Sabtu, 07 Januari 2006

Xie Xie

sekali lagi...
kau dan seluruh penghuni bumi
mengelilingi matahari yang sama
sedang aku
masih saja mengitarimu...


meski terlambat
dan merasa malu berat

SELAMAT TAHUN BARU 2006

semoga di tahun ini peruntungan kita berlipat ganda

xie xie...

salah satu resolusi 2006: rajin posting
(yeah, right!)

Xie Xie

sekali lagi...
kau dan seluruh penghuni bumi
mengelilingi matahari yang sama
sedang aku
masih saja mengitarimu...


meski terlambat
dan merasa malu berat

SELAMAT TAHUN BARU 2006

semoga di tahun ini peruntungan kita berlipat ganda

xie xie...

salah satu resolusi 2006: rajin posting
(yeah, right!)

Sabtu, 05 November 2005

Jalangkung atau Maling?

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki massa layaknya pencuri alias maling.

Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.

Sampai di sini, tidak ada yang salah, memang. Bahkan terasa cukup menyenangkan. Seperti saling membangunkan di tengah malam, “say hi” pada dini hari, hingga sekedar menanyakan menu makan. Ditambah sedikit mencampuri urusan pribadi, sekali-sekali.

Namun, tiba-tiba dia pergi begitu saja. Wussss. Wusss. Preettt.

Bukan menghilang. Karena bisa terkira tubuhnya berada di mana dan sedang melakukan apa. Dia hanya pergi, meninggalkan jejak kaki yang masih basah hingga saat ini. Pergi. Tanpa pamit. Tanpa permisi. Seperti jalangkung saja. Atau pencuri alias maling.

Tadinya, saya hendak mengejar. Atau sekedar membuntuti. Tapi, please dong. Saya memang miskin, tapi sombong!

Eh, udah lebaran, nih...

"Pintu masuk harap ditutup kembali. Pintu maafku selalu terbuka."
Met, lebaran, ya.

(Ah, mangap sih gampang)

Jalangkung atau Maling?

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki massa layaknya pencuri alias maling.

Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.

Sampai di sini, tidak ada yang salah, memang. Bahkan terasa cukup menyenangkan. Seperti saling membangunkan di tengah malam, “say hi” pada dini hari, hingga sekedar menanyakan menu makan. Ditambah sedikit mencampuri urusan pribadi, sekali-sekali.

Namun, tiba-tiba dia pergi begitu saja. Wussss. Wusss. Preettt.

Bukan menghilang. Karena bisa terkira tubuhnya berada di mana dan sedang melakukan apa. Dia hanya pergi, meninggalkan jejak kaki yang masih basah hingga saat ini. Pergi. Tanpa pamit. Tanpa permisi. Seperti jalangkung saja. Atau pencuri alias maling.

Tadinya, saya hendak mengejar. Atau sekedar membuntuti. Tapi, please dong. Saya memang miskin, tapi sombong!

Eh, udah lebaran, nih...

"Pintu masuk harap ditutup kembali. Pintu maafku selalu terbuka."
Met, lebaran, ya.

(Ah, mangap sih gampang)

Selasa, 04 Oktober 2005

Ramadhan

maraban hayam ku huut
maraban domba ku jukut

Marhaban ya Ramadhan

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, kalian semua saya maafkan.

(Ah, pernahkah kalian tidak saya maafkan?)

Ramadhan

maraban hayam ku huut
maraban domba ku jukut

Marhaban ya Ramadhan

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, kalian semua saya maafkan.

(Ah, pernahkah kalian tidak saya maafkan?)

Rabu, 28 September 2005

Mitos, Legenda dan Mistis

“Kamu percaya Sangkuriang?” Teman saya yang paling saya harapkan menghilang dari muka bumi itu bertanya sekali waktu, tanpa malu-malu dan sedikit belagu.

“Tentu saja tidak!” jawab saya ketus, melemparnya dengan tutup kakus. “Saya lebih percaya pada Dayang Sumbi.”

Mungkin karena terbiasa dengan sikap saya yang demikian, dia hanya tersenyum, menangkis lemparan tutup kakus saya dengan tutup drum. “Bukan itu maksud pertanyaan saya. Tapi, apa kamu percaya dengan keberadaan mereka?”

Saya tertegun, berdiri terpaku di hadapannya dengan berbagai macam isi pikiran, berusaha menebak ke arah mana pembicaraan. “Saya percaya,” jawab saya setelah merasa yakin bahwa teman saya tidak main-main.

Tiba-tiba saja teman saya itu terbahak-bahak. Sangat keras. Keras sekali. Bahkan saya sampai perlu menutup kedua telinga dengan tutup kakus dan drum.

“HAHAHAHAHAHAHA!! Dan sundal bolong? Kamu percaya dengan adanya sundal bolong?”
Tanpa ragu saya menjawab, “Tentu saja! Saya pernah melihatnya di bioskop dan tivi. Tetangga saya pun pernah bercerita melihatnya di kebun jagung dekat kampung.”

Teman saya kembali terbahak-bahak, melambaikan tangannya meremehkan saya.

“Apa itu salah?” saya bertanya dengan pertanyaan paling bodoh sedunia.

“Tidak… tidak… bukan kamu yang salah,” katanya di sela tawa. “Fiuuhhh. Capek juga. Sudah begitu lama saya tidak tertawa seperti ini.”

Saat itulah saya benar-benar merasa tersinggung. Benar-benar tersinggung. Dia… telah menertawaan saya. Saya! Saya, yang selama ini… ditertawakan oleh dia. Dia! Dia, yang hanya…
Dengan langkah tegap tak berirama, saya dekati dia hingga jarak kami cukup dekat. Cukup dekat sehingga orang-orang yang melihat akan mengira kami sedang berhomo ria. “Kenapa kamu tertawa?” tanya saya dingin dengan tatapan menusuk. Tutup kakus dan tutup drum yang saya genggam saya sembunyikan di belakang punggung.

Teman saya terdiam sesaat. Kilatan matanya meredup menandakan penyesalan mendalam. “Sa… ya,” katanya terbata, “hanya tidak mengira… kamu yang memiliki intelegensi tinggi dan sombong itu ternyata… percaya mitos, legenda, dan mistik murahan.”

Akibatnya, “Daaannnggggggggggggg!” Saya gabungkan tutup kakus dan drum dengan kepala teman saya diantaranya.
-------------

Itulah awal dari keraguan saya terhadap keberadaan Sangkuriang dan sundal bolong. Juga akhir dari keberadaan teman saya itu yang berasal dari Malangbong. Satu persatu, apa yang sebelumya saya percaya, luluh lantah. Saya jadi menganggap bahwa segala hal yang belum pernah saya lihat secara langsung hanyalah mitos, legenda, dan mistik belaka. Dan percaya pada hal-hal demikian adalah dosa besar.

“Jadi, kamu ngga percaya dengan adanya… rektor kampus?” tanya teman saya nomor dua.

“Tentu saja tidak. Saya belum pernah melihatnya. Kamu juga kan? Dia adalah makhluk ghaib.” Saya lalu berdiri di meja kelas. “Kalian semua! Ada yang pernah melihat rektor?”

Semuanya tertegun, menggeleng.

“Tapi…,” kata seseorang yang saya tidak ingat siapa namanya, “desas-desusnya, memang ada rektor itu. Hanya saja, perlu waktu. Untuk bisa melihatnya, kita harus menyelesaikan kuliah dulu.”

“Mereka, yang pernah bertemu dan bersalaman dengan rektor, tak pernah lagi kembali ke kampus ini. Itu salah satu tanda bahwa rektor kampus adalah makhluk gaib,” saya menjelaskan dengan bijaksana.

Tanpa disangka-sangka, seseorang mengangkat tangan, yang ternyata perempuan cantik rupawan. “Saya setuju dengan kamu, bahwa sebenarnya rektor itu tidak pernah ada. Bahkan, di kampus tetangga, Unpad, rektornya benar-benar mistis. Sampai lulus pun para wisudawan tidak diperkenankan melihat dan menjabat tangannya. Hanya mereka, yang lulus cumlaude saja, yang diberi kesempatan.”

Agak mengembang dada ini, merasa mendapat dukungan dari si cantik itu. “Ehm. Nama kamu siapa?”

“Apalah artinya nama?” Dia balik bertanya, seperti seorang pujangga pernah berkata.

Saya turun dari meja dan mendekatinya. “Tentu besar artinya. Atau kamu ingin saya panggil ‘Eh’ dan kadang-kadang ‘Hei’?”

Si cantik tertunduk malu dan pura-pura membaca buku. Pada saat saya hendak mengajak dia makan siang, seorang teman yang ke sekian datang mengganggu tanpa diundang. Namanya Agus Suragus, anaknya Dadang Suradang.

“Bagaimana kabar Dadang, Gus? Anakmu itu sudah bisa berdiri?” tanya saya sekedar basa-basi.

“Plakkk!!” Dia menampar saya tiba-tiba. “Saya sudah melihatnya!”

“Siapa???”

“SBY!”

“Kamu…,” saya terbata, “Yakin? Sudah pegang dia?”

“Ya! Saya jabat tangannya. Kenyal berdaging dan keras bertulang. Bukan hantu, boneka, hollogram atau trik kamera seperti yang selama ini kamu bilang!”

Keyakinan saya mulai goyah. Saya melotot dan mencengkram kerah kemejanya. “Kamu tidak sedang mempermainkan saya kan?”

“Dalam masalah ini, saya tidak pernah bercanda. Bahkan, saya mendengar dia berbicara. Suaranya sama dengan suara manusia seperti kita. Hanya berlogat Jawa.”

“Plakkk!” saya tampar dia. “Jangan sembarangan menggunakan kata ‘kita’!!!” Lalu, saya pergi, membawa berbagai macam pertanyaan dan kebingungan.

Sampai hari kemarin, jawaban itu akhirnya saya peroleh. Minggu, 25 September 2005, Jakarta. Saya menghadiri resepsi pernikahan kawan lama. Orang nomor satu itu muncul ketika saya sedang menghabiskan bebek panggang dan kambing guling porsi ke tiga. Jarak kami hanya lima atau enam meter saja. Saya terpaku. Diakah orangnya, si RI-1? Tidak terkesan angker dan tak tercium bau menyan. Saya pun mendengar derap langkahnya yang menandakan orang itu bukan trik kamera atau hollogram.

Untuk memuaskan rasa penasaran, saya berlari mendekat dengan membawa dua tutup panci, menembus barisan Paspampres yang siap mati. Saya berhasil mendekatinya. Kata saya, “Jadi, elo yang namanya SBY?”

Dan memang benar, beliau SBY. Maka, "Daaaaaannnngggg!"