Kamis, 18 Desember 2008

Cicip-cicip Novel Ke Empat


Sejak aku bisa mengingat tentang kakakku, Ruski adalah seorang anak lelaki yang nakal dan mata duitan. Sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar, dia sudah terbiasa bergelantungan di atas KRD yang melintasi jalur Cicalengka-Padalarang, mengorek uang recehan yang tertanam di jalan aspal, mencongkel timah ban mobil dan sering meminta uang untuk buku pelajaran yang tidak pernah dibelikannya. Bila disuruh melakukan sesuatu oleh orangtua kami, Ruski selalu meminta bayaran di muka. Belanja ke warung, limapuluh. Ke kantor pos, seratus. Puasa Ramadhan, seratus per hari. Sejak kelas lima tahun lalu, dia mulai mencuri rokok milik Bapak dan menghisapnya di gardu listrik belakang komplek rumah kami. Dan Mamah sudah terbiasa diomeli para tetangga atau orangtua murid sekolah karena Ruski telah memberi pengaruh buruk bagi anak-anak mereka.

Kedua orangtua kami bukan tidak pernah memarahi kakakku. Namun, entah kenapa, cubitan dan omelan tidak mempan terhadapnya. Jika Mamah sampai menghentikan uang saku Ruski, maka akan ada satu-dua ekor ikan mas koki menghilang dari akuarium dan beberapa koleksi kaset Bapak berpindah tangan ke tukang loak di Pasar Cihapit. Jika dikurung di kamar mandi, maka air bak akan dikuras habis. Pernah suatu kali Ruski dilarang menonton tivi selama satu minggu. Maka yang terjadi adalah menghilangnya antena tivi sehingga kami sekeluarga tidak bisa menonton selama satu minggu.

Tapi setiap kali kami membicarakan masa-masa itu di tahun-tahun berikutnya, Ruski selalu menampik bahwa dia adalah teladan yang buruk bagi aku, adiknya. Dan lagi-lagi dia akan mengingatkan aku tentang kejadian, kami menyebutnya September Berdarah, di mana Ruski menjadi sosok pahlawan bagi seluruh anggota keluarga. Kalau sudah begitu, aku akan terdiam kehabisan kata-kata sambil memandang sebal kakakku yang tampak besar kepala. Kemudian aku mengancam akan memberi tahu Bapak tempat persembunyian rokoknya. Dan seperti biasa, kami pun kembali berbaikan.

Bapak pernah bercerita bahwa kenakalan Ruski berasal dari darah kakekku, Rusmana, seorang jawara yang ikut pemberontakan DI/TII di Sumedang yang kemudian turun gunung hanya karena jatuh cinta pada nenekku. Mereka mengungsi ke kawasan Muararajeun yang dulu masih berupa rawa-rawa dan mendirikan rumah di sana. Tigapuluh tahun kemudian, mereka digusur oleh pemerintah kota. Kakekkulah yang berjuang paling depan untuk mendapatkan ganti rugi pembebasan tanah dengan harga yang sangat tinggi.

Tapi kemudian Mamah menyangkal. Menurutnya, kenakalan Ruski lebih disebabkan oleh kelahirannya yang prematur dengan berat hanya dua kilo gram. Tidak lebih dan tidak kurang. Kondisinya begitu lemah sampai-sampai ia harus diinfus selama tiga hari. Tidak hanya sampai di situ. Ruski sempat pinsan dan dokter memberi kejutan listrik untuk menyadarkannya. Jadi, mungkin akibat voltase yang terlalu besar, Ruski tumbuh dalam kondisi kelebihan energi.

Bersambung.






Semoga bisa terbit di tahun 2009.

Semoga...








“Whatever you do, just don’t listen to anything I say.”
[Joe Fox, You've Got Mail]


6 komentar:

Monique mengatakan...

Jadi kapan ?

Anonymous mengatakan...

Amin. Mau diberi judul apa?

Andi Eriawan mengatakan...

Monique, jangan tanya kapan...
tapi tanya judulnya apa, gt...




Anonymous, tanya ke monique, deh...

Enno mengatakan...

hyaaaa.... aseek!!!! bodo amat judulnya apa! aku mau tanya harganya berapaaa...??? hihi

Andi Eriawan mengatakan...

itu yang saya seneng dari enno
langsung ke harga



mmm...

masih digodok harganya

Dy mengatakan...

wah..asyiik..aamiin,moga bisa beredar di tahun 2009 ya...insyaAllah saya beli mas,saya sangat ngefans dengan tokoh ruski..hihii..eh beredar di Riau jg kan ya? :D
kemaren saya nyari "always laila" di gramedia pekanbaru kok gak ada ya..masih beredar kan ya mas novelnya?