Selasa, 31 Maret 2009

PLN Brengsex!

   
Perjalanan berikutnya adalah menuju Sumedang Tandang. Ada sate kambing dan gurame bakar yang hendak kami buru di sana. Konon, itu sate kambing terbaik yang pernah ada di muka bumi. Laku nian oleh para PNS setiap makan siang. Penuh selalu. Pemiliknya saja sampai mampu membeli sebuah pom bensin.



“Lemaknya menetes, Ndi. Dan ngga bikin kepala pusing.”

Begitu yang dipromosikan salah satu teman penggila makanan. Maka dari itu, di hari Minggu pagi yang mendung, berangkatlah kami berempat ke sana dengan menggunakan sebuah mobil dinas berpelat merah. Seluruh penumpang adalah laki-laki. Bekal kami: dua buah kamera Canon 1000D yang belum seminggu digunakan. Waktunya bagi mereka untuk diuji.

“Kalau malam, kasirnya ngga pakai BH, lho.”

Begitu yang dibilang salah satu penumpang sewaktu kami keluar pintu tol Cileunyi. Dalam hati berdoa, semoga kembali ke Bandung pada malam hari.

Kampus Unpad sangat lenggang sewaktu kami melewatinya. Tidak satu pun terlihat mahasiswi. Mungkin karena hari libur. Padahal, sekiranya ada, sudah barang tentu kami akan menepikan mobil, turun dan mengajak mereka berkenalan.

Saya Andi. Ini teman saya Rusky, Pepen dan Mei. Kami sedang menuju Sumedang, tempat Rossa dilahirkan. Meski kami laki-laki tidak dikenal, kami sungguh tidak berbahaya. Mau ikut kami? Lihat saja pelat mobil yang berwarna merah tanda bahwa kami laki-laki baik-baik dan tidak ganas. Iya, ini mobil dinas. Mobil dinas bapak teman saya yang bekerja di DikNas.

Di Cadas Pangeran, jalanan menanjak dan berliku. Di kanan jurang, di kiri gunung. Pohon-pohon ditempeli poster pemilu. Wajah-wajah tak dikenal, tersenyum. Senyum mohon doa restu dan dukungannya. Kami pun sempatkan berdoa untuk mereka. Berdoa agar mereka segera menghentikan ini semua.

“Itu rumah Rossa. Konon, sepanjang jalan ini diblokir sewaktu beliau menikah.”

Begitu komentar teman saya sambil menunjuk sebuah rumah bertingkat dua. Dia sudah beberapa kali ke Sumedang dengan pacarnya. Pacar lama, tentunya. Sudah putus sejak beberapa bulan lalu.

Aih, seumur begini, putus….

Dari balik kaca, mulai terlihat oleh kami tempat yang dituju. Mobil menepi untuk parkir. Kami turun. Hujan ikut turun. Petugas parkir menghampiri kami sambil menawarkan payung. Saya tolak dengan halus tanpa lupa ucapkan terimakasih.

Kami laki-laki, tidak pernah berpayung.

Empat porsi sate kambing, seekor gurame bakar, 2 karedok dan minumnya segera kami pesan. Sambil menunggu datangannya makanan, kamera pun dikeluarkan. Pemandangan sungguh indah untuk segera diabadikan dalam si penyimpan kenangan.

“PLN brengsek!!!”

Begitu komentar salah satu teman saya. Setiap kali mengambil gambar, selalu saja ada kabel listrik menghalang.




Dan benar saja. Sekembalinya kami di pintu tol Bandung pada pukul tujuh malam, tidak satu pun petugas kasirnya mengenakan BH.

2 komentar:

travellous mengatakan...

Wakakak karena petugas kasirnya laki-laki! Pinter..pinter.. (saya sempet ngeces tadi) :p

Andi Eriawan mengatakan...

(ndre, jangan keras2...)