Sabtu, 20 Desember 2008

Untuk Rini di Cimahi



Bandung, 25 Oktober 2005


Dear, Rini.

Beribu maaf, kamu harus menunggu begitu lama untuk dapat menerima surat balasan ini. Kebiasaan buruk menunda segala sesuatu memang sudah menjadi kekurangan saya yang paling mendasar.

Sekali lagi… maafkan.

Ada kelegaan luar biasa sewaktu saya membaca surat kamu. Ternyata, kamu menyukai novel itu. Bahkan, kamu ceritakan juga tentang tokoh Pram yang kamu suka. Sungguh, bertambah lagi satu alasan bagi saya untuk terus menulis. Terimakasih.

Jadi, bagaimana kabar kamu? Sudah tidak jemu lagi menunggu?

Setiap orang pernah mencintai dan kemudian terluka. Termasuk saya, tentunya. Mungkin sudah dua-tiga kali. Bahkan mungkin lebih. Tapi, itu tidak berarti membuat saya terbiasa untuk mengalaminya. Tetap saja terasa perih. Sampai saat ini pun, gerimis di hati saya masih merintik. Terkadang menggelitik.

Sekedar berbagi, always, Laila saya tulis ketika diri ini merasa begitu sepi. Saya merasa sendiri dan kehilangan akan sesuatu yang belum sempat saya punya. Sesuatu yang istimewa dan berharga. Sesuatu, yang mereka menyebutnya seseorang. Dan kamu sudah mengenalnya dalam tulisan saya, bukan? Rupanya, tanpa sadar, seseorang itulah yang telah menumbuhkan inspirasi dalam diri saya untuk menulis cerita tersebut.

Bagaimana, Rin? Kamu menyukai Laila?

Dear, Rini.
Memang benar bahwa menulis surat sudah menjadi hal yang ditinggalkan. Tapi, entah kenapa, menerima sepucuk surat dengan tertera nama kita terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekedar e-mail atau sms. Jadi, tidak ada rasa keberatan untuk membaca dan membalas surat kamu.


Salam,

Andi Eriawan




















Nah, Rini.
Maafkan, saya ya.
Setelah tiga tahun yang lalu saya tulis surat balasan ini,
saya belum juga sempat ke Kantor Pos...





Sempat, sih. Empat-lima kali.

Tapi...




Ah, pokoknya maafkan saja saya, lah.
Kita kan' akrab.









“Fighters have rules, too. Friendship, trust, integrity. Always keep your promise. Without rules we wouldn’t survive long.”
[Yu Shu Lien, Crouching Tiger Hidden Dragon]


Untuk Rini di Cimahi



Bandung, 25 Oktober 2005


Dear, Rini.

Beribu maaf, kamu harus menunggu begitu lama untuk dapat menerima surat balasan ini. Kebiasaan buruk menunda segala sesuatu memang sudah menjadi kekurangan saya yang paling mendasar.

Sekali lagi… maafkan.

Ada kelegaan luar biasa sewaktu saya membaca surat kamu. Ternyata, kamu menyukai novel itu. Bahkan, kamu ceritakan juga tentang tokoh Pram yang kamu suka. Sungguh, bertambah lagi satu alasan bagi saya untuk terus menulis. Terimakasih.

Jadi, bagaimana kabar kamu? Sudah tidak jemu lagi menunggu?

Setiap orang pernah mencintai dan kemudian terluka. Termasuk saya, tentunya. Mungkin sudah dua-tiga kali. Bahkan mungkin lebih. Tapi, itu tidak berarti membuat saya terbiasa untuk mengalaminya. Tetap saja terasa perih. Sampai saat ini pun, gerimis di hati saya masih merintik. Terkadang menggelitik.

Sekedar berbagi, always, Laila saya tulis ketika diri ini merasa begitu sepi. Saya merasa sendiri dan kehilangan akan sesuatu yang belum sempat saya punya. Sesuatu yang istimewa dan berharga. Sesuatu, yang mereka menyebutnya seseorang. Dan kamu sudah mengenalnya dalam tulisan saya, bukan? Rupanya, tanpa sadar, seseorang itulah yang telah menumbuhkan inspirasi dalam diri saya untuk menulis cerita tersebut.

Bagaimana, Rin? Kamu menyukai Laila?

Dear, Rini.
Memang benar bahwa menulis surat sudah menjadi hal yang ditinggalkan. Tapi, entah kenapa, menerima sepucuk surat dengan tertera nama kita terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekedar e-mail atau sms. Jadi, tidak ada rasa keberatan untuk membaca dan membalas surat kamu.


Salam,

Andi Eriawan




















Nah, Rini.
Maafkan, saya ya.
Setelah tiga tahun yang lalu saya tulis surat balasan ini,
saya belum juga sempat ke Kantor Pos...





Sempat, sih. Empat-lima kali.

Tapi...




Ah, pokoknya maafkan saja saya, lah.
Kita kan' akrab.









“Fighters have rules, too. Friendship, trust, integrity. Always keep your promise. Without rules we wouldn’t survive long.”
[Yu Shu Lien, Crouching Tiger Hidden Dragon]


Kamis, 18 Desember 2008

Cicip-cicip Novel Ke Empat


Sejak aku bisa mengingat tentang kakakku, Ruski adalah seorang anak lelaki yang nakal dan mata duitan. Sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar, dia sudah terbiasa bergelantungan di atas KRD yang melintasi jalur Cicalengka-Padalarang, mengorek uang recehan yang tertanam di jalan aspal, mencongkel timah ban mobil dan sering meminta uang untuk buku pelajaran yang tidak pernah dibelikannya. Bila disuruh melakukan sesuatu oleh orangtua kami, Ruski selalu meminta bayaran di muka. Belanja ke warung, limapuluh. Ke kantor pos, seratus. Puasa Ramadhan, seratus per hari. Sejak kelas lima tahun lalu, dia mulai mencuri rokok milik Bapak dan menghisapnya di gardu listrik belakang komplek rumah kami. Dan Mamah sudah terbiasa diomeli para tetangga atau orangtua murid sekolah karena Ruski telah memberi pengaruh buruk bagi anak-anak mereka.

Kedua orangtua kami bukan tidak pernah memarahi kakakku. Namun, entah kenapa, cubitan dan omelan tidak mempan terhadapnya. Jika Mamah sampai menghentikan uang saku Ruski, maka akan ada satu-dua ekor ikan mas koki menghilang dari akuarium dan beberapa koleksi kaset Bapak berpindah tangan ke tukang loak di Pasar Cihapit. Jika dikurung di kamar mandi, maka air bak akan dikuras habis. Pernah suatu kali Ruski dilarang menonton tivi selama satu minggu. Maka yang terjadi adalah menghilangnya antena tivi sehingga kami sekeluarga tidak bisa menonton selama satu minggu.

Tapi setiap kali kami membicarakan masa-masa itu di tahun-tahun berikutnya, Ruski selalu menampik bahwa dia adalah teladan yang buruk bagi aku, adiknya. Dan lagi-lagi dia akan mengingatkan aku tentang kejadian, kami menyebutnya September Berdarah, di mana Ruski menjadi sosok pahlawan bagi seluruh anggota keluarga. Kalau sudah begitu, aku akan terdiam kehabisan kata-kata sambil memandang sebal kakakku yang tampak besar kepala. Kemudian aku mengancam akan memberi tahu Bapak tempat persembunyian rokoknya. Dan seperti biasa, kami pun kembali berbaikan.

Bapak pernah bercerita bahwa kenakalan Ruski berasal dari darah kakekku, Rusmana, seorang jawara yang ikut pemberontakan DI/TII di Sumedang yang kemudian turun gunung hanya karena jatuh cinta pada nenekku. Mereka mengungsi ke kawasan Muararajeun yang dulu masih berupa rawa-rawa dan mendirikan rumah di sana. Tigapuluh tahun kemudian, mereka digusur oleh pemerintah kota. Kakekkulah yang berjuang paling depan untuk mendapatkan ganti rugi pembebasan tanah dengan harga yang sangat tinggi.

Tapi kemudian Mamah menyangkal. Menurutnya, kenakalan Ruski lebih disebabkan oleh kelahirannya yang prematur dengan berat hanya dua kilo gram. Tidak lebih dan tidak kurang. Kondisinya begitu lemah sampai-sampai ia harus diinfus selama tiga hari. Tidak hanya sampai di situ. Ruski sempat pinsan dan dokter memberi kejutan listrik untuk menyadarkannya. Jadi, mungkin akibat voltase yang terlalu besar, Ruski tumbuh dalam kondisi kelebihan energi.

Bersambung.






Semoga bisa terbit di tahun 2009.

Semoga...








“Whatever you do, just don’t listen to anything I say.”
[Joe Fox, You've Got Mail]


Cicip-cicip Novel Ke Empat


Sejak aku bisa mengingat tentang kakakku, Ruski adalah seorang anak lelaki yang nakal dan mata duitan. Sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar, dia sudah terbiasa bergelantungan di atas KRD yang melintasi jalur Cicalengka-Padalarang, mengorek uang recehan yang tertanam di jalan aspal, mencongkel timah ban mobil dan sering meminta uang untuk buku pelajaran yang tidak pernah dibelikannya. Bila disuruh melakukan sesuatu oleh orangtua kami, Ruski selalu meminta bayaran di muka. Belanja ke warung, limapuluh. Ke kantor pos, seratus. Puasa Ramadhan, seratus per hari. Sejak kelas lima tahun lalu, dia mulai mencuri rokok milik Bapak dan menghisapnya di gardu listrik belakang komplek rumah kami. Dan Mamah sudah terbiasa diomeli para tetangga atau orangtua murid sekolah karena Ruski telah memberi pengaruh buruk bagi anak-anak mereka.

Kedua orangtua kami bukan tidak pernah memarahi kakakku. Namun, entah kenapa, cubitan dan omelan tidak mempan terhadapnya. Jika Mamah sampai menghentikan uang saku Ruski, maka akan ada satu-dua ekor ikan mas koki menghilang dari akuarium dan beberapa koleksi kaset Bapak berpindah tangan ke tukang loak di Pasar Cihapit. Jika dikurung di kamar mandi, maka air bak akan dikuras habis. Pernah suatu kali Ruski dilarang menonton tivi selama satu minggu. Maka yang terjadi adalah menghilangnya antena tivi sehingga kami sekeluarga tidak bisa menonton selama satu minggu.

Tapi setiap kali kami membicarakan masa-masa itu di tahun-tahun berikutnya, Ruski selalu menampik bahwa dia adalah teladan yang buruk bagi aku, adiknya. Dan lagi-lagi dia akan mengingatkan aku tentang kejadian, kami menyebutnya September Berdarah, di mana Ruski menjadi sosok pahlawan bagi seluruh anggota keluarga. Kalau sudah begitu, aku akan terdiam kehabisan kata-kata sambil memandang sebal kakakku yang tampak besar kepala. Kemudian aku mengancam akan memberi tahu Bapak tempat persembunyian rokoknya. Dan seperti biasa, kami pun kembali berbaikan.

Bapak pernah bercerita bahwa kenakalan Ruski berasal dari darah kakekku, Rusmana, seorang jawara yang ikut pemberontakan DI/TII di Sumedang yang kemudian turun gunung hanya karena jatuh cinta pada nenekku. Mereka mengungsi ke kawasan Muararajeun yang dulu masih berupa rawa-rawa dan mendirikan rumah di sana. Tigapuluh tahun kemudian, mereka digusur oleh pemerintah kota. Kakekkulah yang berjuang paling depan untuk mendapatkan ganti rugi pembebasan tanah dengan harga yang sangat tinggi.

Tapi kemudian Mamah menyangkal. Menurutnya, kenakalan Ruski lebih disebabkan oleh kelahirannya yang prematur dengan berat hanya dua kilo gram. Tidak lebih dan tidak kurang. Kondisinya begitu lemah sampai-sampai ia harus diinfus selama tiga hari. Tidak hanya sampai di situ. Ruski sempat pinsan dan dokter memberi kejutan listrik untuk menyadarkannya. Jadi, mungkin akibat voltase yang terlalu besar, Ruski tumbuh dalam kondisi kelebihan energi.

Bersambung.






Semoga bisa terbit di tahun 2009.

Semoga...








“Whatever you do, just don’t listen to anything I say.”
[Joe Fox, You've Got Mail]


Rabu, 17 Desember 2008

Janji Bangun Tidur


Pagi ini saya terbangun dalam kondisi tubuh yang lemah. Lemah gemulai. Seperti bencong. Pandangan mata berkunang-kunang dan hidung basah tidak kepalang. Tissue berserakan di sisi ranjang. Serangan virus influenza sudah memasuki hari ke tiga, sementara belum satu pun obat farmasi yang tertelan tenggorokan saya.

Masih sedikit tenang, sebenarnya. Sebab rokok dan kopi belum berubah rasanya di lidah.

Pada awalnya, saya pikir ini sugesti belaka bahwa saya sedang sakit. Namun rupanya saya sudah tidak setangguh dahulu. Sewaktu lari pagi, beladiri, bulutangkis, lari sore, fitness dan naik gunung masih menjadi kegiatan sehari-hari. Saat push-up limapuluh setiap bangun tidur, barbel lima kilo sebelum naik kasur.

Jika terserang flu, cukup dengan tidur dan segelas teh panas tawar, kondisi tubuh akan kembali normal.

Ah...
Sebagai seseorang yang dianugerahi kesehatan yang luar biasa selama tahunan ke belakang, saya terlalu jarang mengucapkan syukur pada-Nya.

Maafkan, ya Tuhan. Tolong Engkau kembalikan kekuatan yang sebelumnya Engkau titipkan. Berikutnya akan saya jaga baik-baik dan pelihara sungguh-sungguh. Takkan ada lagi begadang tak penting itu.






Selamat berkarya, Andi.
Libur akhir tahun masih lama...




"Good health is the most important thing. More than success, more than money, more than power."
[Hyman Roth, The Godfather: Part II]



Janji Bangun Tidur


Pagi ini saya terbangun dalam kondisi tubuh yang lemah. Lemah gemulai. Seperti bencong. Pandangan mata berkunang-kunang dan hidung basah tidak kepalang. Tissue berserakan di sisi ranjang. Serangan virus influenza sudah memasuki hari ke tiga, sementara belum satu pun obat farmasi yang tertelan tenggorokan saya.

Masih sedikit tenang, sebenarnya. Sebab rokok dan kopi belum berubah rasanya di lidah.

Pada awalnya, saya pikir ini sugesti belaka bahwa saya sedang sakit. Namun rupanya saya sudah tidak setangguh dahulu. Sewaktu lari pagi, beladiri, bulutangkis, lari sore, fitness dan naik gunung masih menjadi kegiatan sehari-hari. Saat push-up limapuluh setiap bangun tidur, barbel lima kilo sebelum naik kasur.

Jika terserang flu, cukup dengan tidur dan segelas teh panas tawar, kondisi tubuh akan kembali normal.

Ah...
Sebagai seseorang yang dianugerahi kesehatan yang luar biasa selama tahunan ke belakang, saya terlalu jarang mengucapkan syukur pada-Nya.

Maafkan, ya Tuhan. Tolong Engkau kembalikan kekuatan yang sebelumnya Engkau titipkan. Berikutnya akan saya jaga baik-baik dan pelihara sungguh-sungguh. Takkan ada lagi begadang tak penting itu.






Selamat berkarya, Andi.
Libur akhir tahun masih lama...




"Good health is the most important thing. More than success, more than money, more than power."
[Hyman Roth, The Godfather: Part II]



Minggu, 14 Desember 2008

Airmata, Aisa...


Teruntuk Aisa,

seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Jika ditanya kenapa, Bapak akan kesulitan menjawabnya. Kepedihan selalu datang dan pergi, atau datang dan hinggap. Entah harus memulai dari mana. Segala sebab-musabab tidaklah sesederhana kata-kata. Seperti persamaan polinomial pangkat enam saja. Siapapun akan kesulitan mencari akar-akarnya. Tapi, alasan apa pun tidaklah penting, Aisa. Bukankah airmata juga merupakan pelembut jiwa? Lalu kenapa kita harus disibukkan dengan mencari sumbernya?

Kamu tahu, Sayang. Bapak berani bertaruh bahwa kamu nyaris tidak pernah menemukan ibumu menangis. Bukan. Dia memang tangguh, tapi bukan karena itu. Ibumu adalah seorang perempuan yang sangat pandai dalam menyembunyikan kesedihannya. Teramat pandai. Dia bisa saja tersenyum dan tertawa di keramaian orang, padahal mungkin saja kesedihan tengah mengendap di dasar hatinya. Bapak saja baru satu-dua kali melihat air mata ibumu mengalir. Itu pun akibat tingkah-polah ayahmu ini.

Ya. Bapak kadang-kadang menyebalkan juga, Aisa. Maafkan.


Tapi Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.



“Perhaps our eyes need to be washed by our tears once in a while, so that we can see life with a clearer view again.”
[Alex Tan]