Senin, 25 April 2005

abituari

Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa.

Ah..., seharusnya saya tahu sejak awal, sejak tujuh bulan lalu. Seandainya saja saya mau membuka mata dan sedikit mengerti, saya mungkin dapat mencegahnya. Gejala-gejala itu. Cat yang terkelupas. Flip yang patah. Sinyal yang perlahan-lahan berubah menjadi putus-putus. Seharusnya segera saya bawa dia ke tempat service. Atau, saya simpan untuk dipensiunkan. Tapi, itu semua tidak saya lakukan.

Mungkin memang benar dia sangat berguna buat saya. Bahkan mereka pernah mengatakan bahwa kami adalah pasangan yang serasi. Saya selalu membawanya ke mana saya pergi. Juga kamar mandi dan tempat-tempat suci. Saya hanya tertawa sinis sewaktu dengar apa yang mereka bilang, sambil melemparnya begitu saja ke atas ranjang.

Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa. Mungkin karena saya sudah mendapatkan gantinya - yang tentu lebih baik.

abituari

Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa.

Ah..., seharusnya saya tahu sejak awal, sejak tujuh bulan lalu. Seandainya saja saya mau membuka mata dan sedikit mengerti, saya mungkin dapat mencegahnya. Gejala-gejala itu. Cat yang terkelupas. Flip yang patah. Sinyal yang perlahan-lahan berubah menjadi putus-putus. Seharusnya segera saya bawa dia ke tempat service. Atau, saya simpan untuk dipensiunkan. Tapi, itu semua tidak saya lakukan.

Mungkin memang benar dia sangat berguna buat saya. Bahkan mereka pernah mengatakan bahwa kami adalah pasangan yang serasi. Saya selalu membawanya ke mana saya pergi. Juga kamar mandi dan tempat-tempat suci. Saya hanya tertawa sinis sewaktu dengar apa yang mereka bilang, sambil melemparnya begitu saja ke atas ranjang.

Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa. Mungkin karena saya sudah mendapatkan gantinya - yang tentu lebih baik.

Selasa, 19 April 2005

Ketika Penulis...

jatuh miskin... maka dia tidak akan mampu untuk membalas sms-sms, keluyuran, nonton bioskop, pacaran, ngewarnet, pulang kampung, bayar hutang dan tentu saja: ngeborong dvd-dvd bajakan. Tapi, justru pada saat seperti itulah proses saya dalam menulis novel jadi berjalan lancar. Lah wong ora ono kerjaan lain...

Dua bulan yang lalu, seorang pembaca pernah mengirim sms dengan isi kurang lebih kayak gini: "MAS, BALAS DONG SMS-SMS SAYA. HARGAI PENGGEMAR."

Dalam hati saya, "Ngga tau apa kalo ngga ada pulsa, Neng!"
Malah hampir hangus nomer hp saya. Kalo kirim sms, sertakan pula dengan pulsa balasan...


Tapi saya jadi teringat kejadian enam bulan yang lalu. Waktu itu, saya kirim sms kepada Dian Sastro untuk meminta dia menulis paper back comment novel saya. Saya berhasil mendapatkan nomor hp si Cantik ini dari temannya - temannya teman saya. Tiga nomor Hp sekaligus!!! Dan saya pun mengirim sms ke ketiga-tiganya.

Selama dua hari saya menunggu balasan dengan manis dan manja di kos-an. Hari ke-tiga, belum juga saya terima. Saya mulai gelisah. Kalau duduk, pantat saya selalu harus digoyang-goyang. Kemudian diputuskanlah untuk mengirim sms lagi. Tapi tetap sama, sms saya tidak dibalas.

Akhirnya, pada malam itu juga saya sms lagi si Cinta ini dengan kata-kata: "MBA, BALAS DONG SMS-SMS SAYA. HARGAI PENGGEMAR!"


(atau jangan2... Dian Sastro lagi ngga punya pulsa juga?)

Ketika Penulis...

jatuh miskin... maka dia tidak akan mampu untuk membalas sms-sms, keluyuran, nonton bioskop, pacaran, ngewarnet, pulang kampung, bayar hutang dan tentu saja: ngeborong dvd-dvd bajakan. Tapi, justru pada saat seperti itulah proses saya dalam menulis novel jadi berjalan lancar. Lah wong ora ono kerjaan lain...

Dua bulan yang lalu, seorang pembaca pernah mengirim sms dengan isi kurang lebih kayak gini: "MAS, BALAS DONG SMS-SMS SAYA. HARGAI PENGGEMAR."

Dalam hati saya, "Ngga tau apa kalo ngga ada pulsa, Neng!"
Malah hampir hangus nomer hp saya. Kalo kirim sms, sertakan pula dengan pulsa balasan...


Tapi saya jadi teringat kejadian enam bulan yang lalu. Waktu itu, saya kirim sms kepada Dian Sastro untuk meminta dia menulis paper back comment novel saya. Saya berhasil mendapatkan nomor hp si Cantik ini dari temannya - temannya teman saya. Tiga nomor Hp sekaligus!!! Dan saya pun mengirim sms ke ketiga-tiganya.

Selama dua hari saya menunggu balasan dengan manis dan manja di kos-an. Hari ke-tiga, belum juga saya terima. Saya mulai gelisah. Kalau duduk, pantat saya selalu harus digoyang-goyang. Kemudian diputuskanlah untuk mengirim sms lagi. Tapi tetap sama, sms saya tidak dibalas.

Akhirnya, pada malam itu juga saya sms lagi si Cinta ini dengan kata-kata: "MBA, BALAS DONG SMS-SMS SAYA. HARGAI PENGGEMAR!"


(atau jangan2... Dian Sastro lagi ngga punya pulsa juga?)

cape

selama ini...
kubawa-bawa hatiku sendirian
berat tahu!
cape-cape kutata hati ini buat kamu
eh..., kamu berantakin lagi...

cape

selama ini...
kubawa-bawa hatiku sendirian
berat tahu!
cape-cape kutata hati ini buat kamu
eh..., kamu berantakin lagi...

Jumat, 15 April 2005

Literacy Workshop 2005

HIMANI-HIMAHI UNPAR PRESENT:

Literacy Workshop 2005
Books for Life: Feed your Mind and Soul

One-day writing workshop with authors, journalist and publishers.
Friday, 22nd April 20059.30 am - onwards
Common Room
Kyai Gede Utama 8, Bandung

Spokepersons:
Fransisca Dewi Ria Utari (journalist of Tempo)
Isman H Suryaman (editor: Advance Publisher, the author of Bertanya atau Mati)
Andi Eriawan (the author of Always Layla)

Fee: Rp. 30.000,-
(includes: snack, lunch,workshop kit and certificate)

Further information:
Himahi-Himani FISIP UNPAR
Osis-osis SMA
Yana: 08156102520
Novi: 08122079028
Ami: 08562187000
Tari: 08122170284

Limited seats!!!