Senin, 15 September 2008

Lumpiah Goreng Lumpiah Basah

Seseorang di seberang meja nun jauh di sana berjarak milyaran langkah telah melemparkan tuduhan yang kurang bertanggung jawab. “Kamu lebih tahu perempuan daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Berhubung tidak bisa menatap matanya, saya kesulitan membaca jalan pikiran si penuduh. Tengah mengejek, kah, atau jujur apa adanya. Daripada daripada, mendingan mendingan. Maka saya anggap kalimatnya itu sebagai sebuah ejekan. *sigh*

Bagaimana lagi. Sejauh yang saya tahu tentang perempuan adalah… saya paling tahu bagaimana membuat mereka marah. Sungguh, saya adalah ahlinya. Tidak membanggakan, memang, tapi itulah kenyataan. Hitung punya hitung, sepuluh jari ini nyaris habis untuk digunakan sebagai acuan berapa banyak mereka yang memutuskan untuk tidak mau berbicara dengan saya dalam waktu yang cukup lama, atau sekedar menghilang sejauh mata memandang, sampai mentabukan nama saya untuk disebut atau didengar. Sekali lagi… *sigh*.

Untuk membuat marah mereka, ternyata caranya begitu sederhana. Terkadang, saya sendiri kurang menyadari itu. Dari mulai melenyapkan hadiah anniversary cowoknya, dua tahun penuh saya tidak pernah diajak bicara seorang teman sma. Selingkuh di depan mata menjadikan saya invisible di kelas selama 2 tahun setengah. Membuat sahabat terdekat dan terpercaya menangis dengan menuduhnya macam-macam. Membanjiri ejekan (bercanda, tentu saja) via chatting pada seseorang yang saya kira orang asing (yang sialnya ternyata beliau adalah adik ipar teman sendiri) hingga ID YM saya diblokirnya. Sampai kemarin lusa…bertambah satu perempuan lagi di dunia yang membenci saya. Caranya pun demikian sederhana. Saya paksa dia makan lumpiah goreng sewaktu buka puasa. *hiks*

Tapi yang lebih hebat lagi adalah… saya tidak cukup mengerti bagaimana meminta maaf. Bayangkan, setelah melakukan serangkaian kesalahan-kesalahan itu, entah bagaimana, saya bisa dengan santai muncul di hadapan mereka dengan wajah cengengesan. Itu karena mati gaya, tentu saja. Salah tingkah. Pengetahuan saya tidak mencakup bagaimana cara menarik kembali simpati mereka. Kebiasaan buruk saya adalah menunggu dan menunggu sampai kebesaran hati merekalah yang membuat saya kembali diterima.

Karenanya, tuduhan seseorang di seberang meja nun jauh di sana berjarak milyaran langkah itu saya kembalikan. “Saya lebih tahu tentang perempuan daripada si tua Freud, karena dia yang memang ngga tahu apa-apa.”

Kepada dia yang saya paksa makan lumpiah goreng, terimalah maaf saya. Lain kali, saya bawakan lumpiah basah.


"That woman deserves her revenge and we deserve to die." [Budd, Kill Bill: Vol I]

Lumpiah Goreng Lumpiah Basah

Seseorang di seberang meja nun jauh di sana berjarak milyaran langkah telah melemparkan tuduhan yang kurang bertanggung jawab. “Kamu lebih tahu perempuan daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Berhubung tidak bisa menatap matanya, saya kesulitan membaca jalan pikiran si penuduh. Tengah mengejek, kah, atau jujur apa adanya. Daripada daripada, mendingan mendingan. Maka saya anggap kalimatnya itu sebagai sebuah ejekan. *sigh*

Bagaimana lagi. Sejauh yang saya tahu tentang perempuan adalah… saya paling tahu bagaimana membuat mereka marah. Sungguh, saya adalah ahlinya. Tidak membanggakan, memang, tapi itulah kenyataan. Hitung punya hitung, sepuluh jari ini nyaris habis untuk digunakan sebagai acuan berapa banyak mereka yang memutuskan untuk tidak mau berbicara dengan saya dalam waktu yang cukup lama, atau sekedar menghilang sejauh mata memandang, sampai mentabukan nama saya untuk disebut atau didengar. Sekali lagi… *sigh*.

Untuk membuat marah mereka, ternyata caranya begitu sederhana. Terkadang, saya sendiri kurang menyadari itu. Dari mulai melenyapkan hadiah anniversary cowoknya, dua tahun penuh saya tidak pernah diajak bicara seorang teman sma. Selingkuh di depan mata menjadikan saya invisible di kelas selama 2 tahun setengah. Membuat sahabat terdekat dan terpercaya menangis dengan menuduhnya macam-macam. Membanjiri ejekan (bercanda, tentu saja) via chatting pada seseorang yang saya kira orang asing (yang sialnya ternyata beliau adalah adik ipar teman sendiri) hingga ID YM saya diblokirnya. Sampai kemarin lusa…bertambah satu perempuan lagi di dunia yang membenci saya. Caranya pun demikian sederhana. Saya paksa dia makan lumpiah goreng sewaktu buka puasa. *hiks*

Tapi yang lebih hebat lagi adalah… saya tidak cukup mengerti bagaimana meminta maaf. Bayangkan, setelah melakukan serangkaian kesalahan-kesalahan itu, entah bagaimana, saya bisa dengan santai muncul di hadapan mereka dengan wajah cengengesan. Itu karena mati gaya, tentu saja. Salah tingkah. Pengetahuan saya tidak mencakup bagaimana cara menarik kembali simpati mereka. Kebiasaan buruk saya adalah menunggu dan menunggu sampai kebesaran hati merekalah yang membuat saya kembali diterima.

Karenanya, tuduhan seseorang di seberang meja nun jauh di sana berjarak milyaran langkah itu saya kembalikan. “Saya lebih tahu tentang perempuan daripada si tua Freud, karena dia yang memang ngga tahu apa-apa.”

Kepada dia yang saya paksa makan lumpiah goreng, terimalah maaf saya. Lain kali, saya bawakan lumpiah basah.


"That woman deserves her revenge and we deserve to die." [Budd, Kill Bill: Vol I]

Kamis, 11 September 2008

(Bukan) Tentang Kita

Cerita ini bukan tentang kita,
bukan tentangmu, bukan tentang aku
baik di masa lalu atau pun lain waktu
Tapi terdapat banyak rahasia
yang tersembunyi dan terkunci
dan hanya kita yang bisa mengerti...

Dan cerita ini memang bukan tentangmu
karena kamu tak mampu kuwakilkan
lewat kata-kata mau pun tulisan
Juga bukan tentang aku
yang hanyalah seorang biasa
baik tingkah mau pun rupa...

Tapi cerita ini memang benar untukmu
biar kamu baca, agar kamu suka
dari seseorang yang berharap
kamu memandangnya istimewa...


(menunggu kabar pak pos sampaikan titipan)

"I always tell the truth. Even when I lie."
[Tony Montana, Scarface]

(Bukan) Tentang Kita

Cerita ini bukan tentang kita,
bukan tentangmu, bukan tentang aku
baik di masa lalu atau pun lain waktu
Tapi terdapat banyak rahasia
yang tersembunyi dan terkunci
dan hanya kita yang bisa mengerti...

Dan cerita ini memang bukan tentangmu
karena kamu tak mampu kuwakilkan
lewat kata-kata mau pun tulisan
Juga bukan tentang aku
yang hanyalah seorang biasa
baik tingkah mau pun rupa...

Tapi cerita ini memang benar untukmu
biar kamu baca, agar kamu suka
dari seseorang yang berharap
kamu memandangnya istimewa...


(menunggu kabar pak pos sampaikan titipan)

"I always tell the truth. Even when I lie."
[Tony Montana, Scarface]

Minggu, 31 Agustus 2008

I Love U, JK (yeah, rite!)...

Ini adalah penghinaan terbesar dalam hidup saya...*sigh*... Sebagai seseorang yang sombong, sebagai lelaki (yang sombong), bahkan sebagai warga negara (yang juga sombong)... Suatu hari penghinaan ini harus terbalaskan. Semoga Tuhan segera mencairkan dendam ini...*sigh*...

Memutuskan untuk menjilid proposal sambil shalat Jumat di luar kantor, saya temukan lalu lintas Bandung jauh lebih macet dari biasa. Rupanya sang wakil presiden beserta rombongan 20 lebih kendaraan sedang melakukan kunjungan ke kota ini. Seorang polisi menahan laju motor saya di bilangan Pasteur hingga iringan panjang tersebut lewat. Saya menanti dengan perasaan was-was, memperhatikan gerak-gerik polisi tersebut. Bagaimana lagi... tak ada SIM, 2 tahun pajak STNK belum bayar, plus plat nomor belakang buntung.

Kemudian semua berjalan tidak lancar. Dari mulai warna biru pada printer yang tidak muncul, sampai hujan yang membuat saya terlambat kembali ke kantor. Bla, bla, bla... akhirnya saya kembali jam tiga. Lagi-lagi macet tidak ketulungan. Tapi tidak apa. Dalam hati, tidak boleh ada yang membuat saya marah hari ini. Ramadhan akan tiba beberapa hari lagi. Aih...

Kemudian iblis memenangkan pertempuran batin sore itu. Beberapa puluh meter dari gerbang kantor terlihat banyak Paskhas Angkatan Udara dan polisi anti huru-hara berjaga-jaga. Beberapa mobil patroli memblokade jalan. Dalam hati, apa kesalahan saya kali ini?

Ternyata mereka bukan diperintahkan untuk menangkap saya karena tidak punya SIM, atau terlambat membayar pajak jalan atau plat nomor yang buntug setengah. Tidak. Bukan itu.

Rupanya, tidak ada yang boleh keluar-masuk kantor karena rombongan RI-2 akan berkunjung. Termasuk saya! Saya tidak diperbolehkan masuk kantor karena rombongan JK akan berkunjung. Karena rombongan wakil presiden akan berkunjung, saya yang kepalang sedang berada di luar area, tidak boleh kembali masuk kantor. Atas nama keamanan, saya yang siang itu berada di luar kantor, tidak boleh kembali masuk karena rombongan pejabat akan berkunjung. Karena para pejabat akan berkunjung ke kantor saya, saya yang sedang berada di luar kantor tidak boleh masuk dahulu!

Setelah menenangkan diri sejenak, berisitghfar 3 kali, menurunkan tensi, saya memutuskan untuk memarkirkan motor di sebuah halaman kantin. Motor saya tinggalkan beserta helmnya, lalu berjalan kaki menuju kantor. Punggung saya tegakkan, langkah tegap berirama, mata lurus ke depan. Dalam hati, coba saja siapa yang berani...

Mungkin karena potongan rambut pendek, celana panjang warna coklat polisi, disertai rompi hitam yang saya kenakan, para polisi dan tentara itu terlihat segan untuk menghentikan saya. Mata mereka sesekali melirik segan. Hentikan atau jangan. Hentikan atau jangan. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, saya ini seorang atasan polisi, kah?

Langkah demi langkah terus dilalui hingga akhirnya gerbang kantor terlewati. Tapi, rupanya perasaan menang terlalu cepat muncul. Damn! Di kejauhan, seorang petugas keamanan meminta saya untuk berjalan lebih ke tepian karena rombongan JK tidak lama lagi datang. Padahal, saya sudah berjalan di atas trotoar! Damn!!

tak ada artinya meminta maaf
tanpa disertai penyesalan
tak sempurna memaafkan
tanpa mengembalikan keakraban

Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan
Maafkan saya lahir dan batin

"Never trust a beautiful woman... especially one who's interested with you."
[Magneto, X Men 2]

I Love U, JK (yeah, rite!)...

Ini adalah penghinaan terbesar dalam hidup saya...*sigh*... Sebagai seseorang yang sombong, sebagai lelaki (yang sombong), bahkan sebagai warga negara (yang juga sombong)... Suatu hari penghinaan ini harus terbalaskan. Semoga Tuhan segera mencairkan dendam ini...*sigh*...

Memutuskan untuk menjilid proposal sambil shalat Jumat di luar kantor, saya temukan lalu lintas Bandung jauh lebih macet dari biasa. Rupanya sang wakil presiden beserta rombongan 20 lebih kendaraan sedang melakukan kunjungan ke kota ini. Seorang polisi menahan laju motor saya di bilangan Pasteur hingga iringan panjang tersebut lewat. Saya menanti dengan perasaan was-was, memperhatikan gerak-gerik polisi tersebut. Bagaimana lagi... tak ada SIM, 2 tahun pajak STNK belum bayar, plus plat nomor belakang buntung.

Kemudian semua berjalan tidak lancar. Dari mulai warna biru pada printer yang tidak muncul, sampai hujan yang membuat saya terlambat kembali ke kantor. Bla, bla, bla... akhirnya saya kembali jam tiga. Lagi-lagi macet tidak ketulungan. Tapi tidak apa. Dalam hati, tidak boleh ada yang membuat saya marah hari ini. Ramadhan akan tiba beberapa hari lagi. Aih...

Kemudian iblis memenangkan pertempuran batin sore itu. Beberapa puluh meter dari gerbang kantor terlihat banyak Paskhas Angkatan Udara dan polisi anti huru-hara berjaga-jaga. Beberapa mobil patroli memblokade jalan. Dalam hati, apa kesalahan saya kali ini?

Ternyata mereka bukan diperintahkan untuk menangkap saya karena tidak punya SIM, atau terlambat membayar pajak jalan atau plat nomor yang buntug setengah. Tidak. Bukan itu.

Rupanya, tidak ada yang boleh keluar-masuk kantor karena rombongan RI-2 akan berkunjung. Termasuk saya! Saya tidak diperbolehkan masuk kantor karena rombongan JK akan berkunjung. Karena rombongan wakil presiden akan berkunjung, saya yang kepalang sedang berada di luar area, tidak boleh kembali masuk kantor. Atas nama keamanan, saya yang siang itu berada di luar kantor, tidak boleh kembali masuk karena rombongan pejabat akan berkunjung. Karena para pejabat akan berkunjung ke kantor saya, saya yang sedang berada di luar kantor tidak boleh masuk dahulu!

Setelah menenangkan diri sejenak, berisitghfar 3 kali, menurunkan tensi, saya memutuskan untuk memarkirkan motor di sebuah halaman kantin. Motor saya tinggalkan beserta helmnya, lalu berjalan kaki menuju kantor. Punggung saya tegakkan, langkah tegap berirama, mata lurus ke depan. Dalam hati, coba saja siapa yang berani...

Mungkin karena potongan rambut pendek, celana panjang warna coklat polisi, disertai rompi hitam yang saya kenakan, para polisi dan tentara itu terlihat segan untuk menghentikan saya. Mata mereka sesekali melirik segan. Hentikan atau jangan. Hentikan atau jangan. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, saya ini seorang atasan polisi, kah?

Langkah demi langkah terus dilalui hingga akhirnya gerbang kantor terlewati. Tapi, rupanya perasaan menang terlalu cepat muncul. Damn! Di kejauhan, seorang petugas keamanan meminta saya untuk berjalan lebih ke tepian karena rombongan JK tidak lama lagi datang. Padahal, saya sudah berjalan di atas trotoar! Damn!!

tak ada artinya meminta maaf
tanpa disertai penyesalan
tak sempurna memaafkan
tanpa mengembalikan keakraban

Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan
Maafkan saya lahir dan batin

"Never trust a beautiful woman... especially one who's interested with you."
[Magneto, X Men 2]

Rabu, 13 Agustus 2008

Gundul Pacul

Akhirnya...
Setelah berjibaku dengan "the man on the mirror", si gua, saya, a.k.a Andi Eriawan, memutuskan untuk... MENGGUNDULI KEPALA.

Tiga tahun dalam masa gondrong, memaksa saya untuk keramas hampir tiap hari. Padahal, pada dasarnya, saya adalah orang yang... jarang mandi. Ini bukan saya, saya pikir. Pantas saja saya merasa ada yang keliru. Meski, tentu saja, rambut saya bebas dari kutu.

Jadilah, seminggu kemarin saya digunduli.

Mutilasi rambut dimulai dengan penuh khidmad, pada mulanya. Diawali tekad baja dari rumah, hati saya tiba-tiba gentar sewaktu memasuki sebuah barbershop di kawasan dekat Taman Lalu Lintas, Bandung. Bagaimana tidak?! Sewaktu kaki melangkah masuk, saya tidak hanya disambut hembusan pendingin ruangan, tapi sapaan seorang makhluk manis bernama perempuan. Untuk sesaat saya hanya berdiri mematung, mungkinkah saya salah masuk salon?

Setelah melihat beberapa pelanggan lelaki mengantri, akhirnya saya sadar bahwa barbershop tersebut memang diperuntukkan khusus lelaki, tapi si tukang cukur adalah seorang cewek manis. Sendiri. Aih, malu untuk mengakui. Dalam hati, saya tidak jadi digunduli. Karena itu, sambil menunggu giliran, saya buka beberapa majalah.

Gaya rambut F4, Kangen Band atau Duran-Duran, ya?










Satu jam berlalu. Saat nyaris kesabaran habis, akhirnya tiba juga giliran saya. Saya berdiri dengan gagah. Dalam hati, gaya rambut Tony Leung dalam Infernal Affair menjadi pilihan pertama.

Kaki saya melangkah menuju kursi dengan dada berdebar, seperti terpidana mati menuju tempat duduk yang bisa disetrum. Satu, dua. Lalu tiba-tiba pintu barbershop terbuka dan seorang laki-laki masuk.

"Papa, lama sekali, sih."
"Tadi macet, Ma."

Lelaki itu beralih pada saya, mempersilakan duduk. "Mau dipotong gimana, Mas?"

Dipotong leher kambing!

"Gundul," jawab saya mantap.










“Just cause you wear sunglasses don’t mean you’re blind, ese…”