Kamis, 02 Oktober 2008

Minal Minul

Sampailah saya pada bagian yang paling menyebalkan dalam berlebaran, yaitu memaafkan. Tiba-tiba saja saya dituntut untuk memberi maaf pada mereka. Kesalahan segunung, minta dihapus dengan modal sms di bawah seratus perak. Itu pun tanpa menyebutkan nama saya, menandakan sms tersebut dikirim secara massal ke banyak orang.

Saya... seorang saya... mereka sama ratakan dengan lainnya?

Termasuk kamu, yang tiba-tiba muncul di malam buta. Minta maaf saja tidak cukup. Apalagi sampai minta oleh-oleh.

Huh!

Jika memaafkan semudah mengirim sms, tentu para polisi, jaksa penuntut, hakim, satpam dan hansip akan berubah profesi menjadi penjual voucher pulsa. Dan para penjual voucher pulsa akan merajalela di mana-mana.

Minal minul wal paijul
Mohon mangap lebar-lebar

Semoga bla bla bla


Kosong-kosong, ya..

"I'm sorry I can't help myself, I'm in love with you.”
[anonymous]

Minal Minul

Sampailah saya pada bagian yang paling menyebalkan dalam berlebaran, yaitu memaafkan. Tiba-tiba saja saya dituntut untuk memberi maaf pada mereka. Kesalahan segunung, minta dihapus dengan modal sms di bawah seratus perak. Itu pun tanpa menyebutkan nama saya, menandakan sms tersebut dikirim secara massal ke banyak orang.

Saya... seorang saya... mereka sama ratakan dengan lainnya?

Termasuk kamu, yang tiba-tiba muncul di malam buta. Minta maaf saja tidak cukup. Apalagi sampai minta oleh-oleh.

Huh!

Jika memaafkan semudah mengirim sms, tentu para polisi, jaksa penuntut, hakim, satpam dan hansip akan berubah profesi menjadi penjual voucher pulsa. Dan para penjual voucher pulsa akan merajalela di mana-mana.

Minal minul wal paijul
Mohon mangap lebar-lebar

Semoga bla bla bla


Kosong-kosong, ya..

"I'm sorry I can't help myself, I'm in love with you.”
[anonymous]

Minggu, 28 September 2008

Waiting for Godot















"Menunggu itu sebagian dari kencan."

[Haruka, H2]

tapi, kok lama ya...

Waiting for Godot















"Menunggu itu sebagian dari kencan."

[Haruka, H2]

tapi, kok lama ya...

Rabu, 24 September 2008

Anakku, Aisa




RSJ RIAU 11
25 September 2008

Teruntuk putriku, Aisa…
Ketika Bapak menulis ini, kamu belum terlahir ke dunia. Belum juga dikandung. Karena hati ibumu belum juga luluh untuk dinikahi. Meski demikian, Bapak akan berusaha sekuat tenaga agar kelak kamu bisa membaca cerita ini: kisah hidup Bapak dan semua rahasia yang paling terdalamnya. Juga yang paling kelam. Karena itu, apa pun yang terjadi, jangan biarkan ibumu membacanya. Ini milik kita berdua. Sudah sewajarnya seorang ayah memiliki rahasia kecil dengan putrinya, bukan?

Ah, Aisa. Untuk sesaat, bapak lupa hendak menulis apa. Bapak kebingungan hendak memulainya dari mana. Segala kisah pasti ada asal mulanya, tapi kali ini sungguh berbeda. Kamu tahu kenapa, sayang? Karena kepala bapak sibuk mengkhayalkan kamu. Seperti apa saat kamu membaca kisah ini. Apakah kamu tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri seperti ibumu? Seperti nenek? Pantang menyerah dan sedikit keras kepala? Penurut seperti bapak? Pintar diiringi tutur kata yang sopan, kah? Apakah kamu banyak teman? Hidupmu meyenangkan? Dan… siapakah laki-laki yang beruntung menjadi pacarmu, Aisa? Bapak hanya berharap kamu hati-hati memilih. Itu saja. Karena kebanyakan laki-laki itu brengs… ah, ibumu yang cantik itu pasti sudah mewanti-wanti tentang bahaya laten jenis kami.

Aisa Adinda,
Satu-satunya yang bapak harapkan dari kamu adalah kamu bahagia. Tidak. Kamu tidak mesti selalu tertawa. Terkadang menangis itu bagus juga. Air mata tidak akan pernah habis, dan kamu tidak akan pernah tenggelam karenanya. Hanya saja bapak ingatkan, jangan pernah kamu menangis sendirian. Apalagi tertawa. Setidaknya di zaman bapak, mereka yang tertawa sendirian biasanya dikirim ke rumah sakit jiwa.

HAHAHAHAAHA!!!

Anakku, Aisa




RSJ RIAU 11
25 September 2008

Teruntuk putriku, Aisa…
Ketika Bapak menulis ini, kamu belum terlahir ke dunia. Belum juga dikandung. Karena hati ibumu belum juga luluh untuk dinikahi. Meski demikian, Bapak akan berusaha sekuat tenaga agar kelak kamu bisa membaca cerita ini: kisah hidup Bapak dan semua rahasia yang paling terdalamnya. Juga yang paling kelam. Karena itu, apa pun yang terjadi, jangan biarkan ibumu membacanya. Ini milik kita berdua. Sudah sewajarnya seorang ayah memiliki rahasia kecil dengan putrinya, bukan?

Ah, Aisa. Untuk sesaat, bapak lupa hendak menulis apa. Bapak kebingungan hendak memulainya dari mana. Segala kisah pasti ada asal mulanya, tapi kali ini sungguh berbeda. Kamu tahu kenapa, sayang? Karena kepala bapak sibuk mengkhayalkan kamu. Seperti apa saat kamu membaca kisah ini. Apakah kamu tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri seperti ibumu? Seperti nenek? Pantang menyerah dan sedikit keras kepala? Penurut seperti bapak? Pintar diiringi tutur kata yang sopan, kah? Apakah kamu banyak teman? Hidupmu meyenangkan? Dan… siapakah laki-laki yang beruntung menjadi pacarmu, Aisa? Bapak hanya berharap kamu hati-hati memilih. Itu saja. Karena kebanyakan laki-laki itu brengs… ah, ibumu yang cantik itu pasti sudah mewanti-wanti tentang bahaya laten jenis kami.

Aisa Adinda,
Satu-satunya yang bapak harapkan dari kamu adalah kamu bahagia. Tidak. Kamu tidak mesti selalu tertawa. Terkadang menangis itu bagus juga. Air mata tidak akan pernah habis, dan kamu tidak akan pernah tenggelam karenanya. Hanya saja bapak ingatkan, jangan pernah kamu menangis sendirian. Apalagi tertawa. Setidaknya di zaman bapak, mereka yang tertawa sendirian biasanya dikirim ke rumah sakit jiwa.

HAHAHAHAAHA!!!

Selasa, 23 September 2008

Ya, boleh, Ndi...

"Saya ingin jadi perempuan yang berbinar-binar, Andi, yang punya mata bercahaya seperti senter yang batereinya baru semua, dengan hati yang cukup besar untuk dibagikan kepada siapapun yang saya jumpai."

Itu adalah jawaban atas pertanyaan Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini? yang saya lempar pada seorang perempuan di seberang meja berjarak milyaran langkah jauhnya. Sungguh membuat saya terharu.
Dan sekiranya... sekiranya kita diberi kesempatan untuk berjumpa, bolehkah... bolehkah saya berharap mendapatkan porsi hati yang paling besar?

Bolehkah? Bolehkah?