Minggu, 28 Desember 2008

Resolusi Tahun Baru




Selama delapan tahun terakhir, malam pergantian tahun saya lewati dengan tidur nyenyak dibarengi mimpi indah. Tidak ada itu pesta kembang api, hura-hura, euforia dan romantisme harapan tahun yang baru saja datang. Dalam hal ini, hati saya dingin dan datar saja. Nyaris memandang itu semua secara sinis, malah. Karena itu, tidak pernah saya repot-repot menyusun resolusi.

Tahun baru adalah hari libur sedunia. Tanggal merah. Merah hati. Hati-hati di jalan, sayang.

Resolusi adalah tingkat ketajaman sebuah gambar atau image. 800 x 480 adalah resolusi monitor laptop Asus EEPC milik saya yang kecil dan imut. Juga lucu. Tapi kalau marah, galaknya tiada dua.



Hanya saja, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan di tahun mendatang. Hal-hal yang sulit saya lakukan di tahun sebelumnya. Ada sesuatu yang ingin saya kejar dan saya raih. Sungguh, ini bukan karena tahun baru, namun karena kesempatan yang baru ada di tahun ini. Kesibukan berkurang, waktu banyak luang. Jika mereka, kamu, kalian bersikeras menyebutnya "resolusi tahun baru", anggap saja itu benar. Tak mau saya berdebat. Orang bijak bilang bahwa orang picik lebih suka berdebat. Orang yang dituduh picik bilang bahwa orang yang mengaku bijak pandai mencari alasan dan menyusun kata-kata mutiara. Dan saya bilang, jangan ribut. Malu sama tetangga.


#1 National Geographic
Saya ingin mulai membaca majalah tersebut secara berkala. Jatuh cinta saya pada foto-foto di sana. Tentang dunia-dunia yang suatu saat ingin saya kunjungi. Alam liar. Hutan perawan. Sungai belia. Gunung janda.

#2 Lari pagi dan Fitness
Ini bukan karena saya cowok metro. Atau kecentilan. Bukan bangga, tapi mandi saja cuma satu kali per 24 jam. Ada pun kenapa saya berencana rajin lari pagi 2 kali seminggu dan mengikuti program fitness, itu tidak lebih karena saya ingin selalu bugar. Saya ingin tampak sehat dan segar meski di usia enampuluh tahun kelak. Tidak bikin malu cucu saya kalau kami berjalan beriringan.

#3 Kompromi
Pemaaf adalah sifat dasar saya. Bisa dibilang, susunan darah dan syaraf, struktur daging dan tulang saya disusun oleh maaf. Ransom maaf saya berlebih. Saya berikan pada siapa saja yang meminta. Tapi kompromi adalah soal lain. Kompromi adalah memaafkan kesalahan orang lain di mana orang itu tidak berhenti melakukan kesalahannya. Juga tidak menyesalinya. Memberi maaf tanpa diminta, mungkin istilah yang lebih tepat. Ini yang saya sulit lakukan. Saya benci orang yang menyakiti diri sendiri. Saya sangat benci orang yang menyakiti orang lain.
Orang bijak bilang, dalam beberapa hal, kompromi boleh dilakukan. Orang picik bilang, si orang bijak kali ini benar. Saya bilang, baiklah. Saya nurut saja.

#4 Belajar dan Mengajar
Sejak lulus sarjana, nyaris saya tidak pernah menggali ilmu kuliah lebih dalam dan mempelajari hal-hal baru. Saya pikir, saya sudah cukup pintar. Saya terlalu lugu telah mengira kepintaran saya sudah melebihi zaman ini. Karenanya, saya akan mulai kembali aktif membuka buku dan paper ilmiah, membacanya, mempelajarinya. Jika saya temukan kesalahan, akan saya koreksi. Lalu akan saya bagi ilmu itu dengan cuma-cuma. Untuk siapa saja yang meminta. Tua muda, tidak peduli. Bahkan dicuri pun, silakan saja. Saya tidak pernah pelit akan harta dan ilmu.
Saya cuma pelit kalau dimintai tanggung jawab. Belum merasakan enaknya, masa sudah diminta tanggung jawab.

# Berhenti merokok



















Ah, itu sih...
Mmmm....
Yah, siapa tahu...




Selamat Tahun Baru 1430 H.






“Drop the last year into the silent limbo of the past. Let it go, for it was imperfect, and thank God that it can go.”
[Brooks Atkinson]

Resolusi Tahun Baru




Selama delapan tahun terakhir, malam pergantian tahun saya lewati dengan tidur nyenyak dibarengi mimpi indah. Tidak ada itu pesta kembang api, hura-hura, euforia dan romantisme harapan tahun yang baru saja datang. Dalam hal ini, hati saya dingin dan datar saja. Nyaris memandang itu semua secara sinis, malah. Karena itu, tidak pernah saya repot-repot menyusun resolusi.

Tahun baru adalah hari libur sedunia. Tanggal merah. Merah hati. Hati-hati di jalan, sayang.

Resolusi adalah tingkat ketajaman sebuah gambar atau image. 800 x 480 adalah resolusi monitor laptop Asus EEPC milik saya yang kecil dan imut. Juga lucu. Tapi kalau marah, galaknya tiada dua.



Hanya saja, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan di tahun mendatang. Hal-hal yang sulit saya lakukan di tahun sebelumnya. Ada sesuatu yang ingin saya kejar dan saya raih. Sungguh, ini bukan karena tahun baru, namun karena kesempatan yang baru ada di tahun ini. Kesibukan berkurang, waktu banyak luang. Jika mereka, kamu, kalian bersikeras menyebutnya "resolusi tahun baru", anggap saja itu benar. Tak mau saya berdebat. Orang bijak bilang bahwa orang picik lebih suka berdebat. Orang yang dituduh picik bilang bahwa orang yang mengaku bijak pandai mencari alasan dan menyusun kata-kata mutiara. Dan saya bilang, jangan ribut. Malu sama tetangga.


#1 National Geographic
Saya ingin mulai membaca majalah tersebut secara berkala. Jatuh cinta saya pada foto-foto di sana. Tentang dunia-dunia yang suatu saat ingin saya kunjungi. Alam liar. Hutan perawan. Sungai belia. Gunung janda.

#2 Lari pagi dan Fitness
Ini bukan karena saya cowok metro. Atau kecentilan. Bukan bangga, tapi mandi saja cuma satu kali per 24 jam. Ada pun kenapa saya berencana rajin lari pagi 2 kali seminggu dan mengikuti program fitness, itu tidak lebih karena saya ingin selalu bugar. Saya ingin tampak sehat dan segar meski di usia enampuluh tahun kelak. Tidak bikin malu cucu saya kalau kami berjalan beriringan.

#3 Kompromi
Pemaaf adalah sifat dasar saya. Bisa dibilang, susunan darah dan syaraf, struktur daging dan tulang saya disusun oleh maaf. Ransom maaf saya berlebih. Saya berikan pada siapa saja yang meminta. Tapi kompromi adalah soal lain. Kompromi adalah memaafkan kesalahan orang lain di mana orang itu tidak berhenti melakukan kesalahannya. Juga tidak menyesalinya. Memberi maaf tanpa diminta, mungkin istilah yang lebih tepat. Ini yang saya sulit lakukan. Saya benci orang yang menyakiti diri sendiri. Saya sangat benci orang yang menyakiti orang lain.
Orang bijak bilang, dalam beberapa hal, kompromi boleh dilakukan. Orang picik bilang, si orang bijak kali ini benar. Saya bilang, baiklah. Saya nurut saja.

#4 Belajar dan Mengajar
Sejak lulus sarjana, nyaris saya tidak pernah menggali ilmu kuliah lebih dalam dan mempelajari hal-hal baru. Saya pikir, saya sudah cukup pintar. Saya terlalu lugu telah mengira kepintaran saya sudah melebihi zaman ini. Karenanya, saya akan mulai kembali aktif membuka buku dan paper ilmiah, membacanya, mempelajarinya. Jika saya temukan kesalahan, akan saya koreksi. Lalu akan saya bagi ilmu itu dengan cuma-cuma. Untuk siapa saja yang meminta. Tua muda, tidak peduli. Bahkan dicuri pun, silakan saja. Saya tidak pernah pelit akan harta dan ilmu.
Saya cuma pelit kalau dimintai tanggung jawab. Belum merasakan enaknya, masa sudah diminta tanggung jawab.

# Berhenti merokok



















Ah, itu sih...
Mmmm....
Yah, siapa tahu...




Selamat Tahun Baru 1430 H.






“Drop the last year into the silent limbo of the past. Let it go, for it was imperfect, and thank God that it can go.”
[Brooks Atkinson]

Rabu, 24 Desember 2008

Pernah, dong ah...



Ada sebuah catatan yang masih segar dalam ingatan saya tentang sebuah kejadian. Kami duduk di sebuah meja bernaungkan tenda parasol. Jalan Bali nomor satu. Tepat tiga tahun lalu.

Apa yang bisa dibicarakan dua manusia selama dua belas jam tanpa henti?

Hidup, masa lalu dan mimpi.

Kamu, seorang perempuan yang paling saya percaya. Perempuan yang tak bisa berhenti untuk terus dicintai banyak orang. Dan saya, juga mereka, tidak pernah khawatir akan kamu buat terluka.

Kamu, perempuan yang kecantikannya tidak bisa ditangkap kamera. Canon, Philips, Minolta. Perempuan yang cintanya kamu bagi tanpa pandang bulu. Bulu kaki, bulu mata, hidung dan ketiak. Perempuan yang hatinya untuk semua yang mengenal tanpa pandang warna kulit. Putih, kuning, cokelat, abu, merah jambu. Perempuan yang begitu dikagumi anak-anak, diminati remaja, dimimpikan lelaki dewasa. Para orangtua berebut menjadikanmu mantu mereka.

Kamu, perempuan yang paling saya hormati. Hormat pramuka, hormat bendera. Perempuan yang paling sering mendengar saya tertawa, dan satu-satunya yang saya perlihatkan air mata.

Kamu, perempuan yang pernah saya ceritakan pada dunia.




Pernahkah saya katakan bahwa saya merasa begitu beruntung?













Tentu saja pernah…



Mmmm…


Sepertinya, belum…

Eh,








Pernah ngga, sih?



“I think we make a real sharp couple of coconuts - I’m dumb, you’re shy, whaddaya think, huh?”
[Rocky Balboa, Rocky]


Pernah, dong ah...



Ada sebuah catatan yang masih segar dalam ingatan saya tentang sebuah kejadian. Kami duduk di sebuah meja bernaungkan tenda parasol. Jalan Bali nomor satu. Tepat tiga tahun lalu.

Apa yang bisa dibicarakan dua manusia selama dua belas jam tanpa henti?

Hidup, masa lalu dan mimpi.

Kamu, seorang perempuan yang paling saya percaya. Perempuan yang tak bisa berhenti untuk terus dicintai banyak orang. Dan saya, juga mereka, tidak pernah khawatir akan kamu buat terluka.

Kamu, perempuan yang kecantikannya tidak bisa ditangkap kamera. Canon, Philips, Minolta. Perempuan yang cintanya kamu bagi tanpa pandang bulu. Bulu kaki, bulu mata, hidung dan ketiak. Perempuan yang hatinya untuk semua yang mengenal tanpa pandang warna kulit. Putih, kuning, cokelat, abu, merah jambu. Perempuan yang begitu dikagumi anak-anak, diminati remaja, dimimpikan lelaki dewasa. Para orangtua berebut menjadikanmu mantu mereka.

Kamu, perempuan yang paling saya hormati. Hormat pramuka, hormat bendera. Perempuan yang paling sering mendengar saya tertawa, dan satu-satunya yang saya perlihatkan air mata.

Kamu, perempuan yang pernah saya ceritakan pada dunia.




Pernahkah saya katakan bahwa saya merasa begitu beruntung?













Tentu saja pernah…



Mmmm…


Sepertinya, belum…

Eh,








Pernah ngga, sih?



“I think we make a real sharp couple of coconuts - I’m dumb, you’re shy, whaddaya think, huh?”
[Rocky Balboa, Rocky]


Selasa, 23 Desember 2008

Pergi, Jangan, Jangan Pergi



bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

bandung adalah hijaunya pinus
merah bunga mawar
dan warna-warni lampu malam
bitambah hitam asap knalpot
tercampur aroma sampah kota
yang sering lupa terangkut

bandung adalah sejuk, damai, tenang
yang terusik hingar-bingar
para geng motor

bandung adalah derai tawa dan air mata
plus amarah viking
seusai persib kalah tanding


bandung adalah surga berbelanja
tempat lidah berwisata
dan perut dimanja
awal kisah-kisah cinta romantis
juga perselingkuhan terjadi di sana

bandung adalah sarang seniman
penulis dan cendikiawan
termasuk tanah kelahiran pemusik
yang kemudian ditinggal pergi
demi nasib lebih baik

bandung adalah kota pelajar
dan pusat pendidikan
yang juga minim lapangan pekerjaan

bandung adalah paradoks
terkadang dibenci,
tidak jarang dirindu



Sejak 1984...







Sewaktu kuliah, saya begitu kukuh untuk berjuang di kota ini, tidak sekedar bertahan.

Tapi menurut Google Search, yang saya cari tidak ada di Bandung.

Haruskah saya tinggalkan ini semua? Demi...?






Pergi, jangan, jangan pergi...








“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[
Maria Robinson]

Pergi, Jangan, Jangan Pergi



bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

bandung adalah hijaunya pinus
merah bunga mawar
dan warna-warni lampu malam
bitambah hitam asap knalpot
tercampur aroma sampah kota
yang sering lupa terangkut

bandung adalah sejuk, damai, tenang
yang terusik hingar-bingar
para geng motor

bandung adalah derai tawa dan air mata
plus amarah viking
seusai persib kalah tanding


bandung adalah surga berbelanja
tempat lidah berwisata
dan perut dimanja
awal kisah-kisah cinta romantis
juga perselingkuhan terjadi di sana

bandung adalah sarang seniman
penulis dan cendikiawan
termasuk tanah kelahiran pemusik
yang kemudian ditinggal pergi
demi nasib lebih baik

bandung adalah kota pelajar
dan pusat pendidikan
yang juga minim lapangan pekerjaan

bandung adalah paradoks
terkadang dibenci,
tidak jarang dirindu



Sejak 1984...







Sewaktu kuliah, saya begitu kukuh untuk berjuang di kota ini, tidak sekedar bertahan.

Tapi menurut Google Search, yang saya cari tidak ada di Bandung.

Haruskah saya tinggalkan ini semua? Demi...?






Pergi, jangan, jangan pergi...








“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[
Maria Robinson]

Senin, 22 Desember 2008

Ember



lalu kusingkap rahasia pada mereka

tentang persahabatan kita
yang kuanyam dengan jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

kami sekedar berbicara
dalam bahasa yang serupa
dan tiap bait kata yang tersusun
dari guguran abjadnya yang semula berserakan

ia adalah air yang mengalir, sahutku
yang bermuara pada laut garam
juga menguap menjadi awan
lalu menghilang beserta hujan




















gunakan ember besar, usul mereka
tampung dia…



Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain.”
[Anonymous]