Atrium Istana Plaza Bandung
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)
Silakan datang, maki dan tendang...
Kamis, 11 Agustus 2005
temu wicara always, Laila
Atrium Istana Plaza Bandung
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)
Silakan datang, maki dan tendang...
Minggu, 14 Agustus 2005
Jam 16.30 - selesei
Moderator : Anjar (Beraja, Kidung, Tiga)
Silakan datang, maki dan tendang...
Senin, 06 Juni 2005
Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia
Ayo... rame-rame datang, ketemu, protes, kasih kritik, saran dan ngobrol bareng penulis-penulis GagasMedia.
Hari : Sabtu, Minggu
Tanggal : 11, 12, 18, 19, 25 dan 26 Juni
Pukul : 16.00 s.d 17.30 WIB
Tempat : Toko Buku Gunung Agung Ciwalk, Bandung
Jadwal pembicara :
1. Sabtu, 11 Juni : Andi Eriawan (always, Laila)
2. Minggu, 12 Juni : Danni Junus (ei to zie)
3. Sabtu, 18 Juni : Icha Rahmanti (Beauty Case, Cintapuccino)
4. Minggu, 19 Juni : Harry Haryanto (Empat Cowok Mencari Cinte)
5. Sabtu, 25 Juni : Wisnu Wage (Katakan Cinta (mu))
6. Minggu, 26 Juni : Bangsal 13 (F.X. Rudy Gunawan)
Ngobrol Bareng Penulis-penulis GagasMedia
Ayo... rame-rame datang, ketemu, protes, kasih kritik, saran dan ngobrol bareng penulis-penulis GagasMedia.
Hari : Sabtu, Minggu
Tanggal : 11, 12, 18, 19, 25 dan 26 Juni
Pukul : 16.00 s.d 17.30 WIB
Tempat : Toko Buku Gunung Agung Ciwalk, Bandung
Jadwal pembicara :
1. Sabtu, 11 Juni : Andi Eriawan (always, Laila)
2. Minggu, 12 Juni : Danni Junus (ei to zie)
3. Sabtu, 18 Juni : Icha Rahmanti (Beauty Case, Cintapuccino)
4. Minggu, 19 Juni : Harry Haryanto (Empat Cowok Mencari Cinte)
5. Sabtu, 25 Juni : Wisnu Wage (Katakan Cinta (mu))
6. Minggu, 26 Juni : Bangsal 13 (F.X. Rudy Gunawan)
Jumat, 13 Mei 2005
Ketemu Artis
Dua minggu yang lalu saya mengantar seorang teman berinisial Z untuk mengikuti audisi sebuah film layar lebar di Jakarta. Seperti artis-artis beken lain, yang karirnya justru berawal "cuma nganter temen casting", dengan penuh harap, pengalaman akting nol, ongkos pergi tanpa pulang, kami berdua pun berangkat. Dollywood... We're comin!!
Untuk menghabiskan waktu selama di perjalanan, Z meminta saya menyusun speech saat beliau nanti mendapatkan piala Citra-nya untuk pertama kali. Tentu saja, saya menempatkan nama saya di urutan pertama ucapan terimakasih. Dia juga bilang bahwa menjadi bintang film akan membuka cita-citanya menjadi RI-1. Sebuah cita-cita yang agung!!
Sesampainya di sana, saya terheran-heran. Apa yang saya lihat berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya tentang sebuah tempat audisi. Dimana gadis-gadis ABG cantik nan seksi itu? Selidik-punya selidik, ternyata mereka sedang syuting sepertinya. Sedikit kecewa, saya duduk di ruang tamu, sementara teman saya mengikuti audisi di ruang yang lain.
Seorang perempuan berambut panjang masuk saat lima belas menit menjadi waktu yang menyebalkan untuk menunggu. Wajahnya lumayan cantik untuk seorang figuran atau calon bintang. Dia duduk di sebelah saya.
"Hai. Ikut audisi juga?" tanya saya.
Perempuan itu cuma senyum-senyum tidak jelas. "Nggak," jawabnya. "Aku baru balik syuting."
"Sinetron?"
"Bukan. Film."
"Pasti film pertama," tebak saya tanpa malu.
"Yang ke-empat."
"Ooooohhhh...."
Saya agak ragu-ragu. Semenit kemudian saya pandangi wajahnya dan mencoba mencocokkan dengan wajah-wajah artis di benak saya. Kemudian saya pun teringat pernah menonton salah satu filmnya. "Saya ingat. Kamu... Dina Sastro, kan?
"Bukan. Dian," selanya membetulkan.
"Iya. Dian maksud saya. Saya pernah nonton film kamu. Apa, ya... Mmmm... ABCD atau apalah. Pokoknya film ngga terkenal kan?"
"AADC," selanya lagi. Dan kali ini saya dapat menangkap mimik memusuhi di wajahnya.
"Maaf... saya ngga bermaksud...," kata saya mencoba memperbaiki sikap.
Kami berdua terdiam lagi beberapa menit. Suaranya yang cukup merdu memecah kesunyian. "Siapa namanya?"
"Saya?"
"Siapa lagi?"
"Saya datang dengan teman sa..."
"Maksudnya, nama kamu siapa?" tanyanya dengan kesal.
"Andi. Maaf... bercanda, Dian."
"Kamu ikut audisi?"
"Ngga. Cuma nganter. Ehm... saya penulis novel," kata saya sedikit memberi penekanan pada dua kata terakhir.
"Waahhh... novel? Saya suka sekali baca novel. Terutama novel-novel Indonesia yang ditulis penulis-penulis muda. Tunggu... biar saya tebak. Novel kamu... Jomblo?"
"Bukan."
"GMC?"
"Bukan."
"Mmmm... Lovely Luna?"
"Bu... kan."
"Waduh. Apa, dong... Playboy Kaleng?"
"Bukan. Novel saya... always, Laila," kata saya mulai sedikit kesal.
"Always... apa tadi?"
"Always, Laila."
"Oohhh..."
"Sudah pernah baca?"
Dian Sastro menggeleng. "Belum. Baru, ya?"
"Sudah terbit enam bulan dan cetakan ke-empat."
"Maaf. Saya belum baca. Malah belum pernah denger," katanya sambil pamit pergi.
Ketemu Artis
Dua minggu yang lalu saya mengantar seorang teman berinisial Z untuk mengikuti audisi sebuah film layar lebar di Jakarta. Seperti artis-artis beken lain, yang karirnya justru berawal "cuma nganter temen casting", dengan penuh harap, pengalaman akting nol, ongkos pergi tanpa pulang, kami berdua pun berangkat. Dollywood... We're comin!!
Untuk menghabiskan waktu selama di perjalanan, Z meminta saya menyusun speech saat beliau nanti mendapatkan piala Citra-nya untuk pertama kali. Tentu saja, saya menempatkan nama saya di urutan pertama ucapan terimakasih. Dia juga bilang bahwa menjadi bintang film akan membuka cita-citanya menjadi RI-1. Sebuah cita-cita yang agung!!
Sesampainya di sana, saya terheran-heran. Apa yang saya lihat berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya tentang sebuah tempat audisi. Dimana gadis-gadis ABG cantik nan seksi itu? Selidik-punya selidik, ternyata mereka sedang syuting sepertinya. Sedikit kecewa, saya duduk di ruang tamu, sementara teman saya mengikuti audisi di ruang yang lain.
Seorang perempuan berambut panjang masuk saat lima belas menit menjadi waktu yang menyebalkan untuk menunggu. Wajahnya lumayan cantik untuk seorang figuran atau calon bintang. Dia duduk di sebelah saya.
"Hai. Ikut audisi juga?" tanya saya.
Perempuan itu cuma senyum-senyum tidak jelas. "Nggak," jawabnya. "Aku baru balik syuting."
"Sinetron?"
"Bukan. Film."
"Pasti film pertama," tebak saya tanpa malu.
"Yang ke-empat."
"Ooooohhhh...."
Saya agak ragu-ragu. Semenit kemudian saya pandangi wajahnya dan mencoba mencocokkan dengan wajah-wajah artis di benak saya. Kemudian saya pun teringat pernah menonton salah satu filmnya. "Saya ingat. Kamu... Dina Sastro, kan?
"Bukan. Dian," selanya membetulkan.
"Iya. Dian maksud saya. Saya pernah nonton film kamu. Apa, ya... Mmmm... ABCD atau apalah. Pokoknya film ngga terkenal kan?"
"AADC," selanya lagi. Dan kali ini saya dapat menangkap mimik memusuhi di wajahnya.
"Maaf... saya ngga bermaksud...," kata saya mencoba memperbaiki sikap.
Kami berdua terdiam lagi beberapa menit. Suaranya yang cukup merdu memecah kesunyian. "Siapa namanya?"
"Saya?"
"Siapa lagi?"
"Saya datang dengan teman sa..."
"Maksudnya, nama kamu siapa?" tanyanya dengan kesal.
"Andi. Maaf... bercanda, Dian."
"Kamu ikut audisi?"
"Ngga. Cuma nganter. Ehm... saya penulis novel," kata saya sedikit memberi penekanan pada dua kata terakhir.
"Waahhh... novel? Saya suka sekali baca novel. Terutama novel-novel Indonesia yang ditulis penulis-penulis muda. Tunggu... biar saya tebak. Novel kamu... Jomblo?"
"Bukan."
"GMC?"
"Bukan."
"Mmmm... Lovely Luna?"
"Bu... kan."
"Waduh. Apa, dong... Playboy Kaleng?"
"Bukan. Novel saya... always, Laila," kata saya mulai sedikit kesal.
"Always... apa tadi?"
"Always, Laila."
"Oohhh..."
"Sudah pernah baca?"
Dian Sastro menggeleng. "Belum. Baru, ya?"
"Sudah terbit enam bulan dan cetakan ke-empat."
"Maaf. Saya belum baca. Malah belum pernah denger," katanya sambil pamit pergi.
Senin, 25 April 2005
abituari
Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa.
Ah..., seharusnya saya tahu sejak awal, sejak tujuh bulan lalu. Seandainya saja saya mau membuka mata dan sedikit mengerti, saya mungkin dapat mencegahnya. Gejala-gejala itu. Cat yang terkelupas. Flip yang patah. Sinyal yang perlahan-lahan berubah menjadi putus-putus. Seharusnya segera saya bawa dia ke tempat service. Atau, saya simpan untuk dipensiunkan. Tapi, itu semua tidak saya lakukan.
Mungkin memang benar dia sangat berguna buat saya. Bahkan mereka pernah mengatakan bahwa kami adalah pasangan yang serasi. Saya selalu membawanya ke mana saya pergi. Juga kamar mandi dan tempat-tempat suci. Saya hanya tertawa sinis sewaktu dengar apa yang mereka bilang, sambil melemparnya begitu saja ke atas ranjang.
Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa. Mungkin karena saya sudah mendapatkan gantinya - yang tentu lebih baik.
Ah..., seharusnya saya tahu sejak awal, sejak tujuh bulan lalu. Seandainya saja saya mau membuka mata dan sedikit mengerti, saya mungkin dapat mencegahnya. Gejala-gejala itu. Cat yang terkelupas. Flip yang patah. Sinyal yang perlahan-lahan berubah menjadi putus-putus. Seharusnya segera saya bawa dia ke tempat service. Atau, saya simpan untuk dipensiunkan. Tapi, itu semua tidak saya lakukan.
Mungkin memang benar dia sangat berguna buat saya. Bahkan mereka pernah mengatakan bahwa kami adalah pasangan yang serasi. Saya selalu membawanya ke mana saya pergi. Juga kamar mandi dan tempat-tempat suci. Saya hanya tertawa sinis sewaktu dengar apa yang mereka bilang, sambil melemparnya begitu saja ke atas ranjang.
Telah pergi - di Rabu kelabu - handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa. Mungkin karena saya sudah mendapatkan gantinya - yang tentu lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)