SEUMUR hidup, saya selalu berjalan tegak di muka bumi karena tidak pernah melakukan hal yang bertentangan dengan nurani. Hitam-putih tampak jelas di mata saya. Meski berat, jalan lurus selalu saya tempuh. Keraguan hanya milik mereka yang berhati lemah. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.
Tapi tiba-tiba kebimbangan itu datang. Jiwa saya goyah tak tertahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini saya merasa takut. Sampai-sampai saya meringkuk di pojok kamar seharian dengan tubuh menggigil. Langit-langit terasa berputar.
Siang itu saya sedang berjalan pulang seusai belanja kebutuhan bulanan di sebuah mall. Indra penciuman saya menangkap sesuatu yang exiting ketika melewati sebuah toko parfum. Ada yang berbeda di sana. Samar-samar, memang, tapi cukup kuat untuk membuat langkah saya tertahan. Sedikit ragu, saya hirup udara lebih dalam. Benar-benar wangi yang tidak biasa. Wangi yang sanggup meluluhkan hati, menaklukkan jiwa dan menciptakan sensasi.
Seakan teripnotis, saya melangkah masuk. Bahkan saya tidak sadar bahwa itulah untuk pertama kalinya kedua kaki saya berpijak di atas lantai sebuah toko parfum, tempat yang selama ini saya anggap terlarang.
Seorang pramuniaga menghampiri dan bertanya parfum apa yang sedang saya cari. Petanyaan tersebut membuat saya segera tersadar sedang berada di mana. Bukan menjawab, saya memilih lari meninggalkan tempat itu. Lari dan terus berlari, tidak peduli apa dan siapa yang menghalangi. Isi kantong belanja jatuh berhamburan dan orang-orang berusaha menghindar di sepanjang pelarian. Saya tidak mau teman-teman dan keluarga menangkap basah saya masuk ke tokom parfum tadi. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.
Namun, justru ketika berada di rumah memori akan wangi itu muncul kembali. Bahkan lebih kuat. Tumbuh dan berkembang keinginan dalam benak untuk menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuh dan memamerkannya pada dunia. Di hati yang terdalam, ternyata sayapun ingin tercium harum untuk memperkuat eksistensi diri dan merebut hati banyak orang.
Lalu ditanya diri, adakah saya masih lelaki, penerus Musashi?
Tapi tiba-tiba kebimbangan itu datang. Jiwa saya goyah tak tertahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini saya merasa takut. Sampai-sampai saya meringkuk di pojok kamar seharian dengan tubuh menggigil. Langit-langit terasa berputar.
Siang itu saya sedang berjalan pulang seusai belanja kebutuhan bulanan di sebuah mall. Indra penciuman saya menangkap sesuatu yang exiting ketika melewati sebuah toko parfum. Ada yang berbeda di sana. Samar-samar, memang, tapi cukup kuat untuk membuat langkah saya tertahan. Sedikit ragu, saya hirup udara lebih dalam. Benar-benar wangi yang tidak biasa. Wangi yang sanggup meluluhkan hati, menaklukkan jiwa dan menciptakan sensasi.
Seakan teripnotis, saya melangkah masuk. Bahkan saya tidak sadar bahwa itulah untuk pertama kalinya kedua kaki saya berpijak di atas lantai sebuah toko parfum, tempat yang selama ini saya anggap terlarang.
Seorang pramuniaga menghampiri dan bertanya parfum apa yang sedang saya cari. Petanyaan tersebut membuat saya segera tersadar sedang berada di mana. Bukan menjawab, saya memilih lari meninggalkan tempat itu. Lari dan terus berlari, tidak peduli apa dan siapa yang menghalangi. Isi kantong belanja jatuh berhamburan dan orang-orang berusaha menghindar di sepanjang pelarian. Saya tidak mau teman-teman dan keluarga menangkap basah saya masuk ke tokom parfum tadi. Saya adalah lelaki, penerus Musashi.
Namun, justru ketika berada di rumah memori akan wangi itu muncul kembali. Bahkan lebih kuat. Tumbuh dan berkembang keinginan dalam benak untuk menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuh dan memamerkannya pada dunia. Di hati yang terdalam, ternyata sayapun ingin tercium harum untuk memperkuat eksistensi diri dan merebut hati banyak orang.
Lalu ditanya diri, adakah saya masih lelaki, penerus Musashi?

6 komentar:
ih andi, maksudnya apa nih, kalo penerus musashi itu mesti bau ya? hehehe...
yaaah... macho kan gak berarti gak boleh wangi. rapi, wangi, bersih itu sebagian dari iman. asal gak nyemprotin sebotol sekaligus.
ahaha
salam :D
nah itu... baunya lelaki itu kan... khas...
hehehe.
Penerus musashi tuh apa sih ?
penerus musashi?
mm... yah... gt, deh.
Wah kang Andi, beneran ga tau nihh, penerus musashi apaan sih ? * keukeuh * :D
ya ampyunnn ternyata beli parfum toh...eh bapakku parfumnya ada berapa biji ya d rumah? pokoknya necis banget deh, beda dibanding gw yang udah jelas cewek tapi di rumah dandan kek pembantu..T_T
mungkin musashi pake parfum kali...tapi gak kerekam aja dalam sejarah :P
Posting Komentar