Minggu, 29 Maret 2009

Surat Cinta #747





Tidak mau saya mengawali surat ini dengan sapaan Apa Kabar? Benci sekali dengan kalimat yang terlalu sering diucapkan banyak orang itu. Ditambah dengan jawaban yang mudah tertebak sebelumnya. Artis favorit kita Pinkan Mambo juga sering melantunkan itu, bukan?

Saya kasih tahu, ya. Di sini sedang musim hujan. Banjir selalu mengancam setiap saat. Atap rumah bocor dan tetesan air mengukir banyak jejak di dinding kamar. Untungnya, tak ada korban.

Pertama-tama, ijinkanlah saya mengabarkan kondisi kesehatan saya saat ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan rutin para dokter di klinik kantor beberapa hari lalu, saya dinyatakan tidak mungkin hidup hingga usia 100 tahun. Vonis ini cukup mengejutkan mengingat saya sudah mulai mengurangi asupan nikotin ke dalam tubuh per harinya. Kolesterol, melanin, zat pewarna dan gorengan berminyak favorit saya pun sudah sangat dijatah ketat. Olahraga, sih, jangan ditanya. Tidak pernah saya absen berlari-lari setiap minggunya.

Ke dua, dari kota di mana kamu dilahirkan, saya laporkan pula kondisi batiniah saya. Kamu tahu, saya sedang bahagia. Amat bahagia. Sekiranya kamu bisa melihat wajah saya saat ini, kamu bisa dapatkan bahwa saya tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum. Sedikit malu-malu, memang, senyuman saya. Bahkan terkadang, saya sampai tertawa sendiri.

Jika ditanya apa penyebabnya, saya kesulitan untuk memberi tahu. Mungkin karena A, atau bisa juga akibat B. Jika diceritakan satu per satu, akan banyak memakan waktu, sementara ada begitu banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Surat ini pun saya tulis dalam situasi tergesa-gesa dan diburu-buru. Karena itu, mafkqnn jika kmu melgat bayak tedapt kesalehan letik juruf dan tenda bca.

Hal berikut yang hendak saya laporkan adalah kondisi keuangan. Patut disyukuri bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan saya dalam kekurangan. Tidak pernah saya merasa khawatir lagi besok hendak makan apa dan di mana. Hanya saja, patut disayangkan bahwa ternyata saya tidak pandai mengatur rizki-Nya. Banyak saya beli ini-itu akhir-akhir ini, padahal sesungguhnya tidak diperlukan. Tabungan sudah nyaris kering kerontang. Isi dompet hanya tersisa bon tagihan.

Terakhir, saya juga ingin sampaikan berita bahwa di belahan lain dunia tempat kamu berada, seorang laki-laki sedang menunggu balasan surat ini. Cemas dia menanti. Penuh harap dia. Kasihan dia jika tidak dikabulkan.

Yang paling terakhir sekali, tidak lupa doa agar kamu senantiasa berada dalam lindungan-Nya.


Surat Cinta #747





Tidak mau saya mengawali surat ini dengan sapaan Apa Kabar? Benci sekali dengan kalimat yang terlalu sering diucapkan banyak orang itu. Ditambah dengan jawaban yang mudah tertebak sebelumnya. Artis favorit kita Pinkan Mambo juga sering melantunkan itu, bukan?

Saya kasih tahu, ya. Di sini sedang musim hujan. Banjir selalu mengancam setiap saat. Atap rumah bocor dan tetesan air mengukir banyak jejak di dinding kamar. Untungnya, tak ada korban.

Pertama-tama, ijinkanlah saya mengabarkan kondisi kesehatan saya saat ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan rutin para dokter di klinik kantor beberapa hari lalu, saya dinyatakan tidak mungkin hidup hingga usia 100 tahun. Vonis ini cukup mengejutkan mengingat saya sudah mulai mengurangi asupan nikotin ke dalam tubuh per harinya. Kolesterol, melanin, zat pewarna dan gorengan berminyak favorit saya pun sudah sangat dijatah ketat. Olahraga, sih, jangan ditanya. Tidak pernah saya absen berlari-lari setiap minggunya.

Ke dua, dari kota di mana kamu dilahirkan, saya laporkan pula kondisi batiniah saya. Kamu tahu, saya sedang bahagia. Amat bahagia. Sekiranya kamu bisa melihat wajah saya saat ini, kamu bisa dapatkan bahwa saya tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum. Sedikit malu-malu, memang, senyuman saya. Bahkan terkadang, saya sampai tertawa sendiri.

Jika ditanya apa penyebabnya, saya kesulitan untuk memberi tahu. Mungkin karena A, atau bisa juga akibat B. Jika diceritakan satu per satu, akan banyak memakan waktu, sementara ada begitu banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Surat ini pun saya tulis dalam situasi tergesa-gesa dan diburu-buru. Karena itu, mafkqnn jika kmu melgat bayak tedapt kesalehan letik juruf dan tenda bca.

Hal berikut yang hendak saya laporkan adalah kondisi keuangan. Patut disyukuri bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan saya dalam kekurangan. Tidak pernah saya merasa khawatir lagi besok hendak makan apa dan di mana. Hanya saja, patut disayangkan bahwa ternyata saya tidak pandai mengatur rizki-Nya. Banyak saya beli ini-itu akhir-akhir ini, padahal sesungguhnya tidak diperlukan. Tabungan sudah nyaris kering kerontang. Isi dompet hanya tersisa bon tagihan.

Terakhir, saya juga ingin sampaikan berita bahwa di belahan lain dunia tempat kamu berada, seorang laki-laki sedang menunggu balasan surat ini. Cemas dia menanti. Penuh harap dia. Kasihan dia jika tidak dikabulkan.

Yang paling terakhir sekali, tidak lupa doa agar kamu senantiasa berada dalam lindungan-Nya.


Lima Saja Cukup






“Jadi laki-laki itu harus begini, begitu. Jangan bla bla bla.”

Kira-kira, demikianlah yang diucapkan seorang kawan perempuan feminis pada saya di malam minggu lalu sewaktu kami menunggu antrean karaoke. Disampaikannya kalimat tersebut dengan iringan kekesalan. Wajar, beliau sedang datang bulan.

Tapi bukan itu yang terpenting. Juga bukan apakah suara saya bagus sewaktu menyanyi atau sebaliknya. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah apa yang dia bilang ternyata sama dengan kebanyakan orang. Semua bilang begitu. Dan semua menyudutkan saya. Dan karena saya tidak suka membela diri, maka saya iya-iya saja dan menganggukkan kepala.

Kadang aku benci dalam membela diri. Andai aku lebih perkasa, bukan itu yang aku pakai sebagai senjata.

Demikianlah kutipan dari seseorang yang saya lupa siapa.

Tapi, mari kita bahas ini lebih dalam.

#1
Sudah 29 tahun lebih saya menjadi laki-laki. Dan sama sekali tidak berniat untuk berganti haluan.

Artinya? Saya pikir, menurut saya, tidaklah perlu dijelaskan lagi bagaimana seharusnya menjadi seorang laki-laki itu. Saya sudah cukup tahu rasanya. Sangat tahu.

#2
Apa itu laki-laki? Tidak usah dijawab. Yang terpenting adalah, tidak bertambah kadar kelaki-lakian seseorang sewaktu orang tersebut berani dan terbiasa untuk mendekati lawan jenis yang disukainya. Dan tidak berkurang kelaki-lakian seseorang sewaktu dia merasa malu untuk melakukan itu.
Di dunia ini, begitu banyak tantangan hidup, bukan? Dan cukup banyak pula di mana saya sangat berani untuk melawannya.

Banyak yang saya menangkan, tidak sedikit saya dikalahkan.

#3
Kenapa Superman begitu disukai, sementara Clark Kent teramat dicintai? Aih. Karena di luar segala kekurangan dan sifat pemalu Clark Kent, sebenarnya dialah si Superman itu.

#4
Mandiri, tanggung jawab dan setia kawan. Tidak punya salah satu dari ketiga hal tersebut, barulah kadar kelaki-lakian bisa disebut berkurang. Meski, bukan berarti perempuan tidak punya itu semua. Tentu saja punya.

Lalu? Jangan tanya-tanya!

#5
Ini bukan sedang membela diri.

#6
Sudah. Cukup lima saja.




Lima Saja Cukup






“Jadi laki-laki itu harus begini, begitu. Jangan bla bla bla.”

Kira-kira, demikianlah yang diucapkan seorang kawan perempuan feminis pada saya di malam minggu lalu sewaktu kami menunggu antrean karaoke. Disampaikannya kalimat tersebut dengan iringan kekesalan. Wajar, beliau sedang datang bulan.

Tapi bukan itu yang terpenting. Juga bukan apakah suara saya bagus sewaktu menyanyi atau sebaliknya. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah apa yang dia bilang ternyata sama dengan kebanyakan orang. Semua bilang begitu. Dan semua menyudutkan saya. Dan karena saya tidak suka membela diri, maka saya iya-iya saja dan menganggukkan kepala.

Kadang aku benci dalam membela diri. Andai aku lebih perkasa, bukan itu yang aku pakai sebagai senjata.

Demikianlah kutipan dari seseorang yang saya lupa siapa.

Tapi, mari kita bahas ini lebih dalam.

#1
Sudah 29 tahun lebih saya menjadi laki-laki. Dan sama sekali tidak berniat untuk berganti haluan.

Artinya? Saya pikir, menurut saya, tidaklah perlu dijelaskan lagi bagaimana seharusnya menjadi seorang laki-laki itu. Saya sudah cukup tahu rasanya. Sangat tahu.

#2
Apa itu laki-laki? Tidak usah dijawab. Yang terpenting adalah, tidak bertambah kadar kelaki-lakian seseorang sewaktu orang tersebut berani dan terbiasa untuk mendekati lawan jenis yang disukainya. Dan tidak berkurang kelaki-lakian seseorang sewaktu dia merasa malu untuk melakukan itu.
Di dunia ini, begitu banyak tantangan hidup, bukan? Dan cukup banyak pula di mana saya sangat berani untuk melawannya.

Banyak yang saya menangkan, tidak sedikit saya dikalahkan.

#3
Kenapa Superman begitu disukai, sementara Clark Kent teramat dicintai? Aih. Karena di luar segala kekurangan dan sifat pemalu Clark Kent, sebenarnya dialah si Superman itu.

#4
Mandiri, tanggung jawab dan setia kawan. Tidak punya salah satu dari ketiga hal tersebut, barulah kadar kelaki-lakian bisa disebut berkurang. Meski, bukan berarti perempuan tidak punya itu semua. Tentu saja punya.

Lalu? Jangan tanya-tanya!

#5
Ini bukan sedang membela diri.

#6
Sudah. Cukup lima saja.




Senin, 23 Maret 2009

Mike and Me




Pertanyaan: Perempuan seperti apa yang paling sulit ditemukan di zaman ini?
Jawaban: Perempuan yang tidak tertarik pada ponsel dan segala aktivitas yang berhubungan dengannya.

Sungguh jawaban yang sangat mencengangkan saya. Terhenyak saya sesaat. Diam sejenak untuk mengatur nafas. Dalam hati,

“Women…”

Memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan benang basah. Memang tidak nyambung. Jangan protes. Saya sedang kesal hari ini. Kalau sedang kesal, terserah saya mau menganalogikan segala sesuatu dengan apa. Sekiranya saya analogikan bahwa memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan H2 dan O dari air, bisa-bisa saja, bukan?

Satu kali lagi, ah.

Memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan saya dengan mike sewaktu karaoke.

Yah, mungkin ini lebih tepat, sepertinya.

Bagi saya, tidak ada masalah dengan kegiatan sms bang sms atau yang sejenis. Ini memang sudah menjadi trend dan budaya. Trend dan budaya menyimpang, tentunya. Tapi, please dong. Hentikan sejenak kegiatan itu sewaktu berkumpul dengan teman, saudara dan orangtua. Juga dengan saya. Kalau sedang di hadapan klien atau atasan saja, baru kalian mau berhenti. Ini sungguh tidak benar. Tidak adil. Sementara kalau sudah tidak adil, apa baiknya kita ini... Eh, kalian ini...

Kesal mode: ON




Mike and Me




Pertanyaan: Perempuan seperti apa yang paling sulit ditemukan di zaman ini?
Jawaban: Perempuan yang tidak tertarik pada ponsel dan segala aktivitas yang berhubungan dengannya.

Sungguh jawaban yang sangat mencengangkan saya. Terhenyak saya sesaat. Diam sejenak untuk mengatur nafas. Dalam hati,

“Women…”

Memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan benang basah. Memang tidak nyambung. Jangan protes. Saya sedang kesal hari ini. Kalau sedang kesal, terserah saya mau menganalogikan segala sesuatu dengan apa. Sekiranya saya analogikan bahwa memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan H2 dan O dari air, bisa-bisa saja, bukan?

Satu kali lagi, ah.

Memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan saya dengan mike sewaktu karaoke.

Yah, mungkin ini lebih tepat, sepertinya.

Bagi saya, tidak ada masalah dengan kegiatan sms bang sms atau yang sejenis. Ini memang sudah menjadi trend dan budaya. Trend dan budaya menyimpang, tentunya. Tapi, please dong. Hentikan sejenak kegiatan itu sewaktu berkumpul dengan teman, saudara dan orangtua. Juga dengan saya. Kalau sedang di hadapan klien atau atasan saja, baru kalian mau berhenti. Ini sungguh tidak benar. Tidak adil. Sementara kalau sudah tidak adil, apa baiknya kita ini... Eh, kalian ini...

Kesal mode: ON




Rabu, 18 Maret 2009

 
   
datanglah pada hari perkawinan kami
lihat si tante menangis haru
paman-paman tertawa kecil
para ponakan berlarian
tatkala menyaksikan
kami berdua dipersatukan

dan kelak putra-putri kami
terlahir, tumbuh,
dan bahagia
kisah ini takkan pernah lelah
untuk diceritakan

hingga rambut yang memutih
berjalan yang tertatih
tuhan, biarkan cinta kami
lulus teruji

dan yang kami pertengkarkan hanyalah
siapa yang lebih mencintai siapa

















Bukan.
Bukan hendak mengundang kalian.
Juga bukan tentang pernikahan saya.
Sekedar absen di blog belaka.


"Hadir, Bu..."