Selasa, 10 Februari 2009

Kampung Trip I

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Dan tidak seperti waktu di masa sekolah, bukan sekedar kehadiran yang dibutuhkan. Tapi lebih dari itu. Di acara talkshow tersebut, saya diberi peran sebagai pembicara. Sebenarnya, istilah “acara talkshow” itu keliru. Atau salah. Cukup “talkshow”, tidak perlu ditambah dengan embel-embel kata “acara”. Tapi, di jaman begini, orang banyak tidak peduli.

Saya pun tidak sekedar berbicara. Kadang-kadang, tertawa. Sesekali, menganggukkan kepala.

Bersama seorang penulis wanita beranak satu, kami bercerita di depan puluhan anak SMP tentang bagaimana menulis. Diantara mereka ada yang mirip Agnes Monica dan Chintami Atmanegara. Tentu, Agnes dan Chintami sewaktu mereka masih remaja.

“Menulis itu sangat susah, Ade-ade. Apalagi menulis kaligrafi Arab dan huruf Cina.”

Garut adalah salah satu kampung halaman saya. Tempat saya dititipkan sewaktu kecil. Setiap liburan sekolah. Tempat saya pulang berlebaran. Di sana, ibu saya dilahirkan. Di sana pula kedua orangtua saya berjumpa. Karena itu, pantaslah kiranya jika saya tahu benar bagaimana budaya penduduknya di masa lalu.

Dan sebagai penganut paham ultra-konservatif, saya sangat dikejutkan oleh foto-foto pengisi acara Gebyar Buku Murah Garut itu di hari Minggu sebelumnya: Garut Sexy Dancers.

Sungguh, saya sangat syok. Terkejut. Sampai-sampai saya mengelus dada dibuatnya.

Dada saya. Bukan dada ayam.

Garut, kampung halaman saya itu…
Kota santri itu… kini memiliki koleksi tim sexy dancer.
Dan sangat sexy.
Atau seksi.

Entah kenapa, saya merasa sedikit kecewa. Juga marah. Seperti melihat adik sendiri mempertontonkan tubuhnya di muka umum...





Kalau Bandung Sexy Dancer... Jakarta Sexy Dancer... bolehlah saya ikut menonton.



Kampung Trip I

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Dan tidak seperti waktu di masa sekolah, bukan sekedar kehadiran yang dibutuhkan. Tapi lebih dari itu. Di acara talkshow tersebut, saya diberi peran sebagai pembicara. Sebenarnya, istilah “acara talkshow” itu keliru. Atau salah. Cukup “talkshow”, tidak perlu ditambah dengan embel-embel kata “acara”. Tapi, di jaman begini, orang banyak tidak peduli.

Saya pun tidak sekedar berbicara. Kadang-kadang, tertawa. Sesekali, menganggukkan kepala.

Bersama seorang penulis wanita beranak satu, kami bercerita di depan puluhan anak SMP tentang bagaimana menulis. Diantara mereka ada yang mirip Agnes Monica dan Chintami Atmanegara. Tentu, Agnes dan Chintami sewaktu mereka masih remaja.

“Menulis itu sangat susah, Ade-ade. Apalagi menulis kaligrafi Arab dan huruf Cina.”

Garut adalah salah satu kampung halaman saya. Tempat saya dititipkan sewaktu kecil. Setiap liburan sekolah. Tempat saya pulang berlebaran. Di sana, ibu saya dilahirkan. Di sana pula kedua orangtua saya berjumpa. Karena itu, pantaslah kiranya jika saya tahu benar bagaimana budaya penduduknya di masa lalu.

Dan sebagai penganut paham ultra-konservatif, saya sangat dikejutkan oleh foto-foto pengisi acara Gebyar Buku Murah Garut itu di hari Minggu sebelumnya: Garut Sexy Dancers.

Sungguh, saya sangat syok. Terkejut. Sampai-sampai saya mengelus dada dibuatnya.

Dada saya. Bukan dada ayam.

Garut, kampung halaman saya itu…
Kota santri itu… kini memiliki koleksi tim sexy dancer.
Dan sangat sexy.
Atau seksi.

Entah kenapa, saya merasa sedikit kecewa. Juga marah. Seperti melihat adik sendiri mempertontonkan tubuhnya di muka umum...





Kalau Bandung Sexy Dancer... Jakarta Sexy Dancer... bolehlah saya ikut menonton.



Rabu, 04 Februari 2009

Halo.
Hi, how are you apa kabar?



Biasanya saya mudah menemukanmu
Di sudut terminal
Di pos polisi
Di balik teralis penjara
Di kolong jembatan
....
Di rumah sakit bersalin
dan dukun pembunuh janin...





Adakah sesuatu yang terjadi?
Halo.
Hi, how are you apa kabar?



Biasanya saya mudah menemukanmu
Di sudut terminal
Di pos polisi
Di balik teralis penjara
Di kolong jembatan
....
Di rumah sakit bersalin
dan dukun pembunuh janin...





Adakah sesuatu yang terjadi?

Minggu, 01 Februari 2009

1000 Miles to KUA




Setelah menggunakan KTP palsu selama enam tahun, hari ini saya memutuskan untuk membuat yang asli. Original. The real one. Ada pun kenapa akhirnya saya berubah, itu tidak lain dan tidak bukan karena syarat dari KUA. Bagi mereka yang hendak menikah, KTP merupakan modal utama. Di samping rumah, mobil, karir dan uang tunai, tentunya. Masa, mengawali rumah tangga dengan kepalsuan?

Sebagai seorang calon suami dan calon ayah yang penuh dedikasi dan komitmen, mengurus KTP harus dilakukan sendiri, dong. Bersih dan lurus. Tidak bengkok disertai pelicin. Kalau mengurus KTP saja tidak becus, bagaimana dalam mengurusi badan yang gemuk?

Ups…

Ini hari minggu, dan pukul delapan saya sudah mandi. Biasanya minggu pagi saya gunakan sebaik-baiknya untuk mencuci baju atau melap motor. Tapi tidak kali ini. Saya fokuskan untuk membuat KTP asli.

Sarapan nasi goreng dibuatkan si Mba… yang saya lupa namanya. Padahal, kami sudah hidup nyaris 5 tahun di bawah atap yang sama. Tapi, apalah artinya nama, bukan? Jengkol tetap bau meski kita ganti namanya jadi mawar.

Bukan, Mba. Mba ngga bau sama sekali. Yah, maafkan saya jika becanda berlebihan. Maklum. Anak muda.

Seusai sarapan, motor saya keluarkan dari garasi. Sebagai pengemudi hebat, saya periksa air akki terlebih dahulu. Isinya sudah nyaris kering. Ah, peduli. Pak RT dan Pak RW dekat rumah lama sudah menunggu. Berangkatlah saya dengan penuh semangat.

Entah kenapa, saya begitu semangat hari ini. Juga hari kemarin. Juga beberapa hari sebelumnya. Saya pikir, ini mungkin disebabkan oleh pengaruh alkohol. Tapi setelah direnungkan kembali, itu tidak mungkin. Alkohol tidak menyebabkan orang yang meminumnya menjadi bersemangat. Alkohol menyebabkan orang yang meminumnya masuk neraka. Itu yang ustadz saya bilang sewaktu saya kecil. Eh, bukan. Salah, bukan begitu. Ustadzah yang benar, soalnya dia perempuan.

Ketika sampai di rumah yang dituju, Pak RT yang saya temui rupanya sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua RT. Tidak pula naik jabatan menjadi Ketua RW. Tidak pula dimutasi dari Ketua RT 005 menjadi Ketua RT 002. Tapi saya tidak patah arang. Masa, baru diberi sedikit kesulitan sudah mundur menyerah? Hidup itu harus seru, sehingga bisa cerita pada anak-cucu.

Karena itu, perjalanan dilanjutkan menuju Ketua RT baru. Namanya Pak Heri. Atau Herry? Ah, saya tidak akan mempermasalahkannya. Biarlah mereka para sarjana hukum saja yang sibuk mengurusi hal seperti itu.

“A-N-D-Y atau A-N-D-E-E?” tanya Pak Heri (atau Herry) sewaktu menulis surat keterangan pindah.

Berikutnya, saya bawa surat tersebut ke rumah Ketua RW untuk meminta tandatangannya. Saya beruntung, rumah beliau sangat teramat dekat. Tinggal menyeberang. Sungguh kebetulan yang diatur-Nya, pagar rumah Pak RW terbuka, dan saya melangkah masuk dan ucapkan salam.

Bagai gayung tak bersambut. Ibarat menjaring air. Bertepuk sebelah tangan. Mengharap bulan membalas senyum. Bermimpi naik gaji. Sepuluh salam saya tak satupun dijawab orang. Mungkin seluruh penghuni rumah beserta isinya sedang berasyik-masyuk. Tidak boleh putus asa, hibur saya dalam hati. Tuhan bersama orang-orang yang bersabar.

Atas kebaikan Pak Heri (atau Harry), saya diberi tahu letak rumah Sekertaris RW. Konon, beliau bisa membantu karena beliaulah pemegang stempel. Saya pun menuju ke sana dan berharap pada-Nya agar si sekretaris yang akan saya temui ini bukan tipe sekretaris penggoda iman.

Keringat banjiri badan satu-satunya ini. Matahari sudah naik tinggi ketika rumah yang dimaksud terlihat. Saya ketuk pintu dan ucapkan salam, lalu pintu pun terbuka. Tuhan mengabulkan doa saya. Si Sekretaris RW adalah seorang bapak-bapak berkumis tebal. Usianya mungkin sudah lewat 40. Iman saya tetap kokoh di tempatnya.

“Stempelnya sedang dipinjam Pak RW.”






Hmm…
Ini seperti dejavu. Saya pernah mengalami ini. Sungguh. Yah, mirip banyak sekali. Beda sedikit jangan disinggung. Kita kan akrab.

Itu kejadian enam tahun lalu. Sewaktu saya baru saja pindah dari tempat tinggal lama menuju tempat tinggal baru. Dan waktu itu, atas kejadian tersebut, saya memutuskan untuk menggunakan KTP palsu.

Itulah yang membuat saya tidak bisa mengurus passport (atau paspor?), baru-baru ini ditolak saat mencairkan chek (atau cheque?), serta tidak mendapat hak pilih dalam pemilu (atau pemillu?).

*hiks…


Wahai, Pak RW.
Cepatlah kembali.






“Now, son, you don't want to drink beer. That's for daddies and kids with fake IDs.”
[Homer Simpson]


1000 Miles to KUA




Setelah menggunakan KTP palsu selama enam tahun, hari ini saya memutuskan untuk membuat yang asli. Original. The real one. Ada pun kenapa akhirnya saya berubah, itu tidak lain dan tidak bukan karena syarat dari KUA. Bagi mereka yang hendak menikah, KTP merupakan modal utama. Di samping rumah, mobil, karir dan uang tunai, tentunya. Masa, mengawali rumah tangga dengan kepalsuan?

Sebagai seorang calon suami dan calon ayah yang penuh dedikasi dan komitmen, mengurus KTP harus dilakukan sendiri, dong. Bersih dan lurus. Tidak bengkok disertai pelicin. Kalau mengurus KTP saja tidak becus, bagaimana dalam mengurusi badan yang gemuk?

Ups…

Ini hari minggu, dan pukul delapan saya sudah mandi. Biasanya minggu pagi saya gunakan sebaik-baiknya untuk mencuci baju atau melap motor. Tapi tidak kali ini. Saya fokuskan untuk membuat KTP asli.

Sarapan nasi goreng dibuatkan si Mba… yang saya lupa namanya. Padahal, kami sudah hidup nyaris 5 tahun di bawah atap yang sama. Tapi, apalah artinya nama, bukan? Jengkol tetap bau meski kita ganti namanya jadi mawar.

Bukan, Mba. Mba ngga bau sama sekali. Yah, maafkan saya jika becanda berlebihan. Maklum. Anak muda.

Seusai sarapan, motor saya keluarkan dari garasi. Sebagai pengemudi hebat, saya periksa air akki terlebih dahulu. Isinya sudah nyaris kering. Ah, peduli. Pak RT dan Pak RW dekat rumah lama sudah menunggu. Berangkatlah saya dengan penuh semangat.

Entah kenapa, saya begitu semangat hari ini. Juga hari kemarin. Juga beberapa hari sebelumnya. Saya pikir, ini mungkin disebabkan oleh pengaruh alkohol. Tapi setelah direnungkan kembali, itu tidak mungkin. Alkohol tidak menyebabkan orang yang meminumnya menjadi bersemangat. Alkohol menyebabkan orang yang meminumnya masuk neraka. Itu yang ustadz saya bilang sewaktu saya kecil. Eh, bukan. Salah, bukan begitu. Ustadzah yang benar, soalnya dia perempuan.

Ketika sampai di rumah yang dituju, Pak RT yang saya temui rupanya sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua RT. Tidak pula naik jabatan menjadi Ketua RW. Tidak pula dimutasi dari Ketua RT 005 menjadi Ketua RT 002. Tapi saya tidak patah arang. Masa, baru diberi sedikit kesulitan sudah mundur menyerah? Hidup itu harus seru, sehingga bisa cerita pada anak-cucu.

Karena itu, perjalanan dilanjutkan menuju Ketua RT baru. Namanya Pak Heri. Atau Herry? Ah, saya tidak akan mempermasalahkannya. Biarlah mereka para sarjana hukum saja yang sibuk mengurusi hal seperti itu.

“A-N-D-Y atau A-N-D-E-E?” tanya Pak Heri (atau Herry) sewaktu menulis surat keterangan pindah.

Berikutnya, saya bawa surat tersebut ke rumah Ketua RW untuk meminta tandatangannya. Saya beruntung, rumah beliau sangat teramat dekat. Tinggal menyeberang. Sungguh kebetulan yang diatur-Nya, pagar rumah Pak RW terbuka, dan saya melangkah masuk dan ucapkan salam.

Bagai gayung tak bersambut. Ibarat menjaring air. Bertepuk sebelah tangan. Mengharap bulan membalas senyum. Bermimpi naik gaji. Sepuluh salam saya tak satupun dijawab orang. Mungkin seluruh penghuni rumah beserta isinya sedang berasyik-masyuk. Tidak boleh putus asa, hibur saya dalam hati. Tuhan bersama orang-orang yang bersabar.

Atas kebaikan Pak Heri (atau Harry), saya diberi tahu letak rumah Sekertaris RW. Konon, beliau bisa membantu karena beliaulah pemegang stempel. Saya pun menuju ke sana dan berharap pada-Nya agar si sekretaris yang akan saya temui ini bukan tipe sekretaris penggoda iman.

Keringat banjiri badan satu-satunya ini. Matahari sudah naik tinggi ketika rumah yang dimaksud terlihat. Saya ketuk pintu dan ucapkan salam, lalu pintu pun terbuka. Tuhan mengabulkan doa saya. Si Sekretaris RW adalah seorang bapak-bapak berkumis tebal. Usianya mungkin sudah lewat 40. Iman saya tetap kokoh di tempatnya.

“Stempelnya sedang dipinjam Pak RW.”






Hmm…
Ini seperti dejavu. Saya pernah mengalami ini. Sungguh. Yah, mirip banyak sekali. Beda sedikit jangan disinggung. Kita kan akrab.

Itu kejadian enam tahun lalu. Sewaktu saya baru saja pindah dari tempat tinggal lama menuju tempat tinggal baru. Dan waktu itu, atas kejadian tersebut, saya memutuskan untuk menggunakan KTP palsu.

Itulah yang membuat saya tidak bisa mengurus passport (atau paspor?), baru-baru ini ditolak saat mencairkan chek (atau cheque?), serta tidak mendapat hak pilih dalam pemilu (atau pemillu?).

*hiks…


Wahai, Pak RW.
Cepatlah kembali.






“Now, son, you don't want to drink beer. That's for daddies and kids with fake IDs.”
[Homer Simpson]


Selasa, 27 Januari 2009

Bahaya Alkohol

Sudah berapa lama kita tidak saling menyapa?
Hush, tidak usah dihitung.
Akan habis jari tangan plus kaki kamu, nanti.
Mungkin akan butuh sempoa.
Dalam hitung-menghitung,
kamu memang bukan bagiannya.

Karena itu, kamu diam saja, ya.
Kali ini biarkan saya bercerita.
Duduk manis sana.
Hey, jangan jauh-jauh.
Saya ngga mau kalau mesti teriak-teriak, nantinya.

Begini.
Kamu masih ingat waktu pertama kali kita ketemu?
...
Ah, lama sekali kamu menjawab.
Sudah tidak pandai berhitung,
juga tidak pandai mengingat.
Baiklah, saya kasih tahu.
Tapi cuma kali ini, ya.
Kali lain, tidak.

Waktu itu,
...
Hey, kamu jangan melamun!
Dengar baik-baik.

Waktu pertama kali kita ketemu,
kita masih sama-sama bloon.
Ah, salah.
Saya masih sedikit lebih pintar, sebenarnya.
Hanya sedikit, jangan protes.

Kenapa saya sebut bloon?
Tidak usah dijawab.
Kan sudah saya bilang, saya tidak mau disela.

Kenapa saya sebut bloon?
Karena dahulu
masing-masing kita merasa diri ini sudah pintar.
Merasa sudah tahu segala sesuatunya.
Entah tersambat oleh apa,
kita seringkali terburu-buru mengambil kesimpulan
atas apa yang kita alami.

Diberi kesenangan, dikiranya anugerah.
Dikasih kesulitan, disangka tengah dicoba-Nya.

Tidak tahu bahwa bisa saja keadaan justru sebaliknya, bukan?

...

Apa? Sampai saat ini, kamu masih tidak tahu hal sesederhana itu?

Tuh, kan, persis seperti yang tadi saya bilang.
Saya memang sedikit lebih pintar.
Bahkan, jauh lebih pintar.

Iya, dari kamu.

Kesimpulannya?
Aih.
Kenapa segala sesuatu harus disimpulkan, sih?
Tidakkah kamu pernah biarkan sesuatu berjalan apa adanya
dan menitipkannya pada waktu?




Apa?
Kamu ngga ngerti maksud omongan saya?
Aih.
Kenapa segala sesuatu harus buru-buru dimengerti, sih?






Apa? Saya ngalor-ngidul?







Ditulis dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol...