Rabu, 24 Desember 2008

Pernah, dong ah...



Ada sebuah catatan yang masih segar dalam ingatan saya tentang sebuah kejadian. Kami duduk di sebuah meja bernaungkan tenda parasol. Jalan Bali nomor satu. Tepat tiga tahun lalu.

Apa yang bisa dibicarakan dua manusia selama dua belas jam tanpa henti?

Hidup, masa lalu dan mimpi.

Kamu, seorang perempuan yang paling saya percaya. Perempuan yang tak bisa berhenti untuk terus dicintai banyak orang. Dan saya, juga mereka, tidak pernah khawatir akan kamu buat terluka.

Kamu, perempuan yang kecantikannya tidak bisa ditangkap kamera. Canon, Philips, Minolta. Perempuan yang cintanya kamu bagi tanpa pandang bulu. Bulu kaki, bulu mata, hidung dan ketiak. Perempuan yang hatinya untuk semua yang mengenal tanpa pandang warna kulit. Putih, kuning, cokelat, abu, merah jambu. Perempuan yang begitu dikagumi anak-anak, diminati remaja, dimimpikan lelaki dewasa. Para orangtua berebut menjadikanmu mantu mereka.

Kamu, perempuan yang paling saya hormati. Hormat pramuka, hormat bendera. Perempuan yang paling sering mendengar saya tertawa, dan satu-satunya yang saya perlihatkan air mata.

Kamu, perempuan yang pernah saya ceritakan pada dunia.




Pernahkah saya katakan bahwa saya merasa begitu beruntung?













Tentu saja pernah…



Mmmm…


Sepertinya, belum…

Eh,








Pernah ngga, sih?



“I think we make a real sharp couple of coconuts - I’m dumb, you’re shy, whaddaya think, huh?”
[Rocky Balboa, Rocky]


Pernah, dong ah...



Ada sebuah catatan yang masih segar dalam ingatan saya tentang sebuah kejadian. Kami duduk di sebuah meja bernaungkan tenda parasol. Jalan Bali nomor satu. Tepat tiga tahun lalu.

Apa yang bisa dibicarakan dua manusia selama dua belas jam tanpa henti?

Hidup, masa lalu dan mimpi.

Kamu, seorang perempuan yang paling saya percaya. Perempuan yang tak bisa berhenti untuk terus dicintai banyak orang. Dan saya, juga mereka, tidak pernah khawatir akan kamu buat terluka.

Kamu, perempuan yang kecantikannya tidak bisa ditangkap kamera. Canon, Philips, Minolta. Perempuan yang cintanya kamu bagi tanpa pandang bulu. Bulu kaki, bulu mata, hidung dan ketiak. Perempuan yang hatinya untuk semua yang mengenal tanpa pandang warna kulit. Putih, kuning, cokelat, abu, merah jambu. Perempuan yang begitu dikagumi anak-anak, diminati remaja, dimimpikan lelaki dewasa. Para orangtua berebut menjadikanmu mantu mereka.

Kamu, perempuan yang paling saya hormati. Hormat pramuka, hormat bendera. Perempuan yang paling sering mendengar saya tertawa, dan satu-satunya yang saya perlihatkan air mata.

Kamu, perempuan yang pernah saya ceritakan pada dunia.




Pernahkah saya katakan bahwa saya merasa begitu beruntung?













Tentu saja pernah…



Mmmm…


Sepertinya, belum…

Eh,








Pernah ngga, sih?



“I think we make a real sharp couple of coconuts - I’m dumb, you’re shy, whaddaya think, huh?”
[Rocky Balboa, Rocky]


Selasa, 23 Desember 2008

Pergi, Jangan, Jangan Pergi



bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

bandung adalah hijaunya pinus
merah bunga mawar
dan warna-warni lampu malam
bitambah hitam asap knalpot
tercampur aroma sampah kota
yang sering lupa terangkut

bandung adalah sejuk, damai, tenang
yang terusik hingar-bingar
para geng motor

bandung adalah derai tawa dan air mata
plus amarah viking
seusai persib kalah tanding


bandung adalah surga berbelanja
tempat lidah berwisata
dan perut dimanja
awal kisah-kisah cinta romantis
juga perselingkuhan terjadi di sana

bandung adalah sarang seniman
penulis dan cendikiawan
termasuk tanah kelahiran pemusik
yang kemudian ditinggal pergi
demi nasib lebih baik

bandung adalah kota pelajar
dan pusat pendidikan
yang juga minim lapangan pekerjaan

bandung adalah paradoks
terkadang dibenci,
tidak jarang dirindu



Sejak 1984...







Sewaktu kuliah, saya begitu kukuh untuk berjuang di kota ini, tidak sekedar bertahan.

Tapi menurut Google Search, yang saya cari tidak ada di Bandung.

Haruskah saya tinggalkan ini semua? Demi...?






Pergi, jangan, jangan pergi...








“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[
Maria Robinson]

Pergi, Jangan, Jangan Pergi



bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

bandung adalah hijaunya pinus
merah bunga mawar
dan warna-warni lampu malam
bitambah hitam asap knalpot
tercampur aroma sampah kota
yang sering lupa terangkut

bandung adalah sejuk, damai, tenang
yang terusik hingar-bingar
para geng motor

bandung adalah derai tawa dan air mata
plus amarah viking
seusai persib kalah tanding


bandung adalah surga berbelanja
tempat lidah berwisata
dan perut dimanja
awal kisah-kisah cinta romantis
juga perselingkuhan terjadi di sana

bandung adalah sarang seniman
penulis dan cendikiawan
termasuk tanah kelahiran pemusik
yang kemudian ditinggal pergi
demi nasib lebih baik

bandung adalah kota pelajar
dan pusat pendidikan
yang juga minim lapangan pekerjaan

bandung adalah paradoks
terkadang dibenci,
tidak jarang dirindu



Sejak 1984...







Sewaktu kuliah, saya begitu kukuh untuk berjuang di kota ini, tidak sekedar bertahan.

Tapi menurut Google Search, yang saya cari tidak ada di Bandung.

Haruskah saya tinggalkan ini semua? Demi...?






Pergi, jangan, jangan pergi...








“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[
Maria Robinson]

Senin, 22 Desember 2008

Ember



lalu kusingkap rahasia pada mereka

tentang persahabatan kita
yang kuanyam dengan jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

kami sekedar berbicara
dalam bahasa yang serupa
dan tiap bait kata yang tersusun
dari guguran abjadnya yang semula berserakan

ia adalah air yang mengalir, sahutku
yang bermuara pada laut garam
juga menguap menjadi awan
lalu menghilang beserta hujan




















gunakan ember besar, usul mereka
tampung dia…



“Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain.”
[Anonymous]

Ember



lalu kusingkap rahasia pada mereka

tentang persahabatan kita
yang kuanyam dengan jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

kami sekedar berbicara
dalam bahasa yang serupa
dan tiap bait kata yang tersusun
dari guguran abjadnya yang semula berserakan

ia adalah air yang mengalir, sahutku
yang bermuara pada laut garam
juga menguap menjadi awan
lalu menghilang beserta hujan




















gunakan ember besar, usul mereka
tampung dia…



“Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain.”
[Anonymous]

Sabtu, 20 Desember 2008

Untuk Rini di Cimahi



Bandung, 25 Oktober 2005


Dear, Rini.

Beribu maaf, kamu harus menunggu begitu lama untuk dapat menerima surat balasan ini. Kebiasaan buruk menunda segala sesuatu memang sudah menjadi kekurangan saya yang paling mendasar.

Sekali lagi… maafkan.

Ada kelegaan luar biasa sewaktu saya membaca surat kamu. Ternyata, kamu menyukai novel itu. Bahkan, kamu ceritakan juga tentang tokoh Pram yang kamu suka. Sungguh, bertambah lagi satu alasan bagi saya untuk terus menulis. Terimakasih.

Jadi, bagaimana kabar kamu? Sudah tidak jemu lagi menunggu?

Setiap orang pernah mencintai dan kemudian terluka. Termasuk saya, tentunya. Mungkin sudah dua-tiga kali. Bahkan mungkin lebih. Tapi, itu tidak berarti membuat saya terbiasa untuk mengalaminya. Tetap saja terasa perih. Sampai saat ini pun, gerimis di hati saya masih merintik. Terkadang menggelitik.

Sekedar berbagi, always, Laila saya tulis ketika diri ini merasa begitu sepi. Saya merasa sendiri dan kehilangan akan sesuatu yang belum sempat saya punya. Sesuatu yang istimewa dan berharga. Sesuatu, yang mereka menyebutnya seseorang. Dan kamu sudah mengenalnya dalam tulisan saya, bukan? Rupanya, tanpa sadar, seseorang itulah yang telah menumbuhkan inspirasi dalam diri saya untuk menulis cerita tersebut.

Bagaimana, Rin? Kamu menyukai Laila?

Dear, Rini.
Memang benar bahwa menulis surat sudah menjadi hal yang ditinggalkan. Tapi, entah kenapa, menerima sepucuk surat dengan tertera nama kita terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekedar e-mail atau sms. Jadi, tidak ada rasa keberatan untuk membaca dan membalas surat kamu.


Salam,

Andi Eriawan




















Nah, Rini.
Maafkan, saya ya.
Setelah tiga tahun yang lalu saya tulis surat balasan ini,
saya belum juga sempat ke Kantor Pos...





Sempat, sih. Empat-lima kali.

Tapi...




Ah, pokoknya maafkan saja saya, lah.
Kita kan' akrab.









“Fighters have rules, too. Friendship, trust, integrity. Always keep your promise. Without rules we wouldn’t survive long.”
[Yu Shu Lien, Crouching Tiger Hidden Dragon]