dapat diberi kesempatan kedua. Siapa tahu, dengan menunjukkan kegigihan dapat terjadi keajaiban.

Tapi itu hanya ada di dalam novel, ternyata.

Defense management adalah cabang ilmu yang sangat menarik menurut saya. Lulusannya bisa menjadi Zu Ghe Liang, ahli siasat perang dalam Romance Three Kingdom, atau Machiavelli abad 21. Sekali lagi, menurut saya, keren sekali, bukan?

Selain itu, saya dan seorang teman sudah mereka-reka rencana sekiranya kami berdua diberi kesempatan kembali kuliah. Sudah terbayang dalam benak di mana kami kongkow-kongkow di lapang basket kampus sambil menikmati kafein dan nikotin. Ditambah pemandangan para mahasiswi.

Yah... sebenarnya hal ini yang paling utama.

Gagal Maning

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah:

Kita mendapatkan pelajaran lebih banyak dari sebuah kegagalan dibandingkan lima keberhasilan.

Hmm. Tidak. Mungkin yang lebih bagus:

Setiap orang sukses pasti lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan jumlah keberhasilannya.

Yeah, rite.
Tetap saja, bagaimanapun, mengalami kegagalan itu pahit rasanya untuk waktu yang cukup lama.

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti seleksi penawaran beasiswa S2 jurusan Defense Management di ITB. Berbekal Indeks Prestasi paspasan, speaking English yang minim dan rasa percaya diri berlebih, saya diinterview selama limabelas menit. Cas cis cus dan wes wes wey.
Sayang, beberapa hari kemudian diumumkan bahwa saya unsuccessful, katanya.

Ada rasa seperti tertekan dada ini sewaktu menerima kabar tersebut. Juga rasa ngilu yang lumayan. Plus pegal-pegal. Saya termenung untuk beberapa saat, tidak sanggup bereaksi apa-apa. Karena sungguh, saya benar-benar ingin mendapatkan beasiswa ini.

Tapi, bukan Andi Eriawan namanya jika harus menyerah. Saat itu juga, melalui email, saya menghubungi salah satu panitia untuk menanyakan hal ihwal dan sebab-musabab kegagalan saya. Sekiranya mungkin saya masih dapat diberi kesempatan kedua. Siapa tahu, dengan menunjukkan kegigihan dapat terjadi keajaiban.

Tapi itu hanya ada di dalam novel, ternyata.

Defense management adalah cabang ilmu yang sangat menarik menurut saya. Lulusannya bisa menjadi Zu Ghe Liang, ahli siasat perang dalam Romance Three Kingdom, atau Machiavelli abad 21. Sekali lagi, menurut saya, keren sekali, bukan?

Selain itu, saya dan seorang teman sudah mereka-reka rencana sekiranya kami berdua diberi kesempatan kembali kuliah. Sudah terbayang dalam benak di mana kami kongkow-kongkow di lapang basket kampus sambil menikmati kafein dan nikotin. Ditambah pemandangan para mahasiswi.

Yah... sebenarnya hal ini yang paling utama.

Rabu, 26 September 2007

merindukan


ada yang benar-benar
sulit terhapus dari ingatan
namamu,
dan begitu banyak peristiwa
di mana kita berada di dalamnya
tak peduli
berapa lama waktu berlalu

atau jejak-jejak kaki
yang t'lah mengering
lalu terbawa angin

pernahkah kukatakan
bahwa aku mencintaimu?
tidak,
karena aku membenci
kata yang diucapkan banyak orang itu
tapi,
bolehlah kuakui
bahwa aku merindukanmu

ya,
aku merindukanmu

karena ada yang benar-benar

sulit kutemukan

kembaranmu,
dan tempat-tempat
dimana bayangmu
tak mengikuti

merindukan


ada yang benar-benar
sulit terhapus dari ingatan
namamu,
dan begitu banyak peristiwa
di mana kita berada di dalamnya
tak peduli
berapa lama waktu berlalu

atau jejak-jejak kaki
yang t'lah mengering
lalu terbawa angin

pernahkah kukatakan
bahwa aku mencintaimu?
tidak,
karena aku membenci
kata yang diucapkan banyak orang itu
tapi,
bolehlah kuakui
bahwa aku merindukanmu

ya,
aku merindukanmu

karena ada yang benar-benar

sulit kutemukan

kembaranmu,
dan tempat-tempat
dimana bayangmu
tak mengikuti

Sabtu, 01 September 2007

Pentingkah Sebuah Cita-cita?

Pentingkah sebuah cita-cita?

Bukan. Mengingat orang-orang seusia kita rata-rata sudah lama menyerah dengan cita-cita masa kanak-kanaknya, maka pertanyaan yang tepat adalah: Pentingkah menanyakan cita-cita anak-anak kita kelak?

Dahulu sekali, orangtua saya menanamkan suatu hal yang saya rasa begitu menajubkan: money follows you. Uanglah yang akan mengejar saya. Selama saya belajar, belajar dan belajar, berusaha, berusaha dan berusaha menjadi seseorang atau sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka uang, gaji, penghasilan atau materi secara otomatis akan mengikuti saya.

Tapi kemudian yang terjadi adalah peperangan melawan arus zaman. Menjadi sesuatu atau seseorang saat ini adalah TIDAK PENTING. Bukan itu. Ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang berhasil menanamkan rasa ketakutan pada diri banyak orang, termasuk saya. Cukupkah uang kita? Apakah kita sanggup mencicil rumah yang layak? Akankah kita sanggup membiayai anak-anak kuliah? Membayar biaya rumah sakit? Membeli mobil?

Jadi, jika anak-anak kita ingin menjadi dokter, tanamkan juga pada mereka untuk menjadi dokter di rumah sakit swasta terkenal. Jadilah dokter di RS Borromeaus, misalnya. Jika mereka ingin menjadi guru, ubah segera untuk menjadi dosen. Jika mereka ingin menjadi penyebar agama, ubah dari sekarang.

Karena pertanyaan orang-orang pada anak-anak kalian kelak akan selalu kembali pada: Bekerja di mana? Bukan: Mengerjakan apa?

Selama kesuksesan seseorang masih diukur dengan standard materi yang ia peroleh, maka cita-cita sudah tidak penting untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Karena cita-cita adalah pendidikan moral, dan selama hal itu dikaitkan dengan materi, maka hanya akan mendidik mereka menjadi orang-orang materialistis.

Seperti kita? Saya mengaku iya.

Sedikit.

Pentingkah Sebuah Cita-cita?

Pentingkah sebuah cita-cita?

Bukan. Mengingat orang-orang seusia kita rata-rata sudah lama menyerah dengan cita-cita masa kanak-kanaknya, maka pertanyaan yang tepat adalah: Pentingkah menanyakan cita-cita anak-anak kita kelak?

Dahulu sekali, orangtua saya menanamkan suatu hal yang saya rasa begitu menajubkan: money follows you. Uanglah yang akan mengejar saya. Selama saya belajar, belajar dan belajar, berusaha, berusaha dan berusaha menjadi seseorang atau sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka uang, gaji, penghasilan atau materi secara otomatis akan mengikuti saya.

Tapi kemudian yang terjadi adalah peperangan melawan arus zaman. Menjadi sesuatu atau seseorang saat ini adalah TIDAK PENTING. Bukan itu. Ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang berhasil menanamkan rasa ketakutan pada diri banyak orang, termasuk saya. Cukupkah uang kita? Apakah kita sanggup mencicil rumah yang layak? Akankah kita sanggup membiayai anak-anak kuliah? Membayar biaya rumah sakit? Membeli mobil?

Jadi, jika anak-anak kita ingin menjadi dokter, tanamkan juga pada mereka untuk menjadi dokter di rumah sakit swasta terkenal. Jadilah dokter di RS Borromeaus, misalnya. Jika mereka ingin menjadi guru, ubah segera untuk menjadi dosen. Jika mereka ingin menjadi penyebar agama, ubah dari sekarang.

Karena pertanyaan orang-orang pada anak-anak kalian kelak akan selalu kembali pada: Bekerja di mana? Bukan: Mengerjakan apa?

Selama kesuksesan seseorang masih diukur dengan standard materi yang ia peroleh, maka cita-cita sudah tidak penting untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Karena cita-cita adalah pendidikan moral, dan selama hal itu dikaitkan dengan materi, maka hanya akan mendidik mereka menjadi orang-orang materialistis.

Seperti kita? Saya mengaku iya.

Sedikit.

Senin, 27 Agustus 2007

Met the Letto

SUDAH tiga kali dalam dua bulan terakhir ini saya "bersua" dengan grup band Letto, khususnya Noe sang vokalis. Sebuah pertemuan yang menyenangkan. Cukup menyenangkan hingga ingin saya ceritakan.

Mengenal Noe tidak jauh berbeda dengan mengenal seorang mahasiswa asal Jogja, menurut saya. Meski beliau mengaku dibesarkan di Lampung, kuliah di Kanada, dan menjadi selebritis dalam 1-2 tahun terakhir, dialek Jowo-nya tetap begitu kental. Seorang yang cerdas, sederhana dan rendah hati. Berbeda dengan saya yang cerdas, miskin dan sombong.

Tapi memang sejak dulu sekali saya cukup menggemari ayahnya, Emha Ainun Nadjib. Jujur, bukan dalam masalah agama, tapi saya sangat menyukai salah satu karya puisinya (yang dengan tanpa ijin beliau telah saya kutip dalam always, Laila--tapi nama beliau tetap saya cantumkan).

akan ke manakah angin melayang
tatkala turun senja nan muram
pada siapa lagu kuangankan
kelam dalam kabut rindu tertahan

datanglah engkau berbaring di sisiku
turun dan berbisik tepat di sampingku
belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
kuingin menjerit dalam pelukanmu

akan ke manakah berarak awan
bagi siapa mata kupejamkan
pecah bulan dalam ombak lautan
dahan-dahan di hati berguguran

Siapa sangka, tiga tahun kemudian, saya bertemu Noe, anak dari Emha Ainun Nadjib, penulis puisi di atas yang telah saya kutip?!

Karena itu, dalam novel saya berikutnya, saya akan mengutip karya ayahnya Dian Sastro. Siapa tahu, beberapa tahun ke depan saya bisa bertemu dengan puterinya itu.

Jadi, ada yang tahu nama bapaknya Dian Sastro dan apa karyanya?