Aisa,
Pernahkah kamu melihat bintang jatuh?
Tak usah dijawab, sayang.
Karena bapak tahu jawabannya adalah pernah.
Pasti pernah.
Dan sandainya ternyata bapak barusan sok tahu,
maafkan, ya.
Maukah kamu memaafkan bapakmu satu-satunya ini?
Yang tak ada duanya itu...
Yang kasihnya padamu melimpah seperti banjir itu...
Yang sayangnya padamu tak dapat dikalkulasi itu...
Janganlah karena bapak sudah sok tahu,
lantas hubungan kita berakhir sampai di sini.
Ada pun kenapa bapak mengajukan pertanyaan tadi,
itu tidak ada hubungannya dengan surat bapak kali ini.
Bapak hendak bercerita tentang kampung halaman dari mana bapak berasal.
Asal usul dan bagaimana ayahmu ini dibesarkan.
Maafkan jika bapak sudah tidak nyambung, sayang.
Maukah kamu sekali lagi memaafkan?
Aih.
Bapak harap kamu tidak malu punya ayah seperti bapak.
Sudah sok tahu, tidak nyambung pula...
Bagaimana lagi,
kebiasaan itu sudah tumbuh sejak bapak masih SMA.
Belasan tahun yang lalu.
Waktu bapak masih gagah-gagahnya.
SMA itu Sekolah Menengah Atas, sayang.
Seragamnya putih abu.
Yah, sekedar informasi sambil lalu.
Bapak ceritakan di sini karena bapak tidak tahu
apakah namanya nanti di zamanmu.
Kembali ke cerita bapak tentang bintang jatuh,
semalam bapak melihatnya.
Bapak melihat bintang jatuh.
Jatuh dia dari langit malam.
Segera bapak tangkap
lalu bapak serahkan.
Bukan, Aisa.
Bukan diserahkan pada yang berwajib.
Tapi pada ibumu.
Makin senang dia pada bapak.
Juga makin cinta, tentunya.
Senin, 19 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
5 komentar:
Kirain mo nyeritain ttg rangkas bitung
eh beneran gak nyambung, malu2in anaknya! lha katanya mau nyeritain kampung halaman? sama bingungnya sama monique. sigh!
ih...
aisa aja memaafkan
masa kalian ngga?
*hayyaaaa...
Aisha?..ehmmmmmmmm!!!!!
bapaknya?....ehmmmmmmm
ibunya?....ehmmmmmmmmmmm
Aku hidup dan terus hidup
dalam sengal lankah-langkah berliku
terus bertahan meski kadang bosa juga
tapi tetap saja aku bertahan..
atau tepatnya tertahan
oleh bongkahan waktu
yang terus mengalir dari masa depan....
harapan...
Hm... kemarin saya ketemu ma Aisa... dia nitip curhat kepada Anda sebagai Bapaknya...
1. mau curhat masalah akademik
2. mau curhat masalah keuangan, (hutang bukan untuk dingat, tapi di bayar...)
3. cowok nangis karena cinta itu banci gak?
4. ... lupa. Maaf. (Aisa)
5. ... bagaimana cara mendekati perempuan...? Minimal meraih kepercayaannya sebagai teman ngobrol....(sebab, saya selalu di bilang oon ma Aisa gara-gara selalu jaga jarak dengan kaumnya, khususnya dia...Calon Putri Bapak...Amin)
sekian saja....
Kapan2 klo ketemu pasti dia akan menanyai jawaban Bapak... jadi, saya harap Anda berkenan mengirim jawaban Anda ke TakBisaDiam@gmail.com ya????
Sebab, sepertinya saya akan jarang mampir ke sini.... maklum, kemungkinan besar karena saat ini saya lebih miskin dari Anda ...(mudah-mudahan garis nasib ini tak bertahan lama__amin) sehingga jarang konek internet. Apalagi di kampung saya, listrik masih sesuatu yang asing...
sekedar harapan...
yang kadang mengembang dan memupus
berpendar...pudar...dan menghilang.
Oya, terimakasih atas perhatian dan pengertian Bapak untuk menjawab semuanya dengan tulus dan lumayan serius... ini demi kebaikan Aisa...dan mungkin juga saya...
Terima kasih Pak Guru....
Posting Komentar