Rabu, 14 September 2005

Kolam Spirtus

Terlalu menyedihkan rasanya setiap kali orang yang sangat istimewa bagi kita akan pergi jauh. Apalagi, bagi saya yang masih menganggap bahwa surat, kabel, sinyal GSM, CDMA ataupun GPRS belum mampu menggantikan kehadiran dan suara sang teristimewa tersebut. Apalagi, argo pulsa yang bergerak cepat seperti kuda, bisa membuat gajian tanggal satu habis tanggal dua.

"Maksud kamu... kamu ngga bisa pacaran jarak jauh?" tiba-tiba teman saya yang, maaf, belum cukup umur itu bertanya.

"Apakah saya barusan mengatakan... kata 'pacaran'?" tanya saya tersinggung, menatapnya penuh nanar.

"Jadi... kamu sedih perempuan itu akan pergi?" tanya dia lagi, tidak sopan.

"Tentu saja! Apakah kamu pernah mendengar kata kesepian? Dan, sesuatu itu semakin berharga justru karena hilang, kan?" cerocos saya sambil mencengkram kerah kemejanya dan mendorongnya pada dinding.

Dengan kalem, teman saya itu menepiskan cengkraman saya. "Sampai kapan kamu akan terus kekanak-kanakan begini?"

Dikatai seperti itu, darah muda saya bergejolak ria. Jotosan pun terlepas dari tangan saya ke wajahnya yang, maaf, sangat berjerawat. Kemudian tendangan. Cekikan. Teman saya itu tidak juga membalas. Malah terus menyebut saya seperti anak kecil, bau kencur, abege dan anak kemarin sore. Hampir saja saya menceburkannya ke kolam bensin dan melemparkan korek api. Tapi, tiba-tiba saya sadar bahwa harga BBM saat ini sangat mahal.

"Puas?" tanya dia setelah saya berhenti menyiksanya.

Napas saya naik turun, karena capek dan emosi. "Kenapa? Kenapa kamu ngga berpihak pada saya?!"

Teman saya yang hidungnya mulai mimisan, menggeleng. "Saya berada di pihak kamu. Tapi, kamu bodoh!"

Darah saya naik lagi. "Bodoh? Kamu menyebut saya bodoh? Dengan IPe tiga koma alhamdulillah kamu menyebut saya bodoh?"

"Ya. Kamu bodoh! Kamu tidak pernah membuka mata. Tidakkah kamu sadar, perempuan cantik ada di mana-mana? Bukan cuma dia!"

"..."

"Ya. Kamu bodoh! Kamu tidak pernah membuka hati. Padahal, kamu bisa jatuh cinta kapan saja, di mana saja. Tidak terbatas dimensi ruang dan waktu."

"^...^"

"Ya. Kamu bodoh! Padahal kamu bisa mencegahnya pergi. Mengutarakan semua dan menawarkan pada dia hal yang lebih berarti."

"(^...^)"

"Ya. Kamu bodoh! Karena kamu memilih untuk berpura-pura mengerti dan tidak terluka."

Akhirnya, kesabaran saya habis juga. Saya cemplungkan saja dia ke kolam spirtus dan melemparkan sisa puntung rokok saya yang masih membara.

"Byaaarrrr."

Setelah memastikan tubuhnya hangus terbakar dan menjadi abu, saya pulang. Tapi justru di dalam kamar kata-katanya tadi kembali terngiang dan mulai saya pikirkan. Ah, saya sungguh bodoh! Padahal saya bisa mencegahnya pergi. Mengutarakan semua dan menawarkan pada dia hal yang lebih berarti.

"Memangnya, apa yang hendak kamu tawarkan pada dia?" tanya teman saya nomor dua, yang tiba-tiba muncul dari kolong kasur. "Kamu hanya seorang biasa, baik tingkah mau pun rupa. Kamu hanya seorang miskin yang sombong. Kamu memang lelaki baik-baik, tapi kamu tidak gentle. Kamu butuh waktu dua tahun untuk sekedar tahu nama lengkap perempuan itu dan membutuhkan setahun lagi untuk tahu kapan ulang tahunnya. Kamu membutuhkan waktu lama untuk tahu apa yang dia suka dan tidak. Bahkan sampai saat ini, yang kamu tahu hanyalah bagaimana membuat dia marah."

Pada teman yang satu ini, saya hanya bisa menunduk, membenarkan kata-katanya. "Kamu benar," desah saya. "Tapi..."

Teman nomor dua ini tiba-tiba menampar saya dengan keras. Plakk!

"Tapi apa???!!" bentaknya.

"Tapi..."

Sekali lagi beliau menampar saya. Bahkan dengan bonus tiga buah tendangan. "Tapi apa??? Cepat jawab, waktu saya tidak banyak!"

Saya menengadah dan memberanikan diri menatapnya. "Tapi... saya... cinta dia."

Akibat jawaban itu, saya menerima siksaan bertubi-tubi. Tendangan, jotosan, pitingan tak terhitung jumlahnya tanpa saya berani membalas. Hidung saya mimisan, kepala benjol, airmata berlinang, lidah saya kelu dan seluruh badan pegel linu.

"Jangan...!! Jangan sekali-kali kamu mengatakan kata itu!! Kamu... sungguh belum pantas!" kata beliau geram. Lalu beliau berbalik dan pergi, meninggalkan saya babak belur sendiri. Namun, beberapa detik kemudian teman saya nomor dua itu kembali dan berdiri di dekat pintu.

Katanya pelan, "Cinta itu bukan milik arjuna atau cleopatra. Tapi milik ayah-ibu atau kakek-nenek kita. Saat rambut mulai memutih, dan berjalan mulai tertatih, barulah cinta sudah lulus teruji. Dan yang dipertengkarkan hanyalah... siapa yang lebih mencintai siapa."

Kali ini, beliau pergi dan benar-benar tidak pernah kembali. Ah, teman saya yang satu itu, selalu saja membuat saya tenggelam dalam ketidakmengertian.





(suatu ketika di kosan, saat mengantri mandi)
(untuk teman-teman saya yang sudah dan berencana menikah)




Kolam Spirtus

Terlalu menyedihkan rasanya setiap kali orang yang sangat istimewa bagi kita akan pergi jauh. Apalagi, bagi saya yang masih menganggap bahwa surat, kabel, sinyal GSM, CDMA ataupun GPRS belum mampu menggantikan kehadiran dan suara sang teristimewa tersebut. Apalagi, argo pulsa yang bergerak cepat seperti kuda, bisa membuat gajian tanggal satu habis tanggal dua.

"Maksud kamu... kamu ngga bisa pacaran jarak jauh?" tiba-tiba teman saya yang, maaf, belum cukup umur itu bertanya.

"Apakah saya barusan mengatakan... kata 'pacaran'?" tanya saya tersinggung, menatapnya penuh nanar.

"Jadi... kamu sedih perempuan itu akan pergi?" tanya dia lagi, tidak sopan.

"Tentu saja! Apakah kamu pernah mendengar kata kesepian? Dan, sesuatu itu semakin berharga justru karena hilang, kan?" cerocos saya sambil mencengkram kerah kemejanya dan mendorongnya pada dinding.

Dengan kalem, teman saya itu menepiskan cengkraman saya. "Sampai kapan kamu akan terus kekanak-kanakan begini?"

Dikatai seperti itu, darah muda saya bergejolak ria. Jotosan pun terlepas dari tangan saya ke wajahnya yang, maaf, sangat berjerawat. Kemudian tendangan. Cekikan. Teman saya itu tidak juga membalas. Malah terus menyebut saya seperti anak kecil, bau kencur, abege dan anak kemarin sore. Hampir saja saya menceburkannya ke kolam bensin dan melemparkan korek api. Tapi, tiba-tiba saya sadar bahwa harga BBM saat ini sangat mahal.

"Puas?" tanya dia setelah saya berhenti menyiksanya.

Napas saya naik turun, karena capek dan emosi. "Kenapa? Kenapa kamu ngga berpihak pada saya?!"

Teman saya yang hidungnya mulai mimisan, menggeleng. "Saya berada di pihak kamu. Tapi, kamu bodoh!"

Darah saya naik lagi. "Bodoh? Kamu menyebut saya bodoh? Dengan IPe tiga koma alhamdulillah kamu menyebut saya bodoh?"

"Ya. Kamu bodoh! Kamu tidak pernah membuka mata. Tidakkah kamu sadar, perempuan cantik ada di mana-mana? Bukan cuma dia!"

"..."

"Ya. Kamu bodoh! Kamu tidak pernah membuka hati. Padahal, kamu bisa jatuh cinta kapan saja, di mana saja. Tidak terbatas dimensi ruang dan waktu."

"^...^"

"Ya. Kamu bodoh! Padahal kamu bisa mencegahnya pergi. Mengutarakan semua dan menawarkan pada dia hal yang lebih berarti."

"(^...^)"

"Ya. Kamu bodoh! Karena kamu memilih untuk berpura-pura mengerti dan tidak terluka."

Akhirnya, kesabaran saya habis juga. Saya cemplungkan saja dia ke kolam spirtus dan melemparkan sisa puntung rokok saya yang masih membara.

"Byaaarrrr."

Setelah memastikan tubuhnya hangus terbakar dan menjadi abu, saya pulang. Tapi justru di dalam kamar kata-katanya tadi kembali terngiang dan mulai saya pikirkan. Ah, saya sungguh bodoh! Padahal saya bisa mencegahnya pergi. Mengutarakan semua dan menawarkan pada dia hal yang lebih berarti.

"Memangnya, apa yang hendak kamu tawarkan pada dia?" tanya teman saya nomor dua, yang tiba-tiba muncul dari kolong kasur. "Kamu hanya seorang biasa, baik tingkah mau pun rupa. Kamu hanya seorang miskin yang sombong. Kamu memang lelaki baik-baik, tapi kamu tidak gentle. Kamu butuh waktu dua tahun untuk sekedar tahu nama lengkap perempuan itu dan membutuhkan setahun lagi untuk tahu kapan ulang tahunnya. Kamu membutuhkan waktu lama untuk tahu apa yang dia suka dan tidak. Bahkan sampai saat ini, yang kamu tahu hanyalah bagaimana membuat dia marah."

Pada teman yang satu ini, saya hanya bisa menunduk, membenarkan kata-katanya. "Kamu benar," desah saya. "Tapi..."

Teman nomor dua ini tiba-tiba menampar saya dengan keras. Plakk!

"Tapi apa???!!" bentaknya.

"Tapi..."

Sekali lagi beliau menampar saya. Bahkan dengan bonus tiga buah tendangan. "Tapi apa??? Cepat jawab, waktu saya tidak banyak!"

Saya menengadah dan memberanikan diri menatapnya. "Tapi... saya... cinta dia."

Akibat jawaban itu, saya menerima siksaan bertubi-tubi. Tendangan, jotosan, pitingan tak terhitung jumlahnya tanpa saya berani membalas. Hidung saya mimisan, kepala benjol, airmata berlinang, lidah saya kelu dan seluruh badan pegel linu.

"Jangan...!! Jangan sekali-kali kamu mengatakan kata itu!! Kamu... sungguh belum pantas!" kata beliau geram. Lalu beliau berbalik dan pergi, meninggalkan saya babak belur sendiri. Namun, beberapa detik kemudian teman saya nomor dua itu kembali dan berdiri di dekat pintu.

Katanya pelan, "Cinta itu bukan milik arjuna atau cleopatra. Tapi milik ayah-ibu atau kakek-nenek kita. Saat rambut mulai memutih, dan berjalan mulai tertatih, barulah cinta sudah lulus teruji. Dan yang dipertengkarkan hanyalah... siapa yang lebih mencintai siapa."

Kali ini, beliau pergi dan benar-benar tidak pernah kembali. Ah, teman saya yang satu itu, selalu saja membuat saya tenggelam dalam ketidakmengertian.





(suatu ketika di kosan, saat mengantri mandi)
(untuk teman-teman saya yang sudah dan berencana menikah)




Jumat, 19 Agustus 2005

things

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dua bulan terakhr ini. Saya juga terlalu sombong untuk sekedar membagi itu semua dalam blog ini
'ah, yang bacanya dikit, kok', kata teman saya.
'ngaku aja, males gitu,' kata teman saya yang ke dua.
Oke. Saya akui. Karena kalimat teman saya yang ke dualah yang benar. Saya agak malas mengisi blog ini. Kenapa? Karena yang bacanya di... Tapi, malam ini saya ingin menyombongkan beberapa hal.
PERTAMA
always, Laila sudah memasuki cetakan ke enam. Syukur, ya Allah. Dan terimakasih sebesar-besarnya untuk semua yang sudah membantu dan membeli. Khususon bagi mereka yang membeli. Apalagi, buat para pembeli yang setelah baca novel itu langsung membakarnya dan... beli lagi.
KEDUA
Sejak sebulan lalu saya resmi menjadi karyawan PT. Dirgantara Indonesia sebagai Junior Engineer. Sekali lagi, syukur, ya Allah. Dan keluarga tercinta yang sudah mendoakan. Mamah, Bapak... anakmu akhirnya tidak lagi dagaNga angGur.
Ada hal yang lucu sewaktu proses interview. Seorang interviewer bertanya tentang profesi saya sebelumnya. Saya jawab bahwa saya menulis novel. Seorang interviewer yang lain menimbrung, 'anak saya punya novel kamu'.
Dunia di sekitar saya menjadi berubah. Di mana-mana cuma bapak-bapak dan sedikit ibu-ibu yang kelihatan. Memang, ada juga 'gadis-gadis' di sana, tapi jumlahnya kurang dari lima atau enam. Yang jomblonya cuma dua. Dan itu pun sedang diperebutkan oleh dua ratus bujangan dan tigapuluh empat duda.
KETIGA
Novel ke-2 saya belum selesai-selesai juga. Selalu ada cobaan yang ganggu. Teori saya tentang 'ketika penulis jatuh miskin' mungkin akan diaplikasikan lagi dalam beberapa hari ini.
TERAKHIR
Saya sedang jatuh cinta. Tapi saya tidak akan mengatakan jatuh cinta pada siapa di blog ini. Malu, gila! Akan terlalu banyak orang yang akan tahu.
'ah, yang baca blog ini dikit, kok', kata teman saya.
'bener juga, sih,' aku saya. 'tapi saya malu.'
'makanya, pake celana biar ga malu.'
Saya pun menuruti nasihat dia, memakai celana. Dan ajaibnya, saya lebih percaya diri dan tidak malu lagi. Baiklah, akan saya tunjukkan kepada siapa saya sedang jatuh cinta. Dia.

things

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dua bulan terakhr ini. Saya juga terlalu sombong untuk sekedar membagi itu semua dalam blog ini
'ah, yang bacanya dikit, kok', kata teman saya.
'ngaku aja, males gitu,' kata teman saya yang ke dua.
Oke. Saya akui. Karena kalimat teman saya yang ke dualah yang benar. Saya agak malas mengisi blog ini. Kenapa? Karena yang bacanya di... Tapi, malam ini saya ingin menyombongkan beberapa hal.
PERTAMA
always, Laila sudah memasuki cetakan ke enam. Syukur, ya Allah. Dan terimakasih sebesar-besarnya untuk semua yang sudah membantu dan membeli. Khususon bagi mereka yang membeli. Apalagi, buat para pembeli yang setelah baca novel itu langsung membakarnya dan... beli lagi.
KEDUA
Sejak sebulan lalu saya resmi menjadi karyawan PT. Dirgantara Indonesia sebagai Junior Engineer. Sekali lagi, syukur, ya Allah. Dan keluarga tercinta yang sudah mendoakan. Mamah, Bapak... anakmu akhirnya tidak lagi dagaNga angGur.
Ada hal yang lucu sewaktu proses interview. Seorang interviewer bertanya tentang profesi saya sebelumnya. Saya jawab bahwa saya menulis novel. Seorang interviewer yang lain menimbrung, 'anak saya punya novel kamu'.
Dunia di sekitar saya menjadi berubah. Di mana-mana cuma bapak-bapak dan sedikit ibu-ibu yang kelihatan. Memang, ada juga 'gadis-gadis' di sana, tapi jumlahnya kurang dari lima atau enam. Yang jomblonya cuma dua. Dan itu pun sedang diperebutkan oleh dua ratus bujangan dan tigapuluh empat duda.
KETIGA
Novel ke-2 saya belum selesai-selesai juga. Selalu ada cobaan yang ganggu. Teori saya tentang 'ketika penulis jatuh miskin' mungkin akan diaplikasikan lagi dalam beberapa hari ini.
TERAKHIR
Saya sedang jatuh cinta. Tapi saya tidak akan mengatakan jatuh cinta pada siapa di blog ini. Malu, gila! Akan terlalu banyak orang yang akan tahu.
'ah, yang baca blog ini dikit, kok', kata teman saya.
'bener juga, sih,' aku saya. 'tapi saya malu.'
'makanya, pake celana biar ga malu.'
Saya pun menuruti nasihat dia, memakai celana. Dan ajaibnya, saya lebih percaya diri dan tidak malu lagi. Baiklah, akan saya tunjukkan kepada siapa saya sedang jatuh cinta. Dia.

Kamis, 11 Agustus 2005

temu wicara always, Laila

Atrium Istana Plaza Bandung
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)

Silakan datang, maki dan tendang...

temu wicara always, Laila

Atrium Istana Plaza Bandung
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)

Silakan datang, maki dan tendang...

Senin, 06 Juni 2005

Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia

Ayo... rame-rame datang, ketemu, protes, kasih kritik, saran dan ngobrol bareng penulis-penulis GagasMedia.
Hari : Sabtu, Minggu
Tanggal : 11, 12, 18, 19, 25 dan 26 Juni
Pukul : 16.00 s.d 17.30 WIB
Tempat : Toko Buku Gunung Agung Ciwalk, Bandung
Jadwal pembicara :
1. Sabtu, 11 Juni : Andi Eriawan (always, Laila)
2. Minggu, 12 Juni : Danni Junus (ei to zie)
3. Sabtu, 18 Juni : Icha Rahmanti (Beauty Case, Cintapuccino)
4. Minggu, 19 Juni : Harry Haryanto (Empat Cowok Mencari Cinte)
5. Sabtu, 25 Juni : Wisnu Wage (Katakan Cinta (mu))
6. Minggu, 26 Juni : Bangsal 13 (F.X. Rudy Gunawan)