Rabu, 18 Maret 2009

 
   
datanglah pada hari perkawinan kami
lihat si tante menangis haru
paman-paman tertawa kecil
para ponakan berlarian
tatkala menyaksikan
kami berdua dipersatukan

dan kelak putra-putri kami
terlahir, tumbuh,
dan bahagia
kisah ini takkan pernah lelah
untuk diceritakan

hingga rambut yang memutih
berjalan yang tertatih
tuhan, biarkan cinta kami
lulus teruji

dan yang kami pertengkarkan hanyalah
siapa yang lebih mencintai siapa

















Bukan.
Bukan hendak mengundang kalian.
Juga bukan tentang pernikahan saya.
Sekedar absen di blog belaka.


"Hadir, Bu..."
 
   
datanglah pada hari perkawinan kami
lihat si tante menangis haru
paman-paman tertawa kecil
para ponakan berlarian
tatkala menyaksikan
kami berdua dipersatukan

dan kelak putra-putri kami
terlahir, tumbuh,
dan bahagia
kisah ini takkan pernah lelah
untuk diceritakan

hingga rambut yang memutih
berjalan yang tertatih
tuhan, biarkan cinta kami
lulus teruji

dan yang kami pertengkarkan hanyalah
siapa yang lebih mencintai siapa

















Bukan.
Bukan hendak mengundang kalian.
Juga bukan tentang pernikahan saya.
Sekedar absen di blog belaka.


"Hadir, Bu..."

Rabu, 11 Maret 2009

Alif Ba Ta

 
 
 
Dan tiba-tiba saja saya bilang, 

“Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.”

“Ijin diberikan.”

Begitu kamu menjawab pelan.

“Apa?”

Tanya saya, pura-pura tidak mendengar.

Kamu meraih secarik post it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya sambil lalu: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

Mengatur nafas, saya perhatikan kamu sesaat. Terlambat saya sadari bahwa Tuhan telah menitipkan padamu kecerdasan, selain bola mata yang begitu menarik, tentunya. 

Tapi, yang namanya titipan itu, harus dipergunakan dan dipelihara baik-baik, ya. Jangan digadai ke mana-mana. Atau dipakai lirik-melirik sembarangan. Juga bukan untuk dikedip-kedip pada laki-laki tidak dikenal.

“Ehm.”

Kamu berdehem, mengais perhatian.

“Ya?”

Saya bertanya dengan pandangan dermawan.

“Surat ijin itu ada masa berlakunya, Andi. Jangan terlalu lama membuat saya menunggu.”

Kamu memperingatkan saya. Ada nada mengancam dan tidak main-main yang berhasil saya tangkap di sana. 

Meski begitu, sepertinya kamu sungguh tahu jika saya paling senang sewaktu nama saya disebut penuh. Apalagi kalau kamu bersedia menambah sebutan “Kang” di depannya. Padahal, belum terlalu lama kita saling kenal. Mungkin di kehidupan sebelumnya, kita adalah saudara kembar.

Kamu duduk di situ, saya berdiri di sini. Memandang langit, mencoba mencari kata-kata pembuka. 

Mungkin awan bagus juga, keras saya berpikir. Atau gunung hijau di kejauhan? Sayang, di sini tidak ada pantai. Dan masih terlalu lama sampai matahari tenggelam.

“Boleh sambil merokok?”

Saya bertanya, mencari alasan untuk berlama-lama.

Kamu mengangguk, memandang saya tanpa berkedip.

Aih. Padahal sekiranya menolak, masih banyak waktu untuk berdebat.

Rokok pun dibakar, dan asapnya mulai keluar-masuk paru-paru. 

“Kamu mau?”

Tidak bermaksud kurang ajar, lho. Juga bukan sedang mencari perkara.

Masih menatap, kamu menggelengkan kepala dan tangan mengelus perut.

“Tidak baik untuk janin.”

“Sungguh?”

“Iya. Itu tertulis di kotak pembungkusnya, Kang Andi.”

Setengah tidak percaya, saya periksa si kotak pembungkus rokok di tangan kiri. Dan saya dapatkan peringatan itu. 

Wow. Lagi-lagi, kamu benar. Selalu saja kamu perhatikan banyak hal. Hal besar, hal kecil… tidak pernah luput dari perhatian kamu. Kamu hanya tidak tertarik memperhatikan kekurangan orang lain. Itu saja.

Saya pun membuat keputusan yang saya nilai teramat bijaksana, yaitu mengambil jarak lebih jauh dari kamu. Saya mundur. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Berusaha agar si asap tidak kamu hisap.

“Segini, cukup?!”

Saya berteriak.

“Apa? Tidak terdengar!”

Kamu balas berteriak.

Aih. Padahal asap rokok tadi kan tidak berbahaya bagi pendengaran, kenapa tiba-tiba suara saya tidak sampai ke telinga kamu.
Tadinya, saya hendak maju dua atau tiga langkah. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata kamu cantik juga jika dipandang dari jarak segini. Bukan. Bukan berarti jika sedang berdekatan, kamu jadi tidak menarik. Bukan itu. Jauhkan pikiran itu segera. Saat ini juga. Maksud saya adalah, saya berhasil melihat sesuatu lain sewaktu kita berjauhan. Ada sudut warna dan cahaya baru yang berhasil saya tangkap.

Sayang, saya tidak bawa kamera.

Eh, ralat.

Sayang, saya belum punya kamera. Jika punya, sudah saya abadikan kamu saat ini juga. Saya cetak besar-besar, lalu saya pampang di kamar. Biar dilepaskan saja itu poster What Women Want.

“Andi, kapan mulainya?!”

Ya, ampun. Ditunggu, rupanya. Saya pikir kamu sudah lupa. Ternyata kamu punya daya ingat juga, ya. Maaf. Tapi, senang rasanya menjadi lelaki yang ditunggu.

“Baiklah, saya mulai sekarang, ya. Siap?”

Kamu mengangguk.

“Suara saya jelas terdengar?”

“Iya, Andi. Cepat mulai!”

“Sungguh?”

“Iya.”

Saya pun mulai menghitung aba-aba dalam hati. Satu, dua. Belum juga keluar kata-kata. Lima… Keringat dingin mulai bercucuran. Sepuluh... Dan suara adzan ashar di masjid sebelah menyelamatkan saya.

“Nanti dilanjutkan, ya. Waktunya sembahyang dulu.”

Saya berjalan mendekat, dan kamu bangkit tanpa bisa menolak. 










biar ibu yang ajarkan melukis
bapak yang ajarkan menulis
lalu kanak-kanak kita 
membaca alif ba ta
dengan lancarnya





Alif Ba Ta

 
 
 
Dan tiba-tiba saja saya bilang, 

“Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.”

“Ijin diberikan.”

Begitu kamu menjawab pelan.

“Apa?”

Tanya saya, pura-pura tidak mendengar.

Kamu meraih secarik post it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya sambil lalu: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

Mengatur nafas, saya perhatikan kamu sesaat. Terlambat saya sadari bahwa Tuhan telah menitipkan padamu kecerdasan, selain bola mata yang begitu menarik, tentunya. 

Tapi, yang namanya titipan itu, harus dipergunakan dan dipelihara baik-baik, ya. Jangan digadai ke mana-mana. Atau dipakai lirik-melirik sembarangan. Juga bukan untuk dikedip-kedip pada laki-laki tidak dikenal.

“Ehm.”

Kamu berdehem, mengais perhatian.

“Ya?”

Saya bertanya dengan pandangan dermawan.

“Surat ijin itu ada masa berlakunya, Andi. Jangan terlalu lama membuat saya menunggu.”

Kamu memperingatkan saya. Ada nada mengancam dan tidak main-main yang berhasil saya tangkap di sana. 

Meski begitu, sepertinya kamu sungguh tahu jika saya paling senang sewaktu nama saya disebut penuh. Apalagi kalau kamu bersedia menambah sebutan “Kang” di depannya. Padahal, belum terlalu lama kita saling kenal. Mungkin di kehidupan sebelumnya, kita adalah saudara kembar.

Kamu duduk di situ, saya berdiri di sini. Memandang langit, mencoba mencari kata-kata pembuka. 

Mungkin awan bagus juga, keras saya berpikir. Atau gunung hijau di kejauhan? Sayang, di sini tidak ada pantai. Dan masih terlalu lama sampai matahari tenggelam.

“Boleh sambil merokok?”

Saya bertanya, mencari alasan untuk berlama-lama.

Kamu mengangguk, memandang saya tanpa berkedip.

Aih. Padahal sekiranya menolak, masih banyak waktu untuk berdebat.

Rokok pun dibakar, dan asapnya mulai keluar-masuk paru-paru. 

“Kamu mau?”

Tidak bermaksud kurang ajar, lho. Juga bukan sedang mencari perkara.

Masih menatap, kamu menggelengkan kepala dan tangan mengelus perut.

“Tidak baik untuk janin.”

“Sungguh?”

“Iya. Itu tertulis di kotak pembungkusnya, Kang Andi.”

Setengah tidak percaya, saya periksa si kotak pembungkus rokok di tangan kiri. Dan saya dapatkan peringatan itu. 

Wow. Lagi-lagi, kamu benar. Selalu saja kamu perhatikan banyak hal. Hal besar, hal kecil… tidak pernah luput dari perhatian kamu. Kamu hanya tidak tertarik memperhatikan kekurangan orang lain. Itu saja.

Saya pun membuat keputusan yang saya nilai teramat bijaksana, yaitu mengambil jarak lebih jauh dari kamu. Saya mundur. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Berusaha agar si asap tidak kamu hisap.

“Segini, cukup?!”

Saya berteriak.

“Apa? Tidak terdengar!”

Kamu balas berteriak.

Aih. Padahal asap rokok tadi kan tidak berbahaya bagi pendengaran, kenapa tiba-tiba suara saya tidak sampai ke telinga kamu.
Tadinya, saya hendak maju dua atau tiga langkah. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata kamu cantik juga jika dipandang dari jarak segini. Bukan. Bukan berarti jika sedang berdekatan, kamu jadi tidak menarik. Bukan itu. Jauhkan pikiran itu segera. Saat ini juga. Maksud saya adalah, saya berhasil melihat sesuatu lain sewaktu kita berjauhan. Ada sudut warna dan cahaya baru yang berhasil saya tangkap.

Sayang, saya tidak bawa kamera.

Eh, ralat.

Sayang, saya belum punya kamera. Jika punya, sudah saya abadikan kamu saat ini juga. Saya cetak besar-besar, lalu saya pampang di kamar. Biar dilepaskan saja itu poster What Women Want.

“Andi, kapan mulainya?!”

Ya, ampun. Ditunggu, rupanya. Saya pikir kamu sudah lupa. Ternyata kamu punya daya ingat juga, ya. Maaf. Tapi, senang rasanya menjadi lelaki yang ditunggu.

“Baiklah, saya mulai sekarang, ya. Siap?”

Kamu mengangguk.

“Suara saya jelas terdengar?”

“Iya, Andi. Cepat mulai!”

“Sungguh?”

“Iya.”

Saya pun mulai menghitung aba-aba dalam hati. Satu, dua. Belum juga keluar kata-kata. Lima… Keringat dingin mulai bercucuran. Sepuluh... Dan suara adzan ashar di masjid sebelah menyelamatkan saya.

“Nanti dilanjutkan, ya. Waktunya sembahyang dulu.”

Saya berjalan mendekat, dan kamu bangkit tanpa bisa menolak. 










biar ibu yang ajarkan melukis
bapak yang ajarkan menulis
lalu kanak-kanak kita 
membaca alif ba ta
dengan lancarnya





Rabu, 25 Februari 2009

Maju Produk Cibaduyut!

Kata orang bijak, tidak boleh kita menghitung-hitung kekayaan. Apalagi, kekayaan tetangga. Tapi malam ini tidak ada yang bisa saya lakukan mengingat mata terlalu segar untuk dipejamkan. Jadilah saya mulai mencatat inventaris barang yang berhasil saya beli selama ini.

#1
TV Asatron 14”.
Dibuat di negeri Cina, lalu dikirim dengan kapal dagang. Harga 500 ribuan. Tidak saya tawar. Sudah menjadi kebiasaan saya tidak suka tawar-menawar.
“Tabungnya LG, Mas,” begitu yang dibilang si penjual di bilangan pusat elektronik Jalan ABC tiga tahun lalu. Namun, bukan karena alasan tersebut saya beli. Tapi lebih karena terjangkau harganya.
Kondisi si tivi saat ini cukup memprihatikan. Selain terbungkus oleh lapisan debu tebal, remote-nya pun sudah pensiun entah sejak kapan. Tombol-tombolnya nyaris tanpa guna. Kalau saya tekan channel 5, yang muncul channel 10. Jika saya naikkan volume, yang terjadi adalah bergantinya mode, dari TV ke mode AV.
Tadinya mau saya berikan ke adik saya, tapi saya tidak tega. Memberi barang kan harus barang yang kita juga senang memakainya.

Mau saya buang, nanti dikiranya saya orang kaya. Nanti kamu ingin saya nikahi segera.

#2
Ponsel Sony Ericsson T630
Dibeli tepat empat tahun lalu. Itu pun second. Sudah enam bulan lamanya tidak bisa di-charge secara konvensional. Karena itulah saya selalu membawa 1 batere cadangan plus satu charger portable jika berpergian jauh. Tak ada keluhan lain kecuali tidak bisa memutar MP3 kesayangan.

Meski sudah ketinggalan jaman, maaf-maaf saja, tidak pernah tanpa pulsa.

#3
Motor Honda GL Pro 160 cc
Ini adalah motor impian saya sejak kecil. Buatan tahun 1997. Seperti ponsel saya, motor ini dibeli di tahun yang sama. Bulan yang sama. Second juga, tentunya.
Kondisi saat ini? Lampu depan, mati. Lampu belakang, mati. Lampu rem, mati. Lampu sein, jangan ditanya. Mati. STNK belum diperpanjang 3 tahun. Pelat nomor belakang buntung separuh. Jok motor mudah terembes air hujan sehingga membuat celana dalam saya selalu basah. Dan… jarang sekali dicuci. Apalagi, dilap.

Tapi di luar itu semua, saya sayang ini motor. Cinta saya sama dia. Sekaya apa pun nanti, tidak akan saya jual ke tetangga.

#4
Kipas Angin Maspion JF-2108T
Inilah produk kita. Sengaja saya beli demi membuktikan cinta pada negeri. Dan kelak, seluruh perabot rumah tangga saya adalah Maspion punya.

Maju produk dalam negeri!

#5
Laptop Asus EEEPC
Dibeli tepat tahun lalu di kala saya mulai menyadari bahwa dengan uang tiga juta, kita bisa puya laptop baru. Dengan ukuran layar monitornya yang hanya tujuh inch, sangat cocok dengan karakter saya yang lincah dan pandai berkelit. Baru-baru ini terjangkiti virus trojan dan bermacam spam.

Ukuran harddisk hanya 2 Giga!!
Hebat, ya, saya…

#6
Modem 3,5G Amoi
Dibuat di negeri Cina. Baru saja lunas setelah dicicil selama 18 bulan. Maklum, dulu harganya sekitar 2,4 juta. Tapi setelah lunas, koneksi internet justru sangat buruk sekali. Disko tiada henti.

Kini, berinternet seperti bermain catur dengan perempuan saja, rasanya. Banyak menunggu. Lama, pula.

#7
MP4 Player ZTE
Dibuat di negeri Cina. Saya pikir, barang ini sebagus Ipod sewaktu saya beli dari seorang temannya teman. Cuma 500 ribu. Bukan cuma, sebenarnya. Uang segitu juga berharga.
Maksud hati mau dihadiahkan pada adik, namun apa daya, saya tidak punya radio. Tape compo Aiwa saya dijual bertahun-tahun lalu demi…
Jadilah fungsinya saya alihkan menjadi mesin HR FM.

More radio, less TV.

#8
DVD Player Akira
Dibeli di tahun 2005 dengan harga 275 ribu. Konon, mendapatkan penghargaan Best Brand Awards di Singapur 2 tahun berturut-turut. Kelebihannya dibandingkan player merk lain adalah ukurannya yang amat kecil. Dan harga yang murah, tentunya. Bisa memutar film apa saja. Kecuali film porno.

Dan film Indonesia.

#9
Sepatu Reebok, Fila, Vans dan Hush Puppies.
Semua di beli di tahun-tahun yang berbeda. Saya bukan gila merk, sebenarnya. Tapi, hmm, mengingat langkah kaki saya yang lebar dan penuh tekanan, saya membutuhkan sepatu yang tahan cobaan. Yang kuat dipakai selama tahunan.

Kalau sudah banyak uang, nanti saya beli produk Cibaduyut. Rela saya tiap bulan berbelanja ke sana.

Beli produknya, sampaikan komplainnya. Maju produk dalam negeri!

#10
300-an DVD Collector Edition
Sebagian hilang entah ke mana. Sebagian lagi sebenarnya milik teman-teman saya. Tapi dalam meminjam barang teman, saya menganut "kalau ngga ditagih jadi milik sendiri".
Koleksi saya adalah film-film lama yang sulit dicari. Yang paling saya banggakan adalah film-film berlabel Unrated.

Semua bajakan.

#11
1 Novel, 4 Buku Sejarah, 1 Kamus Bahasa Indonesia
Sejak kecil, saya nyaris tidak pernah beli novel. Saya adalah anggota 12 taman bacaan di Bandung dan 1 di Rangkasbitung.

Tapi demi monyet yang membuat burung berkicau, saya rela mengeluarkan 130 ribu.


---------


Setelah direnungkan kembali, ternyata saya tidak sedemikian miskinnya. Maafkan, ya Tuhan, jika selama ini saya kurang bersyukur.










Ke arah manakah awan yang meninggalkan puncak gunung?
Ke barat? Ke timur?
[Hideyoshi, Taiko]








Maju Produk Cibaduyut!

Kata orang bijak, tidak boleh kita menghitung-hitung kekayaan. Apalagi, kekayaan tetangga. Tapi malam ini tidak ada yang bisa saya lakukan mengingat mata terlalu segar untuk dipejamkan. Jadilah saya mulai mencatat inventaris barang yang berhasil saya beli selama ini.

#1
TV Asatron 14”.
Dibuat di negeri Cina, lalu dikirim dengan kapal dagang. Harga 500 ribuan. Tidak saya tawar. Sudah menjadi kebiasaan saya tidak suka tawar-menawar.
“Tabungnya LG, Mas,” begitu yang dibilang si penjual di bilangan pusat elektronik Jalan ABC tiga tahun lalu. Namun, bukan karena alasan tersebut saya beli. Tapi lebih karena terjangkau harganya.
Kondisi si tivi saat ini cukup memprihatikan. Selain terbungkus oleh lapisan debu tebal, remote-nya pun sudah pensiun entah sejak kapan. Tombol-tombolnya nyaris tanpa guna. Kalau saya tekan channel 5, yang muncul channel 10. Jika saya naikkan volume, yang terjadi adalah bergantinya mode, dari TV ke mode AV.
Tadinya mau saya berikan ke adik saya, tapi saya tidak tega. Memberi barang kan harus barang yang kita juga senang memakainya.

Mau saya buang, nanti dikiranya saya orang kaya. Nanti kamu ingin saya nikahi segera.

#2
Ponsel Sony Ericsson T630
Dibeli tepat empat tahun lalu. Itu pun second. Sudah enam bulan lamanya tidak bisa di-charge secara konvensional. Karena itulah saya selalu membawa 1 batere cadangan plus satu charger portable jika berpergian jauh. Tak ada keluhan lain kecuali tidak bisa memutar MP3 kesayangan.

Meski sudah ketinggalan jaman, maaf-maaf saja, tidak pernah tanpa pulsa.

#3
Motor Honda GL Pro 160 cc
Ini adalah motor impian saya sejak kecil. Buatan tahun 1997. Seperti ponsel saya, motor ini dibeli di tahun yang sama. Bulan yang sama. Second juga, tentunya.
Kondisi saat ini? Lampu depan, mati. Lampu belakang, mati. Lampu rem, mati. Lampu sein, jangan ditanya. Mati. STNK belum diperpanjang 3 tahun. Pelat nomor belakang buntung separuh. Jok motor mudah terembes air hujan sehingga membuat celana dalam saya selalu basah. Dan… jarang sekali dicuci. Apalagi, dilap.

Tapi di luar itu semua, saya sayang ini motor. Cinta saya sama dia. Sekaya apa pun nanti, tidak akan saya jual ke tetangga.

#4
Kipas Angin Maspion JF-2108T
Inilah produk kita. Sengaja saya beli demi membuktikan cinta pada negeri. Dan kelak, seluruh perabot rumah tangga saya adalah Maspion punya.

Maju produk dalam negeri!

#5
Laptop Asus EEEPC
Dibeli tepat tahun lalu di kala saya mulai menyadari bahwa dengan uang tiga juta, kita bisa puya laptop baru. Dengan ukuran layar monitornya yang hanya tujuh inch, sangat cocok dengan karakter saya yang lincah dan pandai berkelit. Baru-baru ini terjangkiti virus trojan dan bermacam spam.

Ukuran harddisk hanya 2 Giga!!
Hebat, ya, saya…

#6
Modem 3,5G Amoi
Dibuat di negeri Cina. Baru saja lunas setelah dicicil selama 18 bulan. Maklum, dulu harganya sekitar 2,4 juta. Tapi setelah lunas, koneksi internet justru sangat buruk sekali. Disko tiada henti.

Kini, berinternet seperti bermain catur dengan perempuan saja, rasanya. Banyak menunggu. Lama, pula.

#7
MP4 Player ZTE
Dibuat di negeri Cina. Saya pikir, barang ini sebagus Ipod sewaktu saya beli dari seorang temannya teman. Cuma 500 ribu. Bukan cuma, sebenarnya. Uang segitu juga berharga.
Maksud hati mau dihadiahkan pada adik, namun apa daya, saya tidak punya radio. Tape compo Aiwa saya dijual bertahun-tahun lalu demi…
Jadilah fungsinya saya alihkan menjadi mesin HR FM.

More radio, less TV.

#8
DVD Player Akira
Dibeli di tahun 2005 dengan harga 275 ribu. Konon, mendapatkan penghargaan Best Brand Awards di Singapur 2 tahun berturut-turut. Kelebihannya dibandingkan player merk lain adalah ukurannya yang amat kecil. Dan harga yang murah, tentunya. Bisa memutar film apa saja. Kecuali film porno.

Dan film Indonesia.

#9
Sepatu Reebok, Fila, Vans dan Hush Puppies.
Semua di beli di tahun-tahun yang berbeda. Saya bukan gila merk, sebenarnya. Tapi, hmm, mengingat langkah kaki saya yang lebar dan penuh tekanan, saya membutuhkan sepatu yang tahan cobaan. Yang kuat dipakai selama tahunan.

Kalau sudah banyak uang, nanti saya beli produk Cibaduyut. Rela saya tiap bulan berbelanja ke sana.

Beli produknya, sampaikan komplainnya. Maju produk dalam negeri!

#10
300-an DVD Collector Edition
Sebagian hilang entah ke mana. Sebagian lagi sebenarnya milik teman-teman saya. Tapi dalam meminjam barang teman, saya menganut "kalau ngga ditagih jadi milik sendiri".
Koleksi saya adalah film-film lama yang sulit dicari. Yang paling saya banggakan adalah film-film berlabel Unrated.

Semua bajakan.

#11
1 Novel, 4 Buku Sejarah, 1 Kamus Bahasa Indonesia
Sejak kecil, saya nyaris tidak pernah beli novel. Saya adalah anggota 12 taman bacaan di Bandung dan 1 di Rangkasbitung.

Tapi demi monyet yang membuat burung berkicau, saya rela mengeluarkan 130 ribu.


---------


Setelah direnungkan kembali, ternyata saya tidak sedemikian miskinnya. Maafkan, ya Tuhan, jika selama ini saya kurang bersyukur.










Ke arah manakah awan yang meninggalkan puncak gunung?
Ke barat? Ke timur?
[Hideyoshi, Taiko]








Minggu, 22 Februari 2009

Monyet Berbulu Domba




“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Si anak berlari ke arah dapur. “Bi, katanya sedang menghangatkan bulan?”

“Iya. Mau kamu cicipi?” si Bibi menyodorkan sepotong kue tiong chiu pia.

Si anak langsung melahapnya. “MMmm… enak sekali, Bi. Dibuat dari apa ini?”

“Bahan utamanya cinta, Nak,” Bibi menjawab seakan beliau seorang penyair. “Dicampur sesendok teh rindu dan secukupnya cemburu. Dibuatnya harus tanggal tua saat menanti turunnya gaji dan kekasih yang tak kunjung kembali.”

“Cinta itu apa, Bi?” si Anak terus bertanya.

“Tanya kakakmu. Dia tentu sudah tahu.”

Anak itu pun berlari ke kamar kakaknya. “Kak, apa itu cinta?”

Sang kakak malah balik bertanya, ”Kenapa tanya Kakak?”

“Kata Bibi, Kakak lebih tahu tentang cinta daripada dia.”

“Tapi kakak cuma tahu cinta monyet. Dan monyet tentu lebih tahu itu daripada Kakak. Tutup pintunya! Kakak sedang patah hati!” sang Kakak berteriak dengan galak.

Kemudian, si anak pun pergi menuju Kebun Binatang dan mencari sekumpulan monyet di sana. “Ada diantara kalian yang tahu apa itu cinta?” tanyanya pada mereka.

Seekor monyet paling besar mengangkat tangan. “Cinta itu persis sama dengan yang didefinisikan oleh Wikipedia, yaitu sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain.”

Si anak mangut-mangut, seakan ia sudah mengerti saja. “Lalu, apa itu patah hati? Adakah hubungan antara keduanya?”

“Tentu, Nak,” kali ini monyet berbulu domba yang menjawab. “Patah hati adalah perasaan kecewa karena si objek lain tersebut hanya pasif saja, tidak balas melakukan aksi/kegiatan aktif.”

Merasa telah dibekali pengetahuan yang cukup, si anak itu pun pamit untuk pulang. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih sebesar-besarnya.





Bandung, 23 Feb 09
Kantor, pagi hari...