Sabtu, 21 Januari 2006

Resolusi 2006

Begitu banyak hal yang terjadi di tahun 2005 kemarin. Tahun yang berat dan juga menyenangkan. Tentunya, saya harus membuat rencana dan tekad yang besar agar di tahun 2006ke depan saya bisa menjalaninya dengan lebih baik. Resolusi? Perlu!! Bahkan untuk lelaki seperti saya.

1. Saya menyatakan perang dengan Kepolisian Republik Indonesia
Inilah akibat gayung tak bersambut. Bagaimana lagi, di tahun kemarin, dengan niat baik dan tulus, saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi untuk kategori motor dan mobil melalui prosedur yang dibenarkan. Mengantri sejak pukul tujuh pagi untuk tes kesehatan, berdesak-desakan membayar regristrasi di loket saya jalani dengan sabar, dan mengikuti ujian teori hingga dua kali. Lalu, sampailah pada bagian yang paling sulit: ujian praktek. Bayangkan! Dengan skill tinggi yang saya miliki dan pengalaman menjadi raja jalanan saat SMA dulu, polisi-polisi itu tidak meluluskan saya. Sampai tiga kali!!!! Tiga kali!! Gila!
Niat baik dan tulus untuk menjadi WNI yang benar tidak mendapat sambutan. Please, dong, Pol! Saya juga kan banyak kerjaan!
Karena itu, dengan ini saya menyatakan perang dengan Kepolisian Republik Indonesia. Saya tidak akan pernah lagi bikin SIM! Tilang?? Kutil!!

2. Saya ingin gondrong
Satu hal yang "mungkin" patut dikasihani dalam diri saya adalah: saya belum pernah berambut panjang atau gondrong. Bahkan sewaktu saya kuliah pun rambut saya dipotong pendek. Kasihan, saya.
Tentu saja, ide untuk menggondrongkan rambut di kepala bukan muncul dari Gugun. Tidak. Sekali-kali tidak. Ide itu muncul tiba-tiba, ketika saya tidak punya cukup waktu untuk mampir ke salon langganan saya yang berlokasi di seberang jalan kosan, di bawah rindang pohon oak. Bulan-bulan berlalu. Dan, eh, sudah gondrong. Karena itu, tahun ini saya bergondrong ria.

Tahun 2006... I'm coming!



Resolusi 2006

Begitu banyak hal yang terjadi di tahun 2005 kemarin. Tahun yang berat dan juga menyenangkan. Tentunya, saya harus membuat rencana dan tekad yang besar agar di tahun 2006ke depan saya bisa menjalaninya dengan lebih baik. Resolusi? Perlu!! Bahkan untuk lelaki seperti saya.

1. Saya menyatakan perang dengan Kepolisian Republik Indonesia
Inilah akibat gayung tak bersambut. Bagaimana lagi, di tahun kemarin, dengan niat baik dan tulus, saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi untuk kategori motor dan mobil melalui prosedur yang dibenarkan. Mengantri sejak pukul tujuh pagi untuk tes kesehatan, berdesak-desakan membayar regristrasi di loket saya jalani dengan sabar, dan mengikuti ujian teori hingga dua kali. Lalu, sampailah pada bagian yang paling sulit: ujian praktek. Bayangkan! Dengan skill tinggi yang saya miliki dan pengalaman menjadi raja jalanan saat SMA dulu, polisi-polisi itu tidak meluluskan saya. Sampai tiga kali!!!! Tiga kali!! Gila!
Niat baik dan tulus untuk menjadi WNI yang benar tidak mendapat sambutan. Please, dong, Pol! Saya juga kan banyak kerjaan!
Karena itu, dengan ini saya menyatakan perang dengan Kepolisian Republik Indonesia. Saya tidak akan pernah lagi bikin SIM! Tilang?? Kutil!!

2. Saya ingin gondrong
Satu hal yang "mungkin" patut dikasihani dalam diri saya adalah: saya belum pernah berambut panjang atau gondrong. Bahkan sewaktu saya kuliah pun rambut saya dipotong pendek. Kasihan, saya.
Tentu saja, ide untuk menggondrongkan rambut di kepala bukan muncul dari Gugun. Tidak. Sekali-kali tidak. Ide itu muncul tiba-tiba, ketika saya tidak punya cukup waktu untuk mampir ke salon langganan saya yang berlokasi di seberang jalan kosan, di bawah rindang pohon oak. Bulan-bulan berlalu. Dan, eh, sudah gondrong. Karena itu, tahun ini saya bergondrong ria.

Tahun 2006... I'm coming!



Sabtu, 07 Januari 2006

Xie Xie

sekali lagi...
kau dan seluruh penghuni bumi
mengelilingi matahari yang sama
sedang aku
masih saja mengitarimu...


meski terlambat
dan merasa malu berat

SELAMAT TAHUN BARU 2006

semoga di tahun ini peruntungan kita berlipat ganda

xie xie...

salah satu resolusi 2006: rajin posting
(yeah, right!)

Xie Xie

sekali lagi...
kau dan seluruh penghuni bumi
mengelilingi matahari yang sama
sedang aku
masih saja mengitarimu...


meski terlambat
dan merasa malu berat

SELAMAT TAHUN BARU 2006

semoga di tahun ini peruntungan kita berlipat ganda

xie xie...

salah satu resolusi 2006: rajin posting
(yeah, right!)

Sabtu, 05 November 2005

Jalangkung atau Maling?

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki massa layaknya pencuri alias maling.

Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.

Sampai di sini, tidak ada yang salah, memang. Bahkan terasa cukup menyenangkan. Seperti saling membangunkan di tengah malam, “say hi” pada dini hari, hingga sekedar menanyakan menu makan. Ditambah sedikit mencampuri urusan pribadi, sekali-sekali.

Namun, tiba-tiba dia pergi begitu saja. Wussss. Wusss. Preettt.

Bukan menghilang. Karena bisa terkira tubuhnya berada di mana dan sedang melakukan apa. Dia hanya pergi, meninggalkan jejak kaki yang masih basah hingga saat ini. Pergi. Tanpa pamit. Tanpa permisi. Seperti jalangkung saja. Atau pencuri alias maling.

Tadinya, saya hendak mengejar. Atau sekedar membuntuti. Tapi, please dong. Saya memang miskin, tapi sombong!

Eh, udah lebaran, nih...

"Pintu masuk harap ditutup kembali. Pintu maafku selalu terbuka."
Met, lebaran, ya.

(Ah, mangap sih gampang)

Jalangkung atau Maling?

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki massa layaknya pencuri alias maling.

Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.

Sampai di sini, tidak ada yang salah, memang. Bahkan terasa cukup menyenangkan. Seperti saling membangunkan di tengah malam, “say hi” pada dini hari, hingga sekedar menanyakan menu makan. Ditambah sedikit mencampuri urusan pribadi, sekali-sekali.

Namun, tiba-tiba dia pergi begitu saja. Wussss. Wusss. Preettt.

Bukan menghilang. Karena bisa terkira tubuhnya berada di mana dan sedang melakukan apa. Dia hanya pergi, meninggalkan jejak kaki yang masih basah hingga saat ini. Pergi. Tanpa pamit. Tanpa permisi. Seperti jalangkung saja. Atau pencuri alias maling.

Tadinya, saya hendak mengejar. Atau sekedar membuntuti. Tapi, please dong. Saya memang miskin, tapi sombong!

Eh, udah lebaran, nih...

"Pintu masuk harap ditutup kembali. Pintu maafku selalu terbuka."
Met, lebaran, ya.

(Ah, mangap sih gampang)

Selasa, 04 Oktober 2005

Ramadhan

maraban hayam ku huut
maraban domba ku jukut

Marhaban ya Ramadhan

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, kalian semua saya maafkan.

(Ah, pernahkah kalian tidak saya maafkan?)