Selasa, 19 Februari 2008

People Change (yeah, rite!)

JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.

People change? Yeah, rite!

Kebanyakan orang memang tidak tahu diri dengan meminta Anda berubah. Istilahnya, siapa elo yang baru saja kenal tidak lebih dari setahun meminta Anda untuk berhenti merokok, suatu aktivitas yang Anda nikmati sejak lima-sepuluh tahun lalu. Atau, malas sekali jika sedikit-sedikit Anda harus menulis catatan kecil agar tidak lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Atau, yang Anda lakukan bukan bergosip, tapi membicarakan kebiasaan buruk orang lain agar Anda dan teman-teman tidak mencontoh kebiasaan buruk itu. Atau, selama Anda meminta maaf, orang lain tidak semestinya marah karena janji Anda tidak terpenuhi, bukan? Atau, apa mereka tidak tahu bahwa ongkos konsultasi dengan psikiater untuk mengendalikan emosi itu mahal? Atau, Anda memang serba tahu, kok. Wong lulusan terbaik MIT dengan GPA 4,0.

Jadi, Anda memang tidak perlu berubah. Selain itu, memang mustahil. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang Anda miliki adalah hasil investasi yang Anda tanam sejak lama. Mungkin sejak balita. Bahkan kebanyakan orang, termasuk Anda, tidak sadar bahwa dirinya mengidap bad habit tertentu. Yang lebih parah, mereka tidak tahu bahwa kebiasaan yang dilakukannya itu dinilai buruk dan mengganggu oleh orang-orang sekitar.

Karena Anda tidak bisa berharap mereka mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan buruk Anda, dan sebaliknya, Anda pun mustahil untuk berubah, maka win-win solution-nya adalah hindari atau kurangi kontak dengan mereka. Kenapa? Karena kini saatnya Anda untuk STOP ANNOYING PEOPLE!

Sekirannya Anda memilki segudang bad habit, biarlah itu menjadi milik dan rahasia Anda pribadi. Jangan libatkan orang lain. Jangan buat mereka sesak nafas karena asap rokok Anda. Jangan sampai orang sekantor kehilangan pekerjaan gara-gara Anda lelet menyelesaikan proyek. Jangan pernah mengundang orang masuk kamar Anda yang super berantakan. Jangan pernah membuat janji dengan orang lain. Bergabunglah dengan klub debat, komunitas penggerutu dan kelompok short term memory. Bekerjalah pada perusahaan yang tidak memasang target, deadline dan memulai aktivitas kantornya di atas jam sembilan. Percayalah, Anda tidak sendirian.

You don’t have to be changed but stop annoying people!

People Change (yeah, rite!)

JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.

People change? Yeah, rite!

Kebanyakan orang memang tidak tahu diri dengan meminta Anda berubah. Istilahnya, siapa elo yang baru saja kenal tidak lebih dari setahun meminta Anda untuk berhenti merokok, suatu aktivitas yang Anda nikmati sejak lima-sepuluh tahun lalu. Atau, malas sekali jika sedikit-sedikit Anda harus menulis catatan kecil agar tidak lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Atau, yang Anda lakukan bukan bergosip, tapi membicarakan kebiasaan buruk orang lain agar Anda dan teman-teman tidak mencontoh kebiasaan buruk itu. Atau, selama Anda meminta maaf, orang lain tidak semestinya marah karena janji Anda tidak terpenuhi, bukan? Atau, apa mereka tidak tahu bahwa ongkos konsultasi dengan psikiater untuk mengendalikan emosi itu mahal? Atau, Anda memang serba tahu, kok. Wong lulusan terbaik MIT dengan GPA 4,0.

Jadi, Anda memang tidak perlu berubah. Selain itu, memang mustahil. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang Anda miliki adalah hasil investasi yang Anda tanam sejak lama. Mungkin sejak balita. Bahkan kebanyakan orang, termasuk Anda, tidak sadar bahwa dirinya mengidap bad habit tertentu. Yang lebih parah, mereka tidak tahu bahwa kebiasaan yang dilakukannya itu dinilai buruk dan mengganggu oleh orang-orang sekitar.

Karena Anda tidak bisa berharap mereka mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan buruk Anda, dan sebaliknya, Anda pun mustahil untuk berubah, maka win-win solution-nya adalah hindari atau kurangi kontak dengan mereka. Kenapa? Karena kini saatnya Anda untuk STOP ANNOYING PEOPLE!

Sekirannya Anda memilki segudang bad habit, biarlah itu menjadi milik dan rahasia Anda pribadi. Jangan libatkan orang lain. Jangan buat mereka sesak nafas karena asap rokok Anda. Jangan sampai orang sekantor kehilangan pekerjaan gara-gara Anda lelet menyelesaikan proyek. Jangan pernah mengundang orang masuk kamar Anda yang super berantakan. Jangan pernah membuat janji dengan orang lain. Bergabunglah dengan klub debat, komunitas penggerutu dan kelompok short term memory. Bekerjalah pada perusahaan yang tidak memasang target, deadline dan memulai aktivitas kantornya di atas jam sembilan. Percayalah, Anda tidak sendirian.

You don’t have to be changed but stop annoying people!

Jumat, 08 Februari 2008

Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia

14 Februari 2008
11.00 - 13.00
Gramedia Bandung Super Mall

barengan:
Mumu Rizal, Tita Rosianti, Dina Mardiana dan..
... si gua.

ngomongin global warming
(yeah, rite...:p)

Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia

14 Februari 2008
11.00 - 13.00
Gramedia Bandung Super Mall

barengan:
Mumu Rizal, Tita Rosianti, Dina Mardiana dan..
... si gua.

ngomongin global warming
(yeah, rite...:p)

Selasa, 22 Januari 2008

Seven Years Old Children Question

SAYA berani bertaruh berapa saja bahwa Anda merupakan salah satu dari empatpuluh juta pengguna ponsel di Indonesia, baik ponsel berbasis GSM maupun CDMA. Namun, pastinya, Anda juga merupakan salah satu dari tigapuluh sembilan juta pengguna ponsel yang tidak mengerti apa itu GSM dan CDMA serta perbedaan keduanya. Bahkan Anda tidak akan sanggup menjawab pertanyaan anak kelas satu SD mengapa layanan operator berbasis CDMA jauh lebih murah dibandingkan layanan operator berbasis GSM. Apalagi, kemungkinan besar, Anda memiliki dua buah ponsel sekaligus dengan masing-masing layanan tersebut. Ah, betapa tidak istimewanya Anda.

Jika apa yang saya nyatakan itu benar, maka segera matikan komputer Anda saat ini juga, lalu pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda ternyata tidak sungguh-sungguh belajar di masa sekolah dulu, minim curiosity, dan tidak memiliki pembendaharaan ilmu yang luas.

Tapi bila pernyataan saya di atas Anda anggap keliru, maka segera matikan komputer Anda, pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda telah bersikap sok tahu, sok tahu dan sok tahu.

Ada hal yang patut Anda pahami bahwa bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai oleh negara, termasuk gelombang atau sinyal. Kemudian, pemerintah menjualnya melalui tender pada pihak swasta—meski berkat kemurahan mereka, kita bebas menggunakan sinyal IR dan Bluetooth.

Gelombang, atau sinyal, dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan lebar tertentu. Sedangkan data yang terkirim, misalnya percakapan, diibaratkan sebagai kendaraan. Gelombang radio frekuensi rendah yang banyak digunakan oleh stasiun radio dan alat komunikasi walkie-talkie, diibaratkan sebagai jalan satu jalur atau one way. Artinya, pada waktu yang sama, data yang dapat terkirim via gelombang ini hanya dapat dilakukan dari dan menuju satu arah. Contoh: dua polisi atau lebih harus berbicara bergantian via radio mereka.

Berbeda dengan gelombang atau sinyal ponsel standard GSM (Global System for Mobile communications). Dengan menggunakan teknik transmisi TDMA—dimana cukup para mahasiswa elektro dan teman-temannya yang berkacamata semua saja yang tahu tentang teknik tersebut—gelombang radio frekuensi tinggi ini (900 dan 1800 MHz) dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan jalur dua arah, di mana data dapat lalu-lalang dari arah berlawanan dalam waktu bersamaan. Itulah yang memungkinkan Anda dan pasangan berdebat kusir via ponsel kalian.

Sebagai sebuah jalan, gelombang tentu memiliki ruang, space, daya muat atau bandwith tertentu. Layaknya jalanan macet karena jumlah kendaraan berlebih, gelombang pun dapat mengalami overload. Hal tersebut menyebabkan sinyal sibuk dan putus-putus di malam Natal, tahun baru dan Lebaran, di mana berjuta orang menggunakan ponsel mereka dalam waktu bersamaan.

Namun, gelombang atau sinyal berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) memungkinkan jumlah data atau percakapan yang ter-cover menjadi lebih besar lagi. Dengan metode pengkodean unik pada data terkirim—bahkan mahasiswa elektro tidak banyak yang mengerti benar teknik tersebut, gelombang ini dapat diibaratkan sebagai jalan bertingkat sehingga jumlah kendaraan pada jalur yang sama dapat lebih dari satu. Artinya, ketika dua orang sedang melakukan percakapan via ponsel, pada waktu bersamaan, bisa saja terdapat beberapa percakapan lain di line mereka.

Selain itu, dominan operator gelombang berbasis CDMA di Indonesia bekerja pada frekuensi 800 MHZ, lebih rendah daripada gelombang standard GSM, sehingga area yang dapat ter-cover akan lebih luas lagi. Dengan demikian, untuk meng-cover suatu area yang sama, jumlah pemancar (BTS) yang dibutuhkan suatu operator ponsel bebasis CDMA akan lebih sedikit dibandingkan operator ponsel standard GSM. So, operational cost berkurang.

Selain itu semua, tentu saja: promosi. Wong, operator berbasis CDMA relatif baru dibandingkan operator GSM.

Bagaimana? Semakin bingung? Saya mengaku iya.

(taken from http://isinspiration.com)

Seven Years Old Children Question

SAYA berani bertaruh berapa saja bahwa Anda merupakan salah satu dari empatpuluh juta pengguna ponsel di Indonesia, baik ponsel berbasis GSM maupun CDMA. Namun, pastinya, Anda juga merupakan salah satu dari tigapuluh sembilan juta pengguna ponsel yang tidak mengerti apa itu GSM dan CDMA serta perbedaan keduanya. Bahkan Anda tidak akan sanggup menjawab pertanyaan anak kelas satu SD mengapa layanan operator berbasis CDMA jauh lebih murah dibandingkan layanan operator berbasis GSM. Apalagi, kemungkinan besar, Anda memiliki dua buah ponsel sekaligus dengan masing-masing layanan tersebut. Ah, betapa tidak istimewanya Anda.

Jika apa yang saya nyatakan itu benar, maka segera matikan komputer Anda saat ini juga, lalu pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda ternyata tidak sungguh-sungguh belajar di masa sekolah dulu, minim curiosity, dan tidak memiliki pembendaharaan ilmu yang luas.

Tapi bila pernyataan saya di atas Anda anggap keliru, maka segera matikan komputer Anda, pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda telah bersikap sok tahu, sok tahu dan sok tahu.

Ada hal yang patut Anda pahami bahwa bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai oleh negara, termasuk gelombang atau sinyal. Kemudian, pemerintah menjualnya melalui tender pada pihak swasta—meski berkat kemurahan mereka, kita bebas menggunakan sinyal IR dan Bluetooth.

Gelombang, atau sinyal, dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan lebar tertentu. Sedangkan data yang terkirim, misalnya percakapan, diibaratkan sebagai kendaraan. Gelombang radio frekuensi rendah yang banyak digunakan oleh stasiun radio dan alat komunikasi walkie-talkie, diibaratkan sebagai jalan satu jalur atau one way. Artinya, pada waktu yang sama, data yang dapat terkirim via gelombang ini hanya dapat dilakukan dari dan menuju satu arah. Contoh: dua polisi atau lebih harus berbicara bergantian via radio mereka.

Berbeda dengan gelombang atau sinyal ponsel standard GSM (Global System for Mobile communications). Dengan menggunakan teknik transmisi TDMA—dimana cukup para mahasiswa elektro dan teman-temannya yang berkacamata semua saja yang tahu tentang teknik tersebut—gelombang radio frekuensi tinggi ini (900 dan 1800 MHz) dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan jalur dua arah, di mana data dapat lalu-lalang dari arah berlawanan dalam waktu bersamaan. Itulah yang memungkinkan Anda dan pasangan berdebat kusir via ponsel kalian.

Sebagai sebuah jalan, gelombang tentu memiliki ruang, space, daya muat atau bandwith tertentu. Layaknya jalanan macet karena jumlah kendaraan berlebih, gelombang pun dapat mengalami overload. Hal tersebut menyebabkan sinyal sibuk dan putus-putus di malam Natal, tahun baru dan Lebaran, di mana berjuta orang menggunakan ponsel mereka dalam waktu bersamaan.

Namun, gelombang atau sinyal berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) memungkinkan jumlah data atau percakapan yang ter-cover menjadi lebih besar lagi. Dengan metode pengkodean unik pada data terkirim—bahkan mahasiswa elektro tidak banyak yang mengerti benar teknik tersebut, gelombang ini dapat diibaratkan sebagai jalan bertingkat sehingga jumlah kendaraan pada jalur yang sama dapat lebih dari satu. Artinya, ketika dua orang sedang melakukan percakapan via ponsel, pada waktu bersamaan, bisa saja terdapat beberapa percakapan lain di line mereka.

Selain itu, dominan operator gelombang berbasis CDMA di Indonesia bekerja pada frekuensi 800 MHZ, lebih rendah daripada gelombang standard GSM, sehingga area yang dapat ter-cover akan lebih luas lagi. Dengan demikian, untuk meng-cover suatu area yang sama, jumlah pemancar (BTS) yang dibutuhkan suatu operator ponsel bebasis CDMA akan lebih sedikit dibandingkan operator ponsel standard GSM. So, operational cost berkurang.

Selain itu semua, tentu saja: promosi. Wong, operator berbasis CDMA relatif baru dibandingkan operator GSM.

Bagaimana? Semakin bingung? Saya mengaku iya.

(taken from http://isinspiration.com)

Jumat, 28 Desember 2007

Resolusi (lagi?)

Beberapa hari lagi saya akan menginjak tahun 2008. Berarti, ini adalah kali ke 29 saya menemui malam pergantian tahun. Cukup fantastis, menurut saya. Meski bukan angka cantik, tentunya. Diberi kesempatan berdiri di muka planet ini selama itu, apa saja yang sudah saya dapatkan? Prestasi apa saja yang sudah saya peroleh? Karya apa yang sudah saya ciptakan?

Tidak. Bukan. Salah pertanyaannya. Selama puluhan kali diberi kesempatan mengitari matahari, apa saja yang sudah saya berikan? Pada keluarga, teman, sahabat, lingkungan dan seluruh dunia? Bukankah, konon, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat?

Hmm. Jadi malu.

Patut saya akui, penghasilan materi saya masih sedikit. Tapi, apa yang sudah saya berikan jauh... jauh... jauh lebih sedikit lagi. Apalagi perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya sekedar sedikit memberi, tapi ternyata saya malah sangat banyak menuntut. Menuntut dan meminta ini-itu serta 'a 'i 'u.

Semakin malu.

Tapi, tidak apalah. Toh, untuk seorang seperti saya, yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi orang paling sombong setelah Ahmad Dhani, tidak perlu merasa malu akan sesuatu yang tidak jelas.

Jadi, resolusi tahun 2008? Tidak perlu!

Ah... hebatnya gaung kata-kata itu.