14 Februari 2008
11.00 - 13.00
Gramedia Bandung Super Mall
barengan:
Mumu Rizal, Tita Rosianti, Dina Mardiana dan..
... si gua.
ngomongin global warming
(yeah, rite...:p)
Jumat, 08 Februari 2008
Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia
14 Februari 2008
11.00 - 13.00
Gramedia Bandung Super Mall
barengan:
Mumu Rizal, Tita Rosianti, Dina Mardiana dan..
... si gua.
ngomongin global warming
(yeah, rite...:p)
11.00 - 13.00
Gramedia Bandung Super Mall
barengan:
Mumu Rizal, Tita Rosianti, Dina Mardiana dan..
... si gua.
ngomongin global warming
(yeah, rite...:p)
Selasa, 22 Januari 2008
Seven Years Old Children Question
Jika apa yang saya nyatakan itu benar, maka segera matikan komputer Anda saat ini juga, lalu pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda ternyata tidak sungguh-sungguh belajar di masa sekolah dulu, minim curiosity, dan tidak memiliki pembendaharaan ilmu yang luas.
Tapi bila pernyataan saya di atas Anda anggap keliru, maka segera matikan komputer Anda, pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda telah bersikap sok tahu, sok tahu dan sok tahu.
Ada hal yang patut Anda pahami bahwa bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai oleh negara, termasuk gelombang atau sinyal. Kemudian, pemerintah menjualnya melalui tender pada pihak swasta—meski berkat kemurahan mereka, kita bebas menggunakan sinyal IR dan Bluetooth.
Berbeda dengan gelombang atau sinyal ponsel standard GSM (Global System for Mobile communications). Dengan menggunakan teknik transmisi TDMA—dimana cukup para mahasiswa elektro dan teman-temannya yang berkacamata semua saja yang tahu tentang teknik tersebut—gelombang radio frekuensi tinggi ini (900 dan 1800 MHz) dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan jalur dua arah, di mana data dapat lalu-lalang dari arah berlawanan dalam waktu bersamaan. Itulah yang memungkinkan Anda dan pasangan berdebat kusir via ponsel kalian.
Sebagai sebuah jalan, gelombang tentu memiliki ruang, space, daya muat atau bandwith tertentu. Layaknya jalanan macet karena jumlah kendaraan berlebih, gelombang pun dapat mengalami overload. Hal tersebut menyebabkan sinyal sibuk dan putus-putus di malam Natal, tahun baru dan Lebaran, di mana berjuta orang menggunakan ponsel mereka dalam waktu bersamaan.
Namun, gelombang atau sinyal berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) memungkinkan jumlah data atau percakapan yang ter-cover menjadi lebih besar lagi. Dengan metode pengkodean unik pada data terkirim—bahkan mahasiswa elektro tidak banyak yang mengerti benar teknik tersebut, gelombang ini dapat diibaratkan sebagai jalan bertingkat sehingga jumlah kendaraan pada jalur yang sama dapat lebih dari satu. Artinya, ketika dua orang sedang melakukan percakapan via ponsel, pada waktu bersamaan, bisa saja terdapat beberapa percakapan lain di line mereka.
Selain itu, dominan operator gelombang berbasis CDMA di Indonesia bekerja pada frekuensi 800 MHZ, lebih rendah daripada gelombang standard GSM, sehingga area yang dapat ter-cover akan lebih luas lagi. Dengan demikian, untuk meng-cover suatu area yang sama, jumlah pemancar (BTS) yang dibutuhkan suatu operator ponsel bebasis CDMA akan lebih sedikit dibandingkan operator ponsel standard GSM. So, operational cost berkurang.
Selain itu semua, tentu saja: promosi. Wong, operator berbasis CDMA relatif baru dibandingkan operator GSM.
Bagaimana? Semakin bingung? Saya mengaku iya.
(taken from http://isinspiration.com)
Seven Years Old Children Question
Jika apa yang saya nyatakan itu benar, maka segera matikan komputer Anda saat ini juga, lalu pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda ternyata tidak sungguh-sungguh belajar di masa sekolah dulu, minim curiosity, dan tidak memiliki pembendaharaan ilmu yang luas.
Tapi bila pernyataan saya di atas Anda anggap keliru, maka segera matikan komputer Anda, pulang ke rumah orangtua dan meminta maaf pada mereka karena Anda telah bersikap sok tahu, sok tahu dan sok tahu.
Ada hal yang patut Anda pahami bahwa bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai oleh negara, termasuk gelombang atau sinyal. Kemudian, pemerintah menjualnya melalui tender pada pihak swasta—meski berkat kemurahan mereka, kita bebas menggunakan sinyal IR dan Bluetooth.
Berbeda dengan gelombang atau sinyal ponsel standard GSM (Global System for Mobile communications). Dengan menggunakan teknik transmisi TDMA—dimana cukup para mahasiswa elektro dan teman-temannya yang berkacamata semua saja yang tahu tentang teknik tersebut—gelombang radio frekuensi tinggi ini (900 dan 1800 MHz) dapat diibaratkan sebagai sebuah jalan dengan jalur dua arah, di mana data dapat lalu-lalang dari arah berlawanan dalam waktu bersamaan. Itulah yang memungkinkan Anda dan pasangan berdebat kusir via ponsel kalian.
Sebagai sebuah jalan, gelombang tentu memiliki ruang, space, daya muat atau bandwith tertentu. Layaknya jalanan macet karena jumlah kendaraan berlebih, gelombang pun dapat mengalami overload. Hal tersebut menyebabkan sinyal sibuk dan putus-putus di malam Natal, tahun baru dan Lebaran, di mana berjuta orang menggunakan ponsel mereka dalam waktu bersamaan.
Namun, gelombang atau sinyal berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) memungkinkan jumlah data atau percakapan yang ter-cover menjadi lebih besar lagi. Dengan metode pengkodean unik pada data terkirim—bahkan mahasiswa elektro tidak banyak yang mengerti benar teknik tersebut, gelombang ini dapat diibaratkan sebagai jalan bertingkat sehingga jumlah kendaraan pada jalur yang sama dapat lebih dari satu. Artinya, ketika dua orang sedang melakukan percakapan via ponsel, pada waktu bersamaan, bisa saja terdapat beberapa percakapan lain di line mereka.
Selain itu, dominan operator gelombang berbasis CDMA di Indonesia bekerja pada frekuensi 800 MHZ, lebih rendah daripada gelombang standard GSM, sehingga area yang dapat ter-cover akan lebih luas lagi. Dengan demikian, untuk meng-cover suatu area yang sama, jumlah pemancar (BTS) yang dibutuhkan suatu operator ponsel bebasis CDMA akan lebih sedikit dibandingkan operator ponsel standard GSM. So, operational cost berkurang.
Selain itu semua, tentu saja: promosi. Wong, operator berbasis CDMA relatif baru dibandingkan operator GSM.
Bagaimana? Semakin bingung? Saya mengaku iya.
(taken from http://isinspiration.com)
Jumat, 28 Desember 2007
Resolusi (lagi?)
Beberapa hari lagi saya akan menginjak tahun 2008. Berarti, ini adalah kali ke 29 saya menemui malam pergantian tahun. Cukup fantastis, menurut saya. Meski bukan angka cantik, tentunya. Diberi kesempatan berdiri di muka planet ini selama itu, apa saja yang sudah saya dapatkan? Prestasi apa saja yang sudah saya peroleh? Karya apa yang sudah saya ciptakan?
Tidak. Bukan. Salah pertanyaannya. Selama puluhan kali diberi kesempatan mengitari matahari, apa saja yang sudah saya berikan? Pada keluarga, teman, sahabat, lingkungan dan seluruh dunia? Bukankah, konon, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat?
Hmm. Jadi malu.
Patut saya akui, penghasilan materi saya masih sedikit. Tapi, apa yang sudah saya berikan jauh... jauh... jauh lebih sedikit lagi. Apalagi perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya sekedar sedikit memberi, tapi ternyata saya malah sangat banyak menuntut. Menuntut dan meminta ini-itu serta 'a 'i 'u.
Semakin malu.
Tapi, tidak apalah. Toh, untuk seorang seperti saya, yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi orang paling sombong setelah Ahmad Dhani, tidak perlu merasa malu akan sesuatu yang tidak jelas.
Jadi, resolusi tahun 2008? Tidak perlu!
Ah... hebatnya gaung kata-kata itu.
Tidak. Bukan. Salah pertanyaannya. Selama puluhan kali diberi kesempatan mengitari matahari, apa saja yang sudah saya berikan? Pada keluarga, teman, sahabat, lingkungan dan seluruh dunia? Bukankah, konon, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat?
Hmm. Jadi malu.
Patut saya akui, penghasilan materi saya masih sedikit. Tapi, apa yang sudah saya berikan jauh... jauh... jauh lebih sedikit lagi. Apalagi perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya sekedar sedikit memberi, tapi ternyata saya malah sangat banyak menuntut. Menuntut dan meminta ini-itu serta 'a 'i 'u.
Semakin malu.
Tapi, tidak apalah. Toh, untuk seorang seperti saya, yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi orang paling sombong setelah Ahmad Dhani, tidak perlu merasa malu akan sesuatu yang tidak jelas.
Jadi, resolusi tahun 2008? Tidak perlu!
Ah... hebatnya gaung kata-kata itu.
Resolusi (lagi?)
Beberapa hari lagi saya akan menginjak tahun 2008. Berarti, ini adalah kali ke 29 saya menemui malam pergantian tahun. Cukup fantastis, menurut saya. Meski bukan angka cantik, tentunya. Diberi kesempatan berdiri di muka planet ini selama itu, apa saja yang sudah saya dapatkan? Prestasi apa saja yang sudah saya peroleh? Karya apa yang sudah saya ciptakan?
Tidak. Bukan. Salah pertanyaannya. Selama puluhan kali diberi kesempatan mengitari matahari, apa saja yang sudah saya berikan? Pada keluarga, teman, sahabat, lingkungan dan seluruh dunia? Bukankah, konon, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat?
Hmm. Jadi malu.
Patut saya akui, penghasilan materi saya masih sedikit. Tapi, apa yang sudah saya berikan jauh... jauh... jauh lebih sedikit lagi. Apalagi perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya sekedar sedikit memberi, tapi ternyata saya malah sangat banyak menuntut. Menuntut dan meminta ini-itu serta 'a 'i 'u.
Semakin malu.
Tapi, tidak apalah. Toh, untuk seorang seperti saya, yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi orang paling sombong setelah Ahmad Dhani, tidak perlu merasa malu akan sesuatu yang tidak jelas.
Jadi, resolusi tahun 2008? Tidak perlu!
Ah... hebatnya gaung kata-kata itu.
Tidak. Bukan. Salah pertanyaannya. Selama puluhan kali diberi kesempatan mengitari matahari, apa saja yang sudah saya berikan? Pada keluarga, teman, sahabat, lingkungan dan seluruh dunia? Bukankah, konon, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat?
Hmm. Jadi malu.
Patut saya akui, penghasilan materi saya masih sedikit. Tapi, apa yang sudah saya berikan jauh... jauh... jauh lebih sedikit lagi. Apalagi perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya sekedar sedikit memberi, tapi ternyata saya malah sangat banyak menuntut. Menuntut dan meminta ini-itu serta 'a 'i 'u.
Semakin malu.
Tapi, tidak apalah. Toh, untuk seorang seperti saya, yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi orang paling sombong setelah Ahmad Dhani, tidak perlu merasa malu akan sesuatu yang tidak jelas.
Jadi, resolusi tahun 2008? Tidak perlu!
Ah... hebatnya gaung kata-kata itu.
Rabu, 26 Desember 2007
Gagal Maning
Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah:
Kita mendapatkan pelajaran lebih banyak dari sebuah kegagalan dibandingkan lima keberhasilan.
Hmm. Tidak. Mungkin yang lebih bagus:
Setiap orang sukses pasti lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan jumlah keberhasilannya.
Yeah, rite.
Tetap saja, bagaimanapun, mengalami kegagalan itu pahit rasanya untuk waktu yang cukup lama.
Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti seleksi penawaran beasiswa S2 jurusan Defense Management di ITB. Berbekal Indeks Prestasi paspasan, speaking English yang minim dan rasa percaya diri berlebih, saya diinterview selama limabelas menit. Cas cis cus dan wes wes wey.
Sayang, beberapa hari kemudian diumumkan bahwa saya unsuccessful, katanya.
Ada rasa seperti tertekan dada ini sewaktu menerima kabar tersebut. Juga rasa ngilu yang lumayan. Plus pegal-pegal. Saya termenung untuk beberapa saat, tidak sanggup bereaksi apa-apa. Karena sungguh, saya benar-benar ingin mendapatkan beasiswa ini.
Tapi, bukan Andi Eriawan namanya jika harus menyerah. Saat itu juga, melalui email, saya menghubungi salah satu panitia untuk menanyakan hal ihwal dan sebab-musabab kegagalan saya. Sekiranya mungkin saya masih dapat diberi kesempatan kedua. Siapa tahu, dengan menunjukkan kegigihan dapat terjadi keajaiban.
Tapi itu hanya ada di dalam novel, ternyata.
Defense management adalah cabang ilmu yang sangat menarik menurut saya. Lulusannya bisa menjadi Zu Ghe Liang, ahli siasat perang dalam Romance Three Kingdom, atau Machiavelli abad 21. Sekali lagi, menurut saya, keren sekali, bukan?
Selain itu, saya dan seorang teman sudah mereka-reka rencana sekiranya kami berdua diberi kesempatan kembali kuliah. Sudah terbayang dalam benak di mana kami kongkow-kongkow di lapang basket kampus sambil menikmati kafein dan nikotin. Ditambah pemandangan para mahasiswi.
Yah... sebenarnya hal ini yang paling utama.
Bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah:
Kita mendapatkan pelajaran lebih banyak dari sebuah kegagalan dibandingkan lima keberhasilan.
Hmm. Tidak. Mungkin yang lebih bagus:
Setiap orang sukses pasti lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan jumlah keberhasilannya.
Yeah, rite.
Tetap saja, bagaimanapun, mengalami kegagalan itu pahit rasanya untuk waktu yang cukup lama.
Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti seleksi penawaran beasiswa S2 jurusan Defense Management di ITB. Berbekal Indeks Prestasi paspasan, speaking English yang minim dan rasa percaya diri berlebih, saya diinterview selama limabelas menit. Cas cis cus dan wes wes wey.
Sayang, beberapa hari kemudian diumumkan bahwa saya unsuccessful, katanya.
Ada rasa seperti tertekan dada ini sewaktu menerima kabar tersebut. Juga rasa ngilu yang lumayan. Plus pegal-pegal. Saya termenung untuk beberapa saat, tidak sanggup bereaksi apa-apa. Karena sungguh, saya benar-benar ingin mendapatkan beasiswa ini.
Tapi, bukan Andi Eriawan namanya jika harus menyerah. Saat itu juga, melalui email, saya menghubungi salah satu panitia untuk menanyakan hal ihwal dan sebab-musabab kegagalan saya. Sekiranya mungkin saya masih dapat diberi kesempatan kedua. Siapa tahu, dengan menunjukkan kegigihan dapat terjadi keajaiban.
Tapi itu hanya ada di dalam novel, ternyata.
Defense management adalah cabang ilmu yang sangat menarik menurut saya. Lulusannya bisa menjadi Zu Ghe Liang, ahli siasat perang dalam Romance Three Kingdom, atau Machiavelli abad 21. Sekali lagi, menurut saya, keren sekali, bukan?
Selain itu, saya dan seorang teman sudah mereka-reka rencana sekiranya kami berdua diberi kesempatan kembali kuliah. Sudah terbayang dalam benak di mana kami kongkow-kongkow di lapang basket kampus sambil menikmati kafein dan nikotin. Ditambah pemandangan para mahasiswi.
Yah... sebenarnya hal ini yang paling utama.
Langganan:
Postingan (Atom)