Sabtu, 06 Desember 2008

Masturbasi Emosional dan Spiritual


Istilah ini saya pinjam dari seorang teman kantor ketika kami membicarakan betapa maraknya berbagai training motivasi. Tujuan setiap program adalah sama, meningkatkan motivasi para peserta agar mereka dapat lebih bersemangat, baik dalam konteks bekerja, menjalankan kehidupan sampai mengejar kekayaan. Juga meningkatkan keimanan.

Saya sendiri bukan tidak pernah mengikuti berbagai training seperti itu. Di tahun-tahun pertama kuliah, entah berapa banyak jenis training motivasi yang pernah saya ikuti. Termasuk doa-doa bersama yang mencucurkan air mata. Setiap kali lulus dari program tersebut, saya serasa lahir kembali dengan jiwa baru. Merasa lebih bersih dan bersemangat.

Begitu juga ketika saya menonton film atau membaca novel dengan cerita yang demikian menggugah. Hati saya tersentuh, tidak jarang sampai menangis. Pengaruhnya begitu luar biasa sehingga ketika usai menontonnya atau menutup halaman terakhir, saya bertekad untuk mencontoh nilai-nilai yang terkandung di sana, mengidolakan para tokohnya dan mengikuti jalan hidup mereka.

Yang menjadi masalah adalah… berapa lama hal itu bisa bertahan?

Kalau sekedar pemuasan batin dan pengkayaan informasi di kepala, tanpa diikuti tindakan yang nyata secara berkesinambungan, istilah maturbasi emosional dan masturbasi spiritual menjadi sangat cocok, bukan?





Tuhan,
Saya tidak mau lagi.








Kampung Cilutung
Garut
seusai membaca Into the Wild
yang ke dua kalinya




“How can you be in hell, when you are in my heart?”
[Balian of Ibelin, Kingdom of Heaven]

Masturbasi Emosional dan Spiritual


Istilah ini saya pinjam dari seorang teman kantor ketika kami membicarakan betapa maraknya berbagai training motivasi. Tujuan setiap program adalah sama, meningkatkan motivasi para peserta agar mereka dapat lebih bersemangat, baik dalam konteks bekerja, menjalankan kehidupan sampai mengejar kekayaan. Juga meningkatkan keimanan.

Saya sendiri bukan tidak pernah mengikuti berbagai training seperti itu. Di tahun-tahun pertama kuliah, entah berapa banyak jenis training motivasi yang pernah saya ikuti. Termasuk doa-doa bersama yang mencucurkan air mata. Setiap kali lulus dari program tersebut, saya serasa lahir kembali dengan jiwa baru. Merasa lebih bersih dan bersemangat.

Begitu juga ketika saya menonton film atau membaca novel dengan cerita yang demikian menggugah. Hati saya tersentuh, tidak jarang sampai menangis. Pengaruhnya begitu luar biasa sehingga ketika usai menontonnya atau menutup halaman terakhir, saya bertekad untuk mencontoh nilai-nilai yang terkandung di sana, mengidolakan para tokohnya dan mengikuti jalan hidup mereka.

Yang menjadi masalah adalah… berapa lama hal itu bisa bertahan?

Kalau sekedar pemuasan batin dan pengkayaan informasi di kepala, tanpa diikuti tindakan yang nyata secara berkesinambungan, istilah maturbasi emosional dan masturbasi spiritual menjadi sangat cocok, bukan?





Tuhan,
Saya tidak mau lagi.








Kampung Cilutung
Garut
seusai membaca Into the Wild
yang ke dua kalinya




“How can you be in hell, when you are in my heart?”
[Balian of Ibelin, Kingdom of Heaven]

Kamis, 04 Desember 2008

I Love Goat


Dari semua hewan yang terdapat di seluruh permukaan bumi, saya sangat bersyukur Tuhan menciptakan kambing.

Sate, steak, gulai. Ah, sedapnya.

Sampai-sampai saya berpikir bahwa… ini mungkin hidangan kiriman dari warung-warung di surga. Pernah suatu kali saya habiskan 40 tusuk sate kambing dalam waktu kurang dari satu jam. Saya potong-potong sendiri itu kambing. Saya tusuk-tusuk penuh nafsu. Lalu saya panggang. Bumbu maranggi tidak terlupa disertakan: kecap, bawang, cabe ijo. Malam harinya dilanjutkan dengan pesta lamb chop. Jangan tanya berapa yang masuk ke dalam perut.


Idul Adha 2 tahun lalu.
Salah satu hari terbaik di sepanjang hidup saya.




Tapi siapapun bisa saja bilang,
”Saya juga sangat suka kambing, Andi.”
”Sate kambing favorit saya, lho. Bener!”
”Saya sangat suka steak kambing.”




Komentar saya terhadap mereka adalah,
”Huh! Yeah, rite!!!”

Berkata, ”Saya suka kambing”, menurut saya tidak ada bedanya dengan ngomong Saya suka kamu”, atau, ”I love you.”

Kebanyakan omong kosong belaka tanpa disertai pembuktian terlebih dahulu. Tanpa sertifikat lulus uji. Berkata tanpa benar-benar mengerti akan konsekuensinya, tanpa mengukur berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk melunturkan perasaan itu.

Berbeda sekali dengan saya. Ketika saya nyatakan bahwa saya suka kambing, maka itu memang benar demikian. Bagaimana lagi, saya sudah menunjukkan bukti-bukti nyata.

Pertama, sejak duduk di bangku SD, saya sudah memilih sendiri kambing yang akan dipotong untuk hewan kurban. Saya berkeliling tanpa lelah di sepanjang Jalan Katamso dan Pahlawan Bandung sampai diperoleh kambing terbaik yang sesuai dengan harganya. Tanduk, paha, tinggi, bulu. Saya teliti semua. Termasuk agresivitas mereka. Semakin suka menyeruduk, semakin yahud.

Ke dua, sejak SMA, saya sudah terbiasa memotong sendiri leher mereka, mengulitinya, dan memotongnya hingga kecil-kecil. Tangan saya sudah sering belepotan darah mereka.

Ke tiga, di masa kuliah, selama dua tahun berturut-turut, saya berperan sebagai pedagang kambing. Dari mulai mencari suplier, membangun kandang, berhadapan dengan konsumen, sampai mengantarkan para kambing ke tempat-tempat pemotongan. Pakai apa? Pakai motor. Saya duduk dibonceng. Supir tentu depan. Sementara kambing saya peluk di tengah. Kami sungguh mesra. Orang-orang di sepanjang jalan selalu menatap kami penuh kagum dan iri.

Ke empat, di masa yang sama, saya jual kotoran mereka yang banyaknya satu bak mobil penuh kepada para petani.

Ke lima, ini yang paling penting. Tidak. Saya tidak bau kambing.




Karena itu, siapa diantara mereka yang berani bilang bahwa, ”Saya cinta kamu”, eh, ”Saya suka kambing”, tanpa bukti-bukti terdahulu?
Sini, saya seruduk!




Selamat Idul Adha 1429H
Mari kita berpesta daging...




“Fear the goat from the front, the horse from the rear, and man from all sides.”
[Anonimous]




I Love Goat


Dari semua hewan yang terdapat di seluruh permukaan bumi, saya sangat bersyukur Tuhan menciptakan kambing.

Sate, steak, gulai. Ah, sedapnya.

Sampai-sampai saya berpikir bahwa… ini mungkin hidangan kiriman dari warung-warung di surga. Pernah suatu kali saya habiskan 40 tusuk sate kambing dalam waktu kurang dari satu jam. Saya potong-potong sendiri itu kambing. Saya tusuk-tusuk penuh nafsu. Lalu saya panggang. Bumbu maranggi tidak terlupa disertakan: kecap, bawang, cabe ijo. Malam harinya dilanjutkan dengan pesta lamb chop. Jangan tanya berapa yang masuk ke dalam perut.


Idul Adha 2 tahun lalu.
Salah satu hari terbaik di sepanjang hidup saya.




Tapi siapapun bisa saja bilang,
”Saya juga sangat suka kambing, Andi.”
”Sate kambing favorit saya, lho. Bener!”
”Saya sangat suka steak kambing.”




Komentar saya terhadap mereka adalah,
”Huh! Yeah, rite!!!”

Berkata, ”Saya suka kambing”, menurut saya tidak ada bedanya dengan ngomong Saya suka kamu”, atau, ”I love you.”

Kebanyakan omong kosong belaka tanpa disertai pembuktian terlebih dahulu. Tanpa sertifikat lulus uji. Berkata tanpa benar-benar mengerti akan konsekuensinya, tanpa mengukur berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk melunturkan perasaan itu.

Berbeda sekali dengan saya. Ketika saya nyatakan bahwa saya suka kambing, maka itu memang benar demikian. Bagaimana lagi, saya sudah menunjukkan bukti-bukti nyata.

Pertama, sejak duduk di bangku SD, saya sudah memilih sendiri kambing yang akan dipotong untuk hewan kurban. Saya berkeliling tanpa lelah di sepanjang Jalan Katamso dan Pahlawan Bandung sampai diperoleh kambing terbaik yang sesuai dengan harganya. Tanduk, paha, tinggi, bulu. Saya teliti semua. Termasuk agresivitas mereka. Semakin suka menyeruduk, semakin yahud.

Ke dua, sejak SMA, saya sudah terbiasa memotong sendiri leher mereka, mengulitinya, dan memotongnya hingga kecil-kecil. Tangan saya sudah sering belepotan darah mereka.

Ke tiga, di masa kuliah, selama dua tahun berturut-turut, saya berperan sebagai pedagang kambing. Dari mulai mencari suplier, membangun kandang, berhadapan dengan konsumen, sampai mengantarkan para kambing ke tempat-tempat pemotongan. Pakai apa? Pakai motor. Saya duduk dibonceng. Supir tentu depan. Sementara kambing saya peluk di tengah. Kami sungguh mesra. Orang-orang di sepanjang jalan selalu menatap kami penuh kagum dan iri.

Ke empat, di masa yang sama, saya jual kotoran mereka yang banyaknya satu bak mobil penuh kepada para petani.

Ke lima, ini yang paling penting. Tidak. Saya tidak bau kambing.




Karena itu, siapa diantara mereka yang berani bilang bahwa, ”Saya cinta kamu”, eh, ”Saya suka kambing”, tanpa bukti-bukti terdahulu?
Sini, saya seruduk!




Selamat Idul Adha 1429H
Mari kita berpesta daging...




“Fear the goat from the front, the horse from the rear, and man from all sides.”
[Anonimous]




Senin, 01 Desember 2008

Memory Salon Memory


ada yang mengetuk di balik pintu

desau angin, rintik hujan, gemerisik daun
mengirim berita
kau takkan pernah tiba

siapa yang mengendap di atas atap?
tikus rumah dan kucing malam, rupanya
kata mereka
kau tidak lagi singgah

lalu apa yang mengintip di balik jendela
sejenis jin, mirip manusia, jelek rupa
bisiknya
lupakan saja

Bandung, 16-04-2004




Dengan segala kerendahan hati, saya akui bahwa Tuhan telah menganugerahi saya daya ingat yang luar biasa. Bukan pada nama, tanggal atau hafalan. Juga kesalahan orang lain. Apalagi tagihan hutang. Hutang bukan untuk diingat, tapi... dibayar.

Yang saya maksud di sini adalah, daya ingat saya akan sebuah kejadian sangat sulit dicari tandingannya. Pada detil-detil kecil. Aroma yang tercium. Cara makan. Menjentikkan jari. Mengibaskan rambut. Sifat dan sikap.

Untuk mengingat, saya cukup menjatuhkan diri. Tapi untuk melupakan, saya harus merangkak.

Tulisan dengan huruf miring di atas saya buat empat tahun setengah yang lalu. Saya masih begitu muda waktu itu. Masih lucu-lucunya. Bikin gemes, pokoknya. Tapi, tidak. Bukan ini yang hendak saya ceritakan. Memang penting, tapi lain kali saja saya beberkan lebih dalam.

Saya menulisnya di kantin kampus. Waktu itu, belum setahun sejak saya lulus kuliah. Saya duduk sendiri di salah satu bangku. Perut sudah terisi, tenggorokan sudah basah. Rokok menyala setengah. Kantin cukup ramai oleh mahasiswa. Juga mahasiswi. Sebagian dari mereka cukup cantik, enak diintip diam-diam. Sebagian lagi cantik sekali, sedap dipandang.

Tiba-tiba saja muncul sebuah ide brilian di kepala saya. Sebuah hasil pemikiran yang sangat jenius. Sulit dicarikan tandingannya. Patut diberi penghargaan. Layak mendapatkan Oscar atau Nobel. Jika dibukukan, saya yakin Pulitzer menanti. Minimal Ramon Magsaysay Award pasti di tangan.

Saya tidak perlu susah payah berusaha untuk melupakan. Tapi saya cukup merekayasa memori baru. Saya ciptakan ingatan yang berbeda. Yang jauh lebih menyenangkan, tentu saja. Dengan demikian, hal abu-abu yang pernah saya alami bisa berubah penuh warna ketika saya mengenangnya.

Mereka bilang itu menipu diri, saya bilang ini menghibur hati. Mereka mengejek bahwa saya mengkhayal, saya katakan ini imajinasi. Mereka bilang hadapi saja kenyataan, saya jawab: jangan ganggu. Saya sedang bermimpi.









“Memory can change the shape of a room; it can change the color of a car. And memories can be distorted. They’re just an interpretation, they’re not a record, and they’re irrelevant if you have the facts.”
[Leonard Shelby, Memento]








Memory Salon Memory


ada yang mengetuk di balik pintu

desau angin, rintik hujan, gemerisik daun
mengirim berita
kau takkan pernah tiba

siapa yang mengendap di atas atap?
tikus rumah dan kucing malam, rupanya
kata mereka
kau tidak lagi singgah

lalu apa yang mengintip di balik jendela
sejenis jin, mirip manusia, jelek rupa
bisiknya
lupakan saja

Bandung, 16-04-2004




Dengan segala kerendahan hati, saya akui bahwa Tuhan telah menganugerahi saya daya ingat yang luar biasa. Bukan pada nama, tanggal atau hafalan. Juga kesalahan orang lain. Apalagi tagihan hutang. Hutang bukan untuk diingat, tapi... dibayar.

Yang saya maksud di sini adalah, daya ingat saya akan sebuah kejadian sangat sulit dicari tandingannya. Pada detil-detil kecil. Aroma yang tercium. Cara makan. Menjentikkan jari. Mengibaskan rambut. Sifat dan sikap.

Untuk mengingat, saya cukup menjatuhkan diri. Tapi untuk melupakan, saya harus merangkak.

Tulisan dengan huruf miring di atas saya buat empat tahun setengah yang lalu. Saya masih begitu muda waktu itu. Masih lucu-lucunya. Bikin gemes, pokoknya. Tapi, tidak. Bukan ini yang hendak saya ceritakan. Memang penting, tapi lain kali saja saya beberkan lebih dalam.

Saya menulisnya di kantin kampus. Waktu itu, belum setahun sejak saya lulus kuliah. Saya duduk sendiri di salah satu bangku. Perut sudah terisi, tenggorokan sudah basah. Rokok menyala setengah. Kantin cukup ramai oleh mahasiswa. Juga mahasiswi. Sebagian dari mereka cukup cantik, enak diintip diam-diam. Sebagian lagi cantik sekali, sedap dipandang.

Tiba-tiba saja muncul sebuah ide brilian di kepala saya. Sebuah hasil pemikiran yang sangat jenius. Sulit dicarikan tandingannya. Patut diberi penghargaan. Layak mendapatkan Oscar atau Nobel. Jika dibukukan, saya yakin Pulitzer menanti. Minimal Ramon Magsaysay Award pasti di tangan.

Saya tidak perlu susah payah berusaha untuk melupakan. Tapi saya cukup merekayasa memori baru. Saya ciptakan ingatan yang berbeda. Yang jauh lebih menyenangkan, tentu saja. Dengan demikian, hal abu-abu yang pernah saya alami bisa berubah penuh warna ketika saya mengenangnya.

Mereka bilang itu menipu diri, saya bilang ini menghibur hati. Mereka mengejek bahwa saya mengkhayal, saya katakan ini imajinasi. Mereka bilang hadapi saja kenyataan, saya jawab: jangan ganggu. Saya sedang bermimpi.









“Memory can change the shape of a room; it can change the color of a car. And memories can be distorted. They’re just an interpretation, they’re not a record, and they’re irrelevant if you have the facts.”
[Leonard Shelby, Memento]








Rabu, 26 November 2008

Dan Google pun Angkat Tangan



"Apa yang kamu cari, Andi?"

Pertanyaan di atas diajukan seorang kiper lawan kepada saya ketika kami sedang bermain futsal Sabtu lalu.

"Bolanya sudah di sana," tambah beliau.

Sialan. Saya pun berlari sekuat tenaga mengejar si bola yang sudah jauh keberadaannya. Nafas tembakau saya hanya tersisa seperempatnya.

Kemudian, pertanyaan tersebut terus terngiang-ngiang di telinga meski pertandingan telah usai. Begitu pun sesampainya di kamar, lalu mandi dan mengenakan piama.

Apa yang kamu cari, Andi? Dalam hidup ini? Di dunia ini? Di kolong kasur? Di lorong dapur? Di medan tempur? Di gunung kapur? Di kantor? Di atas jok motor? Di tengah lalu-lalang orang? Diantara bising kendaraan? Sewaktu sendiri? Ketika menyepi?

Apa yang kamu cari, Andi?

Saya dibuat celingukan jadinya. Kenapa pertanyaan itu muncul di usia saya yang sudah demikian matang. Kenapa tidak dari dulu-dulu saja. Tiba-tiba saya merasa tersesat, kesulitan mencari jalan pulang.

Jangan-jangan, selama ini kamu mencari yang tidak ada.

Betapa mengerikan jika itu memang benar.

Coba cari di Google Search saja. Konon, di sana, semua hal dapat ditemukan.







Penelusuran Anda - *sensor* - tak cocok dengan dokumen manapun.

Saran:

  • Pastikan semua kata dieja dengan benar.
  • Coba kata kunci yang berbeda.
  • Coba kata kunci yang lebih umum.