Sabtu, 18 Oktober 2008

Aisa (3)

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.

Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Kamu, tahu Aisa. Sewaktu ibumu masih belum menyadari takdir kami, sewaktu kamu masih di alam ruh tanpa tahu bagaimana manis pahitnya kehidupan dunia, bapak selalu bertanya-tanya, apakah kelak kamu akan bangga dengan bapak. Apakah kamu akan membandingkannya dengan ayah tetangga? Dengan Budi Dharma? Dengan John Lennon? Dengan Jimmy Maruli Alfian? Dengan ... Ahmad Dhani sekalipun?

Aisa, sayang. Bapak mungkin bukan siapa-siapa dibandingkan mereka. Tapi, sewaktu kamu membaca catatan ini, ada satu hal yang sangat bapak yakini.

Cuma bapak yang bisa menghiasi rumah kita dengan penuh tawa.

Aisa (3)

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.

Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Kamu, tahu Aisa. Sewaktu ibumu masih belum menyadari takdir kami, sewaktu kamu masih di alam ruh tanpa tahu bagaimana manis pahitnya kehidupan dunia, bapak selalu bertanya-tanya, apakah kelak kamu akan bangga dengan bapak. Apakah kamu akan membandingkannya dengan ayah tetangga? Dengan Budi Dharma? Dengan John Lennon? Dengan Jimmy Maruli Alfian? Dengan ... Ahmad Dhani sekalipun?

Aisa, sayang. Bapak mungkin bukan siapa-siapa dibandingkan mereka. Tapi, sewaktu kamu membaca catatan ini, ada satu hal yang sangat bapak yakini.

Cuma bapak yang bisa menghiasi rumah kita dengan penuh tawa.

Rabu, 15 Oktober 2008

Bram, oh, Bram...


Tepat sewaktu pulang kantor, HP saya bergetar tanda masuknya panggilan. Sebaris nomor asing yang tidak saya kenal muncul di layar.

“ANDI!!”
“Ya, halo? Ini Siapa?”
“Cepe.”
“Iya, Cepe. Bagaimana?”
”Kamu belum telepon si Icha??!!”
“Belum, Pe.”
“Yeee. Kamu bagaimana, sih!! Dia tanya-tanya saya, kenapa belum kamu hubungi! Saya kan jadi malu, sudah kasih janji kamu mau hubungi dia!”
”Soalnya saya bingung mau hubungi dia apa. Saya belum kenal. Ngga tahu asal-usul, background, dan sebagaimya. Wajahnya pun masih misteri buat saya. Kamu kan tahu, saya benci film horor.”
“Ya, ajak kenalan, dong! Justru itu sebabnya saya kasih kamu nomor hapenya.”
”Saya ngga bisa ngajak kenalan, Cepe. Dalam masalah ini, saya sangat pemalu. Kalau saya bisa ngajak kenalan perempuan, saya pasti sudah jadi playboy.”
”Ya, belajar, dong! Telepon dia. Bilang aja, kamu temen Cepe.”
”Saya sudah belajar dari dulu-dulu. Ngga pernah bisa. Ibaratnya kuliah, saya sudah di D.O.”
”Ah, itu kan tergantung dosennya. Kamu selalu ketemu dengan guru yang salah. Saya yang ajarin kali ini. Ibarat dosen, saya ini sudah profesor penuh pengalaman.”
”Tapi, Pe. Masalahnya, saya sudah punya balon. Bakal calon. Sekiranya mengalir lancar, saya akan menikah tahun depan sebelum pemilihan umum.”
”Andi, itu masih lama. Perempuan yang sedang kita bicarakan ini siap menikah kapan kamu mau, kalau cocok dengan kamu.”
”Cepe, saya ngga peduli. Saya ngga mau kehilangan bakal calon saya yang sangat berharga. Dia perempuan pintar menawar, sabar mengajar, tabah penemuan, cantik juwita, cerdik cendikia, keibuan dan soleh solehah. Dia orang yang saya cari-cari selama ini. Kamu kan tahu, saya selalu mencari jarum di tumpukan jerami.”
”Andi... kamu akan sangat menyesal kalau sampai menampik. Teman saya ini cantik sekali banget pisan! Mantap! Kamu kan tahu selera saya tidak pernah salah.”
...
...
”Cepe, nomor telepon Icha berapa? Kehapus.”
”08xxyyxxzzz.”
”Oke, saya akan kirim sms bang sms.”
“Bagus, Andi. Saya janji, kamu ngga akan menyesal. Reputasi saya yang dijadikan taruhannya.”

Klik.

Dengan terpaksa dan juga penasaran, demi hubungan baik saya dengan Cepe, maka saya kirim sms ke Neng Icha.

To: 08xxyyxxzzz
Ichaaaaa...!!! Gua mo merit, gilingan!! Hari Minggu siang di kologdam tanggal 26 okt. Datang yaaa... Awas kalo ngga! Tolong kasih tau temen-temen yang laen...
-Bram-





Maafkan saya, Cepe.
Maafkan saya, Icha.


Juga, Bram.


Bram, oh, Bram...


Tepat sewaktu pulang kantor, HP saya bergetar tanda masuknya panggilan. Sebaris nomor asing yang tidak saya kenal muncul di layar.

“ANDI!!”
“Ya, halo? Ini Siapa?”
“Cepe.”
“Iya, Cepe. Bagaimana?”
”Kamu belum telepon si Icha??!!”
“Belum, Pe.”
“Yeee. Kamu bagaimana, sih!! Dia tanya-tanya saya, kenapa belum kamu hubungi! Saya kan jadi malu, sudah kasih janji kamu mau hubungi dia!”
”Soalnya saya bingung mau hubungi dia apa. Saya belum kenal. Ngga tahu asal-usul, background, dan sebagaimya. Wajahnya pun masih misteri buat saya. Kamu kan tahu, saya benci film horor.”
“Ya, ajak kenalan, dong! Justru itu sebabnya saya kasih kamu nomor hapenya.”
”Saya ngga bisa ngajak kenalan, Cepe. Dalam masalah ini, saya sangat pemalu. Kalau saya bisa ngajak kenalan perempuan, saya pasti sudah jadi playboy.”
”Ya, belajar, dong! Telepon dia. Bilang aja, kamu temen Cepe.”
”Saya sudah belajar dari dulu-dulu. Ngga pernah bisa. Ibaratnya kuliah, saya sudah di D.O.”
”Ah, itu kan tergantung dosennya. Kamu selalu ketemu dengan guru yang salah. Saya yang ajarin kali ini. Ibarat dosen, saya ini sudah profesor penuh pengalaman.”
”Tapi, Pe. Masalahnya, saya sudah punya balon. Bakal calon. Sekiranya mengalir lancar, saya akan menikah tahun depan sebelum pemilihan umum.”
”Andi, itu masih lama. Perempuan yang sedang kita bicarakan ini siap menikah kapan kamu mau, kalau cocok dengan kamu.”
”Cepe, saya ngga peduli. Saya ngga mau kehilangan bakal calon saya yang sangat berharga. Dia perempuan pintar menawar, sabar mengajar, tabah penemuan, cantik juwita, cerdik cendikia, keibuan dan soleh solehah. Dia orang yang saya cari-cari selama ini. Kamu kan tahu, saya selalu mencari jarum di tumpukan jerami.”
”Andi... kamu akan sangat menyesal kalau sampai menampik. Teman saya ini cantik sekali banget pisan! Mantap! Kamu kan tahu selera saya tidak pernah salah.”
...
...
”Cepe, nomor telepon Icha berapa? Kehapus.”
”08xxyyxxzzz.”
”Oke, saya akan kirim sms bang sms.”
“Bagus, Andi. Saya janji, kamu ngga akan menyesal. Reputasi saya yang dijadikan taruhannya.”

Klik.

Dengan terpaksa dan juga penasaran, demi hubungan baik saya dengan Cepe, maka saya kirim sms ke Neng Icha.

To: 08xxyyxxzzz
Ichaaaaa...!!! Gua mo merit, gilingan!! Hari Minggu siang di kologdam tanggal 26 okt. Datang yaaa... Awas kalo ngga! Tolong kasih tau temen-temen yang laen...
-Bram-





Maafkan saya, Cepe.
Maafkan saya, Icha.


Juga, Bram.


Senin, 13 Oktober 2008

Do You Want to Know a Secret?

Sudah lebih dari 2 bulan, tivi tidak saya nyalakan. Tidak ada berita yang saya tonton. Tidak ada gosip, sinetron, ceramah pagi ataupun mtv. Juga tidak ada koran yang saya baca. Tivi saya berdebu sangat tebal, seperti fosil tua yang baru ditemukan.
Lalu di kantor, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, rentetan peristiwa baru saya dengar dari selintas obrolan.

"Amerika resesi. Pasar saham dunia turun."
"Puluhan orang jadi korban miras oplosan di Indramayu."
"Rupiah semakin melemah."
"Exxon berusaha mendapatkan sumur minyak."
"BCL menikah bulan November."
"Badawi siap diganti."

Ah. Kemana saja saya selama ini?
Ya, saya sedang sibuk dengan dunia saya sendiri. Jangan tanya apa yang saya sibukkan. Tidak. Saya tidak akan bilang meski dipaksa, disiksa dan diancam.
Kecuali jika dirayu.
Atau dipuji.

....

Apa? Saya cowok banget?

...
...

Ah, pujian. Saya suka itu.
Baiklah, akan saya beri tahu.

Biasa. Ini lagu lama.
Lagu yang disenandungkan sejak dahulu kala. Sejak Adam menerima kabar Tuhan akan menciptakan pasangannya. Sejak San Pek betemu Eng Tay, Lennon bertemu Yoko, Paul bertemu Linda, Xu Xian bertemu Bai SuZhen. Tapi bukan lagu yang dinyanyikan Harry ketika bertemu Sally.


Ya. Saya sedang jatuh.
Jatuh miskin.

Investasi jutaan dollar yang saya tanamkan pada Lehman Brothers lenyap tak berbekas. Saya sempat dirawat lama di rumah sakit akibat meminum bir yang telah dioplos dengan autan. Rupiah yang saya simpan di bank pun tidak cukup membeli dollar, padahal saya sudah berjanji pada seseorang untuk membangun sebuah pondok untuknya di tepi Lake Tahoe. Tanah saya di Cepu terpaksa digusur karena terlalu berminyak untuk ditanami kangkung. Dan baru-baru ini saya dibuat patah hati oleh si sialan Ashraf Sinclair. Ingin sekali saya ke Malaysia untuk menghajarnya, tapi dengar-dengar dia hendak dijadikan perdana menteri mengganti Badawi.

SIALAN!!


Hey, kamu. Iya, kamu yang di sana.
Ulurkan tangan kamu. Saya sedang terjatuh.


“Nobody knows it, but you've got a secret smile, and you use it only for me.”
[Anonymous]

Do You Want to Know a Secret?

Sudah lebih dari 2 bulan, tivi tidak saya nyalakan. Tidak ada berita yang saya tonton. Tidak ada gosip, sinetron, ceramah pagi ataupun mtv. Juga tidak ada koran yang saya baca. Tivi saya berdebu sangat tebal, seperti fosil tua yang baru ditemukan.
Lalu di kantor, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, rentetan peristiwa baru saya dengar dari selintas obrolan.

"Amerika resesi. Pasar saham dunia turun."
"Puluhan orang jadi korban miras oplosan di Indramayu."
"Rupiah semakin melemah."
"Exxon berusaha mendapatkan sumur minyak."
"BCL menikah bulan November."
"Badawi siap diganti."

Ah. Kemana saja saya selama ini?
Ya, saya sedang sibuk dengan dunia saya sendiri. Jangan tanya apa yang saya sibukkan. Tidak. Saya tidak akan bilang meski dipaksa, disiksa dan diancam.
Kecuali jika dirayu.
Atau dipuji.

....

Apa? Saya cowok banget?

...
...

Ah, pujian. Saya suka itu.
Baiklah, akan saya beri tahu.

Biasa. Ini lagu lama.
Lagu yang disenandungkan sejak dahulu kala. Sejak Adam menerima kabar Tuhan akan menciptakan pasangannya. Sejak San Pek betemu Eng Tay, Lennon bertemu Yoko, Paul bertemu Linda, Xu Xian bertemu Bai SuZhen. Tapi bukan lagu yang dinyanyikan Harry ketika bertemu Sally.


Ya. Saya sedang jatuh.
Jatuh miskin.

Investasi jutaan dollar yang saya tanamkan pada Lehman Brothers lenyap tak berbekas. Saya sempat dirawat lama di rumah sakit akibat meminum bir yang telah dioplos dengan autan. Rupiah yang saya simpan di bank pun tidak cukup membeli dollar, padahal saya sudah berjanji pada seseorang untuk membangun sebuah pondok untuknya di tepi Lake Tahoe. Tanah saya di Cepu terpaksa digusur karena terlalu berminyak untuk ditanami kangkung. Dan baru-baru ini saya dibuat patah hati oleh si sialan Ashraf Sinclair. Ingin sekali saya ke Malaysia untuk menghajarnya, tapi dengar-dengar dia hendak dijadikan perdana menteri mengganti Badawi.

SIALAN!!


Hey, kamu. Iya, kamu yang di sana.
Ulurkan tangan kamu. Saya sedang terjatuh.


“Nobody knows it, but you've got a secret smile, and you use it only for me.”
[Anonymous]

Jumat, 10 Oktober 2008

Surat Terbuka


Wahai Agen Asuransi 007
yang saya hormati
di mana saja berada


Melalui surat ini saya beritahukan bahwa dengan sangat menyesal saya, a.k.a Andi Eriawan, tidak akan mengikuti program yang kalian tawarkan. Berikut di bawah ini adalah catatan panjang yang memuat berbagai alasan dan argumentasi mengapa saya menolak untuk bergabung. Karena itu, saya harap surat ini dibaca dengan ditemani segelas kopi kental. Semoga jawaban saya memuaskan dan hubungan kita tetap berteman.

Kamu bilang bahwa jika saya mati, pewaris saya dijamin mendapatkan santunan ratusan juta rupiah.
Lalu saya balik tanya, kalau saya mengikuti program asuransi jiwa ini, setelah saya mati apakah saya dijamin masuk sorga? Kamu jawab tidak.

Kamu bilang bahwa di usia tujuh puluh nanti, saya akan mendapatkan 1 milyar lebih sebagai hasil investasi.
Lalu saya tanya, di usia tujuhpuluh, apa yang bisa saya nikmati dengan uang itu? Kamu diam saja.

Kamu juga bilang bahwa jika saya tidak mengikuti asuransi pendidikan ini, saya akan kerepotan dengan biaya pendidikan anak-anak saya kelak.
Saya beri tahu kamu bahwa, jika diberi kesempatan memiliki anak-anak, saya berencana untuk menyekolahkan mereka ke sekolah-sekolah paling murah. Ke sekolah di mana mereka merasa malu karena uang jajannya paling besar dibandingkan teman-temannya, bukan sekolah di mana mereka malu karena uang jajannya lebih kecil. Ke sekolah di mana mereka merasa malu diantar mobil, bukan ke sekolah di mana mereka merasa malu karena mobilnya butut.

Kamu tanya, apakah saya tidak khawatir mereka tidak sepintar dan sejenius ayahnya?
Saya jawab bahwa saya sama sekali tidak khawatir karena saya sendiri yang akan mengajari mereka di rumah. Memangnya ada guru yang lebih baik dari saya? Meski itu sekolah swasta paling mahal sekalipun?? Meski sekolah yang siswanya sudah menggunakan laptop di kelas hanya untuk pelajaran 'a i u', anak-anak saya akan jauh lebih pintar dari mereka semua. Wong, saya adalah guru bagi anak-anak saya.

Bagaimana dengan biaya kuliah mereka?
Saya akan memberi kesempatan seluas-luasnya pada mereka. Mereka boleh kuliah di mana saja. Kuliah subuh, kuliah tujuh menit, kuliah di negeri, swasta, negeri asing. Asal biaya sendiri. Kalau saya ada uang sisa, mereka boleh meminjamnya.

Kamu tanya, kalau saya mati, apa yang akan saya wariskan jika tidak ada asuransi jiwa?
Saya jawab, saya akan wariskan kepada anak-anak saya intelejensi, daya tarik, sifat ksatria, kesabaran, cinta sesama, kesederhanaan, keceriaan, pandangan hidup yang kokoh, murah senyum, mata yang berbinar-binar dan hati yang begitu besar untuk dibagikan pada semua orang.

Kamu bilang lagi bahwa premi asuransi investasi yang ditawarkan begitu ringan.
Iya, saya akui. Tapi yang ringan-ringan itu sangat berat bagi mereka, mereka yang tidak mampu sekolah. Tidak mampu beli buku. Tidak mampu menyiapkan makanan untuk besok. Maka, yang bagi saya ringan-ringan itu, lebih baik saya investasikan pada mereka saja. Investasi tersebut menjaminkan saya masuk sorga setelah saya mati. Bunga investasinya pun menarik: minimal 1000%. Jumlah preminya terserah saya, semampunya.

Bagaimana dengan biaya rumah sakit jika kamu sakit? Anak istri sakit?
Akan saya bawa ke uskun. Ustadz dukun.