Jumat, 19 Agustus 2005

things

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dua bulan terakhr ini. Saya juga terlalu sombong untuk sekedar membagi itu semua dalam blog ini
'ah, yang bacanya dikit, kok', kata teman saya.
'ngaku aja, males gitu,' kata teman saya yang ke dua.
Oke. Saya akui. Karena kalimat teman saya yang ke dualah yang benar. Saya agak malas mengisi blog ini. Kenapa? Karena yang bacanya di... Tapi, malam ini saya ingin menyombongkan beberapa hal.
PERTAMA
always, Laila sudah memasuki cetakan ke enam. Syukur, ya Allah. Dan terimakasih sebesar-besarnya untuk semua yang sudah membantu dan membeli. Khususon bagi mereka yang membeli. Apalagi, buat para pembeli yang setelah baca novel itu langsung membakarnya dan... beli lagi.
KEDUA
Sejak sebulan lalu saya resmi menjadi karyawan PT. Dirgantara Indonesia sebagai Junior Engineer. Sekali lagi, syukur, ya Allah. Dan keluarga tercinta yang sudah mendoakan. Mamah, Bapak... anakmu akhirnya tidak lagi dagaNga angGur.
Ada hal yang lucu sewaktu proses interview. Seorang interviewer bertanya tentang profesi saya sebelumnya. Saya jawab bahwa saya menulis novel. Seorang interviewer yang lain menimbrung, 'anak saya punya novel kamu'.
Dunia di sekitar saya menjadi berubah. Di mana-mana cuma bapak-bapak dan sedikit ibu-ibu yang kelihatan. Memang, ada juga 'gadis-gadis' di sana, tapi jumlahnya kurang dari lima atau enam. Yang jomblonya cuma dua. Dan itu pun sedang diperebutkan oleh dua ratus bujangan dan tigapuluh empat duda.
KETIGA
Novel ke-2 saya belum selesai-selesai juga. Selalu ada cobaan yang ganggu. Teori saya tentang 'ketika penulis jatuh miskin' mungkin akan diaplikasikan lagi dalam beberapa hari ini.
TERAKHIR
Saya sedang jatuh cinta. Tapi saya tidak akan mengatakan jatuh cinta pada siapa di blog ini. Malu, gila! Akan terlalu banyak orang yang akan tahu.
'ah, yang baca blog ini dikit, kok', kata teman saya.
'bener juga, sih,' aku saya. 'tapi saya malu.'
'makanya, pake celana biar ga malu.'
Saya pun menuruti nasihat dia, memakai celana. Dan ajaibnya, saya lebih percaya diri dan tidak malu lagi. Baiklah, akan saya tunjukkan kepada siapa saya sedang jatuh cinta. Dia.

things

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dua bulan terakhr ini. Saya juga terlalu sombong untuk sekedar membagi itu semua dalam blog ini
'ah, yang bacanya dikit, kok', kata teman saya.
'ngaku aja, males gitu,' kata teman saya yang ke dua.
Oke. Saya akui. Karena kalimat teman saya yang ke dualah yang benar. Saya agak malas mengisi blog ini. Kenapa? Karena yang bacanya di... Tapi, malam ini saya ingin menyombongkan beberapa hal.
PERTAMA
always, Laila sudah memasuki cetakan ke enam. Syukur, ya Allah. Dan terimakasih sebesar-besarnya untuk semua yang sudah membantu dan membeli. Khususon bagi mereka yang membeli. Apalagi, buat para pembeli yang setelah baca novel itu langsung membakarnya dan... beli lagi.
KEDUA
Sejak sebulan lalu saya resmi menjadi karyawan PT. Dirgantara Indonesia sebagai Junior Engineer. Sekali lagi, syukur, ya Allah. Dan keluarga tercinta yang sudah mendoakan. Mamah, Bapak... anakmu akhirnya tidak lagi dagaNga angGur.
Ada hal yang lucu sewaktu proses interview. Seorang interviewer bertanya tentang profesi saya sebelumnya. Saya jawab bahwa saya menulis novel. Seorang interviewer yang lain menimbrung, 'anak saya punya novel kamu'.
Dunia di sekitar saya menjadi berubah. Di mana-mana cuma bapak-bapak dan sedikit ibu-ibu yang kelihatan. Memang, ada juga 'gadis-gadis' di sana, tapi jumlahnya kurang dari lima atau enam. Yang jomblonya cuma dua. Dan itu pun sedang diperebutkan oleh dua ratus bujangan dan tigapuluh empat duda.
KETIGA
Novel ke-2 saya belum selesai-selesai juga. Selalu ada cobaan yang ganggu. Teori saya tentang 'ketika penulis jatuh miskin' mungkin akan diaplikasikan lagi dalam beberapa hari ini.
TERAKHIR
Saya sedang jatuh cinta. Tapi saya tidak akan mengatakan jatuh cinta pada siapa di blog ini. Malu, gila! Akan terlalu banyak orang yang akan tahu.
'ah, yang baca blog ini dikit, kok', kata teman saya.
'bener juga, sih,' aku saya. 'tapi saya malu.'
'makanya, pake celana biar ga malu.'
Saya pun menuruti nasihat dia, memakai celana. Dan ajaibnya, saya lebih percaya diri dan tidak malu lagi. Baiklah, akan saya tunjukkan kepada siapa saya sedang jatuh cinta. Dia.

Kamis, 11 Agustus 2005

temu wicara always, Laila

Atrium Istana Plaza Bandung
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)

Silakan datang, maki dan tendang...

temu wicara always, Laila

Atrium Istana Plaza Bandung
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)

Silakan datang, maki dan tendang...

Senin, 06 Juni 2005

Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia

Ayo... rame-rame datang, ketemu, protes, kasih kritik, saran dan ngobrol bareng penulis-penulis GagasMedia.
Hari : Sabtu, Minggu
Tanggal : 11, 12, 18, 19, 25 dan 26 Juni
Pukul : 16.00 s.d 17.30 WIB
Tempat : Toko Buku Gunung Agung Ciwalk, Bandung
Jadwal pembicara :
1. Sabtu, 11 Juni : Andi Eriawan (always, Laila)
2. Minggu, 12 Juni : Danni Junus (ei to zie)
3. Sabtu, 18 Juni : Icha Rahmanti (Beauty Case, Cintapuccino)
4. Minggu, 19 Juni : Harry Haryanto (Empat Cowok Mencari Cinte)
5. Sabtu, 25 Juni : Wisnu Wage (Katakan Cinta (mu))
6. Minggu, 26 Juni : Bangsal 13 (F.X. Rudy Gunawan)

Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia

Ayo... rame-rame datang, ketemu, protes, kasih kritik, saran dan ngobrol bareng penulis-penulis GagasMedia.
Hari : Sabtu, Minggu
Tanggal : 11, 12, 18, 19, 25 dan 26 Juni
Pukul : 16.00 s.d 17.30 WIB
Tempat : Toko Buku Gunung Agung Ciwalk, Bandung
Jadwal pembicara :
1. Sabtu, 11 Juni : Andi Eriawan (always, Laila)
2. Minggu, 12 Juni : Danni Junus (ei to zie)
3. Sabtu, 18 Juni : Icha Rahmanti (Beauty Case, Cintapuccino)
4. Minggu, 19 Juni : Harry Haryanto (Empat Cowok Mencari Cinte)
5. Sabtu, 25 Juni : Wisnu Wage (Katakan Cinta (mu))
6. Minggu, 26 Juni : Bangsal 13 (F.X. Rudy Gunawan)

Jumat, 13 Mei 2005

Ketemu Artis

Dua minggu yang lalu saya mengantar seorang teman berinisial Z untuk mengikuti audisi sebuah film layar lebar di Jakarta. Seperti artis-artis beken lain, yang karirnya justru berawal "cuma nganter temen casting", dengan penuh harap, pengalaman akting nol, ongkos pergi tanpa pulang, kami berdua pun berangkat. Dollywood... We're comin!!

Untuk menghabiskan waktu selama di perjalanan, Z meminta saya menyusun speech saat beliau nanti mendapatkan piala Citra-nya untuk pertama kali. Tentu saja, saya menempatkan nama saya di urutan pertama ucapan terimakasih. Dia juga bilang bahwa menjadi bintang film akan membuka cita-citanya menjadi RI-1. Sebuah cita-cita yang agung!!

Sesampainya di sana, saya terheran-heran. Apa yang saya lihat berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya tentang sebuah tempat audisi. Dimana gadis-gadis ABG cantik nan seksi itu? Selidik-punya selidik, ternyata mereka sedang syuting sepertinya. Sedikit kecewa, saya duduk di ruang tamu, sementara teman saya mengikuti audisi di ruang yang lain.

Seorang perempuan berambut panjang masuk saat lima belas menit menjadi waktu yang menyebalkan untuk menunggu. Wajahnya lumayan cantik untuk seorang figuran atau calon bintang. Dia duduk di sebelah saya.

"Hai. Ikut audisi juga?" tanya saya.
Perempuan itu cuma senyum-senyum tidak jelas. "Nggak," jawabnya. "Aku baru balik syuting."
"Sinetron?"
"Bukan. Film."
"Pasti film pertama," tebak saya tanpa malu.
"Yang ke-empat."
"Ooooohhhh...."

Saya agak ragu-ragu. Semenit kemudian saya pandangi wajahnya dan mencoba mencocokkan dengan wajah-wajah artis di benak saya. Kemudian saya pun teringat pernah menonton salah satu filmnya. "Saya ingat. Kamu... Dina Sastro, kan?
"Bukan. Dian," selanya membetulkan.
"Iya. Dian maksud saya. Saya pernah nonton film kamu. Apa, ya... Mmmm... ABCD atau apalah. Pokoknya film ngga terkenal kan?"
"AADC," selanya lagi. Dan kali ini saya dapat menangkap mimik memusuhi di wajahnya.
"Maaf... saya ngga bermaksud...," kata saya mencoba memperbaiki sikap.
Kami berdua terdiam lagi beberapa menit. Suaranya yang cukup merdu memecah kesunyian. "Siapa namanya?"
"Saya?"
"Siapa lagi?"
"Saya datang dengan teman sa..."
"Maksudnya, nama kamu siapa?" tanyanya dengan kesal.
"Andi. Maaf... bercanda, Dian."
"Kamu ikut audisi?"
"Ngga. Cuma nganter. Ehm... saya penulis novel," kata saya sedikit memberi penekanan pada dua kata terakhir.
"Waahhh... novel? Saya suka sekali baca novel. Terutama novel-novel Indonesia yang ditulis penulis-penulis muda. Tunggu... biar saya tebak. Novel kamu... Jomblo?"
"Bukan."
"GMC?"
"Bukan."
"Mmmm... Lovely Luna?"
"Bu... kan."
"Waduh. Apa, dong... Playboy Kaleng?"
"Bukan. Novel saya... always, Laila," kata saya mulai sedikit kesal.
"Always... apa tadi?"
"Always, Laila."
"Oohhh..."
"Sudah pernah baca?"
Dian Sastro menggeleng. "Belum. Baru, ya?"
"Sudah terbit enam bulan dan cetakan ke-empat."
"Maaf. Saya belum baca. Malah belum pernah denger," katanya sambil pamit pergi.